Tata Cara Shalat Jumat dan Khutbah yang Benar

Tata Cara Shalat Jumat dan Khutbah yang Benar
Tata Cara Shalat Jumat dan Khutbah yang Benar

Table of Contents

Tata Cara Shalat Jumat dan Khutbah yang Benar

operatorsekolah.id – Tata cara shalat Jumat dan khutbah yang benar perlu dipahami karena pelaksanaan ibadah Jumat tidak hanya terdiri atas shalat dua rakaat. Sebelum shalat dilaksanakan, harus terdapat dua khutbah yang memenuhi rukun dan persyaratannya. Waktu pelaksanaan, jumlah jamaah, kedudukan khatib, urutan khutbah, sikap jamaah, serta tata cara shalat menjadi satu rangkaian yang tidak dapat disusun secara sembarangan.

Tata Cara Shalat Jumat dan Khutbah yang Benar
Tata Cara Shalat Jumat dan Khutbah yang Benar

Dalam Mazhab Syafi’i, shalat Jumat menggantikan shalat Zuhur bagi orang yang memenuhi syarat wajib. Apabila seluruh syarat Jumat terpenuhi, jamaah melaksanakan dua khutbah dan shalat berjamaah dua rakaat dengan bacaan yang dikeraskan. Apabila persyaratan pokok tidak terpenuhi, kewajiban Zuhur tidak gugur. Kami akan membahas tata cara shalat Jumat dan khutbah yang benar berdasarkan Al-Qur’an, hadis Rasulullah saw., penjelasan Imam Syafi’i dalam Al-Umm, serta kitab-kitab rujukan Mazhab Syafi’i.

Pengertian Shalat Jumat

Shalat Jumat adalah shalat wajib dua rakaat yang dilaksanakan secara berjamaah pada hari Jumat setelah dua khutbah. Shalat ini menggantikan shalat Zuhur bagi orang yang wajib menghadirinya dan memenuhi seluruh persyaratan.

Shalat Jumat tidak dapat dilakukan sendirian. Berbeda dari shalat Zuhur yang dapat dikerjakan secara munfarid, Jumat berkaitan dengan jamaah, permukiman, khutbah, dan waktu tertentu.

Istilah Jumat berkaitan dengan perkumpulan. Umat Islam berkumpul di satu tempat untuk mendengarkan nasihat, mengingat Allah, membaca doa, dan mengerjakan shalat berjamaah.

Rangkaian utama pelaksanaan Jumat adalah:

  1. Masuknya waktu Zuhur.
  2. Jamaah berkumpul.
  3. Khatib naik ke mimbar atau tempat khutbah.
  4. Azan dikumandangkan.
  5. Khutbah pertama disampaikan.
  6. Khatib duduk di antara dua khutbah.
  7. Khutbah kedua disampaikan.
  8. Iqamah dikumandangkan.
  9. Imam melaksanakan shalat Jumat dua rakaat.
  10. Imam dan jamaah menyelesaikan shalat dengan salam.

Urutan ini mengikuti praktik Rasulullah saw. Khutbah Jumat dilakukan sebelum shalat, berbeda dari khutbah shalat Id yang dilaksanakan setelah shalat.

Dasar Kewajiban Shalat Jumat dalam Al-Qur’an

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 9:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.”

Ayat tersebut berisi dua perintah utama. Pertama, mendatangi zikir kepada Allah ketika panggilan Jumat dikumandangkan. Kedua, meninggalkan transaksi dan kegiatan yang menghalangi pelaksanaan Jumat.

Imam Syafi’i memahami zikir kepada Allah dalam ayat tersebut mencakup khutbah dan shalat Jumat. Karena itu, orang yang berkewajiban menghadiri Jumat tidak boleh sengaja tetap melakukan kegiatan yang membuatnya terlambat.

Kata “bersegera” tidak berarti berlari dengan tergesa-gesa. Maksudnya adalah segera meninggalkan kesibukan dan menuju tempat Jumat dengan tenang.

Rasulullah saw. bersabda:

“Apabila kalian mendatangi shalat, datanglah dengan tenang dan jangan tergesa-gesa.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Seseorang diperintahkan segera memenuhi panggilan Jumat, tetapi tetap berjalan dengan tertib, menjaga keselamatan, dan tidak mengganggu orang lain.

Kedudukan Shalat Jumat dalam Mazhab Syafi’i

Shalat Jumat merupakan fardu ain bagi laki-laki Muslim yang memenuhi syarat. Kewajibannya tidak dapat diganti dengan Zuhur tanpa alasan yang dibenarkan.

Orang yang sengaja meninggalkan Jumat karena meremehkannya berdosa. Ia tetap wajib mengerjakan shalat Zuhur empat rakaat karena Jumat yang ditinggalkannya tidak dapat dikerjakan sendirian setelah jamaah selesai.

Rasulullah saw. memberikan peringatan keras terhadap orang yang meninggalkan Jumat karena kelalaian.

Dalam hadis Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. memperingatkan bahwa orang-orang harus berhenti meninggalkan Jumat atau Allah akan menutup hati mereka. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dalam hadis lain disebutkan:

“Barang siapa meninggalkan tiga Jumat karena meremehkannya, Allah menutup hatinya.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah.

Ancaman tersebut ditujukan kepada orang yang meninggalkan Jumat tanpa uzur, bukan kepada orang sakit, musafir, atau orang yang memiliki halangan syar’i.

Orang yang Wajib Melaksanakan Shalat Jumat

Menurut Mazhab Syafi’i, kewajiban Jumat berlaku bagi orang yang memenuhi beberapa syarat.

Beragama Islam

Shalat Jumat merupakan ibadah umat Islam. Orang yang belum memeluk Islam tidak dituntut melaksanakannya sebagai ibadah yang sah sampai ia masuk Islam.

Laki-laki

Jumat wajib bagi laki-laki yang memenuhi syarat. Perempuan tidak diwajibkan menghadiri Jumat.

Namun, perempuan boleh menghadiri dan melaksanakan shalat Jumat. Apabila ia mengerjakan Jumat secara sah bersama jamaah, ia tidak perlu mengerjakan Zuhur lagi.

Baligh

Anak yang belum baligh tidak wajib Jumat. Orang tua tetap dapat mengajak anak menghadiri Jumat sebagai bentuk pendidikan.

Kehadiran anak yang belum baligh tidak dihitung sebagai bagian dari jumlah jamaah yang menjadi syarat kesahan menurut pendapat yang dijadikan pegangan dalam Mazhab Syafi’i.

Berakal

Orang yang kehilangan akal tidak terkena kewajiban sebagaimana orang mukalaf lainnya.

Merdeka dalam pembahasan fikih klasik

Kitab-kitab fikih klasik menyebut kemerdekaan sebagai salah satu syarat wajib Jumat karena keadaan sosial pada masa tersebut masih mengenal perbudakan.

Dalam kehidupan masa kini, pembahasan praktis berpusat pada laki-laki Muslim yang baligh, berakal, sehat, dan menetap.

Menetap

Jumat wajib bagi penduduk tetap atau orang yang bermukim di wilayah tempat Jumat didirikan.

Musafir tidak diwajibkan Jumat. Namun, apabila musafir menghadiri Jumat dan melaksanakannya bersama jamaah, shalatnya sah dan tidak perlu mengerjakan Zuhur.

Tidak memiliki uzur

Orang yang sakit atau menghadapi kesulitan berat dapat memperoleh keringanan meninggalkan Jumat.

Orang yang Mendapat Keringanan Tidak Menghadiri Jumat

Uzur tidak boleh dibuat-buat hanya untuk menghindari Jumat. Halangan harus nyata dan memiliki pengaruh yang berarti.

Beberapa keadaan yang dapat menjadi uzur antara lain:

  • Sakit yang akan bertambah parah apabila menghadiri Jumat.
  • Kesulitan berjalan yang berat.
  • Merawat orang sakit yang tidak memiliki penjaga lain.
  • Menunggu anggota keluarga yang berada dalam keadaan kritis.
  • Kekhawatiran terhadap keselamatan diri.
  • Ancaman yang nyata dan tidak dapat dihindari.
  • Hujan sangat lebat yang menimbulkan bahaya atau kesulitan berat.
  • Banjir, kebakaran, atau bencana.
  • Menjaga orang atau harta dari bahaya yang sedang terjadi.
  • Menjalankan tugas penyelamatan yang tidak dapat ditinggalkan.
  • Musafir yang belum berstatus penduduk tetap.
  • Kondisi darurat keamanan.

Ibnu Umar r.a. pernah dipanggil ketika Sa’id bin Zaid dalam keadaan menjelang wafat. Ia mendatanginya dan tidak menghadiri Jumat. Riwayat ini dicantumkan Imam Syafi’i untuk menjelaskan bahwa merawat atau menemani orang dekat yang berada dalam keadaan kritis dapat menjadi uzur.

Orang yang tidak menghadiri Jumat karena uzur tetap wajib melaksanakan shalat Zuhur empat rakaat.

Syarat Sah Shalat Jumat Menurut Mazhab Syafi’i

Syarat wajib berkaitan dengan orang yang harus menghadiri Jumat. Syarat sah menentukan apakah pelaksanaan Jumat dapat menggugurkan kewajiban Zuhur.

Dilaksanakan pada waktu Zuhur

Waktu Jumat dimulai setelah matahari tergelincir dari titik tengah langit dan masuk waktu Zuhur.

Imam Syafi’i menetapkan bahwa khutbah dan shalat Jumat dilakukan setelah zawal. Pelaksanaan sebelum masuk waktu Zuhur tidak memenuhi waktu Jumat menurut Mazhab Syafi’i.

Waktu Jumat berakhir ketika waktu Asar masuk. Apabila Jumat tidak dapat diselesaikan pada waktunya sesuai ketentuan, jamaah melaksanakan Zuhur empat rakaat.

Dilaksanakan di kawasan permukiman

Jumat dilaksanakan di kota, desa, atau kawasan yang menjadi tempat tinggal tetap masyarakat.

Masjid merupakan tempat yang paling utama. Namun, bangunan masjid bukan satu-satunya unsur yang menentukan. Tempat pelaksanaan harus berada dalam lingkungan permukiman yang memenuhi ketentuan Jumat.

Jumat tidak didirikan secara sembarangan oleh sekelompok musafir di tengah perjalanan yang tidak menjadi tempat tinggal tetap.

Dilaksanakan secara berjamaah

Jumat tidak sah dikerjakan sendirian. Jamaah harus memenuhi jumlah dan sifat yang ditetapkan dalam Mazhab Syafi’i.

Dihadiri 40 laki-laki yang memenuhi syarat

Pendapat yang dijadikan pegangan dalam Mazhab Syafi’i mensyaratkan 40 laki-laki termasuk imam.

Mereka harus:

  • Muslim.
  • Laki-laki.
  • Baligh.
  • Berakal.
  • Menjadi penduduk tetap wilayah tersebut.
  • Memenuhi syarat kewajiban Jumat.
  • Hadir dalam rangkaian khutbah dan shalat sesuai ketentuan.

Imam Syafi’i dalam Al-Umm menyebut pegangan 40 laki-laki sebagai jumlah minimal yang diterima dalam pendapat beliau. Beliau juga mencantumkan riwayat dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bahwa setiap desa yang memiliki 40 laki-laki berkewajiban mengadakan Jumat.

Jumlah tersebut merupakan pendapat Mazhab Syafi’i. Mazhab lain memiliki ketentuan jumlah jamaah yang berbeda.

Didahului dua khutbah

Shalat Jumat harus didahului dua khutbah. Satu khutbah saja tidak mencukupi menurut Mazhab Syafi’i.

Kedua khutbah dipisahkan dengan duduk singkat. Setelah khutbah kedua selesai, shalat Jumat dilaksanakan.

Tidak didahului Jumat lain dalam satu wilayah tanpa kebutuhan

Dalam pembahasan klasik Mazhab Syafi’i, Jumat pada dasarnya disatukan dalam satu tempat di suatu kota atau desa.

Apabila jumlah penduduk, jarak, keterbatasan bangunan, keamanan, atau kesulitan berkumpul membuat satu tempat tidak mencukupi, para ulama kemudian membahas kebolehan penyelenggaraan di beberapa tempat sesuai kebutuhan.

Penyelenggara tidak seharusnya mendirikan Jumat baru hanya karena perselisihan pribadi, perbedaan kelompok, atau keinginan memisahkan jamaah tanpa kebutuhan.

Kedudukan Khutbah dalam Shalat Jumat

Khutbah bukan sekadar acara pembukaan sebelum shalat. Khutbah merupakan bagian utama dari pelaksanaan Jumat.

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa shalat Jumat hanya menjadi dua rakaat apabila didahului khutbah yang memenuhi ketentuan. Jika khutbah ditinggalkan, jamaah kembali kepada kewajiban asal, yaitu shalat Zuhur empat rakaat.

Khutbah Jumat berbeda dari ceramah biasa. Ceramah dapat dilakukan kapan saja, menggunakan susunan yang bebas, dan tidak menentukan sahnya shalat.

Khutbah Jumat mempunyai:

  • Waktu tertentu.
  • Dua bagian khutbah.
  • Rukun tertentu.
  • Persyaratan khatib.
  • Persyaratan jamaah.
  • Duduk pemisah.
  • Hubungan langsung dengan shalat Jumat.

Ceramah sebelum waktu Zuhur tidak dapat menggantikan dua khutbah yang menjadi syarat Jumat.

Dalil Dua Khutbah dan Duduk di Antara Keduanya

Jabir bin Abdullah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. menyampaikan dua khutbah pada hari Jumat dalam keadaan berdiri dan duduk di antara keduanya.

Riwayat ini terdapat dalam Shahih Muslim dan dicantumkan Imam Syafi’i dalam Al-Umm.

Abdullah bin Umar r.a. juga meriwayatkan:

“Nabi berkhutbah dengan berdiri, kemudian duduk, lalu berdiri kembali.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Berdasarkan hadis tersebut, tata cara yang benar adalah:

  1. Khatib berdiri untuk khutbah pertama.
  2. Khatib duduk sebentar.
  3. Khatib berdiri untuk khutbah kedua.
  4. Khatib turun setelah selesai.
  5. Muazin mengumandangkan iqamah.
  6. Shalat Jumat dua rakaat dilaksanakan.

Khatib yang tidak mampu berdiri karena sakit boleh menyampaikan khutbah sambil duduk. Keringanan tersebut didasarkan pada ketidakmampuan, bukan sekadar keinginan untuk lebih nyaman.

Syarat Khatib Jumat

Khatib memegang tanggung jawab besar karena khutbah menjadi bagian dari kesahan Jumat.

Khatib harus memenuhi ketentuan berikut:

  • Beragama Islam.
  • Laki-laki.
  • Baligh.
  • Berakal.
  • Suci dari hadas kecil dan besar.
  • Suci tubuh, pakaian, dan tempatnya dari najis.
  • Menutup aurat.
  • Memahami rukun khutbah.
  • Mampu membaca rukun dengan benar.
  • Berdiri jika mampu.
  • Menjaga urutan serta kesinambungan khutbah.
  • Menyampaikan rukun agar didengar jamaah yang menjadi syarat Jumat.

Khatib tidak harus selalu menjadi imam shalat. Khutbah dapat disampaikan satu orang dan shalat dipimpin orang lain apabila seluruh persyaratan masing-masing terpenuhi.

Namun, satu orang menjadi khatib sekaligus imam lebih sederhana dan sesuai dengan praktik yang umum.

Lima Rukun Khutbah Jumat Menurut Mazhab Syafi’i

Khutbah yang panjang belum tentu sah apabila rukun-rukunnya tidak terpenuhi. Sebaliknya, khutbah yang ringkas dapat sah apabila seluruh rukun dilaksanakan dengan benar.

1. Memuji Allah dalam kedua khutbah

Khatib wajib membaca pujian kepada Allah pada khutbah pertama dan khutbah kedua.

Bacaan minimalnya menggunakan lafaz pujian yang jelas, seperti:

Alhamdulillāh.

Artinya:

Segala puji bagi Allah.

Ucapan lain yang tidak mengandung lafaz pujian secara jelas tidak seharusnya digunakan untuk menggantikan hamdalah.

Contoh pembukaan yang lebih lengkap:

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, nahmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh.

2. Membaca shalawat kepada Nabi dalam kedua khutbah

Khatib wajib membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw. pada khutbah pertama dan khutbah kedua.

Bacaan minimalnya:

Allāhumma shalli ‘alā Muhammad.

Atau:

Wash-shalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh.

Shalawat harus ditujukan secara jelas kepada Nabi Muhammad saw. Penyebutan nama Nabi tanpa bentuk shalawat tidak mencukupi.

3. Memberikan wasiat takwa dalam kedua khutbah

Khatib harus menyampaikan pesan yang mengajak jamaah menaati Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Lafaz wasiat takwa tidak harus sama dalam setiap khutbah. Contoh yang umum adalah:

Ushīkum wa nafsī bitaqwallāh.

Artinya:

Aku berwasiat kepada kalian dan diriku agar bertakwa kepada Allah.

Khatib juga dapat mengucapkan:

Ittaqullāh.

Artinya:

Bertakwalah kepada Allah.

Nasihat umum yang tidak mengandung ajakan menaati Allah perlu diperjelas agar rukun wasiat takwa terpenuhi.

4. Membaca satu ayat Al-Qur’an dalam salah satu khutbah

Khatib wajib membaca sekurang-kurangnya satu ayat Al-Qur’an yang memiliki makna sempurna dalam salah satu dari dua khutbah.

Membaca ayat dalam khutbah pertama lebih umum dilakukan. Membacanya dalam khutbah kedua juga dapat mencukupi.

Ayat yang dibaca sebaiknya berkaitan dengan tema khutbah. Contohnya adalah Surah Ali Imran ayat 102:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.”

Imam Syafi’i menyukai pembacaan Surah Qaf dalam khutbah pertama berdasarkan riwayat bahwa Rasulullah saw. membacanya di atas mimbar. Namun, membaca surah tersebut secara lengkap bukan rukun.

5. Mendoakan kaum mukmin pada khutbah kedua

Khatib wajib mendoakan orang-orang beriman pada khutbah kedua.

Contoh bacaan:

Allāhummaghfir lil-mu’minīna wal-mu’mināt.

Artinya:

Ya Allah, ampunilah laki-laki dan perempuan yang beriman.

Doa dapat ditambah dengan permohonan kebaikan, keselamatan, ampunan, dan pertolongan bagi umat Islam.

Doa tidak boleh berisi kezaliman, permusuhan yang tidak benar, atau kepentingan pribadi yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Penggunaan Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia dalam Khutbah

Rukun-rukun khutbah dibaca dalam bahasa Arab oleh khatib yang mampu, terutama hamdalah, shalawat, wasiat takwa, ayat Al-Qur’an, dan doa yang menjadi rukun.

Isi penjelasan, nasihat, uraian masalah, dan penerapan dapat disampaikan dalam bahasa Indonesia agar dipahami jamaah.

Susunan yang dapat digunakan adalah:

  1. Hamdalah dalam bahasa Arab.
  2. Shalawat dalam bahasa Arab.
  3. Wasiat takwa dalam bahasa Arab.
  4. Pembacaan ayat Al-Qur’an.
  5. Penjelasan ayat dalam bahasa Indonesia.
  6. Nasihat dan penerapan dalam bahasa Indonesia.
  7. Penutup khutbah pertama.
  8. Khutbah kedua dengan rukun-rukun yang diperlukan.
  9. Doa bagi kaum mukmin.

Tujuan khutbah bukan hanya menggugurkan rukun, tetapi juga menyampaikan petunjuk yang dipahami jamaah.

Syarat-Syarat Dua Khutbah Jumat

Selain lima rukun, khutbah memiliki persyaratan pelaksanaan.

Dilaksanakan setelah masuk waktu Zuhur

Khutbah Jumat tidak dilakukan sebelum zawal menurut Mazhab Syafi’i.

Ceramah yang dilakukan sebelum masuk waktu tidak dapat menggantikan khutbah setelah waktu Zuhur.

Khutbah dilakukan sebelum shalat

Jika shalat dua rakaat dilakukan lebih dahulu kemudian khutbah disampaikan, rangkaian tersebut tidak menjadi Jumat yang sah.

Khatib suci dari hadas

Khatib harus memiliki wudhu dan tidak berada dalam keadaan junub.

Jika wudhunya batal ketika khutbah, ia harus bersuci dan mengulang bagian yang diperlukan dengan tetap menjaga kesinambungan sesuai ketentuan.

Menutup aurat

Aurat khatib harus tertutup sebagaimana ketika melaksanakan shalat.

Berdiri bagi yang mampu

Khatib berdiri pada kedua khutbah. Jika memiliki uzur yang membuatnya tidak mampu, ia boleh duduk.

Duduk di antara dua khutbah

Khatib duduk sebentar setelah khutbah pertama sebelum memulai khutbah kedua.

Duduk tersebut harus memberikan pemisah yang jelas. Tidak cukup hanya membungkuk atau diam dalam keadaan tetap berdiri.

Menjaga kesinambungan

Rukun-rukun dalam khutbah tidak boleh dipisahkan oleh jeda yang sangat lama atau kegiatan yang memutus rangkaian.

Khutbah kedua juga segera diikuti shalat tanpa penundaan panjang yang tidak diperlukan.

Rukun didengar jamaah

Rukun khutbah disampaikan dengan suara yang dapat didengar oleh jamaah yang menjadi syarat kesahan Jumat.

Penggunaan pengeras suara membantu jamaah, tetapi khatib tetap harus mengucapkan bacaan dengan suara nyata, bukan sekadar rekaman.

Rekaman khutbah tidak dapat menggantikan khatib yang menyampaikan khutbah secara langsung.

Jumlah jamaah tetap terpenuhi

Jamaah yang menjadi syarat harus hadir dan mendengarkan rangkaian khutbah sesuai ketentuan.

Apabila jumlahnya turun di bawah batas yang disyaratkan, pelaksanaan Jumat perlu dinilai kembali berdasarkan tahap dan keadaan terjadinya kekurangan.

Tata Cara Khutbah Jumat yang Benar

1. Khatib mempersiapkan diri

Sebelum khutbah, khatib memastikan:

  • Wudhunya masih sah.
  • Pakaian bersih dan menutup aurat.
  • Naskah khutbah siap.
  • Rukun khutbah telah dimasukkan.
  • Ayat dan hadis dibaca dengan benar.
  • Tema sesuai kebutuhan jamaah.
  • Isi tidak terlalu panjang.
  • Pengeras suara berfungsi.
  • Waktu Zuhur telah masuk.

Khatib tidak seharusnya baru menyusun rukun khutbah ketika telah berada di atas mimbar.

2. Khatib naik ke mimbar

Khatib menuju mimbar dengan tenang. Ia dapat berpegangan pada tongkat atau benda lain sebagai sunnah dan untuk menjaga ketenangan tubuh.

Imam Syafi’i menyukai khatib bersandar pada tongkat, tombak pendek, atau benda yang sesuai. Apabila tidak menggunakannya, kedua tangan dijaga agar tidak terus bergerak dan bermain-main.

3. Khatib mengucapkan salam

Ketika telah menghadap jamaah, khatib mengucapkan salam.

Jamaah menjawab salam dengan tertib.

4. Khatib duduk saat azan

Setelah salam, khatib duduk. Muazin kemudian mengumandangkan azan.

Sa’ib bin Yazid r.a. meriwayatkan bahwa pada masa Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar, azan Jumat dikumandangkan ketika imam duduk di atas mimbar. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.

5. Khatib berdiri menyampaikan khutbah pertama

Setelah azan selesai, khatib berdiri dan memulai khutbah.

Khutbah pertama memuat:

  • Hamdalah.
  • Shalawat kepada Nabi.
  • Wasiat takwa.
  • Ayat Al-Qur’an.
  • Nasihat atau uraian tema.

Khatib menghadapkan wajah kepada jamaah, menjaga suara, dan tidak membaca terlalu cepat.

6. Khatib duduk di antara dua khutbah

Setelah khutbah pertama selesai, khatib duduk sebentar dengan tenang.

Jeda ini bukan waktu untuk menyampaikan pengumuman, berbicara dengan jamaah, atau melakukan kegiatan lain.

7. Khatib berdiri menyampaikan khutbah kedua

Khatib kembali berdiri.

Khutbah kedua memuat:

  • Hamdalah.
  • Shalawat kepada Nabi.
  • Wasiat takwa.
  • Doa bagi kaum mukmin.
  • Nasihat singkat atau ayat tambahan.

Khatib dapat menutup dengan istigfar dan doa yang baik.

8. Khatib turun dari mimbar

Setelah khutbah selesai, khatib turun tanpa penundaan panjang.

Muazin mengumandangkan iqamah.

9. Imam memimpin shalat Jumat

Imam berdiri di mihrab dan melaksanakan shalat Jumat dua rakaat dengan bacaan yang dikeraskan.

Contoh Struktur Singkat Khutbah Pertama

Struktur ini bukan naskah khutbah lengkap, tetapi dapat menjadi panduan agar rukun tidak terlewat.

Hamdalah

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.

Shalawat

Allāhumma shalli wa sallim ‘alā sayyidinā Muhammad wa ‘alā ālihi wa shahbihi ajma‘īn.

Syahadat

Asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muhammadan rasūlullāh.

Syahadat sangat dianjurkan dalam pembukaan khutbah, meskipun daftar rukun utama yang disebutkan dalam Mazhab Syafi’i berpusat pada lima unsur yang telah dijelaskan.

Wasiat takwa

Ushīkum wa nafsī bitaqwallāh.

Ayat Al-Qur’an

Khatib membaca satu ayat yang sesuai dengan tema.

Isi khutbah

Khatib menjelaskan tema secara ringkas, terarah, berdasarkan dalil, dan relevan dengan kehidupan jamaah.

Contoh Struktur Singkat Khutbah Kedua

Hamdalah

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.

Shalawat

Allāhumma shalli wa sallim ‘alā Muhammad.

Wasiat takwa

Ittaqullāha haqqa tuqātih.

Nasihat singkat

Khatib mengingatkan inti tema khutbah pertama tanpa mengulang seluruh pembahasan.

Doa untuk orang beriman

Allāhummaghfir lil-mu’minīna wal-mu’mināt, wal-muslimīna wal-muslimāt, al-ahyā’i minhum wal-amwāt.

Doa penutup

Khatib memohon kebaikan bagi agama, masyarakat, keluarga, dan seluruh kaum Muslimin.

Adzan pada Hari Jumat

Pada masa Rasulullah saw., azan dikumandangkan ketika beliau telah duduk di atas mimbar.

Ketika jumlah masyarakat bertambah pada masa Utsman bin Affan r.a., beliau menambahkan panggilan lebih awal agar orang-orang bersiap dan meninggalkan kesibukan.

Hadis mengenai penambahan azan oleh Utsman diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Sa’ib bin Yazid.

Praktik dua azan yang digunakan di banyak masjid mempunyai dasar dari kebijakan Khalifah Utsman yang diterima para sahabat.

Susunan yang umum dilakukan adalah:

  1. Azan awal sebagai pemberitahuan dan persiapan.
  2. Khatib naik mimbar.
  3. Khatib mengucapkan salam dan duduk.
  4. Azan kedua dikumandangkan.
  5. Khatib menyampaikan dua khutbah.
  6. Iqamah.
  7. Shalat Jumat.

Azan yang berkaitan langsung dengan larangan jual beli menurut banyak penjelasan adalah azan ketika imam telah berada di mimbar.

Keutamaan Berangkat Lebih Awal

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa malaikat berada di pintu-pintu masjid pada hari Jumat dan mencatat orang sesuai urutan kedatangannya.

Orang yang datang paling awal digambarkan memperoleh pahala seperti berkurban unta. Setelahnya seperti berkurban sapi, kambing, ayam, hingga telur. Ketika imam keluar, catatan ditutup dan para malaikat mendengarkan khutbah.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Imam Syafi’i sangat menganjurkan orang yang wajib Jumat berangkat sedini mungkin sesuai kemampuan.

Datang lebih awal memberikan kesempatan untuk:

  • Melaksanakan tahiyatul masjid.
  • Membaca Al-Qur’an.
  • Berzikir.
  • Bershalawat.
  • Berdoa.
  • Mendapat tempat yang baik.
  • Menghindari langkah tergesa-gesa.
  • Mendengarkan khutbah sejak awal.
  • Tidak mengganggu jamaah lain.

Mandi dan Berhias untuk Shalat Jumat

Rasulullah saw. sangat menganjurkan mandi pada hari Jumat.

Abu Sa’id Al-Khudri r.a. meriwayatkan sabda Rasulullah saw. mengenai mandi Jumat bagi orang yang telah baligh. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Orang yang hendak menghadiri Jumat dianjurkan:

  • Mandi.
  • Membersihkan tubuh.
  • Menggunakan pakaian yang baik.
  • Memakai wewangian bagi laki-laki.
  • Bersiwak.
  • Memotong kuku apabila diperlukan.
  • Merapikan rambut.
  • Menghilangkan bau badan.
  • Menghindari makanan yang meninggalkan bau menyengat.

Mandi Jumat tidak menggantikan wudhu apabila ketika mandi tidak memenuhi tata cara wudhu atau terjadi pembatal setelah mandi.

Shalat Tahiyatul Masjid Saat Khutbah

Orang yang masuk masjid ketika khatib sedang menyampaikan khutbah dianjurkan mengerjakan tahiyatul masjid dua rakaat secara ringan.

Jabir bin Abdullah r.a. meriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang ketika Rasulullah saw. sedang berkhutbah. Nabi bertanya apakah ia telah shalat. Ketika ia menjawab belum, Rasulullah memerintahkannya melaksanakan dua rakaat.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Orang tersebut:

  1. Tidak duduk sebelum shalat.
  2. Melaksanakan dua rakaat secara ringkas.
  3. Tidak memperpanjang bacaan.
  4. Setelah selesai segera duduk.
  5. Mendengarkan khutbah.

Ia tidak melaksanakan shalat sunnah panjang yang menyebabkan banyak bagian khutbah terlewat.

Kewajiban Mendengarkan Khutbah

Jamaah harus memusatkan perhatian kepada khutbah dan meninggalkan percakapan yang tidak diperlukan.

Rasulullah saw. bersabda:

“Jika engkau berkata kepada temanmu, ‘Diamlah,’ ketika imam berkhutbah, engkau telah melakukan perbuatan sia-sia.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Ucapan menyuruh orang lain diam pada dasarnya merupakan kebaikan. Namun, ketika khutbah berlangsung, hal itu tetap termasuk perkataan yang mengganggu perhatian.

Jamaah sebaiknya:

  • Menghadap kepada khatib.
  • Mendengarkan dengan tenang.
  • Tidak berbicara.
  • Tidak bermain dengan telepon.
  • Tidak membaca pesan.
  • Tidak mengambil gambar tanpa kebutuhan.
  • Tidak memainkan karpet atau pakaian.
  • Tidak bercanda.
  • Tidak mengedarkan kotak amal dengan cara mengganggu.
  • Tidak memberi komentar terhadap isi khutbah.
  • Tidak menjawab percakapan orang lain.

Apabila terjadi bahaya nyata, jamaah boleh memberikan peringatan seperlunya. Menyelamatkan orang dari kebakaran, pencurian, kecelakaan, atau ancaman tidak disamakan dengan percakapan biasa.

Larangan Bermain-Main Ketika Khutbah

Rasulullah saw. memperingatkan orang yang menyentuh atau bermain dengan kerikil ketika khutbah berlangsung.

Dalam hadis Abu Hurairah r.a. disebutkan:

“Barang siapa menyentuh kerikil, ia telah melakukan perbuatan sia-sia.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Pada masa sekarang, tindakan yang serupa dapat berupa:

  • Bermain dengan telepon.
  • Membuka media sosial.
  • Mengedit foto.
  • Mengirim pesan.
  • Menggambar tanpa kebutuhan.
  • Memainkan kunci kendaraan.
  • Mengobrol melalui tulisan.
  • Terus-menerus melihat jam.
  • Merapikan barang berulang kali.
  • Memainkan sajadah.

Tujuan larangan tersebut adalah menjaga perhatian agar nasihat khutbah dapat diterima dengan baik.

Tidak Melangkahi Bahu Jamaah

Orang yang datang terlambat tidak boleh memaksa menuju saf depan dengan melangkahi bahu atau leher jamaah.

Rasulullah saw. pernah melihat seseorang melangkahi orang-orang pada hari Jumat, kemudian memerintahkannya duduk karena telah mengganggu jamaah. Riwayat ini terdapat dalam Sunan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah.

Orang yang datang terlambat mencari tempat kosong terdekat tanpa mengganggu.

Jamaah yang datang lebih awal sebaiknya mengisi saf depan dan tidak sengaja menyisakan ruang kosong sehingga orang lain harus melewati mereka.

Larangan Jual Beli Setelah Panggilan Jumat

Allah memerintahkan meninggalkan jual beli ketika panggilan Jumat dikumandangkan.

Larangan tersebut berlaku bagi orang yang wajib menghadiri Jumat. Transaksi tidak boleh menjadi alasan untuk terus berada di toko, pasar, kantor, atau tempat usaha sampai khutbah dan shalat terlewat.

Kegiatan lain yang memiliki akibat serupa juga harus dihentikan, seperti:

  • Pekerjaan rutin yang dapat ditunda.
  • Rapat biasa.
  • Permainan.
  • Menonton hiburan.
  • Aktivitas media sosial.
  • Perjalanan yang sengaja dimulai untuk menghindari Jumat.
  • Kegiatan usaha daring.
  • Pelayanan non-darurat.

Pekerjaan darurat seperti pertolongan medis, pemadaman kebakaran, atau tugas penyelamatan memiliki hukum berbeda sesuai tingkat kebutuhannya.

Tata Cara Shalat Jumat Dua Rakaat

Setelah khutbah kedua selesai, muazin mengumandangkan iqamah. Imam dan jamaah kemudian berdiri melaksanakan shalat.

Rakaat pertama

  1. Imam berdiri menghadap kiblat.
  2. Imam dan jamaah berniat shalat Jumat.
  3. Imam mengucapkan takbiratul ihram.
  4. Jamaah mengikuti setelah takbir imam.
  5. Membaca doa iftitah secara pelan.
  6. Membaca taawuz.
  7. Imam membaca Al-Fatihah dengan suara keras.
  8. Imam membaca surah.
  9. Melakukan rukuk.
  10. Bangkit untuk iktidal.
  11. Melakukan dua sujud.
  12. Duduk di antara dua sujud.
  13. Berdiri menuju rakaat kedua.

Rakaat kedua

  1. Imam membaca Al-Fatihah dengan suara keras.
  2. Imam membaca surah.
  3. Melakukan rukuk.
  4. Bangkit untuk iktidal.
  5. Melakukan dua sujud.
  6. Duduk tasyahud akhir.
  7. Membaca tasyahud dan shalawat.
  8. Mengucapkan salam.

Jamaah mengikuti imam dan tidak mendahului gerakannya.

Niat Shalat Jumat

Niat berada di dalam hati dan dilakukan bersamaan dengan takbiratul ihram.

Makna niat bagi imam:

Saya berniat melaksanakan shalat fardu Jumat dua rakaat sebagai imam karena Allah Ta’ala.

Makna niat bagi makmum:

Saya berniat melaksanakan shalat fardu Jumat dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.

Pelafalan niat bukan rukun. Yang menentukan adalah kesengajaan dalam hati untuk melaksanakan shalat Jumat.

Makmum perlu berniat mengikuti imam. Tanpa niat berjamaah sebagai makmum, ketentuan hubungannya dengan imam dapat bermasalah.

Bacaan Surah dalam Shalat Jumat

Imam membaca Al-Fatihah dan surah dengan suara keras.

Imam Syafi’i menyukai bacaan:

  • Surah Al-Jumu’ah pada rakaat pertama.
  • Surah Al-Munafiqun pada rakaat kedua.

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. membaca kedua surah tersebut dalam shalat Jumat. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dalam riwayat lain, Rasulullah saw. membaca:

  • Surah Al-A’la pada rakaat pertama.
  • Surah Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari An-Nu’man bin Basyir r.a.

Imam boleh membaca surah lain. Membaca Al-Jumu’ah dan Al-Munafiqun atau Al-A’la dan Al-Ghasyiyah merupakan sunnah, bukan syarat sah.

Bacaan Shalat Jumat Dikeraskan

Shalat Jumat termasuk shalat jahriah. Imam membaca Al-Fatihah dan surah dengan suara yang dapat didengar jamaah.

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa bacaan keras dan jumlah dua rakaat telah dikenal melalui praktik Rasulullah saw.

Apabila imam keliru membaca pelan, shalat tidak otomatis batal. Namun, ia meninggalkan sunnah yang seharusnya dijaga.

Makmum tetap membaca Al-Fatihah secara pelan menurut Mazhab Syafi’i, meskipun imam mengeraskan bacaan.

Makmum yang Terlambat Mengikuti Jumat

Makmum yang datang terlambat masih dapat memperoleh Jumat apabila mendapatkan sekurang-kurangnya satu rakaat bersama imam.

Rasulullah saw. bersabda:

“Barang siapa mendapatkan satu rakaat dari shalat, ia telah mendapatkan shalat.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Mendapatkan rukuk rakaat kedua

Apabila makmum sempat rukuk dengan imam pada rakaat kedua sebelum imam bangkit dari rukuk, ia mendapatkan satu rakaat Jumat.

Setelah imam salam, ia berdiri dan menambah satu rakaat.

Shalatnya menjadi dua rakaat Jumat.

Datang setelah imam bangkit dari rukuk rakaat kedua

Apabila makmum baru masuk setelah imam bangkit dari rukuk rakaat kedua, ia tidak mendapatkan satu rakaat Jumat.

Ia tetap mengikuti imam sampai salam. Setelah imam selesai, ia berdiri dan mengerjakan empat rakaat sebagai shalat Zuhur.

Niat dan tata cara dalam keadaan ini perlu mengikuti penjelasan fikih yang benar. Ia tidak cukup menambah satu rakaat karena belum mendapatkan Jumat.

Orang yang Tidak Mendapatkan Khutbah

Orang yang datang setelah khutbah tetapi masih mendapatkan satu rakaat shalat Jumat tetap memperoleh Jumat.

Menghadiri khutbah merupakan kewajiban bagi orang yang mampu datang tepat waktu. Namun, orang yang terlambat dan masih mendapatkan satu rakaat tetap sah Jumatnya.

Ia berdosa jika keterlambatannya terjadi karena kesengajaan dan kelalaian tanpa alasan.

Orang tersebut harus memperbaiki kebiasaan agar datang sebelum khatib naik mimbar.

Shalat Sunnah Setelah Jumat

Setelah shalat Jumat, seseorang dianjurkan mengerjakan shalat sunnah.

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan sabda Rasulullah saw.:

“Apabila salah seorang dari kalian selesai Jumat, hendaklah ia shalat empat rakaat setelahnya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Ibnu Umar r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mengerjakan dua rakaat di rumah setelah Jumat. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Para ulama menggabungkan riwayat tersebut dengan beberapa cara:

  • Dua rakaat apabila dikerjakan di rumah.
  • Empat rakaat apabila dikerjakan di masjid.
  • Seseorang dapat mengerjakan dua atau empat sesuai keadaan.
  • Mengerjakan lebih banyak sebagai shalat sunnah mutlak diperbolehkan.

Shalat sunnah tidak boleh mengganggu jalan keluar jamaah atau membuat saf menjadi tidak tertib.

Memperbanyak Shalawat dan Membaca Surah Al-Kahfi

Imam Syafi’i sangat menganjurkan memperbanyak shalawat kepada Nabi pada malam Jumat dan hari Jumat.

Terdapat hadis yang memerintahkan umat Islam memperbanyak shalawat pada hari Jumat. Riwayat ini terdapat dalam Sunan Abu Dawud dan kitab hadis lainnya.

Membaca Surah Al-Kahfi juga dianjurkan pada malam Jumat atau hari Jumat berdasarkan riwayat-riwayat mengenai cahaya dan perlindungan dari fitnah.

Amalan tersebut dapat dilakukan sebelum berangkat ke masjid, setelah shalat, atau pada waktu lain sepanjang malam dan hari Jumat.

Kesalahan yang Dapat Merusak Khutbah Jumat

Hanya menyampaikan satu khutbah

Mazhab Syafi’i mensyaratkan dua khutbah yang dipisahkan dengan duduk.

Tidak membaca hamdalah pada salah satu khutbah

Pujian kepada Allah harus terdapat pada kedua khutbah.

Tidak membaca shalawat pada salah satu khutbah

Shalawat kepada Nabi harus terdapat dalam khutbah pertama dan kedua.

Tidak menyampaikan wasiat takwa

Ceramah sosial yang tidak mengandung ajakan menaati Allah belum tentu memenuhi rukun wasiat takwa.

Tidak membaca ayat Al-Qur’an

Sekurang-kurangnya satu ayat yang bermakna sempurna harus dibaca dalam salah satu khutbah.

Tidak mendoakan kaum mukmin pada khutbah kedua

Doa untuk orang beriman merupakan salah satu rukun khutbah kedua.

Khutbah dilakukan sebelum masuk waktu

Menurut Mazhab Syafi’i, khutbah dilakukan setelah matahari tergelincir.

Khatib sengaja duduk tanpa uzur

Khatib yang mampu harus berdiri dalam kedua khutbah.

Tidak duduk di antara khutbah

Kedua khutbah dipisahkan dengan duduk yang jelas.

Jeda terlalu lama

Khutbah dan shalat harus tersambung tanpa pemisah panjang yang tidak diperlukan.

Rukun tidak terdengar jamaah

Khatib perlu mengucapkan rukun secara jelas dan dengan suara yang dapat didengar.

Menggunakan rekaman sebagai pengganti khatib

Khutbah harus disampaikan secara langsung oleh khatib yang memenuhi syarat.

Kesalahan Jamaah pada Pelaksanaan Jumat

Datang setelah khutbah dimulai tanpa uzur

Kebiasaan ini menghilangkan banyak keutamaan dan dapat menjadi dosa apabila dilakukan dengan sengaja.

Berbicara selama khutbah

Percakapan mengganggu kewajiban mendengarkan dan termasuk perbuatan sia-sia.

Bermain dengan telepon

Membuka pesan dan media sosial tidak sesuai dengan adab khutbah.

Tidur dengan posisi yang berisiko membatalkan wudhu

Jamaah perlu menjaga wudhu. Jika tertidur dalam keadaan yang membatalkan, ia harus berwudhu kembali.

Melangkahi bahu orang lain

Tindakan tersebut menyakiti dan mengganggu jamaah.

Tidak mengisi saf depan

Jamaah yang datang awal seharusnya mengisi tempat depan sehingga tidak terbentuk ruang kosong.

Mendahului imam

Takbir, rukuk, sujud, dan salam dilakukan setelah gerakan imam.

Tidak membaca Al-Fatihah

Menurut Mazhab Syafi’i, makmum tetap wajib membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaat.

Langsung pulang dan mengganggu orang yang masih shalat

Jamaah perlu keluar dengan tertib dan memberikan ruang bagi orang yang melaksanakan shalat sunnah.

Urutan Praktis Pelaksanaan Jumat di Masjid

Sebelum waktu Zuhur

  1. Petugas menyiapkan kebersihan masjid.
  2. Pengeras suara diperiksa.
  3. Khatib memeriksa materi dan rukun khutbah.
  4. Imam dan muazin mempersiapkan diri.
  5. Jamaah datang lebih awal.
  6. Jamaah mengerjakan tahiyatul masjid.
  7. Jamaah berzikir, membaca Al-Qur’an, atau bershalawat.

Setelah waktu Zuhur masuk

  1. Azan awal dikumandangkan jika masjid menggunakan dua azan.
  2. Jamaah menghentikan kegiatan dan memenuhi saf.
  3. Khatib naik ke mimbar.
  4. Khatib mengucapkan salam.
  5. Khatib duduk.
  6. Muazin mengumandangkan azan di hadapan khatib.
  7. Khatib berdiri menyampaikan khutbah pertama.
  8. Khatib duduk sebentar.
  9. Khatib berdiri menyampaikan khutbah kedua.
  10. Khatib turun.
  11. Muazin mengumandangkan iqamah.
  12. Imam melaksanakan shalat Jumat dua rakaat.
  13. Jamaah melakukan zikir dan shalat sunnah.

Dalil dan Referensi Utama

Surah Al-Jumu’ah ayat 9

Ayat yang memerintahkan orang beriman memenuhi panggilan Jumat, mengingat Allah, dan meninggalkan jual beli.

Surah Al-Jumu’ah ayat 10

Ayat yang membolehkan umat Islam kembali mencari karunia Allah setelah shalat selesai sambil tetap banyak mengingat-Nya.

Surah Al-Jumu’ah ayat 11

Ayat yang menyebut orang-orang meninggalkan Rasulullah saw. dalam keadaan beliau sedang berdiri berkhutbah ketika datang perdagangan atau permainan.

Hadis Jabir bin Abdullah tentang dua khutbah

Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. berkhutbah dua kali dalam keadaan berdiri dan duduk di antara keduanya.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan dicantumkan Imam Syafi’i dalam Al-Umm.

Hadis Abdullah bin Umar tentang posisi khutbah

Ibnu Umar menjelaskan bahwa Rasulullah saw. berkhutbah dengan berdiri, duduk sebentar, lalu berdiri kembali.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Hadis Abu Hurairah tentang berangkat lebih awal

Para malaikat mencatat jamaah berdasarkan urutan kedatangan. Ketika imam keluar, catatan ditutup dan mereka mendengarkan khutbah.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim, dan dicantumkan Imam Syafi’i dalam Al-Umm.

Hadis tentang mandi Jumat

Rasulullah saw. menganjurkan mandi Jumat bagi orang yang menghadirinya.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri serta sahabat lainnya.

Hadis larangan berbicara

Rasulullah saw. menjelaskan bahwa menyuruh orang lain diam ketika imam berkhutbah termasuk perbuatan sia-sia.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah.

Hadis menyentuh kerikil

Rasulullah saw. menyatakan bahwa orang yang bermain dengan kerikil ketika khutbah telah melakukan perbuatan sia-sia.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Hadis tahiyatul masjid ketika khutbah

Rasulullah saw. memerintahkan orang yang datang ketika khutbah agar mengerjakan dua rakaat secara ringan.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Jabir bin Abdullah.

Hadis Sa’ib bin Yazid tentang azan Jumat

Pada masa Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar, azan dikumandangkan ketika imam duduk di mimbar. Utsman menambahkan panggilan lebih awal ketika penduduk bertambah banyak.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.

Hadis bacaan Surah Al-Jumu’ah dan Al-Munafiqun

Rasulullah saw. membaca Surah Al-Jumu’ah dan Al-Munafiqun dalam shalat Jumat.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah dan dicantumkan Imam Syafi’i dalam Al-Umm.

Hadis bacaan Al-A’la dan Al-Ghasyiyah

Rasulullah saw. membaca Surah Al-A’la dan Al-Ghasyiyah dalam shalat Jumat dan shalat Id.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari An-Nu’man bin Basyir.

Hadis mendapatkan satu rakaat

Rasulullah saw. menjelaskan bahwa orang yang memperoleh satu rakaat telah memperoleh shalat.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Hadis ancaman meninggalkan tiga Jumat

Rasulullah saw. memperingatkan orang yang meninggalkan tiga Jumat karena meremehkannya bahwa hatinya akan ditutup.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah.

Kitab Rujukan Mazhab Syafi’i

  1. Imam Syafi’i, Al-Umm, Juz 1, Kitab Shalat, pembahasan kewajiban Jumat.
  2. Imam Syafi’i, Al-Umm, pembahasan jumlah orang yang wajib Jumat dalam suatu desa.
  3. Imam Syafi’i, Al-Umm, pembahasan tata cara hari Jumat.
  4. Imam Syafi’i, Al-Umm, pembahasan khutbah dengan berdiri.
  5. Imam Syafi’i, Al-Umm, pembahasan dua khutbah yang dipisahkan dengan duduk.
  6. Imam Syafi’i, Al-Umm, pembahasan membaca surah dalam shalat Jumat.
  7. Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab Al-Jumu’ah.
  8. Imam Muslim, Shahih Muslim, Kitab Al-Jumu’ah.
  9. Imam Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Kitab Ash-Shalah, pembahasan Jumat.
  10. Imam At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Abwab Al-Jumu’ah.
  11. Imam An-Nasa’i, Sunan An-Nasa’i, Kitab Al-Jumu’ah.
  12. Imam Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Kitab Iqamatush-Shalah, pembahasan Jumat.
  13. Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, Kitab Shalat Al-Jumu’ah.
  14. Imam An-Nawawi, Minhaj Ath-Thalibin, pembahasan shalat Jumat.
  15. Imam An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Kitab Al-Jumu’ah.
  16. Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj, Kitab Al-Jumu’ah.
  17. Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfah Al-Muhtaj, pembahasan Jumat dan dua khutbah.
  18. Syamsuddin Ar-Ramli, Nihayah Al-Muhtaj, Kitab Al-Jumu’ah.
  19. Syekh Zakariya Al-Anshari, Asna Al-Mathalib, pembahasan syarat Jumat.
  20. Imam Taqiyuddin Al-Hishni, Kifayah Al-Akhyar, bab shalat Jumat.
  21. Abu Syuja’, Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib, pembahasan syarat dan tata cara Jumat.
  22. Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami, Safinatun Najah, pembahasan Jumat dan rukun khutbah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *