Asal usul Kali Tajum

Asal usul Kali Tajum
Asal usul Kali Tajum

operatorsekolah.id – Pada saat Jaka Mruyung (Raden Joko Amruyung) dan pasukannya membuka hutan Pakis Aji di Babad Ajibarang, ada salah satu abdi Jaka Mruyung yang bernama Ki Agil Saketi yang suka sekali membual dan berkata tajam. Padahal Jaka Mruyung sudah sering memeringatkan, “Omongan itu lebih tajam dari tajamnya pisau, maka jagalah sebaik-baiknya agar tidak melukai hati dan perasaan orang lain.”

Pagi-pagi sekali, Ki Agil Sayekti sudah membabad hutan Pakis Aji. Dengan bersemangat, dia mengayunkan pedangnya membuka jalan dengan menebang pohon dan belukar liar untuk dijadikan pemukiman. Sampailah Ki Agil Sayekti dan rombongan dipinggir sungai. Air sungai itu sangat jernih layaknya kaca bening. Dari permukaan, Ki Agil Sayerkti dapat melihat dasar Sungai; dengan batu-batu gunung hitam mengkilat, ikan-ikan yang berenang riang sambil sesekali mengipaskan siripnya untuk berenang.

Di suatu kedungan yang airnya cukup dalam, batu-batu cadas yang runcing tampak menonjol.

“Kedung ini berpenunggu, ya, Ki?” tanya seorang abdi kepada Ki Agil Sayekti.

Ki Agil Sayekti bergumam sambil memandang dalamnya kedung di depannya yang nampak tenang. Benar kata orang bijak, air beriak tanda tak dalam, air tenang menghanyutkan, “Tapi apa yang dikhawatirkan?” batin Ki Agil Sayekti, “Panembahan Jaka Mruyung orang yang sakti. Aku juga,” batinnya lagi dengan sedikit sombong.Melihat kawannya yang ketakutan, Ki Agil Saketi justru tertawa terbahak-bahak. Sambil berkacak pinggang, dia berteriak lantang ke arah sungai, “Ah, kalian penakut sekali! Biarpun ada penunggu atau siluman di kedung ini, aku tidak takut! Pedangku ini bisa membelah batu Cadas, apalagi cuma air tenang seperti ini. Penunggu sungai ini pasti bersembunyi karena takut melihat kehebatanku!”

Para abdi yang lain langsung saling berpandangan dengan cemas. Mereka berbisik agar Ki Agil Saketi menghentikan ucapan sombongnya, namun peringatan itu diabaikan. Ki Agil Saketi justru sengaja melemparkan batu besar ke tengah kedung untuk memamerkan kekuatannya. Byuurrr! Air sungai terciprat ke mana-mana.

Tiba-tiba, langit yang tadinya cerah berubah menjadi mendung berawan hitam. Angin bertiup kencang, dan air kedung yang tadinya tenang mulai berputar membentuk pusaran yang mengerikan. Dari dalam air, muncul gelombang besar yang menyapu pinggiran sungai.

Karena terkejut, kaki Ki Agil Saketi terpeleset di atas batu yang licin. Byurl Dia jatuh terperosok ke dalam pusaran kedung yang dalam itu. Pedang andalannya terlepas dan tenggelam ke dasar sungai. Ki Agil Saketi berteriak meminta tolong sambil timbul tenggelam, menelan banyak air sungai.

Para abdi di pinggir sungai panik. Mereka mencoba mengulurkan sebatang bambu. namun arus pusaran air terlalu kuat. Nyawa Ki Agil Saketi benar-benar di ujung tanduk.

Tepat pada saat kritis itu. Jaka Mruyung datand bersama sisa pasukan lainnya. Melihat abdinya dalam bahaya, Jaka Mruyung segera merapatkan doa mohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa, lalu melemparkan selendang kainnya ke tengah pusaran air. Ajaibnya, selendang itu memanjang dan berhasil dililitkan ke tubuh Ki Agil Saketi. Dengan mengerahkan seluruh tenaga, Jaka Mruyung menarik Ki Agil Saketi ke daratan.

Begitu sampai di tepi sungai, pusaran air perlahan mereda. Langit kembali cerah dan air kembali tenang seperti semula. Ki Agil Saketi terbatuk-batuk, tubuhnya gemetar karena ketakutan dan rasa bersalah. Di dasar kedung, tampak batu-batu cadas yang tadinya tumpul kini berubah wujud menjadi sangat runcing dan lancip, seolah-olah mengeras akibat ucapan tajam Ki Agil Saketi sebelumnya.

Jaka Mruyung menghampiri abdinya dengan tatapan yang teduh namun penuh penegasan. Beliau berkata, “Ki Agil, lihatlah ke dalam kedung itu. Batu-batu cadas itu kini menjadi runcing dan tajam, persis seperti ucapanmu yang suka membual dan meremehkan alam. Kesombongan dan ucapan yang tajam tidak akan pernah membawamu pada keselamatan, melainkan pada kehancuran.”

Ki Agil Saketi menunduk dalam-dalam sambil menangis penyesalan. “Ampun, Panembahan. Hamba mengaku bersalah. Hamba berjanji akan menjaga lisan hamba dan tidak akan pernah menyombongkan diri lagi,” ucapnya tulus.

Sejak peristiwa itu, Ki Agil Saketi berubah menjadi pribadi yang santun, ramah, dan selalu berhati-hati dalam berbicara. Sementara itu, untuk mengenang peristiwa berharga tersebut, sungai dengan batu-batu cadas yang runcing dan tajam itu dinamakan Kali Tajum (berasal dari kata tumajem yang berarti tajam). (***)

*) Iguh Erianto

Kepala SDN 4 Tipar Kidul, Korwilcam Dindik Ajibarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *