Hari Kiamat: Pengertian, Ba’ts, Hisab, Surga, dan Neraka

Hari Kiamat: Pengertian, Ba’ts, Hisab, Surga, dan Neraka
Hari Kiamat: Pengertian, Ba’ts, Hisab, Surga, dan Neraka

Table of Contents

Hari Kiamat: Pengertian, Ba’ts, Hisab, Surga, dan Neraka

Hari kiamat merupakan peristiwa besar yang wajib diyakini oleh setiap Muslim. Pada hari tersebut, kehidupan dunia berakhir. Setelah itu, Allah membangkitkan seluruh manusia untuk mempertanggungjawabkan iman, ucapan, perbuatan, dan niat mereka.

Keimanan kepada hari akhir tidak hanya membahas kehancuran dunia. Sebaliknya, pembahasan ini juga mencakup ba’ts atau kebangkitan manusia, hisab atau perhitungan amal, serta surga dan neraka sebagai tempat balasan.

Oleh karena itu, seorang Muslim perlu memahami rangkaian kehidupan akhirat dengan benar. Pemahaman tersebut akan mendorong manusia untuk meningkatkan keimanan, memperbanyak amal saleh, menjaga hubungan dengan sesama, dan meninggalkan larangan Allah.

Kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah karya Bashri Al-Marghubi menjelaskan bahwa Allah akan mengembalikan ruh kepada jasad dan menghidupkan manusia setelah kematian. Selanjutnya, manusia akan menghadapi kebangkitan, perhitungan amal, dan balasan akhirat.

Pengertian Hari Kiamat dalam Islam

Hari kiamat adalah hari berakhirnya kehidupan dunia sekaligus awal kehidupan akhirat. Pada saat itu, seluruh makhluk menghadapi ketetapan Allah. Kemudian, Allah membangkitkan manusia agar mereka menerima perhitungan dan balasan atas semua amalnya.

Kematian bukan akhir dari keberadaan manusia. Sebaliknya, kematian menjadi pintu menuju tahapan kehidupan berikutnya. Setelah masa kehidupan dunia selesai, manusia memasuki alam akhirat yang kekal.

Allah menjelaskan dalam Surah Al-Jatsiyah ayat 26 bahwa Dia menghidupkan manusia, mematikan mereka, lalu mengumpulkan mereka pada hari kiamat. Tidak ada keraguan mengenai datangnya hari tersebut.

Ayat itu menunjukkan beberapa tahapan perjalanan manusia:

  1. Allah menghidupkan manusia;
  2. Manusia menjalani kehidupan dunia;
  3. Allah menetapkan kematian;
  4. Allah membangkitkan manusia;
  5. Seluruh manusia berkumpul pada hari kiamat;
  6. Manusia menghadapi perhitungan dan balasan.

Meskipun hari kiamat pasti datang, manusia tidak mengetahui waktu kejadiannya. Allah merahasiakan waktunya. Karena itu, manusia tidak perlu menebak tanggal kiamat. Sebaliknya, mereka perlu mempersiapkan diri melalui iman dan amal saleh.

Iman kepada Hari Kiamat

Iman kepada hari kiamat termasuk bagian dari rukun iman. Setiap Muslim wajib meyakini bahwa kehidupan dunia akan berakhir dan seluruh manusia akan bangkit kembali.

Selain itu, keimanan kepada hari akhir mencakup keyakinan terhadap semua peristiwa yang Allah dan Rasul-Nya jelaskan, antara lain:

  • Berakhirnya kehidupan dunia;
  • Kebangkitan manusia dari kubur;
  • Berkumpulnya seluruh manusia;
  • Perhitungan semua amal;
  • Pemberian balasan;
  • Surga bagi hamba yang memperoleh rahmat Allah;
  • Neraka bagi orang yang menerima azab.

Beriman kepada hari akhir berarti membenarkan seluruh peristiwa tersebut tanpa keraguan. Walaupun manusia belum melihat kehidupan akhirat, mereka tetap wajib mempercayainya karena Allah telah menjelaskannya melalui wahyu.

Dengan demikian, seorang Muslim tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Dunia merupakan tempat beribadah, berusaha, dan menanam amal. Sementara itu, akhirat menjadi tempat menerima hasilnya.

Mengapa Hari Kiamat Pasti Terjadi?

Hari kiamat pasti terjadi karena Allah telah memberitakannya dalam Al-Qur’an. Janji Allah selalu benar dan tidak mungkin gagal.

Selain berdasarkan wahyu, manusia juga dapat memahami kebangkitan melalui penciptaan pertama. Allah mampu menciptakan manusia dari ketiadaan. Oleh sebab itu, Allah tentu mampu menghidupkan manusia kembali setelah kematian.

Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri. Tubuh, akal, ruh, penglihatan, pendengaran, dan kemampuan berpikir berasal dari kekuasaan Allah.

Karena penciptaan pertama berada dalam kekuasaan Allah, kebangkitan manusia juga tidak sulit bagi-Nya. Surah Al-A’raf ayat 29 menjelaskan bahwa manusia akan kembali kepada Allah sebagaimana Dia menciptakan mereka pada awalnya.

Selain itu, Surah Al-Mu’minun ayat 16 menegaskan bahwa Allah akan membangkitkan manusia pada hari kiamat. Dengan demikian, kebangkitan bukan sekadar kemungkinan, melainkan kepastian.

Perbedaan Hari Kiamat dan Hari Akhir

Istilah hari kiamat dan hari akhir sering digunakan dengan makna yang hampir sama. Namun, keduanya memiliki penekanan yang sedikit berbeda.

Hari kiamat biasanya mengacu pada peristiwa berakhirnya kehidupan dunia, kehancuran alam, dan dimulainya kebangkitan manusia.

Sementara itu, hari akhir memiliki cakupan yang lebih luas. Istilah ini mencakup seluruh rangkaian setelah kehidupan dunia berakhir, seperti ba’ts, pengumpulan manusia, hisab, pemberian balasan, surga, dan neraka.

Meskipun demikian, masyarakat sering menggunakan kedua istilah tersebut untuk membahas keimanan terhadap kehidupan setelah kematian.

Tahapan Kehidupan Manusia Menuju Akhirat

Kehidupan manusia tidak berhenti setelah kematian. Sebaliknya, manusia akan melewati beberapa tahapan yang telah Allah tetapkan.

TahapanPenjelasan
Kehidupan duniaTempat manusia beriman, beribadah, belajar, bekerja, dan beramal
KematianBerakhirnya masa manusia untuk beramal di dunia
Alam kuburMasa penantian sebelum kebangkitan
Ba’tsKebangkitan seluruh manusia dari kematian
PengumpulanSeluruh manusia berkumpul untuk menghadapi ketetapan Allah
HisabPerhitungan seluruh amal manusia
BalasanManusia menerima balasan berdasarkan iman, amal, dan rahmat Allah
Surga atau nerakaTempat akhir bagi manusia sesuai keputusan Allah

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa kehidupan manusia memiliki tujuan. Oleh karena itu, setiap perbuatan selama di dunia akan membawa akibat di akhirat.

Pengertian Ba’ts pada Hari Kiamat

Ba’ts berarti kebangkitan manusia dari kematian pada hari kiamat. Allah akan menghidupkan kembali manusia walaupun tubuh mereka telah hancur dan terurai di dalam tanah.

Kebangkitan tersebut tidak terjadi karena kekuatan manusia. Tidak ada seorang pun yang mampu menghidupkan dirinya sendiri setelah mati. Sebaliknya, ba’ts berlangsung sepenuhnya karena kekuasaan dan kehendak Allah.

Keimanan terhadap ba’ts mengajarkan bahwa kematian tidak dapat menghapus tanggung jawab. Meskipun seseorang telah meninggal dan jasadnya telah hancur, Allah tetap mampu membangkitkannya.

Setelah itu, manusia harus mempertanggungjawabkan semua amal yang pernah mereka lakukan.

Dalil tentang Ba’ts

Surah Al-Mu’minun Ayat 16

Surah Al-Mu’minun ayat 16 menjelaskan bahwa setelah manusia mengalami kematian, Allah benar-benar akan membangkitkan mereka pada hari kiamat.

Penegasan tersebut menunjukkan kepastian. Dengan kata lain, kebangkitan bukan dugaan atau kemungkinan.

Surah Al-A’raf Ayat 29

Allah menjelaskan bahwa manusia akan kembali kepada-Nya sebagaimana Dia menciptakan mereka pada awalnya.

Penciptaan pertama menjadi bukti kekuasaan Allah. Jika Allah mampu menciptakan manusia dari ketiadaan, Dia juga mampu membangkitkan mereka setelah kematian.

Surah Al-Jatsiyah Ayat 22

Ayat ini menerangkan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran. Selain itu, setiap jiwa akan menerima balasan sesuai dengan amalnya.

Dengan demikian, kebangkitan berkaitan erat dengan keadilan Allah. Allah membangkitkan manusia agar seluruh amal memperoleh perhitungan yang sempurna.

Hikmah Meyakini Ba’ts

Keyakinan terhadap ba’ts memberikan pengaruh besar dalam kehidupan seorang Muslim.

Pertama, iman kepada ba’ts mengingatkan manusia bahwa kematian bukan akhir perjalanan. Masih ada kehidupan akhirat yang jauh lebih panjang.

Kedua, keyakinan ini mendorong manusia untuk bertanggung jawab. Setiap tindakan akan mereka bawa menuju kehidupan akhirat.

Ketiga, ba’ts memberikan harapan kepada orang yang mengalami kezaliman. Apabila mereka belum memperoleh keadilan di dunia, Allah akan menyelesaikan perkara tersebut di akhirat.

Keempat, iman kepada kebangkitan mengurangi kecintaan berlebihan kepada dunia. Harta, jabatan, dan popularitas tidak akan ikut masuk ke dalam kubur. Namun, amal yang manusia lakukan melalui semua nikmat tersebut akan tetap memiliki nilai.

Pengertian Hisab pada Hari Kiamat

Hisab adalah perhitungan Allah terhadap seluruh amal manusia pada hari kiamat. Allah akan memperlihatkan dan memperhitungkan setiap perbuatan dengan keadilan yang sempurna.

Tidak ada amal yang terlalu kecil bagi pengetahuan Allah. Kebaikan dan keburukan sekecil apa pun tetap akan muncul dalam perhitungan.

Selain perbuatan, hisab juga berkaitan dengan perkataan, niat, penggunaan nikmat, dan pilihan hidup. Manusia akan mempertanggungjawabkan cara mereka menggunakan umur, harta, ilmu, kesehatan, dan kesempatan.

Allah tidak memerlukan waktu untuk mengetahui amal manusia. Semua perbuatan telah berada dalam pengetahuan-Nya. Namun, Allah menjalankan hisab agar manusia melihat sendiri akibat perbuatannya.

Dalil tentang Hisab

Surah Az-Zalzalah Ayat 7–8

Surah Az-Zalzalah menjelaskan bahwa siapa pun yang mengerjakan kebaikan seberat zarah akan melihat balasannya. Demikian pula, orang yang melakukan keburukan seberat zarah akan melihat akibatnya.

Ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada amal yang sia-sia. Kebaikan kecil tetap bernilai. Sebaliknya, keburukan yang dianggap ringan tetap memerlukan pertanggungjawaban.

Surah Al-Baqarah Ayat 284

Allah mengetahui apa yang manusia nyatakan dan apa yang mereka sembunyikan dalam hati. Semuanya berada dalam pengetahuan dan perhitungan-Nya.

Oleh sebab itu, manusia tidak hanya perlu menjaga tindakan lahiriah. Mereka juga perlu menjaga niat dan keadaan hati.

Apa Saja yang Akan Dihisab?

Keimanan

Manusia akan mempertanggungjawabkan keyakinannya kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul, hari akhir, dan ketetapan Allah.

Keimanan menjadi dasar utama. Karena itu, seorang Muslim harus menjaga tauhid dan menjauhi kemusyrikan.

Ibadah

Shalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya akan masuk dalam perhitungan.

Selain pelaksanaannya, Allah juga mengetahui niat, keikhlasan, dan kesungguhan seorang hamba.

Harta

Manusia akan mempertanggungjawabkan asal dan penggunaan hartanya.

Harta halal yang digunakan untuk kebaikan dapat menjadi bekal akhirat. Sebaliknya, harta haram atau harta yang digunakan untuk menzalimi orang lain dapat menjadi beban.

Perkataan

Ucapan yang baik dapat menghasilkan pahala. Namun, dusta, fitnah, penghinaan, dan perkataan yang menyakiti orang lain akan mendatangkan pertanggungjawaban.

Oleh karena itu, menjaga lisan menjadi bagian penting dalam persiapan menghadapi hisab.

Hubungan dengan Sesama

Hak manusia memiliki kedudukan yang penting. Utang, kezaliman, penghinaan, dan pengambilan hak orang lain tidak boleh dianggap ringan.

Karena itu, seseorang perlu meminta maaf dan menyelesaikan hak orang lain selama masih hidup.

Waktu dan Kesempatan

Umur merupakan nikmat Allah. Manusia akan mempertanggungjawabkan cara mereka menggunakan waktu, kesehatan, ilmu, dan kemampuan.

Kesempatan yang digunakan untuk beribadah dan menolong orang lain dapat menghasilkan kebaikan. Sebaliknya, waktu yang terbuang dalam maksiat dapat mendatangkan penyesalan.

Keadilan Allah dalam Hisab

Hisab Allah berbeda dari pengadilan manusia. Pengadilan manusia dapat mengalami kesalahan karena keterbatasan bukti, pengetahuan, atau kesaksian.

Sebaliknya, Allah mengetahui seluruh kenyataan. Tidak ada bukti yang hilang dan tidak ada informasi yang tersembunyi dari-Nya.

Allah tidak menzalimi siapa pun. Setiap manusia akan menerima keputusan berdasarkan keadilan dan kebijaksanaan-Nya.

Keyakinan ini memberikan ketenangan kepada orang yang berbuat baik meskipun manusia tidak mengetahuinya. Pada saat yang sama, keyakinan tersebut menjadi peringatan bagi orang yang melakukan keburukan secara tersembunyi.

Pengertian Surga

Surga adalah tempat penuh kenikmatan yang Allah sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan memperoleh rahmat-Nya.

Kenikmatan surga berbeda dari kenikmatan dunia. Kehidupan dunia selalu terbatas, berubah, dan berakhir. Sementara itu, kenikmatan surga bersifat sempurna dan tidak bercampur dengan penderitaan.

Di dunia, kesehatan dapat menurun. Kebahagiaan juga dapat berubah menjadi kesedihan. Selain itu, setiap pertemuan dapat berakhir dengan perpisahan.

Keadaan seperti itu tidak terdapat di surga.

Gambaran Kenikmatan Surga

Surah Muhammad ayat 15 menggambarkan surga dengan sungai-sungai yang airnya tidak berubah, susu yang rasanya tetap, minuman yang lezat, dan madu yang murni.

Gambaran tersebut membantu manusia memahami keindahan surga. Namun, hakikat kenikmatannya jauh lebih besar daripada yang dapat manusia bayangkan.

Beberapa kenikmatan surga antara lain:

  • Tidak mengalami kematian;
  • Tidak merasakan sakit;
  • Tidak mengalami ketakutan;
  • Tidak merasakan kesedihan;
  • Memperoleh makanan dan minuman yang menyenangkan;
  • Hidup dalam keamanan dan ketenteraman;
  • Berkumpul dengan orang-orang saleh;
  • Memperoleh rahmat dan keridaan Allah.

Surga bukan hanya tempat kesenangan jasmani. Kenikmatan tertinggi berkaitan dengan rahmat, keridaan, dan kedekatan seorang hamba kepada Allah.

Siapa yang Memperoleh Kebahagiaan Akhirat?

Orang yang berbahagia di akhirat ialah mereka yang beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, rasul, dan hari akhir. Selain itu, mereka juga mengerjakan amal saleh.

Keimanan dan amal tidak dapat dipisahkan. Iman menjadi dasar, sedangkan amal menunjukkan ketaatan seorang hamba.

Namun, manusia tidak dapat memaksa Allah memberikan surga hanya dengan mengandalkan amalnya. Keselamatan tetap terjadi karena rahmat Allah. Sementara itu, amal saleh menjadi tanda keimanan dan ketaatan.

Pengertian Neraka

Neraka adalah tempat hukuman bagi orang yang menerima azab akibat kekufuran, kemusyrikan, kemunafikan, kezaliman, atau dosa yang tidak memperoleh ampunan.

Neraka merupakan kenyataan yang wajib diyakini. Pembahasan mengenai neraka bukan bertujuan membuat manusia berputus asa.

Sebaliknya, peringatan tersebut mengajak manusia menjauhi perbuatan yang membawa kepada azab.

Allah tetap membuka pintu tobat selama manusia masih hidup. Oleh karena itu, orang yang menyesal, meninggalkan dosa, dan kembali kepada Allah masih memiliki kesempatan memperoleh ampunan.

Gambaran Keadaan Neraka

Al-Qur’an menggambarkan neraka sebagai tempat hukuman yang berat. Para penghuninya mengalami penyesalan karena menolak kebenaran dan menyia-nyiakan kesempatan hidup.

Surah At-Tahrim ayat 6 menjelaskan neraka yang bahan bakarnya terdiri atas manusia dan batu. Malaikat yang tegas menjaganya dan selalu menaati perintah Allah.

Para malaikat tersebut tidak bertindak berdasarkan kebencian pribadi. Sebaliknya, mereka menjalankan tugas yang Allah tetapkan.

Gambaran mengenai neraka menunjukkan beratnya akibat kekufuran dan kedurhakaan. Oleh sebab itu, manusia perlu menjaga diri dan keluarganya melalui iman, ibadah, pendidikan akhlak, serta pertobatan.

Siapakah Orang yang Celaka di Akhirat?

Orang yang celaka ialah mereka yang menolak kebenaran, melakukan kezaliman, serta terus berbuat buruk tanpa bertobat.

Kecelakaan akhirat tidak bergantung pada kekayaan, kemiskinan, jabatan, atau status sosial. Sebaliknya, ukurannya berkaitan dengan keimanan, ketaatan, amal, dan keputusan Allah.

Seseorang mungkin memperoleh pujian di dunia. Namun, pujian manusia tidak menjamin keselamatan jika ia melakukan kezaliman.

Sebaliknya, seseorang mungkin tidak terkenal di dunia, tetapi memiliki kedudukan mulia di sisi Allah karena keimanan, keikhlasan, dan amal salehnya.

Hubungan Ba’ts, Hisab, Surga, dan Neraka

Ba’ts, hisab, surga, dan neraka merupakan rangkaian yang saling berhubungan.

Ba’ts sebagai Awal Kebangkitan

Pertama, Allah membangkitkan manusia dari kematian. Kebangkitan ini membuat seluruh manusia hadir untuk menghadapi pertanggungjawaban.

Hisab sebagai Perhitungan Amal

Selanjutnya, Allah memperhitungkan seluruh amal manusia dengan keadilan sempurna.

Surga dan Neraka sebagai Tempat Balasan

Setelah proses yang Allah tetapkan selesai, manusia menerima balasan. Surga menjadi tempat kenikmatan, sedangkan neraka menjadi tempat hukuman.

Secara sederhana, rangkaiannya adalah:

Kematian → Ba’ts → Pengumpulan → Hisab → Balasan → Surga atau Neraka

Dengan demikian, kehidupan manusia memiliki tujuan dan tanggung jawab yang jelas.

Hikmah Beriman kepada Hari Kiamat

Mendorong Manusia Rajin Beribadah

Orang yang meyakini hari akhir memahami bahwa ibadah tidak akan sia-sia. Setiap shalat, puasa, sedekah, doa, dan amal baik berada dalam pengetahuan Allah.

Karena itu, ia tetap beribadah meskipun tidak memperoleh pujian manusia.

Mencegah Perbuatan Dosa

Seseorang mungkin dapat menyembunyikan perbuatan buruk dari manusia. Namun, ia tidak dapat menyembunyikannya dari Allah.

Kesadaran terhadap hisab akan membuat seorang Muslim lebih berhati-hati.

Menumbuhkan Kejujuran

Orang yang beriman kepada hari akhir tidak hanya menjaga kejujuran saat manusia mengawasinya.

Sebaliknya, ia tetap jujur ketika sendirian karena menyadari bahwa Allah mengetahui semua perbuatannya.

Menumbuhkan Kesabaran

Ujian dunia bersifat sementara. Orang yang bersabar dan tetap taat memiliki harapan memperoleh balasan yang lebih baik.

Oleh sebab itu, iman kepada hari akhir membantu manusia menghadapi kesulitan tanpa kehilangan harapan.

Mendorong Penyelesaian Hak Sesama

Utang, kezaliman, penghinaan, dan pengambilan hak orang lain akan masuk dalam perhitungan.

Karena itu, seorang Muslim perlu menyelesaikan kesalahan kepada sesama sebelum datangnya hari hisab.

Mengurangi Kecintaan Berlebihan kepada Dunia

Dunia memiliki batas. Harta, jabatan, rumah, kendaraan, dan seluruh kepemilikan akan manusia tinggalkan.

Namun, Islam tidak melarang manusia bekerja dan memiliki harta. Sebaliknya, Islam mengajarkan agar manusia memperoleh harta secara halal dan menggunakannya untuk kebaikan.

Menumbuhkan Harapan terhadap Keadilan Allah

Tidak semua kezaliman memperoleh balasan sempurna di dunia. Ada orang yang meninggal sebelum mendapatkan keadilan.

Hari akhir menunjukkan bahwa tidak ada hak yang hilang di sisi Allah. Dia akan menyelesaikan semua perkara secara adil.

Mendorong Pertobatan

Peringatan mengenai neraka tidak seharusnya membuat manusia putus asa.

Sebaliknya, peringatan tersebut perlu mendorong manusia untuk segera bertobat, meminta ampun, dan memperbaiki kesalahan.

Cara Mempersiapkan Diri Menghadapi Hari Kiamat

Memperkuat Keimanan

Persiapan pertama ialah menjaga keimanan kepada Allah dan seluruh rukun iman.

Selain itu, seorang Muslim perlu menjaga tauhid dan menjauhi keyakinan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Menjaga Ibadah Wajib

Shalat, puasa Ramadan, zakat, serta kewajiban lainnya harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Kesibukan dunia tidak seharusnya membuat seseorang meninggalkan kewajiban.

Memperbanyak Amal Saleh

Amal saleh mencakup berbagai kebaikan, seperti membantu orang lain, bersedekah, menuntut ilmu, menjaga lingkungan, dan memperlakukan keluarga dengan baik.

Kebaikan sekecil apa pun tetap berada dalam pengetahuan Allah.

Menjauhi Kezaliman

Kezaliman dapat terjadi melalui harta, ucapan, jabatan, dan tindakan.

Oleh karena itu, seorang Muslim harus menjaga diri agar tidak merampas hak, menyakiti, memfitnah, atau mempermalukan orang lain.

Segera Bertobat

Manusia tidak terlepas dari kesalahan. Namun, seseorang tidak boleh menunda pertobatan.

Tobat yang sungguh-sungguh mencakup penyesalan, meninggalkan dosa, bertekad tidak mengulanginya, serta menyelesaikan hak manusia apabila kesalahan berkaitan dengan orang lain.

Menggunakan Waktu dengan Baik

Waktu yang telah berlalu tidak dapat kembali. Karena itu, manusia perlu menggunakan umur untuk kegiatan yang bermanfaat.

Bekerja, belajar, beribadah, mendidik keluarga, dan menolong orang lain dapat menjadi bekal akhirat apabila dilakukan dengan niat yang benar.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa yang dimaksud dengan hari kiamat?

Hari kiamat adalah hari berakhirnya kehidupan dunia dan dimulainya kehidupan akhirat. Allah akan membangkitkan manusia untuk menerima perhitungan serta balasan amal.

Apa arti ba’ts?

Ba’ts berarti kebangkitan manusia dari kematian pada hari kiamat. Allah menghidupkan manusia kembali meskipun jasad mereka telah hancur.

Apa yang dimaksud dengan hisab?

Hisab adalah perhitungan Allah terhadap seluruh amal manusia. Tidak ada kebaikan atau keburukan sekecil apa pun yang terlepas dari pengetahuan-Nya.

Apakah surga dan neraka benar-benar ada?

Setiap Muslim wajib meyakini keberadaan surga dan neraka karena Al-Qur’an dan ajaran para rasul telah menjelaskannya.

Mengapa manusia dibangkitkan kembali?

Allah membangkitkan manusia agar mereka mempertanggungjawabkan iman dan amal selama hidup di dunia.

Apakah manusia dapat mengetahui waktu hari kiamat?

Manusia tidak mengetahui waktu pasti datangnya hari kiamat. Pengetahuan tersebut hanya berada di sisi Allah.

Hari kiamat menandai berakhirnya kehidupan dunia dan dimulainya kehidupan akhirat. Pada hari tersebut, Allah membangkitkan manusia melalui peristiwa ba’ts. Selanjutnya, seluruh amal akan masuk dalam hisab.

Surga menjadi tempat kenikmatan bagi hamba yang beriman dan memperoleh rahmat Allah. Sementara itu, neraka menjadi tempat hukuman bagi orang yang menerima azab akibat kekufuran dan kedurhakaan.

Oleh karena itu, keimanan kepada hari kiamat tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan. Seorang Muslim perlu mewujudkannya melalui ibadah, kejujuran, pertobatan, amal saleh, serta penyelesaian hak sesama.

Dunia merupakan tempat menanam amal. Adapun akhirat menjadi tempat manusia menerima hasilnya.