Sifat Jaiz bagi Allah: Pengertian, Contoh, dan Dalil
Sifat jaiz bagi Allah merupakan salah satu bagian penting dalam pembahasan dasar akidah Islam. Selain mempelajari sifat wajib dan sifat mustahil bagi Allah, umat Islam juga perlu memahami sifat jaiz agar memiliki keyakinan yang benar mengenai kekuasaan, kehendak, dan perbuatan Allah Swt.
Dalam kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah karya Bashri Al-Marghubi dijelaskan bahwa sifat jaiz bagi Allah hanya ada satu, yaitu Allah berhak mengerjakan segala sesuatu yang mungkin atau meninggalkannya. Semua itu berlangsung sesuai dengan kehendak dan kebijaksanaan-Nya.
Pengertian Sifat Jaiz bagi Allah
Secara bahasa, kata “jaiz” berarti boleh atau mungkin. Dalam pembahasan ilmu akidah, sifat jaiz bagi Allah berarti Allah berkuasa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang secara akal mungkin terjadi.
Sifat jaiz tidak berarti bahwa Allah membutuhkan izin untuk melakukan sesuatu. Istilah “jaiz” juga tidak dapat disamakan dengan hukum boleh yang berlaku bagi manusia. Sifat ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang dapat memaksa atau mewajibkan Allah untuk melakukan sesuatu.
Allah dapat menciptakan sesuatu apabila Dia menghendakinya. Allah juga dapat tidak menciptakannya apabila Dia tidak menghendakinya. Segala keputusan tersebut sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah Swt.
Dengan demikian, sifat jaiz menegaskan bahwa Allah memiliki kehendak mutlak dan tidak bergantung kepada siapa pun.
Berapa Jumlah Sifat Jaiz bagi Allah?
Sifat jaiz bagi Allah berjumlah satu, yaitu:
“Mengerjakan setiap perkara yang mungkin atau meninggalkannya.”
Dalam istilah ilmu tauhid, sifat ini sering dirumuskan sebagai:
فِعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْ تَرْكُهُ
Artinya, Allah berhak melakukan setiap perkara yang mungkin atau tidak melakukannya.
Pengertian tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta berlangsung atas kehendak Allah. Tidak ada kejadian yang terjadi di luar pengetahuan, kekuasaan, dan kehendak-Nya.
Allah dapat memberikan nikmat kepada seseorang, tetapi Allah juga dapat menahan nikmat tersebut. Allah dapat menciptakan manusia dengan keadaan yang berbeda-beda sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya.
Penjelasan dalam PDF Al-Aqidah Al-Islamiyah juga menyebutkan bahwa Allah dapat memberikan rahmat atau memberikan hukuman sesuai dengan kehendak-Nya.
Contoh Sifat Jaiz bagi Allah
Sifat jaiz bagi Allah dapat dipahami melalui berbagai kejadian dalam kehidupan manusia dan alam semesta.
1. Allah Menciptakan atau Tidak Menciptakan Makhluk
Allah menciptakan langit, bumi, manusia, hewan, tumbuhan, malaikat, dan seluruh makhluk yang ada. Namun, tidak ada kewajiban bagi Allah untuk menciptakan semua makhluk tersebut.
Seandainya Allah tidak menciptakan sebagian makhluk, hal itu tidak mengurangi kesempurnaan-Nya. Allah tetap memiliki sifat Maha Kuasa, baik ketika menciptakan maupun ketika tidak menciptakan sesuatu.
2. Allah Memberikan Rezeki yang Berbeda
Ada manusia yang memperoleh rezeki berlimpah, sedangkan manusia lainnya memperoleh rezeki yang lebih terbatas. Perbedaan tersebut terjadi sesuai dengan ketentuan Allah.
Allah dapat melapangkan rezeki seseorang dan dapat pula membatasinya. Manusia tetap diperintahkan untuk berusaha, berdoa, serta menggunakan rezekinya dengan baik.
Perbedaan jumlah rezeki bukan berarti Allah tidak adil. Setiap ketentuan Allah mengandung hikmah yang terkadang belum dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia.
3. Allah Memberikan Kesehatan atau Penyakit
Kesehatan merupakan nikmat yang diberikan Allah. Penyakit juga dapat terjadi atas izin-Nya dan dapat menjadi ujian, penghapus kesalahan, atau sarana meningkatkan kesabaran seorang hamba.
Allah berkuasa menyembuhkan seseorang dengan cepat. Allah juga dapat menunda kesembuhannya sesuai dengan kehendak dan kebijaksanaan-Nya.
Manusia tetap berkewajiban mencari pengobatan, menjaga kesehatan, dan memohon kesembuhan kepada Allah.
4. Allah Menurunkan atau Menahan Hujan
Turunnya hujan merupakan salah satu contoh kekuasaan dan kehendak Allah di alam semesta. Allah dapat menurunkan hujan di suatu wilayah dan menahannya di wilayah lain.
Hujan dapat menjadi rahmat bagi tumbuhan, hewan, dan manusia. Namun, hujan juga dapat menjadi ujian apabila turun dalam jumlah yang sangat besar.
Kejadian tersebut menunjukkan bahwa alam tidak berjalan dengan kekuatannya sendiri. Semua berlangsung atas ketentuan Allah.
5. Allah Memberikan Keturunan atau Tidak Memberikannya
Sebagian pasangan diberikan anak dalam waktu yang relatif singkat. Sebagian lainnya harus menunggu dalam waktu yang lama, sedangkan sebagian pasangan belum diberikan keturunan.
Allah berkuasa memberikan anak laki-laki, anak perempuan, keduanya, atau belum memberikan keturunan. Manusia diperintahkan untuk berusaha dan berdoa, tetapi hasil akhirnya berada dalam ketentuan Allah.
6. Allah Mengabulkan atau Menunda Doa
Allah memerintahkan manusia untuk berdoa. Akan tetapi, terkabulnya doa tidak selalu hadir dalam bentuk dan waktu yang diinginkan manusia.
Allah dapat mengabulkan doa secara langsung, menundanya, menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, atau menjadikannya sebagai perlindungan dari keburukan.
Hal tersebut tidak menunjukkan bahwa doa seorang hamba sia-sia. Allah lebih mengetahui sesuatu yang terbaik bagi hamba-Nya.
7. Allah Menghidupkan dan Mematikan Makhluk
Kehidupan dan kematian berada dalam kekuasaan Allah. Allah menentukan kapan seseorang dilahirkan, berapa lama kehidupannya, dan kapan ajalnya tiba.
Tidak ada makhluk yang dapat mempercepat atau menunda kematian di luar ketentuan Allah. Karena itu, manusia diperintahkan memanfaatkan kehidupan untuk beriman, beribadah, dan melakukan kebaikan.
Dalil Sifat Jaiz bagi Allah
Dalil sifat jaiz bagi Allah yang dicantumkan dalam Al-Aqidah Al-Islamiyah merujuk pada Surah Al-Isra ayat 54. Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah dapat memberikan rahmat kepada manusia apabila Dia menghendakinya dan dapat memberikan hukuman apabila Dia menghendakinya.
Dalil tersebut menunjukkan bahwa Allah tidak berada di bawah kekuasaan siapa pun. Tidak ada makhluk yang dapat memaksa Allah memberikan rahmat atau hukuman.
Namun, kehendak Allah tidak dapat dipahami sebagai tindakan tanpa hikmah. Semua perbuatan Allah selalu sesuai dengan ilmu, keadilan, kekuasaan, dan kebijaksanaan-Nya yang sempurna.
Manusia mungkin belum mengetahui alasan di balik suatu peristiwa. Keterbatasan pengetahuan manusia tidak berarti bahwa ketetapan Allah tidak memiliki tujuan atau hikmah.
Perbedaan Sifat Wajib, Mustahil, dan Jaiz bagi Allah
Untuk memahami sifat jaiz dengan benar, penting mengetahui perbedaannya dengan sifat wajib dan mustahil.
| Jenis sifat | Pengertian | Contoh |
|---|---|---|
| Sifat wajib | Sifat yang pasti dimiliki Allah | Wujud, qidam, baqa, qudrah dan iradah |
| Sifat mustahil | Sifat yang tidak mungkin dimiliki Allah | Tidak ada, lemah, bodoh, mati dan terpaksa |
| Sifat jaiz | Allah berhak melakukan atau meninggalkan perkara yang mungkin | Menciptakan atau tidak menciptakan sesuatu |
Sifat wajib berkaitan dengan kesempurnaan yang pasti ada pada Allah. Sebaliknya, sifat mustahil merupakan segala kekurangan yang tidak mungkin terdapat pada Allah.
Sifat jaiz berkaitan dengan perbuatan Allah terhadap sesuatu yang mungkin. Allah dapat mewujudkan sesuatu dan dapat pula tidak mewujudkannya sesuai dengan kehendak-Nya.
Hubungan Sifat Jaiz dengan Iradah dan Qudrah
Sifat jaiz bagi Allah memiliki hubungan erat dengan sifat iradah dan qudrah.
Iradah berarti Allah berkehendak dan menentukan segala sesuatu sebelum menciptakannya. Qudrah berarti Allah memiliki kekuasaan untuk menciptakan atau meniadakan sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.
Melalui sifat jaiz, manusia memahami bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak terbatas. Allah tidak terpaksa melakukan sesuatu. Allah juga tidak dapat dipaksa oleh makhluk.
Apabila Allah menghendaki suatu peristiwa terjadi, maka peristiwa tersebut dapat terjadi. Apabila Allah tidak menghendakinya, tidak ada makhluk yang mampu mewujudkannya secara mandiri.
Apakah Sifat Jaiz Berarti Allah Dapat Melakukan Keburukan?
Sifat jaiz tidak boleh dipahami bahwa Allah melakukan tindakan buruk, zalim, atau sia-sia. Allah Maha Sempurna dan tidak memiliki sifat kekurangan.
Allah memang berkuasa melakukan atau meninggalkan perkara yang mungkin. Namun, semua perbuatan-Nya selalu sesuai dengan ilmu dan hikmah yang sempurna.
Sesuatu yang dianggap tidak menyenangkan oleh manusia belum tentu merupakan keburukan. Penyakit, kehilangan, kegagalan, dan berbagai kesulitan dapat mengandung pelajaran, peringatan, perlindungan, atau kebaikan yang belum diketahui.
Karena pengetahuan manusia terbatas, manusia tidak selalu mampu memahami seluruh hikmah dari keputusan Allah.
Hikmah Mempelajari Sifat Jaiz bagi Allah
Memahami sifat jaiz dapat memberikan pengaruh besar terhadap keyakinan dan kehidupan seorang Muslim.
Menumbuhkan Sikap Tawakal
Manusia tetap harus berusaha dengan sungguh-sungguh. Namun, hasil akhirnya diserahkan kepada Allah karena Allah yang menentukan terwujud atau tidaknya sesuatu.
Tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Tawakal merupakan sikap berserah diri kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik.
Menghindarkan Manusia dari Kesombongan
Keberhasilan tidak hanya berasal dari kemampuan manusia. Kesehatan, kesempatan, kecerdasan, rezeki, dan keberhasilan semuanya terjadi atas izin Allah.
Pemahaman tersebut dapat menjauhkan manusia dari sikap sombong dan merasa paling hebat.
Menumbuhkan Kesabaran
Tidak semua harapan manusia langsung terwujud. Ada doa yang belum dikabulkan, rencana yang gagal, atau keinginan yang belum tercapai.
Keimanan kepada sifat jaiz membantu seorang Muslim bersabar dan meyakini bahwa Allah lebih mengetahui waktu serta ketentuan terbaik.
Mendorong Manusia untuk Selalu Berdoa
Allah memiliki kekuasaan untuk mengubah keadaan sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, seorang Muslim tidak boleh berputus asa dalam berdoa.
Kesulitan sebesar apa pun tidak berada di luar kekuasaan Allah. Allah dapat memberikan jalan keluar melalui cara yang tidak pernah diperkirakan manusia.
Menguatkan Rasa Syukur
Setiap nikmat yang diterima merupakan pemberian Allah. Allah tidak memiliki kewajiban kepada makhluk, tetapi Dia memberikan berbagai kenikmatan melalui rahmat-Nya.
Kesadaran tersebut seharusnya mendorong manusia untuk menggunakan nikmat dalam kebaikan dan ketaatan.
Cara Mengimani Sifat Jaiz bagi Allah
Mengimani sifat jaiz tidak cukup hanya dengan menghafalkan pengertiannya. Keyakinan tersebut harus tercermin dalam sikap dan perbuatan sehari-hari.
Seorang Muslim perlu meyakini bahwa Allah memiliki kekuasaan mutlak atas seluruh makhluk. Ia juga harus tetap berusaha, berdoa, dan menerima ketentuan Allah dengan penuh kesabaran.
Ketika memperoleh keberhasilan, manusia sebaiknya bersyukur dan tidak menyombongkan diri. Ketika menghadapi kegagalan, manusia tidak boleh langsung berputus asa atau berprasangka buruk kepada Allah.
Semua kejadian berlangsung dalam pengetahuan dan kehendak Allah. Tugas manusia adalah menjaga keimanan, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta terus memperbaiki kualitas ibadah dan amal perbuatan.
Sifat jaiz bagi Allah mengajarkan bahwa Allah berkuasa melakukan atau meninggalkan setiap perkara yang mungkin. Pemahaman ini dapat memperkuat tauhid, menumbuhkan tawakal, melatih kesabaran, dan membuat manusia semakin menyadari keterbatasannya di hadapan Allah Swt.












