Cerita Raihanah, Menolak Masuk Islam Namun Akhirnya Jadi Istri Nabi Muhammad SAW
operatorsekolah.id – Raihanah binti Zaid merupakan salah seorang perempuan yang disebut dalam berbagai kitab sirah dan sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Kisah hidupnya menarik perhatian karena berkaitan dengan peristiwa Bani Quraizhah, proses keislamannya, serta perbedaan pendapat para ulama mengenai kedudukannya di dalam rumah tangga Rasulullah SAW.
Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memerdekakan Raihanah setelah ia memeluk Islam, kemudian menikahinya. Berdasarkan pendapat tersebut, Raihanah termasuk salah seorang istri Nabi Muhammad SAW.
Namun, terdapat pula riwayat yang menyebutkan bahwa Raihanah tidak dinikahi secara resmi dan tetap berada dalam kepemilikan Rasulullah SAW. Perbedaan keterangan inilah yang membuat status Raihanah binti Zaid menjadi salah satu pembahasan dalam kitab-kitab sejarah Islam.
Meskipun demikian, para ulama tidak memperselisihkan bahwa Raihanah pernah berada dalam lingkungan rumah Nabi Muhammad SAW dan memperoleh kedudukan yang mulia setelah menerima ajaran Islam.
Siapa Raihanah binti Zaid?
Nama lengkapnya dikenal sebagai Raihanah binti Zaid bin Amr bin Khunafah. Ada pula sumber yang menyebutkan nasabnya dengan redaksi berbeda.
Perbedaan juga terjadi mengenai asal kabilahnya. Sebagian sejarawan menyatakan bahwa Raihanah berasal dari Bani Nadhir, tetapi kemudian menjadi bagian dari Bani Quraizhah melalui pernikahan. Sumber lainnya langsung menyebutnya sebagai perempuan dari Bani Quraizhah.
Hal yang perlu diperjelas adalah Bani Quraizhah berbeda dengan Quraisy. Bani Quraizhah merupakan salah satu kelompok Yahudi yang tinggal di sekitar Madinah, sedangkan Quraisy adalah suku Arab yang berasal dari Makkah.
Sebelum terjadinya peristiwa Bani Quraizhah, Raihanah dikabarkan telah menikah dengan seorang laki-laki bernama Al-Hakam. Suaminya disebut sangat mencintai, menghormati, dan memperlakukannya dengan baik.
Raihanah dikenal sebagai perempuan yang cantik, cerdas, dan mempunyai kedudukan terhormat di tengah kaumnya.
Peristiwa Bani Quraizhah
Kisah Raihanah binti Zaid tidak dapat dipisahkan dari peristiwa Bani Quraizhah yang terjadi setelah Perang Khandaq.
Bani Quraizhah sebelumnya terikat perjanjian dengan kaum Muslimin di Madinah. Akan tetapi, dalam riwayat sirah disebutkan bahwa mereka melanggar perjanjian pada saat Madinah sedang menghadapi ancaman pasukan sekutu dalam Perang Khandaq.
Setelah pasukan sekutu meninggalkan Madinah, Rasulullah SAW bersama para sahabat mendatangi perkampungan Bani Quraizhah. Setelah melalui pengepungan, mereka akhirnya menyerah dan menerima keputusan hukum yang dijatuhkan berdasarkan kondisi pada masa tersebut.
Dalam peristiwa itu, sejumlah perempuan dan anak-anak menjadi tawanan. Raihanah binti Zaid termasuk salah seorang perempuan yang berada dalam penguasaan kaum Muslimin.
Rasulullah SAW kemudian memilih Raihanah untuk berada dalam tanggungan beliau.
Raihanah Sempat Menolak Masuk Islam
Pada awalnya, Raihanah masih mempertahankan agama Yahudi yang dianutnya. Rasulullah SAW telah mengajaknya mengenal dan menerima Islam, tetapi ia belum bersedia meninggalkan keyakinan lamanya.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa proses menerima suatu keyakinan tidak selalu berlangsung secara cepat. Raihanah memerlukan waktu untuk memahami perubahan besar yang terjadi dalam kehidupannya.
Rasulullah SAW tidak memaksanya untuk segera memeluk Islam. Raihanah diberikan kesempatan untuk mempertimbangkan ajaran yang disampaikan kepadanya.
Dalam salah satu riwayat sejarah disebutkan bahwa ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabat, beliau mendengar langkah seseorang yang datang mendekat. Orang tersebut kemudian membawa kabar bahwa Raihanah telah menerima Islam.
Rasulullah SAW merasa gembira mendengar kabar keislaman Raihanah.
Riwayat tersebut memperlihatkan bahwa perubahan keyakinan Raihanah terjadi setelah melalui proses pemikiran dan pertimbangan. Ia yang semula bertahan dengan agama lamanya akhirnya memilih beriman kepada Allah SWT dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW.
Raihanah Memilih Allah dan Rasul-Nya
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW mendatangi Raihanah dan memberinya pilihan.
Apabila Raihanah memilih Allah dan Rasul-Nya, Rasulullah SAW akan memerdekakan serta menikahinya. Namun, apabila ia memilih tetap berada dalam kedudukannya semula, Rasulullah SAW akan menghormati pilihannya.
Raihanah kemudian menyatakan bahwa ia memilih Allah dan Rasul-Nya.
Berdasarkan riwayat yang dikemukakan Al-Waqidi dan dicatat dalam sejumlah kitab sejarah, Rasulullah SAW lalu memerdekakan dan menikahi Raihanah. Ia juga disebut mendapatkan mahar serta diperlakukan sebagaimana istri-istri Rasulullah SAW yang lain.
Riwayat tersebut menjadi dasar bagi sejarawan yang memasukkan Raihanah ke dalam daftar istri Nabi Muhammad SAW.
Namun, terdapat versi berbeda yang menyebutkan bahwa Raihanah memilih tetap berada dalam kepemilikan Rasulullah SAW karena menurutnya keadaan tersebut lebih ringan bagi dirinya dan bagi Rasulullah SAW.
Perbedaan riwayat tersebut harus disampaikan secara terbuka agar pembaca tidak menganggap bahwa seluruh ahli sejarah memiliki pendapat yang sama.
Apakah Raihanah Benar-Benar Menjadi Istri Nabi Muhammad SAW?
Para ulama dan ahli sejarah berbeda pendapat mengenai status Raihanah binti Zaid.
Pendapat yang Menyebut Raihanah sebagai Istri Nabi
Sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa Rasulullah SAW memerdekakan Raihanah setelah ia masuk Islam, kemudian menikahinya.
Pendapat ini antara lain dinukil dalam riwayat Al-Waqidi yang dicantumkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra. Riwayat serupa juga disebutkan oleh Ibnu Katsir ketika membahas perempuan-perempuan yang memiliki hubungan dengan rumah tangga Rasulullah SAW.
Dalam versi tersebut, Raihanah memperoleh mahar, mengenakan hijab, dan mendapatkan pembagian waktu sebagaimana istri-istri Nabi Muhammad SAW yang lain.
Jika mengikuti riwayat ini, Raihanah dapat disebut sebagai salah seorang istri Rasulullah SAW.
Pendapat yang Menyebut Raihanah Bukan Istri Nabi
Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa Raihanah tidak dinikahi secara resmi. Ia disebut sebagai surriyah Rasulullah SAW, yaitu perempuan yang berada dalam kepemilikan beliau berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku pada masa tersebut.
Pendapat ini didasarkan pada riwayat yang menyebutkan bahwa Raihanah sendiri memilih untuk tetap berada dalam kedudukan tersebut meskipun Rasulullah SAW telah menawarkan pembebasan dan pernikahan.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah ketika membahas istri dan surriyah Rasulullah SAW juga mencantumkan adanya perbedaan pendapat tersebut.
Karena sumber-sumber sejarah memberikan keterangan yang berbeda, penulisan kisah Raihanah sebaiknya tidak menyatakan statusnya sebagai istri Nabi secara mutlak tanpa memberikan penjelasan.
Kalimat yang lebih tepat adalah bahwa sebagian riwayat menyebut Raihanah sebagai istri Nabi Muhammad SAW, sedangkan riwayat lainnya menyebutnya sebagai surriyah beliau.
Kehidupan Raihanah Bersama Rasulullah SAW
Setelah menerima Islam, Raihanah menjalani kehidupan dalam lingkungan rumah Rasulullah SAW.
Kehidupan tersebut menjadi kesempatan bagi Raihanah untuk mendapatkan pendidikan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Ia dapat menyaksikan akhlak, kebijaksanaan, kesabaran, dan cara Rasulullah SAW memperlakukan orang-orang di sekitarnya.
Sejumlah riwayat menggambarkan bahwa Rasulullah SAW memberikan perhatian kepada Raihanah. Beliau juga memenuhi kebutuhannya dan memperlakukannya dengan baik.
Raihanah yang sebelumnya mengalami perubahan besar akibat konflik akhirnya mendapatkan ketenangan dalam naungan rumah Nabi Muhammad SAW.
Kisahnya memperlihatkan bahwa petunjuk Allah SWT dapat datang kepada seseorang melalui perjalanan kehidupan yang tidak pernah diduga sebelumnya.
Wafatnya Raihanah binti Zaid
Riwayat mengenai waktu wafatnya Raihanah binti Zaid juga tidak sepenuhnya sama.
Salah satu riwayat yang banyak disebutkan menyatakan bahwa Raihanah wafat setelah Rasulullah SAW kembali dari Haji Wada. Dengan demikian, ia meninggal dunia ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup.
Raihanah kemudian dimakamkan di Pemakaman Al-Baqi, Madinah. Pemakaman tersebut merupakan tempat dimakamkannya banyak keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat Rasulullah SAW.
Tidak banyak keterangan terperinci mengenai hari-hari terakhir kehidupannya. Namun, namanya tetap tercatat dalam kitab-kitab sejarah karena hubungannya dengan Rasulullah SAW dan perjalanan keislamannya.
Pelajaran dari Kisah Raihanah binti Zaid
Kisah Raihanah binti Zaid memberikan sejumlah pelajaran berharga bagi umat Islam.
Hidayah Merupakan Kehendak Allah SWT
Raihanah pada awalnya belum bersedia memeluk Islam. Akan tetapi, setelah melalui proses pemikiran dan mengenal ajaran Rasulullah SAW, hatinya akhirnya terbuka untuk menerima keimanan.
Perjalanan tersebut mengingatkan bahwa hidayah merupakan hak Allah SWT. Manusia hanya dapat menyampaikan kebaikan dengan cara yang bijaksana tanpa memaksakan kehendak.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qashash ayat 56:
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”
Pentingnya Bersikap Bijaksana dalam Berdakwah
Rasulullah SAW memberikan kesempatan kepada Raihanah untuk mempertimbangkan ajaran Islam. Beliau tidak memaksanya menerima keyakinan sebelum hatinya siap.
Sikap tersebut sesuai dengan prinsip bahwa tidak ada paksaan dalam memeluk agama.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 256:
“Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.”
Berhati-hati dalam Menyampaikan Sejarah
Perbedaan riwayat mengenai Raihanah mengajarkan pentingnya ketelitian ketika menulis sejarah Islam.
Informasi yang berasal dari kitab sirah dan tarikh tidak selalu memiliki tingkat kekuatan yang sama dengan hadis sahih. Karena itu, sebuah riwayat sebaiknya disampaikan dengan menyebutkan sumber dan perbedaan pendapat para ulama.
Pembaca juga perlu membedakan antara fakta yang disepakati dan informasi yang masih diperselisihkan.
Kemuliaan Seseorang Ditentukan oleh Keimanan
Raihanah mengalami perubahan kehidupan yang sangat besar. Namun, setelah menerima Islam, ia memperoleh kesempatan untuk hidup dekat dengan Rasulullah SAW dan mempelajari ajaran agama secara langsung.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa latar belakang seseorang tidak menghalanginya memperoleh kemuliaan ketika ia beriman dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Referensi Sejarah tentang Raihanah binti Zaid
Pembahasan mengenai Raihanah binti Zaid dapat ditemukan dalam sejumlah kitab sejarah dan biografi Nabi, antara lain:
- Ath-Thabaqat Al-Kubra karya Ibnu Sa’ad.
- Al-Bidayah wa An-Nihayah karya Ibnu Katsir.
- Zad Al-Ma’ad karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.
- Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.
- Sirah Nabawiyah yang bersumber dari riwayat Ibnu Ishaq dan ulama sejarah setelahnya.
Riwayat-riwayat tersebut hendaknya dibaca secara berdampingan karena memberikan keterangan berbeda tentang nasab, status pernikahan, dan beberapa bagian kehidupan Raihanah.
Cerita Raihanah binti Zaid merupakan salah satu bagian menarik dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Ia dikisahkan sempat mempertahankan agama lamanya sebelum akhirnya menerima Islam.
Sebagian riwayat menyebut Rasulullah SAW memerdekakan dan menikahinya, sedangkan riwayat lainnya menyatakan Raihanah tetap menjadi surriyah beliau. Perbedaan tersebut tidak menghilangkan kenyataan bahwa Raihanah pernah berada dalam lingkungan rumah Rasulullah SAW dan memperoleh kesempatan mengenal Islam secara langsung.
Semoga kisah ini dapat menambah wawasan mengenai sejarah Islam sekaligus mengajarkan pentingnya menyampaikan riwayat secara teliti, adil, dan bertanggung jawab.
Temukan berbagai artikel sejarah Islam, pendidikan, perangkat pembelajaran, administrasi sekolah, contoh soal, dan informasi bermanfaat lainnya melalui Operator Sekolah.
Terima kasih telah membaca artikel ini hingga selesai. Bagikan kepada keluarga, teman, atau pembaca lainnya agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak orang.













