Astaga! Tato di Wajahku Menjadi Luka karena Pacarku yang Gila
operatorsekolah.id – Namaku Barry. Orang yang paling kucintai pernah mengubah wajahku menjadi pengingat permanen atas kesalahan terbesar yang kulakukan.
Aku memang bersalah. Aku mengkhianati kepercayaan seseorang yang mencintaiku dan menyembunyikan hubungan dengan sahabat kami sendiri. Namun, aku tidak pernah membayangkan kesalahan itu akan dibalas melalui sebuah tato di wajah yang dibuat tanpa persetujuanku.
Sejak hari itu, setiap kali bercermin, aku tidak hanya melihat luka pada kulit. Aku melihat persahabatan yang hancur, cinta yang berubah menjadi kebencian, dan diriku yang dahulu terlalu takut mengatakan kebenaran.
Semua bermula dari persahabatan tiga anak yang pernah berjanji tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan mereka.
Kami Bertiga Hampir Tidak Pernah Terpisahkan
Sejak kecil, aku, Cohen, dan Franklin selalu bersama.
Kami tinggal di lingkungan yang sama, bersekolah di tempat yang sama, dan menghabiskan hampir seluruh waktu luang bersama. Kami sering membuat perlombaan kecil, bermain di luar hingga matahari terbenam, dan pergi berkemah setiap kali memiliki kesempatan.
Kami mengenal sifat buruk satu sama lain. Kami juga mengetahui rahasia, ketakutan, dan impian yang tidak pernah diceritakan kepada orang lain.
Pada suatu malam, kami duduk mengelilingi api unggun di tengah hutan. Setelah saling menakuti dengan cerita horor, kami membuat sebuah janji.
Tidak ada orang yang boleh memisahkan kami.
Saat itu, kami masih terlalu muda untuk memahami bahwa manusia dapat berubah. Perasaan juga dapat tumbuh tanpa diminta, lalu merusak hubungan yang selama bertahun-tahun dianggap tidak akan pernah berakhir.
Tidak ada satu pun dari kami yang menyangka bahwa janji di depan api unggun itu akhirnya akan menjadi kenangan paling menyakitkan.
Terutama bagiku.
Persahabatan Kami Berubah Menjadi Kisah Cinta
Menjelang tahun terakhir sekolah menengah, kami berencana menghabiskan hari-hari terakhir liburan musim panas dengan berkemah.
Saat menyiapkan tenda, aku baru menyadari bahwa tendaku mengalami kerusakan. Beberapa bagiannya robek dan tidak mungkin digunakan untuk tidur.
Cohen dan Franklin langsung menawarkan tempat di tenda masing-masing.
“Kamu bisa tidur di tendaku,” kata keduanya hampir bersamaan.
Aku tertawa karena mengira itu hanya kebetulan. Aku mengatakan akan memutuskan nanti.
Setelah itu, kami kembali menjalankan kebiasaan seperti biasanya. Cohen menyiapkan kayu untuk api unggun, sementara aku dan Franklin pergi mencari buah beri di sekitar perkemahan.
Kami berjalan cukup jauh dari tenda. Awalnya, kami hanya berbicara tentang sekolah dan rencana setelah lulus.
Tiba-tiba, Franklin berhenti.
Ia menatapku cukup lama, lalu menyentuh rambutku dengan lembut. Sebelum aku sempat bertanya, ia mendekat dan menciumku.
Jantungku berdetak sangat kencang.
Aku mengenal Franklin hampir sepanjang hidupku. Namun, pada saat itu, ia tidak lagi terlihat hanya sebagai seorang sahabat.
Ada perasaan lain yang selama ini mungkin kami abaikan.
Ketika kembali ke perkemahan, suasana di antara kami sudah berubah. Kami bertiga duduk di atas batang kayu di depan api unggun, tetapi percakapan tidak lagi mengalir seperti biasanya.
Cohen terlihat menyadari sesuatu.
Ia menatapku dan Franklin beberapa kali, lalu mengucapkan selamat malam dengan suara pelan. Setelah itu, ia masuk ke dalam tenda lebih awal.
Malam tersebut menjadi salah satu malam paling romantis bagiku dan Franklin. Kami berbicara hingga larut, saling menggenggam tangan, dan akhirnya mengakui perasaan yang selama ini tersembunyi.
Tidak lama setelah pulang dari perkemahan, kami mulai berpacaran.
Aku jatuh cinta kepada sahabatku sendiri. Saat itu, rasanya seperti mendapatkan segala sesuatu yang kuinginkan.
Namun, aku tidak menyadari bahwa kebahagiaan kami perlahan membuat Cohen merasa kehilangan dua sahabatnya sekaligus.
Cohen Mulai Menjauh dari Kami
Pada awal hubungan, semuanya terasa menyenangkan.
Franklin menjemputku sepulang sekolah. Kami menjelajahi kota bersama, mengunjungi bangunan-bangunan tua, dan berjalan menyusuri gang yang dipenuhi lukisan grafiti.
Kami telah mengenal satu sama lain sejak kecil sehingga tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.
Namun, setelah sekitar enam bulan, aku menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang.
Cohen semakin jarang bersama kami.
Setiap kali diajak bertemu, ia selalu memiliki alasan. Terkadang ia mengatakan sedang sibuk. Pada kesempatan lain, ia mengaku sudah memiliki rencana dengan orang lain.
Kami juga sering melihatnya berjalan bersama perempuan yang berbeda-beda.
Aku mencoba meyakinkan diri bahwa Cohen hanya sedang mencari lingkungan baru. Namun, jauh di dalam hati, aku mengetahui bahwa ia merasa tersisih.
Aku merindukan persahabatan kami.
Cohen sangat berharga bagiku. Aku tidak ingin hubungan dengan Franklin membuat kami kehilangan dirinya.
Karena itu, pada suatu sore, aku datang ke rumah Cohen tanpa memberi tahu Franklin.
Aku berniat memperbaiki persahabatan kami.
Aku tidak pernah membayangkan kunjungan tersebut justru menjadi awal dari kesalahan yang menghancurkan kehidupan kami bertiga.
Ciuman yang Seharusnya Tidak Terjadi
Cohen membuka pintu dalam keadaan baru bangun tidur. Ia terlihat mengantuk dan hanya mengenakan pakaian santai.
Aku masuk ke kamarnya dan langsung membicarakan persahabatan kami.
Aku mengatakan bahwa dirinya sangat penting bagiku. Aku juga mengaku merindukan masa-masa ketika kami bertiga dapat menghabiskan waktu bersama tanpa merasa canggung.
Aku mengatakan bahwa perempuan-perempuan yang belakangan bersamanya mungkin tidak benar-benar mengenal kecerdasan dan kepribadiannya.
Cohen mendengarkan tanpa menyela.
Sesekali ia tersenyum, tetapi aku tidak memahami arti senyuman tersebut.
Setelah aku selesai berbicara, ia duduk di tepi tempat tidur.
“Baiklah,” katanya. “Kita menonton sesuatu saja?”
Aku merasa lega. Kupikir semuanya akan kembali seperti dahulu.
Kami memutuskan menonton ulang serial Friends. Pada awalnya, kami duduk dengan jarak yang cukup jauh.
Namun, tanpa kusadari, posisi kami semakin dekat.
Tangan kami bersentuhan. Aku dapat mendengar napas Cohen dan beberapa kali menangkapnya sedang menatapku.
Hari semakin gelap. Ketika tayangan berakhir dan tulisan kredit mulai muncul, Cohen menoleh ke arahku.
Kemudian ia menciumku.
Aku terkejut.
Aku mengetahui seharusnya segera menghentikannya. Aku mempunyai pacar dan Cohen adalah sahabat kami.
Namun, aku tidak menjauh.
Aku membalas ciuman tersebut.
Itulah awal dari rahasia yang perlahan menghancurkan semuanya.
Aku Menjalani Dua Hubungan Sekaligus
Setelah malam itu, beberapa bagian dalam persahabatan kami memang terlihat kembali normal.
Kami bertiga mulai sering menghabiskan waktu bersama. Franklin tampak bahagia karena Cohen tidak lagi menjauh.
Namun, semuanya hanya terlihat baik dari luar.
Aku dan Cohen menyimpan rahasia.
Setiap kali kami bertiga bertemu, Cohen sering memberikan tatapan yang hanya kami pahami. Ketika waktunya pulang, ia mencari kesempatan untuk memberikan pelukan atau perpisahan yang terasa lebih intim.
Aku tahu semua itu salah.
Aku mencintai Franklin. Namun, aku juga memiliki perasaan kepada Cohen yang tidak sanggup kuakui.
Alih-alih memilih dan berkata jujur, aku justru mempertahankan keduanya.
Aku takut kehilangan Franklin. Pada saat yang sama, aku juga tidak ingin Cohen kembali menjauh.
Keegoisanku membuatku menyakiti dua orang yang paling dekat denganku.
Rahasia itu berlangsung hingga suatu sore ketika Cohen datang ke depan rumahku.
Ia mengatakan bahwa kami harus berhenti bersembunyi.
“Kita sangat cocok,” katanya. “Kamu tahu itu. Aku juga tahu.”
Aku sudah bersiap mengatakan bahwa hubungan kami harus berakhir. Namun, sebelum sempat menjawab, aku melihat Franklin berjalan menuju rumahku.
Aku panik.
Aku mendorong Cohen ke balik semak-semak dan berlari menghampiri Franklin. Aku berusaha mengajaknya pergi sejauh mungkin dari rumah sebelum ia melihat Cohen.
Saat itulah aku teringat bahwa hari tersebut merupakan hari jadi hubunganku dengan Franklin.
Aku hampir melupakannya.
Cincin yang Membuat Hatiku Hancur
Franklin membawaku ke sebuah tempat yang hanya dibuka khusus untuk kami.
Ia telah menyiapkan makan malam dengan sangat romantis. Ada lilin, makanan kesukaanku, dan musik yang biasa kami dengarkan ketika menjelajahi kota.
Sepanjang malam, Franklin terlihat sangat gugup.
Aku mengira ia mengetahui hubunganku dengan Cohen.
Kupikir ia akan memarahiku, memutuskan hubungan, atau meminta penjelasan.
Namun, Franklin justru menggenggam tanganku.
Ia mengeluarkan sebuah cincin kecil dan mengatakan bahwa benda tersebut menjadi simbol hubungan kami untuk selamanya.
Bukan cincin pernikahan sungguhan. Kami masih terlalu muda untuk itu. Namun, bagi Franklin, cincin tersebut merupakan janji bahwa setelah lulus nanti kami akan tetap bersama.
Aku mengatakan iya.
Namun, hatiku terasa hancur.
Franklin menatapku dengan penuh cinta, sementara beberapa jam sebelumnya aku baru saja menyembunyikan Cohen di balik semak-semak.
Malam itu, setelah pulang, aku mengirimkan pesan kepada Cohen.
Aku mengatakan bahwa semua yang terjadi di antara kami harus berakhir. Aku mencintai Franklin dan tidak ingin terus mengkhianatinya.
Cohen tidak membalas.
Aku tahu ia sedang sedih dan marah.
Namun, yang paling kutakutkan bukanlah perasaannya. Aku hanya memikirkan bagaimana caranya memastikan rahasia tersebut tidak pernah terbongkar.
Seharusnya aku segera mengatakan semuanya kepada Franklin.
Seharusnya aku memberinya hak untuk mengetahui kebenaran dan memilih apakah masih ingin bersamaku.
Namun, aku memilih diam.
Kebohongan itulah yang akhirnya membawaku ke kursi tato.
Kami Membuat Janji melalui Tato
Keesokan harinya, aku dan Franklin pergi ke sebuah studio tato.
Kami berencana membuat tato untuk memperingati hubungan kami. Aku akan memilihkan desain untuk Franklin dan ia akan memilihkan desain untukku.
Kami sepakat tidak melihat hasilnya sampai tato selesai.
Franklin ingin membuat tato di leher. Aku meminta seniman tato menggambar ranting kecil dengan beberapa buah beri.
Ranting dan buah beri itu merupakan simbol ciuman pertama kami di hutan.
Setelah desain untuk Franklin selesai, giliranku duduk di kursi.
Aku meminta tato kecil di bagian atas alis. Aku membayangkan sesuatu yang sederhana, elegan, dan romantis.
Aku tidak melihat desainnya karena ingin menjaga kejutan sesuai kesepakatan kami.
Prosesnya terasa sangat menyakitkan. Namun, aku terus bertahan karena percaya Franklin sedang membuat sesuatu yang indah sebagai lambang cinta kami.
Beberapa kali aku merasa suasana di studio berubah aneh.
Seniman tato terlihat tidak nyaman. Suaranya terdengar ragu ketika mengatakan bahwa pekerjaan tersebut hampir selesai.
Namun, aku tidak mencurigai apa pun.
Ketika akhirnya proses itu berakhir, Franklin menggandeng tanganku dan membawaku ke depan cermin.
Apa yang kulihat hampir membuatku pingsan.
Tulisan Pengkhianat Ada di Wajahku
Tato itu tidak kecil.
Tidak elegan.
Dan sama sekali tidak romantis.
Di bagian atas alisku tertulis sebuah kalimat besar yang menyebutku sebagai pengkhianat.
Aku menatap pantulan wajahku sendiri dengan tubuh gemetar. Air mata langsung jatuh sebelum aku mampu mengatakan sesuatu.
Saat itu, aku mengetahui bahwa Franklin sudah memahami semuanya.
Entah dari Cohen, pesan yang ditemukannya, atau cara lain, ia telah mengetahui perselingkuhanku.
Aku menoleh kepadanya, tetapi Franklin tidak menjelaskan apa pun.
Tatapan di matanya sudah cukup untuk menunjukkan rasa marah, kecewa, dan kebencian yang selama ini disembunyikannya.
Ia melihatku sebagai seorang pengkhianat.
Kini, kata tersebut tertulis permanen di wajahku agar semua orang dapat melihatnya.
Franklin meninggalkan studio tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aku hanya berdiri di depan cermin sambil menangis. Seniman tato terlihat bersalah, tetapi sudah terlambat untuk memperbaikinya.
Aku memang bersalah karena berselingkuh.
Namun, aku tidak pernah menyetujui kalimat itu ditato pada wajahku. Aku datang dengan keyakinan akan mendapatkan gambar kecil yang romantis.
Kesalahanku tidak membuat tindakan Franklin menjadi benar.
Ia telah menggunakan tubuhku sebagai tempat untuk melampiaskan kemarahan.
Orang Tuaku Sangat Terkejut
Ketika pulang, orang tuaku langsung marah besar.
Mereka tidak hanya marah karena aku membuat tato di wajah. Setelah mendengar kejadiannya, mereka juga marah kepada studio yang bersedia membuat tulisan tersebut tanpa memastikan persetujuanku.
Aku sendiri dipenuhi perasaan yang campur aduk.
Aku marah kepada Franklin karena telah mempermalukanku. Aku kecewa kepada seniman tato yang mengikuti permintaannya.
Namun, aku juga merasa sangat bersalah.
Dalam beberapa hari pertama, aku bahkan berpikir mungkin memang pantas menerima tato tersebut. Aku merasa wajahku hanya menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya.
Seorang pengkhianat.
Ketika luka tato mulai mengering, aku berhenti keluar rumah. Aku takut bertemu orang lain dan melihat mereka membaca tulisan di wajahku.
Setiap kali bercermin, aku teringat ekspresi Franklin ketika meninggalkan studio.
Aku mulai menabung untuk menjalani prosedur penghapusan tato. Namun, prosesnya mahal, panjang, dan tidak menjamin kulitku akan kembali seperti semula.
Tato itu mungkin dapat memudar.
Akan tetapi, rasa malu dan penyesalan yang menyertainya jauh lebih sulit dihilangkan.
Aku Kehilangan Dua Orang Sekaligus
Ketika kembali ke sekolah, semua orang memperhatikanku.
Beberapa siswa berbisik. Sebagian tertawa dan mencoba mengambil foto secara diam-diam.
Aku melihat Franklin di lorong, tetapi ia melewatiku seolah aku tidak pernah ada dalam hidupnya.
Cohen melakukan hal yang sama.
Tidak satu pun dari mereka bersedia menyapa atau berbicara denganku.
Saat itulah aku menyadari bahwa hal paling menyakitkan bukanlah tulisan di wajahku.
Aku kehilangan dua sahabat yang tumbuh bersamaku.
Janji yang pernah kami buat di depan api unggun telah hancur. Bukan karena ada orang asing yang memisahkan kami, tetapi karena kebohongan dan pilihan kami sendiri.
Aku bersalah karena mengkhianati Franklin.
Aku juga bersalah karena memberikan harapan kepada Cohen, kemudian membuangnya ketika keadaan mulai berbahaya.
Cohen mungkin merasa digunakan. Franklin merasa dikhianati oleh dua orang yang paling dipercayainya.
Namun, Franklin juga memilih balas dendam yang melukai tubuh dan hidupku.
Kami semua melakukan kesalahan.
Tidak ada seorang pun yang keluar dari cerita ini tanpa luka.
Perselingkuhan Bukan Alasan untuk Menyakiti Tubuh Orang Lain
Butuh waktu lama bagiku untuk memahami bahwa dua hal dapat benar secara bersamaan.
Aku melakukan kesalahan besar dengan berselingkuh dan berbohong.
Pada saat yang sama, Franklin juga melakukan tindakan yang salah ketika menato wajahku tanpa persetujuan yang jelas.
Rasa sakit karena dikhianati memang nyata. Kemarahan Franklin dapat kupahami. Ia berhak meninggalkanku, memutus semua hubungan, dan mengatakan kebenaran kepada orang lain.
Namun, tidak seorang pun berhak mengubah tubuh orang lain sebagai bentuk hukuman.
Cinta tidak seharusnya berubah menjadi kepemilikan. Bahkan ketika sebuah hubungan berakhir karena pengkhianatan, balas dendam yang merusak tubuh bukanlah penyelesaian.
Aku tidak dapat menggunakan tindakan Franklin untuk menghapus kesalahanku.
Aku juga tidak harus terus meyakini bahwa aku pantas disakiti hanya karena pernah berbuat salah.
Aku Harus Belajar Memaafkan Diriku Sendiri
Perjalananku masih sangat panjang.
Aku masih menabung untuk menghilangkan tato tersebut. Setiap prosedur terasa sakit dan hasilnya tidak langsung terlihat.
Namun, luka terbesar bukan berada pada kulit.
Aku harus belajar menerima bahwa masa lalu tidak dapat diubah. Aku tidak bisa kembali ke malam ketika Cohen menciumku dan memilih menjauh.
Aku juga tidak dapat kembali ke hari ketika Franklin memberikan cincin dan memaksaku mengatakan kebenaran.
Hal yang dapat kulakukan sekarang hanyalah bertanggung jawab.
Aku harus berhenti mencari alasan atas perselingkuhan yang kulakukan. Kesepian, kebingungan, dan rasa takut kehilangan bukan pembenaran untuk berbohong.
Aku juga harus belajar menetapkan batas. Merasa bersalah bukan berarti membiarkan orang lain mempermalukan atau menyakiti tubuhku.
Saat ini, Franklin dan Cohen mungkin belum siap memaafkanku. Bisa jadi mereka tidak akan pernah melakukannya.
Aku harus menerima kemungkinan tersebut.
Perubahan tidak selalu menghasilkan pengampunan dari orang yang pernah kita sakiti. Terkadang, perubahan hanya memberikan kesempatan agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama kepada orang lain.
Wajahku Bukan Seluruh Diriku
Setiap hari aku masih melihat tulisan yang perlahan memudar di atas alisku.
Orang lain mungkin membaca satu kata lalu menganggap telah mengetahui seluruh kisah hidupku.
Namun, aku mulai memahami bahwa sebuah kesalahan tidak harus menjadi identitas selamanya.
Aku pernah menjadi pengkhianat dalam sebuah hubungan. Aku pernah berbohong dan menyakiti dua sahabat.
Namun, aku tidak ingin terus menjadi orang yang sama.
Aku ingin menjadi seseorang yang lebih jujur, berani mengakui perasaan, dan tidak mempertahankan hubungan hanya karena takut sendirian.
Tato di wajahku menjadi luka yang akan selalu mengingatkanku pada masa lalu. Akan tetapi, luka juga dapat menjadi tanda bahwa seseorang pernah terluka dan tetap bertahan.
Aku tidak bangga dengan apa yang kulakukan.
Aku juga tidak lagi percaya bahwa aku pantas diperlakukan seperti monster.
Aku hanyalah manusia yang melakukan kesalahan besar, menerima akibatnya, lalu mencoba bangkit dan menjadi lebih baik.
Mungkin suatu hari tato itu akan benar-benar hilang.
Jika bekasnya tetap ada, aku akan belajar melihatnya bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai pengingat bahwa kejujuran seharusnya datang sebelum kebohongan berubah menjadi luka bagi semua orang.












