KETERLALUAN!! Nabi Ini Dibunuh Oleh Kaumnya Sendiri

KETERLALUAN!! Nabi Ini Dibunuh Oleh Kaumnya Sendiri
KETERLALUAN!! Nabi Ini Dibunuh Oleh Kaumnya Sendiri

KETERLALUAN!! Nabi Ini Dibunuh Oleh Kaumnya Sendiri

operatorsekolah.id – Nabi Zakaria merupakan salah satu utusan Allah yang berdakwah di tengah Bani Israil. Beliau menyeru kaumnya agar meninggalkan kezaliman, kemungkaran, dan berbagai penyimpangan yang menjauhkan mereka dari ajaran Allah.

Dakwah Nabi Zakaria berpusat di Baitul Maqdis, sebuah tempat suci yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah para nabi. Di tempat itulah beliau mengajarkan kebenaran dengan penuh kesabaran, kelembutan, dan kebijaksanaan.

Meski menghadapi kaum yang keras hati, Nabi Zakaria tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan. Tutur katanya lembut, sikapnya tenang, dan nasihatnya selalu disampaikan dengan penuh kasih sayang.

Namun, perjalanan dakwah beliau tidak pernah mudah. Di balik keteguhan hatinya, Nabi Zakaria menyimpan sebuah kesedihan yang begitu dalam.

Kegelisahan Nabi Zakaria pada Usia Senja

Nabi Zakaria dan istrinya telah memasuki usia lanjut, tetapi keduanya belum juga dikaruniai keturunan. Istri beliau diketahui tidak dapat melahirkan, sedangkan tubuh Nabi Zakaria sendiri telah melemah karena usia.

Kondisi itu membuat Nabi Zakaria memikirkan masa depan dakwahnya. Beliau khawatir tidak ada orang yang meneruskan perjuangan dalam menjaga ajaran Allah setelah dirinya meninggal dunia.

Nabi Zakaria memang mengasuh Maryam dengan penuh kasih sayang. Akan tetapi, beliau tetap memohon kepada Allah agar dikaruniai seorang anak saleh yang kelak dapat melanjutkan tugas dakwah dan membimbing Bani Israil.

Kegelisahan tersebut tidak membuat Nabi Zakaria berputus asa. Beliau justru semakin mendekatkan diri kepada Allah dan memanjatkan doa dengan suara yang lembut.

Doa itu diabadikan dalam Al-Qur’an. Nabi Zakaria mengungkapkan kekhawatirannya terhadap keadaan umat setelah dirinya tiada, lalu memohon agar Allah menganugerahkan seorang anak yang diridai-Nya.

“Sesungguhnya aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, sedangkan istriku adalah seorang yang mandul. Maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu, yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Yakub. Jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridai.”

Doa tersebut dipanjatkan dengan penuh ketundukan. Tidak ada tuntutan ataupun keputusasaan di dalamnya. Nabi Zakaria benar-benar menyadari bahwa secara manusiawi, kemungkinan memiliki anak pada usia mereka hampir tidak ada.

Namun, bagi Allah, tidak ada sesuatu pun yang mustahil.

Kabar Gembira dari Allah

Hari demi hari berlalu. Nabi Zakaria tetap menjalankan tugasnya di Baitul Maqdis sambil terus berdoa dan berharap kepada Allah.

Hingga suatu ketika, saat beliau sedang berdiri melaksanakan salat di mihrab, datanglah malaikat membawa kabar yang tidak pernah disangka-sangka.

“Wahai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki bernama Yahya. Sebelumnya Kami belum pernah memberikan nama seperti itu kepada siapa pun.”

Nabi Zakaria terdiam dalam ketakjuban. Kabar itu terasa begitu besar hingga sulit diterima oleh akal manusia.

Beliau telah lanjut usia, sedangkan istrinya mandul. Bagaimana mungkin mereka masih dapat memiliki seorang anak?

Pertanyaan itu bukanlah bentuk keraguan terhadap kekuasaan Allah. Nabi Zakaria hanya ingin mengetahui bagaimana kehendak besar tersebut akan terjadi dalam kehidupannya.

Allah kemudian menegaskan bahwa hal itu sangat mudah bagi-Nya. Sebagaimana Allah telah menciptakan Nabi Zakaria ketika sebelumnya ia belum ada, Allah juga mampu memberikan keturunan kepadanya dalam keadaan yang menurut manusia tidak mungkin.

Dengan hati penuh syukur, Nabi Zakaria memohon sebuah tanda.

“Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda.”

Allah berfirman bahwa tanda tersebut adalah Nabi Zakaria tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga malam, padahal dirinya berada dalam keadaan sehat.

Selama masa itu, beliau hanya berkomunikasi dengan kaumnya melalui isyarat. Lisannya tetap digunakan untuk berzikir, bertasbih, dan membaca kitab sebagai ungkapan syukur atas rahmat besar yang telah Allah berikan.

Kelahiran Nabi Yahya

Janji Allah akhirnya menjadi kenyataan. Istri Nabi Zakaria mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Yahya.

Kelahiran itu menjadi mukjizat sekaligus jawaban atas doa panjang yang dipanjatkan dengan penuh kesabaran. Nabi Zakaria dan istrinya menyambut putra mereka dengan rasa syukur yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata.

Yahya tumbuh sebagai anak yang saleh. Sejak usia muda, Allah menganugerahinya ilmu, kebijaksanaan, kelembutan hati, dan kesungguhan dalam beribadah.

Kelak, Yahya juga diangkat menjadi seorang nabi. Ia dikenal sebagai sosok yang teguh memegang kebenaran, menjaga kesucian diri, serta berani menyampaikan hukum Allah tanpa takut kepada kekuasaan manusia.

Nabi Zakaria dan Nabi Yahya kemudian berdakwah bersama. Keduanya mengajak Bani Israil kembali menaati Allah dan meninggalkan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran-Nya.

Kehadiran mereka menjadi cahaya di tengah masyarakat yang mulai dikuasai oleh hawa nafsu, kepentingan dunia, dan kekuasaan yang zalim.

Namun, keberanian menyampaikan kebenaran membuat keduanya harus menghadapi ancaman besar.

Nabi Yahya Menentang Kezaliman Penguasa

Dalam sejumlah riwayat yang berkembang, Bani Israil saat itu berada di bawah kekuasaan seorang raja zalim. Penguasa tersebut ingin melakukan pernikahan yang bertentangan dengan hukum Taurat.

Nabi Yahya dengan tegas menentangnya. Bagi beliau, hukum Allah tidak boleh diubah hanya demi memenuhi keinginan seorang penguasa.

Sikap itu membuat pihak istana merasa terhina. Mereka tidak dapat menerima bahwa keinginan raja dihalangi oleh seorang nabi.

Tekanan terhadap Nabi Yahya pun semakin besar. Beliau ditangkap, dipenjarakan, dan akhirnya dibunuh secara kejam.

Kabar wafatnya Nabi Yahya menjadi pukulan yang sangat berat bagi Nabi Zakaria. Anak yang begitu lama dinantikan, sekaligus teman seperjuangan dalam berdakwah, telah meninggal di tangan orang-orang zalim.

Namun, Nabi Zakaria memahami bahwa putranya telah menunaikan amanah. Nabi Yahya meninggal dalam keadaan mempertahankan hukum Allah dan menolak tunduk kepada kezaliman.

Setelah membunuh Nabi Yahya, orang-orang zalim itu belum juga merasa puas. Mereka mulai memburu Nabi Zakaria yang terus menyuarakan kebenaran.

Nabi Zakaria Diburu oleh Kaumnya Sendiri

Nabi Zakaria terpaksa meninggalkan tempatnya dan mencari perlindungan. Usianya telah lanjut, tetapi orang-orang yang mengejarnya tidak memiliki belas kasihan.

Mereka ingin membungkam suara kebenaran untuk selamanya.

Dalam kisah yang populer di tengah masyarakat, Nabi Zakaria berlari menuju sebuah kebun di sekitar Baitul Maqdis. Di tengah pengejaran itu, beliau bersembunyi di dalam sebuah pohon.

Pohon tersebut terbuka atas izin Allah, memberikan tempat bagi Nabi Zakaria untuk berlindung dari orang-orang yang memburunya.

Akan tetapi, tempat persembunyian itu akhirnya diketahui. Orang-orang yang mengejar Nabi Zakaria mendatangi pohon tersebut dengan membawa kapak dan gergaji.

Mereka tidak memedulikan usia beliau. Mereka juga tidak mengingat bahwa orang yang sedang diburu adalah seorang nabi yang selama hidupnya hanya mengajak mereka menuju kebaikan.

Pohon itu kemudian dibelah.

Dalam riwayat tersebut, Nabi Zakaria meninggal dunia bersama terbelahnya pohon tempat beliau bersembunyi. Seorang nabi yang dikenal lembut, sabar, dan penuh kasih harus menghadapi akhir kehidupan yang begitu memilukan di tangan kaumnya sendiri.

Perlu diketahui bahwa Al-Qur’an tidak menjelaskan secara terperinci bagaimana Nabi Zakaria wafat. Kisah mengenai beliau bersembunyi dan dibunuh di dalam pohon berasal dari sejumlah riwayat yang populer dalam literatur kisah para nabi.

Meski demikian, Al-Qur’an memang menggambarkan bahwa sebagian Bani Israil pernah mendustakan dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Mereka menolak nasihat bukan karena tidak memahami kebenaran, melainkan karena kebenaran itu bertentangan dengan hawa nafsu dan kepentingan mereka.

Kebenaran yang Dibalas dengan Kekejaman

Nabi Zakaria tidak pernah meminta kekuasaan ataupun kekayaan dari kaumnya. Beliau hanya mengajak mereka menyembah Allah, meninggalkan kezaliman, dan kembali menjalankan ajaran yang benar.

Namun, hati yang telah dikuasai hawa nafsu dapat membenci orang yang menyampaikan kebenaran. Nasihat dianggap sebagai ancaman, sedangkan seorang nabi yang tulus justru diperlakukan seperti musuh.

Kisah Nabi Zakaria dan Nabi Yahya memperlihatkan bahwa jalan dakwah tidak selalu dipenuhi penerimaan. Ada kalanya kebenaran harus disampaikan di tengah penolakan, ancaman, bahkan kekerasan.

Meski demikian, keduanya tidak pernah menukar kebenaran dengan keselamatan duniawi. Nabi Yahya tetap menolak pernikahan yang melanggar hukum Allah, sedangkan Nabi Zakaria terus berdakwah meskipun mengetahui nyawanya berada dalam bahaya.

Mereka mungkin dibunuh oleh manusia, tetapi perjuangan dan keteguhan mereka tidak pernah mati. Nama keduanya tetap dikenang sebagai nabi yang saleh, sabar, dan teguh memegang amanah Allah.

Kisah ini juga mengajarkan agar manusia tidak berputus asa dalam berdoa. Nabi Zakaria terus memohon keturunan meskipun usianya telah lanjut dan keadaan istrinya dianggap tidak memungkinkan.

Allah kemudian menjawab doanya dengan cara yang melampaui perhitungan manusia.

Tidak ada doa yang sia-sia ketika dipanjatkan dengan tulus. Jawaban Allah mungkin datang setelah penantian panjang, tetapi setiap ketetapan-Nya selalu mengandung hikmah.

Di sisi lain, kisah ini menjadi peringatan tentang bahayanya menolak kebenaran hanya karena bertentangan dengan keinginan pribadi. Hati yang terus-menerus menolak nasihat dapat menjadi keras hingga seseorang tidak lagi mampu membedakan kebenaran dan kebatilan.

Nabi Zakaria telah menunjukkan bahwa kelembutan bukanlah kelemahan. Di balik tutur katanya yang lembut terdapat keberanian besar untuk berdiri menghadapi kaum yang zalim.

Beliau tetap berdoa ketika harapan terasa jauh, tetap berdakwah ketika kaumnya menolak, dan tetap memegang kebenaran hingga akhir hayatnya.

Semoga kisah Nabi Zakaria dan Nabi Yahya membuat kita semakin teguh dalam beriman, bersabar dalam menghadapi ujian, serta tidak pernah kehilangan harapan terhadap rahmat dan pertolongan Allah.