Makhluk yang Menghuni Bumi Sebelum Nabi Adam, Siapa Mereka?
operatorsekolah.id – Siapa yang menghuni bumi sebelum Nabi Adam alaihissalam? Pertanyaan ini sejak lama menarik perhatian karena Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa bumi telah menjadi tempat terjadinya kerusakan dan pertumpahan darah sebelum manusia menjalankan tugas sebagai khalifah.
Dalam ajaran Islam, Nabi Adam dikenal sebagai manusia pertama sekaligus nenek moyang umat manusia. Namun, sejumlah kitab tafsir dan riwayat lama menyebut adanya makhluk lain yang pernah hidup di bumi sebelum beliau diciptakan.
Tidak semua kisah tersebut memiliki dasar yang sama kuatnya. Sebagian bersumber dari ayat Al-Qur’an, sedangkan bagian lainnya berasal dari penafsiran, cerita turun-temurun, dan riwayat Israiliyat yang kebenarannya tidak dapat dipastikan.
Karena itu, kisah tentang makhluk yang menghuni bumi sebelum Nabi Adam sebaiknya dibaca sebagai tambahan wawasan, bukan sebagai dasar utama dalam perkara akidah.
Nabi Adam sebagai Khalifah di Bumi
Mayoritas ulama Islam meyakini bahwa Nabi Adam dan Hawa diciptakan oleh Allah, kemudian tinggal di surga sebelum akhirnya diturunkan ke bumi.
Keduanya diperbolehkan menikmati berbagai kenikmatan yang tersedia di surga. Namun, Allah melarang mereka mendekati sebuah pohon. Setelah tergoda oleh Iblis, Nabi Adam dan Hawa melanggar larangan tersebut.
Keduanya kemudian menyadari kesalahan, memohon ampun, dan bertaubat kepada Allah. Taubat mereka diterima, tetapi Allah tetap menurunkan mereka ke bumi sebagai bagian dari ketetapan-Nya.
Keturunan Nabi Adam dan Hawa kemudian berkembang dan memenuhi bumi. Dari merekalah sejarah kehidupan manusia dimulai.
Jauh sebelum peristiwa itu, Allah telah menyampaikan kepada para malaikat tentang rencana penciptaan manusia.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 30:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’”
Pertanyaan para malaikat dalam ayat tersebut sering menjadi dasar pembahasan mengenai adanya penghuni bumi sebelum Nabi Adam. Para malaikat tampaknya telah mengetahui bahwa makhluk yang hidup di bumi dapat melakukan kerusakan dan menumpahkan darah.
Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa pengetahuan itu berasal dari pengalaman terhadap makhluk yang pernah tinggal di bumi sebelumnya. Makhluk tersebut sering dikaitkan dengan bangsa jin.
Kisah Tabirun Nasar dalam Riwayat Lama
Dalam sebagian kisah lama disebutkan bahwa bumi pernah berada dalam keadaan kosong sebelum dihuni manusia. Pada masa tersebut, konon terdapat biji-biji sawi putih yang tersebar di permukaannya.
Allah kemudian menciptakan seekor burung yang dalam beberapa riwayat disebut Tabirun Nasar. Burung itu diperintahkan memakan biji-biji sawi tersebut hingga semuanya habis.
Pada awalnya, Tabirun Nasar memakan satu biji setiap hari. Ketika jumlah biji semakin sedikit, ia mulai merasa takut karena mengetahui bahwa hidupnya akan berakhir setelah makanan tersebut habis.
Burung itu kemudian hanya memakan satu biji setiap bulan. Setelah jumlahnya kembali berkurang, ia memperlambatnya menjadi satu biji setiap tahun.
Meskipun berusaha memperpanjang hidup, biji-biji itu akhirnya tetap habis. Tabirun Nasar pun mati sebagaimana makhluk lain yang telah ditetapkan ajalnya.
Kisah tersebut menggambarkan bahwa tidak ada makhluk yang dapat menghindari kematian. Bagaimanapun usaha seseorang mempertahankan kehidupannya, ajal akan datang pada waktu yang telah ditentukan Allah.
Namun, cerita mengenai Tabirun Nasar tidak disebutkan secara tegas dalam Al-Qur’an maupun hadis sahih. Oleh karena itu, kisah ini tidak dapat dipastikan kebenarannya.
Makhluk Berusia Sangat Panjang
Setelah kematian Tabirun Nasar, sebagian riwayat menyebutkan bahwa Allah menciptakan makhluk lain untuk menghuni bumi.
Mereka digambarkan sebagai 70 orang laki-laki yang tidak diciptakan dalam waktu bersamaan. Ketika seorang di antara mereka meninggal, makhluk lain diciptakan untuk menggantikannya.
Setiap makhluk tersebut disebut mempunyai usia yang sangat panjang, bahkan mencapai puluhan ribu tahun. Ada pula riwayat yang menggambarkan bahwa hitungan waktu pada masa itu berbeda dengan waktu yang dikenal manusia sekarang.
Kisah tersebut kemudian berlanjut hingga seluruh makhluk itu meninggal dunia. Setelahnya, bumi kembali dihuni oleh makhluk dari golongan lain.
Sekali lagi, rincian mengenai jumlah, umur, dan pergantian makhluk tersebut berasal dari cerita lama yang tidak memiliki dalil tegas. Umat Islam tidak diwajibkan meyakininya sebagai suatu kepastian.
Bangsa Jin sebagai Penghuni Bumi
Dibandingkan cerita lainnya, pendapat bahwa bangsa jin telah ada sebelum Nabi Adam mempunyai landasan yang lebih kuat.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa jin diciptakan lebih dahulu daripada manusia. Mereka diciptakan dari api yang sangat panas.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hijr ayat 26–27:
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering, dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum itu dari api yang sangat panas.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa jin memang telah diciptakan sebelum manusia. Namun, Al-Qur’an tidak menjelaskan secara terperinci berapa lama mereka tinggal di bumi atau bagaimana bentuk kehidupan mereka pada masa itu.
Dalam sebagian riwayat tafsir, jin digambarkan memiliki bentuk dan kemampuan yang beragam. Ada yang berjalan dengan dua kaki, ada yang berkaki empat, dan ada pula yang dapat terbang.
Mereka hidup dalam kelompok-kelompok dan berkembang biak. Seperti manusia, di antara bangsa jin terdapat makhluk yang taat dan ada pula yang durhaka.
Sejumlah kisah menyebut bahwa Allah pernah mengutus seseorang dari golongan mereka untuk menyampaikan ajaran dan memperingatkan kaumnya. Namun, sebagian besar menolak dan terus melakukan kerusakan.
Akibat pembangkangan tersebut, kelompok jin yang berbuat kerusakan mendapatkan hukuman. Malaikat kemudian diperintahkan menghadapi mereka dan mengusir sebagian dari bumi.
Janna dan Banul Janna
Dalam beberapa kitab tafsir dan cerita klasik, nama Janna disebut sebagai salah satu nenek moyang bangsa jin.
Janna dikisahkan pernah tinggal di bumi dalam waktu yang sangat lama. Dari keturunannya kemudian lahir kelompok-kelompok jin yang semakin banyak.
Pada awalnya mereka disebut hidup dan beribadah kepada Allah. Namun, setelah waktu yang panjang, kesombongan dan kekufuran mulai muncul di antara mereka.
Kerusakan terjadi di berbagai tempat. Mereka saling bermusuhan, menumpahkan darah, dan melupakan perintah Allah.
Sebagian riwayat juga menyebut kelompok bernama Banul Janna atau keturunan Janna. Mereka dikatakan melanjutkan kehidupan bangsa jin di bumi setelah kelompok sebelumnya dibinasakan.
Bangsa tersebut juga disebut tinggal selama ribuan tahun. Akan tetapi, mereka akhirnya mengulangi kesalahan yang sama dengan melakukan kerusakan dan pembangkangan.
Cerita tentang Janna dan Banul Janna sering digunakan untuk menjelaskan mengapa para malaikat mempertanyakan penciptaan khalifah baru di bumi. Mereka dianggap telah melihat atau mengetahui akibat buruk dari perilaku penghuni sebelumnya.
Meskipun demikian, nama, masa hidup, dan rincian peristiwa tersebut tidak dijelaskan secara langsung dalam Al-Qur’an. Karena itu, kisah ini tetap harus ditempatkan sebagai bagian dari penafsiran, bukan kepastian agama.
Azazil dan Ibadahnya yang Panjang
Nama Azazil sering disebut dalam kisah-kisah tentang Iblis sebelum ia menolak perintah Allah. Dalam berbagai cerita lama, Azazil digambarkan sebagai makhluk yang sangat tekun beribadah.
Ia dikisahkan beribadah selama ribuan tahun hingga memperoleh kedudukan tinggi di antara para malaikat. Meski demikian, Iblis bukanlah malaikat.
Al-Qur’an dengan jelas menerangkan bahwa Iblis berasal dari golongan jin.
Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 50:
“Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, lalu dia mendurhakai perintah Tuhannya.”
Dalam kisah yang berkembang, Azazil disebut pernah beribadah di berbagai lapisan langit. Ia kemudian memohon izin untuk turun ke bumi bersama sejumlah malaikat.
Permohonan itu dikabulkan. Azazil pun dikisahkan tinggal dan beribadah di bumi dalam waktu yang sangat lama.
Ia merasa nyaman berada di sana dan berharap dapat terus tinggal di bumi. Namun, ketika Allah mengumumkan akan menciptakan seorang khalifah bernama Adam, perasaan dengki mulai tumbuh dalam dirinya.
Azazil merasa memiliki kedudukan lebih tinggi karena telah lama beribadah. Kesombongan yang sebelumnya tersembunyi akhirnya terlihat ketika Allah memerintahkannya bersujud kepada Nabi Adam sebagai bentuk penghormatan.
Iblis menolak perintah tersebut.
Ia merasa lebih baik daripada Adam karena diciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Penolakan itu membuat seluruh ibadah panjangnya tidak mampu menyelamatkan dirinya dari kehinaan.
Kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa banyaknya ibadah tidak boleh melahirkan kesombongan. Ketaatan harus disertai keikhlasan dan kerendahan hati.
Mengapa Malaikat Menyebut Kerusakan dan Pertumpahan Darah?
Ketika Allah menyampaikan rencana untuk menjadikan khalifah di bumi, para malaikat bertanya mengapa makhluk yang dapat merusak dan menumpahkan darah akan ditempatkan di sana.
Para ulama memberikan beberapa penjelasan mengenai hal tersebut.
Sebagian berpendapat bahwa para malaikat mengetahui perilaku bangsa jin yang lebih dahulu menghuni bumi. Mereka telah melihat bagaimana makhluk tersebut berbuat kerusakan dan saling membunuh.
Pendapat lain menyatakan bahwa Allah telah memberitahukan sifat makhluk yang akan diciptakan. Ada pula yang mengatakan bahwa para malaikat memahami bahwa makhluk yang mempunyai kehendak bebas berpotensi melakukan kebaikan sekaligus keburukan.
Pertanyaan para malaikat bukanlah bentuk penolakan terhadap keputusan Allah. Mereka hanya ingin memahami hikmah di balik penciptaan manusia.
Allah kemudian menjawab:
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Jawaban tersebut menunjukkan bahwa Allah mengetahui seluruh potensi manusia. Manusia memang dapat melakukan kerusakan, tetapi mereka juga mampu beriman, menuntut ilmu, berbuat adil, menolong sesama, dan mengabdikan hidup kepada-Nya.
Dari keturunan Nabi Adam lahir para nabi, orang-orang saleh, ulama, dan manusia yang rela berkorban demi kebenaran.
Antara Dalil dan Cerita yang Tidak Pasti
Pembahasan mengenai makhluk yang menghuni bumi sebelum Nabi Adam harus dilakukan dengan hati-hati.
Hal yang dapat diyakini berdasarkan Al-Qur’an adalah bahwa jin diciptakan sebelum manusia. Iblis berasal dari golongan jin, bukan malaikat. Nabi Adam kemudian diciptakan dan mendapat tugas sebagai khalifah di bumi.
Adapun kisah tentang Tabirun Nasar, 70 manusia berusia panjang, Janna, Banul Janna, serta rincian ibadah Azazil selama ribuan tahun tidak dijelaskan dalam dalil yang sahih secara tegas.
Cerita-cerita tersebut kemungkinan berasal dari riwayat Israiliyat atau penuturan lama yang masuk ke dalam sejumlah kitab sejarah dan tafsir.
Riwayat semacam ini boleh dibaca selama tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam. Namun, umat Islam tidak boleh langsung menyatakannya sebagai kebenaran mutlak.
Ketika tidak ditemukan dalil yang kuat, sikap terbaik adalah mengatakan bahwa Allah lebih mengetahui keadaan sebenarnya.
Pelajaran dari Makhluk Sebelum Nabi Adam
Terlepas dari benar atau tidaknya seluruh rincian cerita tersebut, pembahasan mengenai penghuni bumi sebelum Nabi Adam menyimpan beberapa pelajaran yang patut direnungkan.
Kisah bangsa jin mengingatkan bahwa kehidupan yang panjang dan kekuatan besar tidak menjamin keselamatan apabila digunakan untuk berbuat kerusakan.
Kisah Azazil menunjukkan bahwa ibadah selama ribuan tahun dapat kehilangan makna ketika hati dipenuhi kesombongan dan kedengkian.
Sementara itu, penciptaan Nabi Adam memperlihatkan besarnya kepercayaan yang Allah berikan kepada manusia. Manusia diberi akal, ilmu, kehendak, dan tanggung jawab untuk merawat bumi.
Kedudukan sebagai khalifah bukanlah alasan untuk merasa lebih mulia daripada makhluk lain. Tugas tersebut justru menuntut manusia menjaga kehidupan, mencegah kerusakan, dan menggunakan segala kemampuan untuk menaati Allah.
Siapa pun makhluk yang pernah menghuni bumi sebelum Nabi Adam, kisah mereka seharusnya membuat manusia lebih rendah hati.
Bumi telah ada jauh sebelum kelahiran manusia dan akan tetap berada dalam kekuasaan Allah setelah kehidupan manusia berakhir. Manusia hanyalah salah satu makhluk yang diberi kesempatan hidup, belajar, dan beribadah dalam waktu yang terbatas.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan sekadar siapa yang menghuni bumi sebelum Nabi Adam. Hal yang lebih penting adalah bagaimana manusia menjalankan amanahnya selama hidup di bumi dan apa yang akan dipertanggungjawabkan ketika kembali kepada Allah.












