Kisah Mariyah Al-Qibthiyah, Wanita Cantik dan Taat yang Mulia di Sisi Nabi Muhammad SAW

Cerita Istri Nabi!. Mariyah Al-Qibthiyah. Wanita Cantik dan Taat
Cerita Istri Nabi!. Mariyah Al-Qibthiyah. Wanita Cantik dan Taat

Kisah Mariyah Al-Qibthiyah, Wanita Cantik dan Taat yang Mulia di Sisi Nabi Muhammad SAW

operatorsekolah.id – Kisah Mariyah Al-Qibthiyah merupakan salah satu bagian menyentuh dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Perempuan asal Mesir ini dikenal sebagai sosok yang berparas elok, lembut, sabar, dan taat dalam menjalankan ajaran Islam.

Mariyah Al-Qibthiyah juga memiliki kedudukan istimewa karena menjadi ibu dari Ibrahim, putra Nabi Muhammad SAW. Kehadiran Ibrahim membawa kebahagiaan besar bagi Rasulullah, meskipun kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama karena sang anak wafat ketika masih kecil.

Perjalanan hidup Mariyah dari Mesir menuju Madinah, kehidupannya bersama Rasulullah, kelahiran Ibrahim, hingga ketabahannya menghadapi berbagai cobaan menyimpan banyak pelajaran tentang keimanan, kesabaran, dan keteguhan hati.

Siapa Mariyah Al-Qibthiyah?

Mariyah Al-Qibthiyah memiliki nama lengkap Mariyah binti Syam’un. Sebutan “Al-Qibthiyah” menunjukkan bahwa ia berasal dari kalangan Qibthi atau Koptik, yaitu masyarakat asli Mesir yang pada masa itu banyak memeluk agama Nasrani.

Tanggal kelahiran Mariyah tidak diketahui secara pasti. Sejumlah sumber sejarah menyebutkan bahwa ia berasal dari wilayah Hafn di Mesir Hulu. Daerah tersebut berada tidak jauh dari Ansina atau Antinopolis, salah satu kawasan penting di Mesir pada masa itu.

Mariyah mempunyai seorang saudara perempuan bernama Sirin. Keduanya kemudian berada di lingkungan penguasa Mesir yang dikenal dalam sumber-sumber Islam dengan gelar Al-Muqawqis.

Dalam berbagai kisah sejarah, Mariyah digambarkan sebagai perempuan yang memiliki paras elok, berkulit cerah, berambut ikal, serta berkepribadian lembut. Namun, kemuliaan Mariyah bukan hanya terletak pada penampilannya. Keteguhan iman, kesabaran, dan kesungguhannya dalam beribadah menjadi bagian terpenting dalam perjalanan hidupnya.

Perjalanan Mariyah Al-Qibthiyah dari Mesir ke Madinah

Setelah Perjanjian Hudaibiyah, Nabi Muhammad SAW mengirimkan sejumlah surat kepada para pemimpin di berbagai wilayah. Surat-surat tersebut berisi ajakan untuk mengenal dan menerima ajaran Islam.

Salah satu surat dikirimkan kepada Al-Muqawqis, penguasa Mesir. Rasulullah SAW mengutus Hatib bin Abi Balta’ah untuk menyampaikan surat tersebut.

Al-Muqawqis menerima Hatib dengan baik dan memberikan penghormatan kepada utusan Rasulullah. Meskipun tidak menerima ajakan untuk memeluk Islam, ia memberikan sejumlah hadiah sebagai bentuk penghormatan.

Di antara hadiah tersebut terdapat Mariyah, saudara perempuannya yang bernama Sirin, seorang pelayan bernama Mabur, beberapa pakaian, serta barang-barang dari Mesir.

Perjalanan meninggalkan tanah kelahiran tentu bukan perkara mudah bagi Mariyah dan Sirin. Mereka harus meninggalkan keluarga, lingkungan, serta kehidupan yang selama ini dikenal untuk menuju wilayah yang jauh di Jazirah Arab.

Dalam perjalanan menuju Madinah, Hatib bin Abi Balta’ah memperkenalkan Islam kepada Mariyah dan Sirin. Menurut riwayat sejarah yang banyak dikenal, keduanya kemudian menerima ajaran Islam dengan penuh kesadaran.

Sejak saat itulah kehidupan Mariyah mengalami perubahan besar. Ia tidak lagi hanya dikenal sebagai perempuan asal Mesir, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat Muslim di Madinah.

Kehadiran Mariyah di Madinah

Ketika Mariyah tiba di Madinah, Rasulullah SAW menerimanya dengan baik. Adapun Sirin kemudian diberikan kepada Hassan bin Tsabit, seorang penyair yang terkenal membela Rasulullah melalui syair-syairnya.

Mariyah ditempatkan di sebuah kawasan bernama Al-Aliyah yang berada di sekitar Madinah. Tempat tersebut dikenal memiliki kebun dan udara yang lebih sejuk dibandingkan pusat kota.

Rasulullah SAW sering mengunjungi Mariyah dan memperlakukannya dengan penuh penghormatan. Kehadirannya menjadi bagian dari kehidupan keluarga Nabi yang penuh dinamika, kasih sayang, tanggung jawab, dan ujian.

Sebagai perempuan yang berasal dari Mesir, Mariyah tentu harus menyesuaikan diri dengan bahasa, budaya, serta lingkungan masyarakat Madinah. Namun, ia mampu menjalani kehidupan barunya dengan sabar.

Ketaatan dan kelembutan hatinya membuat Mariyah memperoleh tempat terhormat dalam lingkungan Rasulullah.

Apakah Mariyah Al-Qibthiyah Istri Rasulullah?

Status Mariyah Al-Qibthiyah dalam sejumlah sumber sejarah dijelaskan secara berbeda. Sebagian kisah populer menyebutnya sebagai istri Rasulullah SAW, sedangkan banyak sumber sejarah klasik menyebutnya sebagai umm walad.

Umm walad adalah sebutan bagi seorang perempuan yang melahirkan anak dari tuannya. Setelah Mariyah melahirkan Ibrahim, kedudukannya menjadi lebih terhormat dan ia tidak boleh diperjualbelikan.

Sejumlah ulama dan penulis sirah berpandangan bahwa Rasulullah SAW kemudian memerdekakan dan menikahi Mariyah. Sementara itu, ulama lainnya menempatkan Mariyah sebagai umm walad dan tidak memasukkannya ke dalam daftar istri Nabi yang memperoleh gelar Ummahatul Mukminin.

Perbedaan pendapat tersebut perlu disampaikan secara hati-hati. Terlepas dari perbedaan istilah mengenai kedudukannya, para sejarawan sepakat bahwa Mariyah adalah perempuan mulia yang hidup dalam perlindungan Rasulullah dan menjadi ibu dari putra beliau, Ibrahim.

Karena itu, kisah Mariyah tetap menjadi bagian penting dari sejarah keluarga Nabi Muhammad SAW.

Kelahiran Ibrahim bin Muhammad

Sekitar tahun kedelapan Hijriah, Mariyah mengandung anak Rasulullah SAW. Kabar kehamilan tersebut membawa kebahagiaan besar bagi Nabi Muhammad.

Sebelumnya, Rasulullah telah dikaruniai beberapa anak dari Sayyidah Khadijah r.a. Namun, putra-putra beliau meninggal ketika masih kecil. Pada saat Mariyah mengandung, putri-putri Rasulullah juga telah tumbuh dewasa dan sebagian telah wafat.

Ketika bayi Mariyah lahir, Rasulullah memberinya nama Ibrahim. Nama tersebut diambil dari nama Nabi Ibrahim a.s., salah seorang nabi yang memiliki kedudukan agung dan dikenal sebagai bapak para nabi.

Kelahiran Ibrahim disambut penuh kegembiraan oleh Rasulullah dan kaum Muslimin. Nabi Muhammad SAW sangat menyayangi putranya tersebut.

Dalam tradisi masyarakat Arab pada masa itu, bayi sering dititipkan kepada seorang perempuan untuk disusui. Ibrahim kemudian diasuh dan disusui oleh Ummu Saif, istri seorang pandai besi bernama Abu Saif.

Rasulullah kerap mendatangi rumah Abu Saif untuk melihat Ibrahim. Beliau menggendong, mencium, dan menunjukkan kasih sayang kepada putranya.

Kasih sayang Rasulullah kepada Ibrahim memperlihatkan sisi lembut beliau sebagai seorang ayah. Meskipun memikul tanggung jawab besar sebagai nabi, pemimpin masyarakat, dan kepala pemerintahan, beliau tetap memberikan perhatian kepada keluarganya.

Cobaan Berat atas Wafatnya Ibrahim

Kebahagiaan Mariyah dan Rasulullah tidak berlangsung lama. Ibrahim jatuh sakit ketika usianya masih sangat kecil.

Keadaan Ibrahim semakin memburuk hingga akhirnya Rasulullah mendatanginya bersama Abdurrahman bin Auf. Nabi menggendong sang putra yang sedang menghadapi detik-detik terakhir kehidupannya.

Ketika Ibrahim mengembuskan napas terakhir, air mata Rasulullah mengalir. Abdurrahman bin Auf merasa heran melihat Nabi menangis. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa tangisan tersebut merupakan bentuk kasih sayang.

Beliau bersabda:

“Sesungguhnya mata meneteskan air mata dan hati merasa bersedih. Namun, kami tidak akan mengatakan kecuali sesuatu yang diridai oleh Tuhan kami. Wahai Ibrahim, sungguh kami bersedih karena berpisah denganmu.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari. Peristiwa ini menunjukkan bahwa menangis karena kehilangan orang yang dicintai bukanlah perbuatan tercela.

Islam tidak melarang seseorang merasakan kesedihan. Namun, seorang Muslim diperintahkan menjaga ucapan dan perbuatannya agar tidak menentang ketentuan Allah.

Rasulullah sangat kehilangan Ibrahim. Mariyah sebagai seorang ibu tentu merasakan kesedihan yang tidak kalah mendalam. Putra yang menjadi sumber kebahagiaannya harus meninggal ketika masih kecil.

Meskipun demikian, Mariyah tetap tabah menerima ketetapan Allah. Ia tidak membiarkan kesedihan menjauhkannya dari keimanan.

Gerhana Matahari pada Hari Wafatnya Ibrahim

Pada hari wafatnya Ibrahim, terjadi gerhana matahari. Sebagian masyarakat kemudian mengira bahwa gerhana tersebut terjadi karena kematian putra Rasulullah.

Nabi Muhammad SAW segera meluruskan anggapan tersebut. Beliau menjelaskan bahwa matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kelahiran atau kematian seseorang.

Rasulullah bersabda:

“Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang.”

Beliau kemudian memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan salat dan berdoa ketika menyaksikan gerhana.

Sikap Rasulullah dalam peristiwa tersebut menunjukkan kejujuran yang luar biasa. Beliau dapat saja membiarkan masyarakat menganggap gerhana sebagai tanda keistimewaan putranya. Namun, Rasulullah menolak menghubungkan fenomena alam dengan kematian Ibrahim.

Beliau tetap menyampaikan kebenaran meskipun sedang diliputi kesedihan mendalam.

Ketabahan Mariyah sebagai Seorang Ibu

Kehilangan seorang anak merupakan ujian berat bagi setiap orang tua. Hal tersebut juga dirasakan oleh Mariyah Al-Qibthiyah.

Ibrahim adalah satu-satunya putra yang dilahirkannya. Kehadiran sang anak telah memberikan kebahagiaan besar, bukan hanya bagi Mariyah, tetapi juga bagi Rasulullah dan kaum Muslimin.

Namun, Mariyah harus menerima kenyataan bahwa Ibrahim wafat pada usia yang masih sangat muda. Ia kehilangan putra yang selama ini menjadi sumber kebahagiaannya.

Dalam menghadapi ujian tersebut, Mariyah menunjukkan ketabahan luar biasa. Ia tetap menjalani kehidupan dengan penuh keimanan dan menyerahkan segala ketentuan kepada Allah SWT.

Kesabarannya memberikan pelajaran bahwa keteguhan iman bukan berarti seseorang tidak merasakan kesedihan. Orang beriman tetap dapat menangis dan merasa kehilangan, tetapi tidak kehilangan kepercayaan kepada kasih sayang serta kebijaksanaan Allah.

Kehidupan Mariyah Setelah Rasulullah Wafat

Setelah Nabi Muhammad SAW wafat pada tahun 11 Hijriah, Mariyah menjalani kehidupan dengan lebih tenang dan banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah.

Ia tidak banyak terlibat dalam kehidupan sosial dan politik. Mariyah lebih memilih tinggal di kediamannya serta mendekatkan diri kepada Allah.

Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. tetap memberikan nafkah dan memperhatikan kebutuhan hidup Mariyah selama masa kekhalifahannya. Setelah Abu Bakar wafat, perhatian tersebut dilanjutkan oleh Umar bin Khattab r.a.

Hal ini menunjukkan bahwa para sahabat menghormati Mariyah sebagai bagian dari keluarga Rasulullah dan ibu dari Ibrahim bin Muhammad.

Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Mariyah sesekali keluar untuk mengunjungi makam Rasulullah dan makam putranya, Ibrahim. Selebihnya, ia menjalani kehidupan yang sederhana dan penuh ibadah.

Wafatnya Mariyah Al-Qibthiyah

Mariyah Al-Qibthiyah wafat pada tahun 16 Hijriah atau sekitar 637 Masehi, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab r.a.

Khalifah Umar mengajak masyarakat Madinah untuk menghadiri salat jenazahnya. Umar bin Khattab sendiri disebut memimpin pelaksanaan salat jenazah tersebut.

Mariyah kemudian dimakamkan di Pemakaman Baqi, Madinah. Di tempat tersebut juga dimakamkan banyak anggota keluarga Rasulullah dan para sahabat.

Wafatnya Mariyah menutup perjalanan panjang seorang perempuan asal Mesir yang meninggalkan tanah kelahirannya, menerima Islam, hidup bersama Rasulullah, melahirkan Ibrahim, dan menghadapi berbagai ujian dengan penuh ketabahan.

Pelajaran dari Kisah Mariyah Al-Qibthiyah

Kisah Mariyah Al-Qibthiyah mengandung sejumlah pelajaran berharga yang tetap relevan bagi kehidupan umat Islam.

1. Kemuliaan Ditentukan oleh Keimanan

Mariyah berasal dari luar Jazirah Arab dan mempunyai latar belakang budaya yang berbeda. Namun, keimanan dan ketakwaannya membuat dirinya memperoleh kedudukan mulia.

Islam tidak menilai seseorang berdasarkan asal daerah, warna kulit, bahasa, atau kedudukan sosial. Kemuliaan manusia ditentukan oleh ketakwaannya kepada Allah.

2. Kesabaran Menghadapi Perubahan Hidup

Mariyah harus meninggalkan Mesir dan menjalani kehidupan baru di Madinah. Ia menghadapi perubahan lingkungan, bahasa, budaya, dan kebiasaan.

Meskipun demikian, Mariyah mampu menyesuaikan diri serta menjalani kehidupan dengan sabar. Kisah tersebut mengajarkan pentingnya keteguhan hati ketika menghadapi perubahan besar.

3. Ketabahan Ketika Kehilangan Orang Tercinta

Wafatnya Ibrahim menjadi ujian sangat berat bagi Mariyah dan Rasulullah. Keduanya merasakan kesedihan yang mendalam.

Namun, kesedihan tidak membuat mereka mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan keridaan Allah. Seorang Muslim diperbolehkan menangis, tetapi tetap harus menjaga kesabaran dan keyakinannya.

4. Kasih Sayang Rasulullah kepada Keluarga

Kasih sayang Nabi Muhammad kepada Ibrahim menunjukkan bahwa beliau adalah seorang ayah yang lembut dan penuh perhatian.

Rasulullah tidak menyembunyikan perasaan sedihnya. Beliau menangis ketika kehilangan putranya, tetapi tetap menunjukkan sikap sabar dan menjaga ucapannya.

5. Kejujuran dalam Menyampaikan Kebenaran

Ketika gerhana terjadi pada hari wafatnya Ibrahim, Rasulullah menolak anggapan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan kematian putranya.

Beliau meluruskan keyakinan masyarakat dan menjelaskan bahwa gerhana merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah. Sikap ini menjadi contoh bahwa kebenaran harus disampaikan dalam keadaan apa pun.

6. Ibadah sebagai Sumber Kekuatan

Setelah kehilangan Ibrahim dan Rasulullah, Mariyah semakin banyak menyibukkan diri dengan ibadah. Kedekatan kepada Allah menjadi sumber ketenangan dan kekuatan dalam menghadapi kesedihan.

Kisah Mariyah Al-Qibthiyah bukan sekadar cerita tentang perempuan yang hidup di sisi Nabi Muhammad SAW. Kisahnya merupakan perjalanan iman seorang perempuan yang meninggalkan tanah kelahirannya, menerima Islam, menjadi ibu dari Ibrahim, dan menjalani berbagai ujian dengan penuh kesabaran.

Semoga kisah Mariyah Al-Qibthiyah memberikan pelajaran tentang keimanan, kasih sayang, ketabahan, serta kerelaan menerima ketentuan Allah SWT.

Referensi

  1. Al-Qur’an, Surah At-Tahrim ayat 1.
  2. Sahih Al-Bukhari, Kitab Al-Janaiz, hadis tentang wafatnya Ibrahim.
  3. Sahih Al-Bukhari, Kitab Al-Kusuf, hadis tentang gerhana matahari.
  4. Ibnu Sa’ad, Ath-Thabaqat Al-Kubra.
  5. Imam Ath-Thabari, Tarikh Ar-Rusul wa Al-Muluk.
  6. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah.
  7. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zad Al-Ma’ad.
    :::

Riwayat tangisan Rasulullah atas wafatnya Ibrahim terdapat dalam Sahih Al-Bukhari, sedangkan hadis gerhana menegaskan bahwa matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena hidup atau meninggalnya seseorang. (Sunnah)