Aku Terkena Azab Menjadi Monster Setelah Operasi Plastik
operatorsekolah.id – Namaku Jasmine. Usiaku baru 18 tahun ketika sebuah keputusan bodoh menghancurkan wajah, impian, dan hampir seluruh masa depanku.
Saat itu, aku merasa sedang berdiri sangat dekat dengan kehidupan yang selama ini kuinginkan. Aku membayangkan diriku menjadi model terkenal, tampil di depan kamera, mengenakan pakaian indah, dan dikenal banyak orang.
Namun, hanya dalam satu malam, semuanya berubah.
Aku terbangun dari meja operasi dengan rasa sakit yang tidak pernah kubayangkan. Enam minggu kemudian, saat perban di wajahku dibuka, seorang perempuan dengan wajah mengerikan menatapku dari dalam cermin.
Perempuan itu adalah aku.
Aku Bukan Gadis yang Dianggap Cantik
Sejak kecil, aku sudah menyadari bahwa aku bukan perempuan yang akan membuat semua orang menoleh ketika memasuki ruangan.
Di sekolah, hampir tidak ada laki-laki yang mengajakku berbicara kecuali ketika mereka membutuhkan bantuan mengerjakan tugas. Aku dikenal pintar, tetapi tidak pernah dianggap menarik.
Hidungku sedikit lebar. Tulang pipiku tidak menonjol. Kelopak mataku tidak simetris. Setidaknya, itulah yang sering kulihat setiap kali menatap cermin terlalu lama.
Meski demikian, aku mempunyai satu hal yang membuatku percaya diri, yaitu gaya berpakaian.
Aku senang memadukan pakaian lama dengan aksesori unik. Aku bisa mengubah gaun sederhana dari toko barang bekas menjadi sesuatu yang terlihat berbeda. Teman-temanku bahkan sering meminta bantuanku memilih pakaian untuk pesta atau membuat foto mereka terlihat menarik di media sosial.
Aku mungkin bukan perempuan paling cantik di sekolah, tetapi soal gaya, aku percaya tidak ada yang bisa mengalahkanku.
Aku sering mengunggah foto dengan berbagai konsep di media sosial. Kadang aku mengenakan gaya klasik, terkadang alternatif, dan sesekali mencoba tampilan pin-up yang terinspirasi dari model-model zaman dahulu.
Sampai suatu sore, sebuah pesan masuk ke akun media sosialku.
Pesan itu berasal dari sebuah agensi model.
Mereka mengaku tertarik setelah melihat beberapa fotoku. Mereka sedang mencari wajah baru untuk pemotretan profesional bertema retro dan mengundangku datang ke studio pada akhir pekan.
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Tanganku gemetar. Jantungku berdegup begitu cepat sampai aku harus duduk di tepi tempat tidur.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang melihat sesuatu dalam diriku.
Malam itu aku hampir tidak bisa tidur. Aku membayangkan pemotretan tersebut menjadi langkah pertama menuju karier besar. Mungkin dari sana aku akan mendapat kontrak. Mungkin wajahku akan muncul di majalah. Mungkin orang-orang yang selama ini mengabaikanku akhirnya akan melihat siapa diriku.
Namun, di balik kebahagiaan itu, aku juga merasa takut.
Aku tidak berani datang sendirian.
Rayan, Laki-Laki yang Diam-Diam Kusukai
Aku meminta Rayan menemaniku ke studio.
Rayan adalah teman sekelasku. Ia tidak banyak bicara, tetapi selalu memperlakukan orang lain dengan baik. Senyumnya canggung dan terkadang terlihat lucu. Ia juga tidak pernah mengejek penampilanku seperti beberapa anak lain di sekolah.
Aku sudah menyukainya sejak lama.
Tentu saja, aku tidak pernah berani mengatakannya.
Ketika Rayan setuju menemaniku, aku merasa hari pemotretan nanti mungkin akan menjadi kesempatan untuk membuatnya terkesan. Aku ingin ia melihat sisi terbaikku. Aku ingin ia menyadari bahwa di balik gadis yang selama ini hanya membantunya mengerjakan tugas, ada seseorang yang bisa tampil memukau di depan kamera.
Namun, kegembiraanku langsung berkurang ketika Rayan mengatakan bahwa Rebecca juga akan ikut.
Rebecca adalah pacarnya.
Ia tinggi, berambut cokelat panjang, dan memiliki wajah yang hampir selalu terlihat sempurna dalam foto. Rebecca juga tahu dirinya cantik. Cara berjalan, berbicara, bahkan caranya memandang orang lain menunjukkan bahwa ia merasa lebih baik daripada siapa pun.
Rebecca tidak pernah terang-terangan mengatakan bahwa ia membenciku. Namun, setiap kali kami bertemu, ia selalu menemukan cara untuk membuatku merasa kecil.
“Aku ikut, ya,” katanya sambil menggandeng lengan Rayan. “Siapa tahu Jasmine butuh bantuan memilih pose.”
Nada suaranya terdengar ramah, tetapi senyum di bibirnya mengatakan hal lain.
Aku ingin menolak. Namun, aku takut Rayan juga tidak jadi datang.
Akhirnya, kami bertiga pergi ke studio.
Sepanjang perjalanan, aku mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku sudah mempersiapkan pakaian terbaik. Rambutku ditata dengan gaya klasik. Riasanku juga terlihat sempurna.
Hari itu seharusnya menjadi hari ketika aku bersinar.
Ternyata, hari itulah awal kehancuranku.
Penghinaan di Depan Orang yang Kusukai
Studio pemotretan itu lebih besar daripada yang kubayangkan. Lampu-lampu putih berdiri di berbagai sudut. Sebuah latar berwarna merah muda terpasang di tengah ruangan. Beberapa pakaian bergaya retro tergantung rapi di dekat meja rias.
Seorang fotografer berkepala botak menghampiriku. Ia memegang ponsel yang menampilkan beberapa foto dari akun media sosialku.
Ia memandang layar, kemudian melihat wajahku secara langsung.
Senyumnya perlahan menghilang.
Aku mulai merasa tidak nyaman.
“Kamu Jasmine?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Ia mendekat, lalu mengamati wajahku seolah-olah aku adalah barang yang hendak dibeli.
“Kamu terlihat jauh lebih bagus di foto,” katanya datar.
Aku terdiam.
Awalnya, kukira ia sedang bercanda. Namun, ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah.
“Maaf, tapi wajahmu tidak sesuai dengan yang kami cari,” lanjutnya. “Hidungmu terlalu lebar. Tulang pipimu kurang tegas. Bentuk kelopak matamu juga tidak seimbang.”
Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti pisau yang mengiris kepercayaan diriku.
Aku menoleh ke arah Rayan. Ia tampak terkejut, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Rebecca berdiri di sampingnya sambil menahan senyum.
“Apa tidak bisa dicoba terlebih dahulu?” tanyaku dengan suara bergetar. “Mungkin setelah terkena cahaya kamera—”
“Tidak perlu,” potong fotografer itu. “Kami tidak punya waktu untuk mencoba sesuatu yang sejak awal tidak cocok.”
Pipiku terasa panas. Tenggorokanku tercekat. Aku berusaha menahan air mata agar tidak menangis di depan Rayan.
Namun, sebelum aku sempat pergi, Rebecca melangkah maju.
“Bagaimana dengan saya?” tanyanya sambil melepaskan mantel dan berpose di bawah lampu. “Mungkin saya lebih cocok.”
Fotografer itu memandangnya dari atas hingga bawah. Sesaat kemudian, senyum lebar muncul di wajahnya.
“Nah, ini yang saya cari.”
Kalimat itu menghancurkan sisa keberanianku.
Rebecca menoleh kepadaku. Tatapannya dipenuhi kemenangan.
Aku tidak menunggu lebih lama. Aku mengambil tas, berlari keluar dari studio, lalu berjalan tanpa arah di bawah langit yang mulai gelap.
Air mata mengalir di wajahku.
Rayan memanggil namaku dari belakang, tetapi aku tidak berhenti.
Hari yang seharusnya menjadi awal dari impianku berubah menjadi penghinaan paling menyakitkan dalam hidupku.
Wajah yang Mulai Kubenci
Malam itu aku berdiri lama di depan cermin kamar.
Aku memperhatikan setiap bagian wajah yang disebutkan oleh fotografer tadi.
Hidungku memang lebar.
Tulang pipiku memang tidak tegas.
Kelopak mataku memang tidak simetris.
Semakin lama aku melihat, semakin banyak kekurangan yang kutemukan.
Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi melihat diriku sendiri. Aku melihat sesuatu yang buruk, tidak pantas, dan tidak layak berada di depan kamera.
Mungkin fotografer itu benar.
Mungkin wajah inilah yang selama ini menghalangi semua impianku.
Aku mulai mencari informasi mengenai operasi plastik. Aku melihat foto-foto sebelum dan sesudah operasi. Perempuan dengan wajah biasa dapat berubah menjadi sangat cantik hanya dalam beberapa jam.
Aku membayangkan memiliki hidung yang lebih kecil, mata yang lebih tajam, dan tulang pipi yang sempurna.
Namun, biaya operasi plastik ternyata sangat mahal. Klinik-klinik terkenal memasang harga puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Tabunganku tidak akan cukup, bahkan jika kukumpulkan selama bertahun-tahun.
Aku hampir menyerah ketika sebuah surel masuk ke kotak pesanku.
Judulnya berbunyi:
“Program Operasi Rekonstruksi Wajah dengan Harga Khusus.”
Di dalamnya terdapat penawaran operasi plastik dengan biaya yang sangat murah. Hanya beberapa juta rupiah. Klinik itu mengaku sedang menjalankan program promosi bagi pasien muda yang ingin meningkatkan kepercayaan diri.
Aku sempat curiga.
Harganya terlalu murah. Situs klinik tersebut juga terlihat sederhana. Tidak ada banyak informasi mengenai dokter yang menangani operasi.
Namun, saat itu aku tidak berpikir dengan jernih.
Aku hanya ingin menjadi cantik.
Aku ingin membuktikan kepada fotografer, Rebecca, Rayan, dan semua orang bahwa aku juga pantas dilihat.
Tanpa memberi tahu orang tuaku, aku menggunakan seluruh tabungan dan membuat janji operasi untuk minggu berikutnya.
Itulah kesalahan terbesar dalam hidupku.
Klinik Kecil yang Mengerikan
Klinik itu berada di ujung jalan sempit, jauh dari pusat kota.
Bangunannya tidak memiliki papan nama besar. Hanya ada tulisan kecil yang mulai pudar di atas pintu. Ketika masuk, aku mencium bau obat bercampur dengan sesuatu yang lembap dan menusuk.
Ruang tunggunya kosong.
Tidak ada perawat, resepsionis, atau pasien lain.
Seorang pria berambut panjang keluar dari balik pintu. Ia mengenakan jas putih yang terlihat kusut. Senyumnya membuat bulu kudukku berdiri.
“Kamu Jasmine?” tanyanya.
Aku mengangguk pelan.
“Silakan masuk. Kita bisa langsung mulai.”
“Apakah saya tidak perlu pemeriksaan terlebih dahulu?”
Ia tertawa kecil.
“Tidak perlu khawatir. Ini hanya prosedur sederhana.”
Seharusnya aku pergi saat itu juga.
Seharusnya aku mendengarkan suara kecil di dalam kepalaku yang terus mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah.
Namun, aku sudah terlalu jauh tenggelam dalam rasa benci terhadap diriku sendiri.
Pria itu menyuruhku berbaring di kursi operasi. Ia memasang sesuatu pada lenganku. Beberapa detik kemudian, pandanganku mulai kabur.
Hal terakhir yang kulihat adalah lampu putih di atas kepala dan senyum aneh dokter tersebut.
Setelah itu, semuanya gelap.
Aku Terbangun dengan Rasa Sakit Luar Biasa
Ketika membuka mata, wajahku terasa seperti terbakar.
Aku mencoba berteriak, tetapi rahangku hampir tidak bisa digerakkan. Seluruh wajahku tertutup perban. Bahkan untuk bernapas saja terasa menyakitkan.
Dokter itu berdiri di dekat pintu.
“Operasinya berhasil,” katanya. “Bengkaknya mungkin sedikit lebih parah, tetapi itu normal.”
Ia memberiku beberapa obat, lalu menyuruhku pulang.
Tidak ada pemeriksaan lanjutan. Tidak ada penjelasan mengenai apa yang harus kulakukan jika terjadi komplikasi.
Aku terlalu lemah untuk bertanya.
Selama enam minggu berikutnya, aku hampir tidak pernah keluar kamar. Aku mengatakan kepada orang tuaku bahwa aku mengalami kecelakaan kecil dan tidak ingin dilihat siapa pun sampai pulih.
Rasa sakit itu tidak pernah benar-benar hilang.
Pada malam hari, luka di wajahku terasa berdenyut. Terkadang perbannya dipenuhi bercak darah. Salah satu mataku sulit dibuka, sedangkan hidungku terasa seperti tertarik ke satu sisi.
Aku mencoba menghubungi nomor klinik, tetapi tidak pernah ada jawaban.
Meski begitu, aku masih berusaha berpikir positif.
Aku percaya rasa sakit itu adalah harga yang harus dibayar untuk menjadi cantik.
Aku menghitung hari sampai waktu membuka perban tiba.
Namun, ketika akhirnya berdiri di depan cermin dan melepaskan lapisan terakhir perban, dunia di sekitarku seolah berhenti bergerak.
Aku tidak mengenali wajah yang ada di dalam cermin.
Bekas luka kasar membentang di kedua pipiku. Hidungku bengkok ke kiri. Salah satu kelopak mataku tertarik terlalu tinggi, membuat mataku sulit tertutup sempurna.
Bibirku juga terlihat tidak simetris.
Aku menyentuh wajah itu dengan tangan gemetar.
“Tidak,” bisikku. “Ini bukan aku.”
Aku mundur beberapa langkah hingga punggungku membentur dinding.
Perempuan di dalam cermin terlihat seperti monster.
Dan monster itu adalah aku.
Dokter Itu Menghilang
Aku langsung pergi ke klinik.
Namun, ketika tiba di sana, pintunya sudah terkunci. Papan nama kecil di atas pintu telah dilepas. Ruangan di balik jendela terlihat kosong.
Aku bertanya kepada pemilik toko di sebelahnya.
“Dokter yang membuka klinik di sini sudah pergi,” katanya. “Tadi malam semua barangnya diangkut.”
“Pergi ke mana?”
Pria itu mengangkat bahu.
Aku berdiri di depan bangunan kosong dengan tubuh gemetar.
Saat itulah aku menyadari bahwa aku telah ditipu.
Tidak ada dokter ahli. Tidak ada program promosi. Tidak ada operasi rekonstruksi yang aman.
Aku menyerahkan wajahku kepada seseorang yang bahkan mungkin tidak mempunyai izin medis.
Aku ingin menangis, tetapi salah satu mataku terasa terlalu sakit untuk mengeluarkan air mata.
Tawa Rebecca di Lorong Sekolah
Aku tidak ingin kembali ke sekolah.
Aku takut melihat tatapan orang lain. Aku takut mendengar bisikan mereka. Lebih dari semuanya, aku takut bertemu Rayan dan Rebecca.
Namun, aku tidak bisa bersembunyi selamanya.
Pada hari pertama kembali, aku mengenakan syal besar dan menundukkan kepala sepanjang perjalanan menuju kelas.
Beberapa siswa berhenti berbicara ketika aku lewat. Mereka memandang wajahku dengan tatapan terkejut. Ada yang berbisik. Ada pula yang diam-diam mengambil foto.
Saat jam istirahat, aku bertemu Rayan dan Rebecca di lorong.
Rayan terlihat membeku ketika melihatku.
“Jasmine?” panggilnya pelan.
Aku mencoba menarik syal lebih tinggi, tetapi sudah terlambat.
Rebecca menatapku selama beberapa detik. Kemudian, ia tertawa terbahak-bahak.
“Ya ampun,” katanya. “Kamu benar-benar melakukannya?”
Aku memandangnya dengan bingung.
“Apa maksudmu?”
“Operasi wajah itu.” Senyumnya semakin lebar. “Akulah yang mengirimkan surel klinik itu kepadamu.”
Darahku terasa berhenti mengalir.
“Apa?”
Rebecca mendekat dan berbisik, “Itu hanya lelucon. Semua orang tahu klinik itu bermasalah. Aku tidak menyangka kamu sebodoh itu sampai benar-benar datang.”
Aku tidak mampu berkata-kata.
Ternyata, penghinaan di studio belum cukup baginya. Ia melihat riwayat pencarianku melalui laptop yang pernah kupinjamkan kepada Rayan untuk mengerjakan tugas. Setelah mengetahui aku sedang mencari operasi plastik murah, Rebecca mengirimkan tautan klinik itu menggunakan alamat surel palsu.
“Kamu yang melakukan semua ini?” tanyaku. Suaraku hampir tidak terdengar.
Rebecca mengangkat bahu.
“Aku hanya mengirimkan tautan. Kamu sendiri yang memilih pergi.”
Kemudian ia menatap wajahku dan tersenyum puas.
“Sekarang siapa yang mau berkencan denganmu?”
Aku menoleh ke arah Rayan. Aku berharap ia akan membelaku.
Namun, ia hanya berdiri diam.
Diamnya terasa lebih menyakitkan daripada semua kata-kata Rebecca.
Aku berlari meninggalkan sekolah sebelum air mataku jatuh.
Hari itu aku mengunci diri di kamar dan tidak keluar selama dua hari.
Ketika Semua Impian Terasa Berakhir
Aku tidak mempunyai uang untuk memperbaiki wajahku.
Orang tuaku juga bukan keluarga kaya. Ketika akhirnya mengetahui semuanya, ibuku menangis sambil memelukku. Ayahku melaporkan klinik tersebut kepada polisi, tetapi dokter palsu itu sudah menghilang.
Untuk pertama kalinya, aku merasa hidupku benar-benar berakhir.
Aku tidak lagi membuka media sosial. Semua fotoku kuhapus. Pakaian-pakaian yang dahulu membuatku percaya diri kusimpan di dalam lemari.
Aku berhenti memandang cermin.
Namun, pada suatu malam, ibuku masuk ke kamar dan meletakkan buku pelajaran di atas tempat tidur.
“Kamu masih memiliki banyak hal yang tidak bisa dirusak oleh siapa pun,” katanya.
Aku tidak menjawab.
Ibu menyentuh kepalaku dengan lembut.
“Wajahmu terluka, Jasmine. Tetapi pikiran, keberanian, dan masa depanmu masih ada. Jangan biarkan orang yang menyakitimu mengambil semuanya.”
Perkataan itu terus terngiang di kepalaku.
Malam itu aku membuka kembali buku pelajaran.
Aku tidak tahu apakah belajar dapat menyembuhkan luka di wajahku. Namun, setidaknya aku membutuhkan alasan untuk bangun setiap pagi.
Aku mulai menghabiskan lebih banyak waktu di perpustakaan. Ketika siswa lain pulang, aku tetap berada di kelas untuk belajar. Aku mengerjakan setiap tugas dengan sungguh-sungguh dan berhenti memedulikan bisikan orang-orang.
Pada awalnya, semuanya terasa berat.
Namun, perlahan-lahan aku mulai menemukan diriku kembali.
Bukan Jasmine yang ingin diterima karena wajahnya.
Bukan pula Jasmine yang rela melakukan apa pun untuk mendapatkan perhatian.
Aku menemukan Jasmine yang tidak mudah menyerah.
Berdiri di Atas Panggung Wisuda
Beberapa bulan kemudian, sekolah mengumumkan bahwa aku menjadi lulusan terbaik.
Ketika mendengar namaku, aku menangis.
Bukan karena nilai itu membuat luka di wajahku menghilang. Bukan pula karena semua orang tiba-tiba berhenti memandangku dengan aneh.
Aku menangis karena akhirnya berhasil membuktikan bahwa hidupku belum berakhir.
Pada hari kelulusan, aku berdiri di belakang panggung sambil memegang naskah pidato. Tanganku gemetar.
Di balik tirai, ratusan siswa dan orang tua sudah menunggu.
Aku sempat berpikir untuk mundur.
Kemudian aku melihat bayanganku pada permukaan kaca. Bekas luka masih ada. Hidungku masih sedikit bengkok. Salah satu mataku masih terlihat berbeda.
Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak melihat monster.
Aku melihat seorang perempuan yang selamat.
Aku berjalan ke atas panggung.
Semua mata memandangku, tetapi kali ini aku tidak menundukkan kepala.
“Selama bertahun-tahun,” kataku membuka pidato, “aku percaya bahwa nilai seseorang ditentukan oleh bagaimana orang lain memandang wajahnya. Aku salah.”
Ruangan mendadak hening.
Aku menceritakan tentang kegagalan, rasa malu, dan keberanian untuk kembali berdiri. Aku tidak menyebut nama Rebecca atau dokter palsu itu. Aku tidak ingin pidatoku dipenuhi kebencian.
“Ada luka yang tidak bisa kita pilih,” lanjutku. “Namun, kita masih bisa memilih apakah luka itu akan menghancurkan atau membentuk kita.”
Suaraku bergetar, tetapi aku terus berbicara.
“Cantik bukan berarti tidak mempunyai kekurangan. Cantik adalah keberanian untuk tetap berjalan ketika dunia membuat kita merasa tidak pantas.”
Ketika pidatoku selesai, seluruh ruangan berdiri dan bertepuk tangan.
Di antara kerumunan, aku melihat ibuku menangis.
Untuk pertama kalinya sejak operasi itu, aku merasa benar-benar cantik.
Rayan Datang Membawa Bunga
Setelah turun dari panggung, aku melihat Rayan menungguku di dekat pintu. Ia membawa sebuket bunga.
“Aku ingin minta maaf,” katanya.
Aku diam.
“Aku seharusnya membelamu saat Rebecca mengatakan semuanya. Aku takut, dan aku memilih diam. Aku menyesal.”
Ia menyerahkan bunga itu kepadaku.
“Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Rebecca. Aku juga sudah memberikan kesaksian kepada polisi tentang surel dan klinik itu.”
Aku menerima bunganya, tetapi tidak langsung memaafkannya.
“Kamu terlambat, Rayan,” kataku.
Ia menunduk.
“Aku tahu.”
Rayan kemudian mengatakan bahwa ia menyukaiku dan berharap kami bisa pergi bersama suatu hari nanti.
Dahulu, kalimat itu mungkin akan membuatku melompat kegirangan. Namun, Jasmine yang sekarang tidak lagi membutuhkan pengakuan seorang laki-laki untuk merasa berharga.
“Aku belum siap berkencan,” jawabku. “Aku sedang belajar mencintai diriku sendiri.”
Rayan mengangguk.
Untuk pertama kalinya, aku berjalan meninggalkannya tanpa merasa kehilangan apa pun.
Kesempatan yang Tidak Pernah Kubayangkan
Keesokan paginya, sebuah agensi model menghubungiku.
Awalnya kukira itu penipuan lain. Namun, setelah diperiksa, agensi tersebut benar-benar resmi.
Seorang perwakilan agensi mengatakan bahwa video pidato kelulusanku tersebar luas di media sosial. Mereka sedang mencari perempuan untuk kampanye tentang keberanian, penerimaan diri, dan kecantikan yang tidak sempurna.
“Kami tidak mencari wajah yang sama seperti semua orang,” katanya melalui telepon. “Kami mencari seseorang yang memiliki cerita, keberanian, dan karakter kuat.”
Mereka menawarkan kontrak kepadaku.
Kali ini, aku tidak langsung menerimanya.
Aku membaca seluruh dokumen, memeriksa reputasi perusahaan, dan meminta orang tuaku mendampingiku. Aku telah belajar bahwa impian tidak boleh membuat kita kehilangan akal sehat.
Setelah memastikan semuanya aman, aku menandatangani kontrak tersebut.
Beberapa minggu kemudian, aku berdiri di depan kamera.
Lampu-lampu studio menyala di sekelilingku. Namun, kali ini tidak ada yang menyuruhku menyembunyikan bekas luka.
Fotografer bahkan berkata, “Jangan tutupi wajahmu. Luka itu adalah bagian dari ceritamu.”
Aku menatap kamera dan tersenyum.
Senyum itu tidak sempurna.
Namun, itu adalah senyum paling jujur yang pernah kumiliki.
Aku Tidak Lagi Melihat Monster
Dahulu aku percaya kecantikan adalah tiket untuk mendapatkan cinta, perhatian, dan kesuksesan.
Aku juga pernah percaya bahwa wajahku adalah musuh terbesar dalam hidupku.
Ternyata, musuh terbesarku bukanlah bentuk hidung, mata, atau tulang pipiku. Musuh terbesarku adalah kebencian terhadap diri sendiri yang kubiarkan tumbuh karena perkataan orang lain.
Operasi plastik ilegal itu memang meninggalkan luka yang mungkin tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Namun, luka tersebut juga mengajarkanku sesuatu yang tidak akan pernah kupahami jika hidupku selalu berjalan sempurna.
Penampilan bisa berubah.
Kecantikan fisik juga tidak akan bertahan selamanya.
Namun, keberanian, kecerdasan, ketulusan, dan cara kita memperlakukan orang lain akan selalu menjadi bagian paling penting dari diri kita.
Sekarang, setiap kali berdiri di depan cermin, aku masih melihat bekas luka di wajahku. Aku masih melihat hidung yang sedikit bengkok dan kelopak mata yang tidak lagi simetris.
Namun, aku tidak melihat monster.
Aku melihat seorang perempuan yang pernah jatuh, dihina, ditipu, dan dihancurkan, tetapi memilih untuk bangkit.
Aku bangga dengan wajah ini.
Bukan karena wajahku sempurna, melainkan karena setiap luka mengingatkanku pada perjuangan yang berhasil kulewati.
Namaku Jasmine.
Aku pernah hampir kehilangan masa depan karena ingin menjadi orang lain.
Sekarang aku tahu, menjadi diri sendiri adalah bentuk kecantikan yang paling sulit sekaligus paling berharga.












