Pengertian Mukjizat dan Fungsinya bagi Para Rasul
Mukjizat merupakan salah satu tanda kebesaran Allah Swt. yang diberikan kepada para nabi dan rasul. Kejadian tersebut berada di luar kemampuan biasa manusia serta menjadi bukti bahwa orang yang membawanya benar-benar merupakan utusan Allah.
Pembahasan tentang pengertian mukjizat penting dipahami karena mukjizat tidak sama dengan sihir, keahlian, teknologi, maupun peristiwa aneh yang dapat dipelajari manusia. Mukjizat terjadi atas kehendak Allah dan berhubungan langsung dengan tugas seorang rasul dalam menyampaikan risalah kepada umatnya.
Kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah karya Bashri Al-Marghubi menjelaskan bahwa mukjizat adalah perkara luar biasa yang berada di luar batas kemampuan manusia. Mukjizat tampak pada orang yang mengaku sebagai rasul untuk membuktikan kebenaran pengakuannya.
Pengertian Mukjizat
Secara bahasa, kata mukjizat berasal dari bahasa Arab, yaitu mu‘jizah. Kata tersebut berhubungan dengan makna melemahkan atau menjadikan pihak lain tidak mampu menandinginya.
Secara istilah, mukjizat adalah kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada nabi atau rasul untuk membuktikan kebenaran risalah yang disampaikannya.
Mukjizat bukan kemampuan yang diperoleh melalui latihan. Seorang rasul tidak mendapatkan mukjizat dengan mempelajari ilmu tertentu, melakukan percobaan, atau menggunakan alat khusus.
Mukjizat sepenuhnya terjadi atas kehendak dan kekuasaan Allah. Rasul hanya menjadi manusia pilihan yang menerima tanda tersebut untuk mendukung tugas kerasulannya.
Sebagai contoh, tongkat Nabi Musa a.s. dapat berubah menjadi ular bukan karena Nabi Musa mempelajari sihir. Peristiwa tersebut terjadi atas perintah dan kekuasaan Allah untuk membuktikan kebenaran Nabi Musa di hadapan Firaun dan para ahli sihir.
Begitu pula kemampuan Nabi Isa a.s. menyembuhkan orang yang sakit dan menghidupkan orang yang telah meninggal. Semua kejadian itu berlangsung dengan izin Allah, bukan karena Nabi Isa memiliki kekuasaan sebagai Tuhan.
Apa yang Dimaksud Perkara Luar Biasa?
Perkara luar biasa adalah kejadian yang tidak dapat dilakukan manusia melalui kemampuan normalnya. Kejadian tersebut tidak tunduk kepada kebiasaan yang dikenal manusia.
Manusia dapat membuat benda bergerak dengan menggunakan mesin. Dokter dapat membantu menyembuhkan penyakit melalui ilmu dan pengobatan. Pesawat dapat terbang karena menggunakan teknologi dan hukum alam yang dipelajari manusia.
Semua contoh tersebut bukan mukjizat karena dapat dijelaskan, dipelajari, diuji, dan dilakukan kembali oleh manusia dengan menggunakan metode tertentu.
Mukjizat berbeda karena tidak dapat ditandingi oleh kemampuan manusia pada masa rasul tersebut. Mukjizat juga muncul untuk membenarkan risalah, bukan untuk sekadar menarik perhatian atau menjadi pertunjukan.
Dalam Al-Aqidah Al-Islamiyah diterangkan bahwa mukjizat para rasul tidak selalu sama. Bentuknya berbeda-beda sesuai keadaan dan kemampuan yang berkembang di tengah masyarakat tempat rasul diutus.
Siapa yang Mendapatkan Mukjizat?
Mukjizat diberikan Allah kepada nabi dan rasul, terutama sebagai bukti kebenaran kerasulan mereka.
Rasul merupakan manusia pilihan yang menerima wahyu serta diperintahkan untuk menyampaikan risalah kepada umat. Ketika seorang rasul menyampaikan bahwa dirinya memperoleh wahyu dari Allah, sebagian masyarakat mungkin menerima, sedangkan sebagian lainnya menolak.
Allah kemudian memberikan mukjizat sebagai tanda bahwa rasul tersebut benar-benar membawa risalah dari-Nya.
Mukjizat tidak menjadikan rasul sebagai Tuhan. Para rasul tetap merupakan manusia yang diciptakan Allah. Mereka tidak dapat menciptakan mukjizat berdasarkan kehendaknya sendiri.
Seorang rasul hanya dapat memperlihatkan mukjizat apabila Allah menghendakinya. Karena itu, kekuatan mukjizat harus selalu dikembalikan kepada Allah sebagai Zat Yang Mahakuasa.
Ciri-Ciri Mukjizat
Mukjizat memiliki beberapa ciri yang membedakannya dari peristiwa biasa, keahlian manusia, dan sihir.
1. Merupakan Peristiwa Luar Biasa
Mukjizat melampaui kemampuan manusia pada umumnya. Kejadian tersebut tidak dapat dihasilkan melalui latihan, ilmu pengetahuan, pengalaman, atau teknologi manusia pada masa itu.
Berubahnya tongkat menjadi ular dan terbelahnya laut pada masa Nabi Musa merupakan contoh kejadian yang tidak dapat diwujudkan manusia melalui kemampuan biasa.
2. Terjadi Atas Kehendak Allah
Sumber mukjizat adalah kekuasaan Allah. Nabi dan rasul tidak mempunyai kekuasaan mandiri untuk menciptakan mukjizat.
Mukjizat terjadi ketika Allah menghendakinya sebagai bagian dari pembuktian risalah. Oleh sebab itu, umat Islam tidak boleh menganggap nabi sebagai pemilik kekuasaan yang setara dengan Allah.
3. Diberikan kepada Nabi atau Rasul
Mukjizat berhubungan dengan kenabian dan kerasulan. Tanda tersebut diberikan kepada manusia yang dipilih Allah untuk menerima wahyu dan membimbing umat.
Kejadian luar biasa yang dialami manusia biasa tidak disebut mukjizat dalam pengertian kerasulan.
4. Membuktikan Kebenaran Risalah
Tujuan utama mukjizat adalah membuktikan bahwa seorang rasul benar-benar utusan Allah.
Mukjizat mendukung pengakuan seorang rasul ketika ia menyampaikan wahyu. Orang yang melihatnya mendapatkan bukti bahwa risalah tersebut bukan hasil pemikiran atau kebohongan manusia.
5. Tidak Dapat Ditandingi Manusia
Mukjizat melemahkan pihak-pihak yang berusaha menandinginya. Manusia tidak dapat menghasilkan kejadian serupa melalui kemampuan yang mereka miliki.
Ketika Nabi Musa memperlihatkan mukjizatnya, para ahli sihir akhirnya menyadari bahwa kejadian tersebut bukan sihir. Mereka memahami bahwa apa yang dibawa Nabi Musa berasal dari kekuasaan Allah.
6. Sesuai dengan Tantangan Umat pada Masanya
Bentuk mukjizat sering berhubungan dengan kemampuan yang dianggap tinggi oleh masyarakat pada masa seorang rasul.
Pada zaman Nabi Musa, masyarakat memberikan perhatian besar kepada sihir. Allah memberikan mukjizat yang mengalahkan kemampuan para ahli sihir.
Pada zaman Nabi Isa, ilmu pengobatan dikenal dan berkembang. Allah memberikan mukjizat kepada Nabi Isa yang tidak dapat dilakukan oleh tabib mana pun.
Pada masa Nabi Muhammad, masyarakat Arab terkenal dalam kemampuan bahasa dan sastra. Allah menurunkan Al-Qur’an dengan susunan bahasa, kandungan, dan petunjuk yang tidak dapat ditandingi manusia.
7. Tidak Digunakan untuk Kesombongan
Mukjizat bukan alat untuk mencari kekayaan, kekuasaan, atau popularitas. Para rasul memperlihatkan mukjizat untuk mendukung dakwah dan mengajak manusia beriman kepada Allah.
Para rasul tidak menjadikan mukjizat sebagai pertunjukan untuk mendapatkan pujian. Mereka tetap rendah hati dan menyatakan bahwa semua kejadian tersebut berasal dari Allah.
Fungsi Mukjizat bagi Para Rasul
Mukjizat memiliki sejumlah fungsi penting dalam pelaksanaan tugas kerasulan.
1. Membuktikan Kebenaran Seorang Rasul
Fungsi utama mukjizat adalah menjadi bukti bahwa orang yang membawanya benar-benar seorang rasul.
Masyarakat membutuhkan tanda untuk membedakan antara utusan Allah dan orang yang sekadar membuat pengakuan. Mukjizat menjadi bukti yang tidak dapat ditandingi oleh manusia.
Ketika seorang rasul memperlihatkan kejadian luar biasa yang sesuai dengan izin Allah, kebenaran risalahnya semakin jelas.
Kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah secara khusus menjelaskan bahwa mukjizat diberikan untuk membuktikan kebenaran pengakuan seseorang sebagai rasul.
2. Menguatkan Keimanan Orang yang Beriman
Mukjizat dapat memperkuat keyakinan pengikut para rasul. Mereka semakin percaya bahwa ajaran yang disampaikan benar-benar berasal dari Allah.
Orang-orang yang telah beriman akan melihat mukjizat sebagai tanda pertolongan dan kekuasaan Allah. Keyakinan tersebut membantu mereka tetap teguh meskipun menghadapi tekanan, ancaman, dan penolakan.
Keimanan yang kuat sangat diperlukan karena dakwah para rasul sering menghadapi masyarakat yang menentang ajaran tauhid.
3. Melemahkan Penentang Rasul
Mukjizat juga berfungsi melemahkan argumen orang yang menolak kerasulan.
Para penentang sering menuduh rasul sebagai pendusta, penyair, orang gila, atau penyihir. Mukjizat menunjukkan bahwa tuduhan tersebut tidak benar.
Ketika para ahli sihir pada masa Nabi Musa melihat tongkat beliau berubah menjadi ular dan mengalahkan sihir mereka, mereka menyadari bahwa peristiwa tersebut berasal dari kekuasaan Allah.
Kemampuan para penentang tidak dapat menandingi mukjizat. Karena itulah mukjizat memiliki makna melemahkan pihak yang mencoba melawannya.
4. Membantu Rasul Menjalankan Dakwah
Para rasul menghadapi berbagai rintangan dalam menyampaikan risalah. Ada yang dihina, diusir, disiksa, bahkan diancam akan dibunuh.
Mukjizat dapat menjadi bentuk pertolongan Allah kepada rasul dalam menghadapi keadaan tersebut. Mukjizat memperlihatkan bahwa Allah tidak meninggalkan utusan-Nya.
Namun, mukjizat tidak selalu membuat semua orang langsung beriman. Orang yang keras hati masih dapat menolak meskipun telah melihat tanda-tanda yang jelas.
Hal tersebut menunjukkan bahwa keimanan juga memerlukan kejujuran hati dan kesediaan menerima kebenaran.
5. Menunjukkan Kekuasaan Allah
Mukjizat tidak hanya membuktikan kerasulan, tetapi juga menunjukkan bahwa












