Kisah Juraij, Ahli Ibadah yang Mengabaikan Panggilan Ibu
operatorsekolah.id – Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kisah Juraij merupakan salah satu cerita penuh hikmah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Kisah ini menggambarkan seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil yang mendapatkan ujian berat setelah tidak menjawab panggilan ibunya.
Juraij dikenal sebagai seorang laki-laki saleh yang tekun beribadah. Namun, kesungguhannya dalam melaksanakan salat membuatnya kurang tepat menentukan prioritas ketika sang ibu datang dan memanggilnya.
Akibatnya, sang ibu merasa kecewa dan berdoa kepada Allah. Tidak lama kemudian, Juraij menghadapi fitnah besar. Ia dituduh melakukan perbuatan zina dengan seorang perempuan hingga memiliki seorang anak.
Allah kemudian menunjukkan kebenaran melalui sebuah peristiwa luar biasa. Bayi yang baru dilahirkan dapat berbicara dan menjelaskan siapa ayah kandungnya.
Siapakah Juraij?
Juraij adalah seorang ahli ibadah yang hidup pada masa Bani Israil. Ia membangun sebuah tempat ibadah dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk beribadah kepada Allah.
Masyarakat mengenalnya sebagai orang yang saleh, tekun, dan menjauhi berbagai perbuatan tercela. Kehidupannya banyak diisi dengan salat, doa, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Ketekunan tersebut membuat nama Juraij dikenal luas. Orang-orang sering membicarakan kesalehan dan kesungguhannya dalam beribadah.
Namun, dalam perjalanan hidupnya, Juraij menghadapi ujian yang sangat berat. Ujian tersebut berawal ketika ibunya datang dan memanggilnya saat ia sedang melaksanakan salat.
Ketika Ibu Juraij Datang Memanggil
Suatu hari, ibu Juraij datang ke tempat ibadah anaknya. Ketika itu, Juraij sedang melaksanakan salat.
Sang ibu memanggil:
“Wahai Juraij!”
Juraij mendengar panggilan tersebut. Dalam hatinya, ia merasa bimbang antara melanjutkan salat atau menjawab panggilan ibunya.
Ia berkata dalam hati:
“Ya Allah, ibuku atau salatku?”
Juraij akhirnya memilih meneruskan salat. Sang ibu pun pergi karena panggilannya tidak mendapatkan jawaban.
Pada kesempatan berikutnya, ibunya kembali datang. Keadaan yang sama kembali terjadi. Juraij sedang salat ketika ibunya memanggil.
Juraij kembali merasa bimbang. Namun, ia tetap memilih menyelesaikan salat dan tidak menjawab panggilan ibunya.
Dalam riwayat Sahih Muslim diterangkan bahwa sang ibu datang dan memanggil Juraij hingga beberapa kali. Namun, setiap kali dipanggil, Juraij sedang melaksanakan salat dan tidak memberikan jawaban.
Doa Ibu Juraij
Karena panggilannya berulang kali tidak dijawab, ibu Juraij merasa sangat kecewa. Ia kemudian berdoa:
“Ya Allah, janganlah Engkau mematikannya sebelum ia melihat wajah para perempuan pezina.”
Doa tersebut bukan berarti sang ibu memohon agar Juraij melakukan zina. Ia berdoa agar Juraij menghadapi sebuah keadaan yang berhubungan dengan perempuan pelaku zina.
Allah kemudian mengabulkan doa tersebut melalui ujian yang tidak pernah diperkirakan oleh Juraij.
Kisah ini memperlihatkan betapa besar kedudukan seorang ibu. Perasaan orang tua tidak boleh disepelekan, bahkan ketika seseorang sedang mengerjakan suatu amalan yang dianggap baik.
Ibadah kepada Allah harus berjalan beriringan dengan berbakti kepada kedua orang tua. Kesalehan bukan hanya diukur dari banyaknya salat, tetapi juga dari akhlak, kepekaan, dan kemampuan menunaikan hak orang lain.
Perempuan yang Ingin Menggoda Juraij
Kesalehan Juraij menjadi pembicaraan masyarakat Bani Israil. Pada suatu hari, seorang perempuan berparas cantik mendengar orang-orang membicarakan keteguhan ibadah Juraij.
Perempuan tersebut kemudian berkata bahwa ia sanggup menggoda Juraij apabila masyarakat menghendakinya.
Ia mendatangi tempat ibadah Juraij dan berusaha menarik perhatiannya. Perempuan itu menawarkan dirinya untuk melakukan perbuatan terlarang.
Namun, Juraij tidak memedulikannya. Ia tetap menjaga diri dan menolak ajakan tersebut.
Penolakan Juraij membuat perempuan itu merasa kecewa. Ia kemudian mendatangi seorang penggembala yang biasa berada di sekitar tempat ibadah Juraij.
Perempuan tersebut melakukan hubungan terlarang dengan sang penggembala hingga akhirnya hamil.
Juraij Dituduh sebagai Ayah dari Bayi
Setelah beberapa waktu, perempuan tersebut melahirkan seorang bayi. Orang-orang kemudian bertanya tentang ayah dari anak yang dilahirkannya.
Tanpa rasa takut, perempuan itu menjawab:
“Anak ini adalah anak Juraij.”
Pengakuan tersebut langsung menggemparkan masyarakat. Orang-orang yang sebelumnya mengenal Juraij sebagai ahli ibadah menjadi marah dan kecewa.
Mereka mempercayai tuduhan perempuan tersebut tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Mereka kemudian mendatangi tempat ibadah Juraij.
Tempat ibadah itu dihancurkan. Juraij dipaksa turun, dicaci, dan diperlakukan dengan kasar.
Masyarakat menganggap Juraij sebagai orang munafik yang berpura-pura saleh di hadapan banyak orang, tetapi melakukan perbuatan tercela secara sembunyi-sembunyi.
Juraij Menghadapi Fitnah dengan Tenang
Ketika menghadapi kemarahan masyarakat, Juraij tidak langsung membalas dengan kemarahan. Ia bertanya mengenai alasan tempat ibadahnya dihancurkan dan mengapa mereka memperlakukannya dengan kasar.
Orang-orang menjawab bahwa seorang perempuan telah melahirkan anak dan mengaku bahwa Juraij adalah ayahnya.
Setelah mendengar tuduhan tersebut, Juraij meminta agar bayi itu dibawa kepadanya.
Sebelum menemui bayi tersebut, Juraij mengambil air wudu dan melaksanakan salat. Ia memohon pertolongan dan petunjuk kepada Allah.
Tindakan tersebut memperlihatkan keteguhan hati Juraij. Ketika menghadapi musibah besar, ia tidak kehilangan kendali. Ia justru kembali mendekatkan diri kepada Allah.
Setelah selesai salat, Juraij mendatangi bayi yang berada di hadapannya.
Bayi Berbicara Menjelaskan Kebenaran
Juraij menyentuh bayi tersebut dan bertanya:
“Wahai anak, siapakah ayahmu?”
Atas izin Allah, bayi yang masih berada dalam buaian itu dapat berbicara. Bayi tersebut menjawab dengan jelas:
“Ayahku adalah seorang penggembala.”
Jawaban itu membuat seluruh masyarakat terkejut. Mereka akhirnya mengetahui bahwa tuduhan terhadap Juraij adalah kebohongan.
Perempuan tersebut telah melakukan perbuatan zina dengan seorang penggembala, kemudian menuduh Juraij sebagai ayah dari anaknya.
Allah memperlihatkan kebenaran dengan cara yang luar biasa. Bayi yang belum mampu berbicara secara normal diberikan kemampuan untuk menjelaskan siapa ayah kandungnya.
Juraij pun terbebas dari tuduhan keji yang diarahkan kepadanya.
Masyarakat Meminta Maaf kepada Juraij
Setelah mengetahui kebenaran, masyarakat merasa sangat bersalah. Mereka telah terburu-buru mempercayai tuduhan tanpa bukti.
Mereka juga telah mencaci Juraij dan menghancurkan tempat ibadahnya.
Sebagai bentuk penyesalan, mereka menawarkan untuk membangun kembali tempat ibadah Juraij dari emas.
Namun, Juraij menolak tawaran tersebut. Ia tidak menginginkan bangunan yang megah dan mewah.
Juraij berkata:
“Bangunlah kembali dari tanah seperti semula.”
Jawaban itu menunjukkan kesederhanaannya. Juraij tidak memanfaatkan kesalahan masyarakat untuk memperoleh kekayaan.
Ia hanya meminta agar tempat ibadahnya dibangun kembali dengan bahan yang sama seperti sebelumnya.
Apakah Juraij Durhaka kepada Ibunya?
Kisah Juraij sering diberi judul sebagai cerita ahli ibadah yang durhaka kepada ibunya. Namun, penggunaan istilah tersebut perlu disampaikan dengan hati-hati.
Hadis tidak secara langsung menyebut Juraij sebagai anak durhaka. Juraij merupakan seorang ahli ibadah yang menghadapi kebimbangan ketika ibunya memanggil saat ia sedang melaksanakan salat.
Kesalahannya adalah kurang tepat menentukan amalan yang seharusnya didahulukan. Ia terus melaksanakan salat tanpa mengetahui bahwa sikap tersebut telah melukai perasaan ibunya.
Para ulama menjadikan kisah ini sebagai pelajaran tentang pentingnya mendahulukan panggilan orang tua dalam keadaan tertentu, terutama ketika seseorang sedang melaksanakan salat sunnah dan orang tua benar-benar membutuhkan jawaban.
Adapun apabila seseorang sedang melaksanakan salat wajib, hukumnya perlu dilihat berdasarkan keadaan. Salat wajib tidak boleh dibatalkan hanya karena panggilan biasa. Namun, apabila terdapat keadaan darurat atau orang tua membutuhkan pertolongan segera, keselamatan harus didahulukan.
Oleh karena itu, kisah Juraij tidak seharusnya dipahami secara sederhana bahwa semua panggilan orang tua selalu mengharuskan seseorang membatalkan salat.
Hikmah dari Kisah Juraij
Kisah Juraij mengandung banyak pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Berbakti kepada Orang Tua Merupakan Ibadah Utama
Menghormati dan berbakti kepada kedua orang tua merupakan kewajiban besar dalam Islam. Seseorang tidak boleh merasa bahwa ibadah pribadinya membuat ia bebas mengabaikan perasaan orang tua.
Ketaatan kepada Allah harus tercermin dalam sikap lembut, perhatian, dan penghormatan kepada ayah dan ibu.
2. Kesalehan Harus Disertai Pemahaman
Semangat beribadah harus disertai pengetahuan. Seseorang perlu memahami amalan mana yang wajib, sunnah, dan harus didahulukan.
Juraij sangat tekun beribadah, tetapi ia menghadapi kesulitan ketika harus memilih antara melanjutkan salat dan menjawab panggilan ibunya.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa semangat saja belum cukup. Seorang Muslim juga membutuhkan ilmu agar dapat menempatkan setiap ibadah sesuai dengan keutamaannya.
3. Jangan Mudah Memercayai Tuduhan
Masyarakat dalam kisah Juraij langsung mempercayai pengakuan seorang perempuan tanpa melakukan pemeriksaan.
Mereka bahkan menghancurkan tempat ibadah Juraij dan mencacinya sebelum memperoleh bukti.
Tindakan tersebut memberikan pelajaran agar setiap kabar diperiksa terlebih dahulu. Tuduhan yang belum terbukti tidak boleh langsung dianggap benar, terlebih apabila berkaitan dengan kehormatan seseorang.
4. Fitnah Dapat Menimpa Orang Saleh
Kesalehan tidak membuat seseorang terbebas dari ujian. Juraij yang dikenal tekun beribadah tetap menghadapi tuduhan yang sangat berat.
Orang baik dapat difitnah, dicaci, dan disalahpahami. Namun, ujian tersebut tidak boleh membuat seseorang meninggalkan kebaikan.
5. Menghadapi Masalah dengan Mendekat kepada Allah
Saat menghadapi tuduhan, Juraij mengambil air wudu dan melaksanakan salat.
Ia tidak langsung melampiaskan kemarahan kepada orang-orang yang mencacinya. Ia memilih memohon pertolongan kepada Allah.
Sikap tersebut mengajarkan bahwa musibah seharusnya membuat seorang hamba semakin dekat kepada Allah, bukan semakin jauh.
6. Allah Mampu Menunjukkan Kebenaran
Allah memberikan kemampuan kepada seorang bayi untuk berbicara dan menjelaskan siapa ayah kandungnya.
Peristiwa tersebut merupakan karamah yang Allah berikan kepada Juraij sebagai bentuk pertolongan bagi hamba-Nya yang saleh.
Allah memiliki berbagai cara untuk memperlihatkan kebenaran dan membersihkan nama seseorang dari tuduhan palsu.
7. Kesederhanaan Seorang Ahli Ibadah
Ketika masyarakat menawarkan pembangunan tempat ibadah dari emas, Juraij menolaknya.
Ia hanya meminta bangunan tersebut dibuat kembali dari tanah seperti semula. Sikap itu menunjukkan bahwa tujuannya beribadah bukan untuk memperoleh kekayaan atau penghormatan manusia.
8. Jangan Membalas Kesalahan dengan Kesombongan
Juraij memiliki kesempatan untuk meminta bangunan mewah setelah masyarakat menyadari kesalahannya. Namun, ia tidak memanfaatkan keadaan tersebut.
Ia tetap sederhana dan tidak membalas penghinaan masyarakat dengan kesombongan.
Hadis tentang Kisah Juraij
Kisah Juraij diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. Nabi Muhammad SAW menceritakan bahwa hanya beberapa bayi yang dapat berbicara ketika masih berada dalam buaian.
Salah satunya adalah bayi dalam kisah Juraij. Bayi tersebut berbicara atas izin Allah untuk menjelaskan bahwa ayahnya adalah seorang penggembala, bukan Juraij.
Riwayat mengenai Juraij dapat ditemukan dalam beberapa hadis, antara lain:
- Sahih Al-Bukhari nomor 1206, tentang seorang ibu yang memanggil anaknya ketika sedang melaksanakan salat.
- Sahih Al-Bukhari nomor 2482 dan 3436, tentang fitnah terhadap Juraij dan bayi yang berbicara.
- Sahih Muslim nomor 2550a dan 2550b, tentang ibu Juraij, perempuan yang menuduhnya, serta kesaksian sang bayi.
Kisah ini bukan sekadar cerita tentang seorang ahli ibadah yang terkena fitnah. Di dalamnya terdapat peringatan agar manusia tidak mengabaikan hak orang tua, tidak terburu-buru mempercayai tuduhan, dan selalu memohon pertolongan Allah ketika menghadapi ujian.
Semoga kisah Juraij dapat menambah wawasan, memperkuat keimanan, serta mengingatkan kita untuk menyeimbangkan ibadah kepada Allah dengan kewajiban berbakti kepada kedua orang tua.
Jangan lupa membagikan artikel ini kepada teman, keluarga, atau orang lain yang membutuhkan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Temukan berbagai kisah Islami, informasi pendidikan, perangkat pembelajaran, administrasi sekolah, contoh soal, dan materi bermanfaat lainnya melalui Operator Sekolah.













