Dektektif Cilik dan Misteri Kabut Gunung Slamet

Dektektif Cilik dan Misteri Kabut Gunung Slamet

Dektektif Cilik dan Misteri Kabut Gunung Slamet
Dektektif Cilik dan Misteri Kabut Gunung Slamet

Desa Kawungcarang yang terletak tepat di kaki Gunung Slamet pagi itu diselimuti oleh kabut tipis yang lembut. Udara dingin khas daerah pegunungan merayap masuk melalui celah-celah jendela, membawa aroma tanah basah, daun pinus, dan kesegaran yang tiada duanya. Jika kamu membuka mulut dan mengembuskan nafas di luar rumah, udara dingin akan mengubah nafasmu menjadi uap putih tipis, seperti naga kecil yang sedang menyemburkan api! Sungguh menyegarkan. Rasanya seperti sedang berada di dalam sebuah kulkas raksasa yang sangat bersih.

Namun, keindahan pagi itu sama sekali tidak menarik perhatian Bima. Anak laki-laki berumur sepuluh tahun itu duduk bersandar di kursi bambu teras rumahnya. Wajahnya tampak gelisah, bibirnya cemberut, dan tangannya tanpa henti memukul-mukul tepi ponsel pintarnya yang berwarna hitam.Aduuuh! Kenapa, sih, sinyal di sini jelek banget? Dari tadi tandanya silang terus!” keluh Bima dengan suara meninggi. Jempolnya berulang-ulang menggeser layar, mencoba merefresh aplikasi game online kesayangannya. Layar ponsel itu hanya menampilkan lingkaran berputar yang seolah-olah sedang mengejek ketidaksabarannya.

Padahal, pagi ini ada event besar di dalam game-nya. Bima sudah berjanji pada teman-teman game online-nya di kota untuk melakukan serangan bersama pada pukul delapan pagi. Tapi apa daya? Sinyal seluler di Desa Kawungcarang sedang ngambek total.

“Lagi ngapain, Bim? Pagi-pagi, kok, mukanya

sudahditekuk tebal begitu? Sudah mirip seperti serabi hangus!” seru sebuah suara ceria dari arah pintu gerbang bambu.

Itu Rizky! Anak laki-laki, teman sebaya Bima yang energik. Rambutnya yang sedikit keriting selalu berantakan tertiup angin gunung. Di lehernya, tergantung sebuah katapel kayu buatan ayahnya sendiri yang terbuat dari ranting pohon jambu. Di belakang Rizky, menyusul Alya dengan langkah santai. Alya membawa sebuah tas selempang kecil dan memegang sebuah kamera instant berwarna merah muda. Alya adalah anak yang sangat suka mengabadikan momen-momen unik di sekitar mereka.

“Sinyal internet mati total, Ky! Menyebalkan sekali!” sungut Bima sambil melemparkan ponselnya ke atas meja kayu dengan kasar. “Padahal sedikit lagi timku mau menang. Mager banget aku hari ini. Mau ngapa-ngapain jadi tidak berniat.”

Alya tertawa kecil sambil menggeleng kepalanya.la melangkah mendekati teras dan menyandarkan sikunya di pagar kayu. “Haiiish, Bima, Bima! Kamu ini rugi besar tahu tidak? Sudah jauh-jauh liburan sekolah di rumah nenek di kaki Gunung Slamet, tapi matanya cuma menempel di layar kaca ukuran lima inci itu. Coba deh sekali-kali kamu dongak kepalamu ke atas!”

Bima melirik Alya dengan malas, tetapi menuruti juga saran temannya itu. la mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke depan.

Seketika itu juga, pemandangan luar biasa menyapa matanya. Gunung Slamet berdiri dengan sangat gagah dan megah. Puncaknya yang

berwarna hijau kebiruan menjulang tinggi, seolah-olah menyentuh langit pagi yang mulai kebiruan. Di sekeliling tempat mereka berdiri, hamparan kebun teh membentang luas seperti permadani hijau yang tak bertepi. Tetesan embun pagi

berkilauan di ujung-ujung daun teh saat diterpa sinar mentari. Ketika Bima menarik napas dalam-dalam, udara dingin yang bersihmasuk mengalir memenuhi paru-parunya, membawa rasa sejuk yang belum pernah ia rasakan di kota tempat tinggalnya.

“Gagah banget, kan?” kata Rizky bangga. “Nah, daripada kamu cemberut menunggu sinyal yang tidak jelas, mending ikut kita saja yuk!”

“Ke mana?” tanya Bima ragu. Hatinya masih sedikit berat meninggalkan game-nya.

“Ke kebun atas milik Paman Wawan!” jawab Rizky dengan mata berbinar-binar penuh semangat. “Paman Wawan baru saja menelepon tadi subuh. Katanya, kebun stroberinya sedang panen raya! Kalau kita mau membantu memetik stroberi yang sudah matang, kita boleh makan buah stroberi sepuasnya sampai kenyang! Selain itu…” Rizky sengaja memotong kalimatnya dan mendekatkan wajahnya ke Bima sambil berbisik misterius, “…katanya di area sekitar kebun atas, ada yang namanya ‘Harta Karun Kabut!”

Telinga Bima langsung menegak. Rasa ingin tahunya yang terpendam mulai bangkit. “Harta Karun Kabut? Emas? Atau kotak perhiasan kuno penyihir gunung?”

Alya terkikik geli melihat kepolosan Bima. “Bisa jadi emas, bisa jadi sesuatu yang jauh lebih keren dari emas! Makanya, kalau mau tahu, lepaskan dulu HP-mu itu sebentar. Simpan di dalam tas, pakai sepatu cat-mu, dan mari kita bertualang!”

Bima melihat ponselnya yang masih memperlihatkan gambar lingkaran berputar, lalu melihat ke arah Gunung Slamet dan kedua sahabatnya yang tampak sangat siap bertualang. Akhirnya, Bima menghela napas panjang dan tersenyum.

“Ya sudah, tunggu sebentar! Aku ambil jaket tebal dan sepatuku dulu!” seru Bima sambil melompat dari kursi.

Rizky dan Alya bertukar pandang lalu bertepuk tangan gembira. Petualangan Tiga Sahabat di Lereng Gunung Slamet resmi dimulai pagi ini! Tapi, apakah Bima benar-benar bisa melupakan ponselnya? Dan rahasia apa sebenarnya yang tersembunyi di balik nama “Harta Karun Kabut”? (Bersambung) Oleh: Rr. Retno Diyah Suprobowati, S.Pd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *