Arti Qudrah, Iradah, Ilmu, dan Hayat bagi Allah
Qudrah, iradah, ilmu, dan hayat merupakan bagian dari sifat wajib Allah yang harus diyakini oleh setiap Muslim. Keempat sifat tersebut menjelaskan bahwa Allah Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Maha Mengetahui, dan Maha Hidup. Pemahaman terhadap sifat-sifat Allah menjadi bagian penting dalam mempelajari dasar-dasar akidah Islam.
Mempelajari arti qudrah, iradah, ilmu, dan hayat tidak cukup hanya dengan menghafalkan istilahnya. Seorang Muslim juga perlu memahami makna, dalil, serta hubungan antara keempat sifat tersebut. Pemahaman yang benar dapat memperkuat keimanan, menumbuhkan sikap tawakal, dan menyadarkan manusia bahwa seluruh kehidupan berada dalam kekuasaan serta pengetahuan Allah.
Dalam kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah karya Bashri Al-Marghubi, qudrah dijelaskan sebagai kemampuan Allah menciptakan dan meniadakan sesuatu, iradah sebagai kehendak Allah dalam menentukan sesuatu, ilmu sebagai pengetahuan Allah atas segala perkara, dan hayat sebagai sifat hidup Allah yang tidak akan sirna.
Apa Itu Sifat Wajib Allah?
Sifat wajib Allah adalah sifat kesempurnaan yang pasti dimiliki oleh Allah dan mustahil tidak ada pada-Nya. Sifat-sifat tersebut tidak sama dengan kemampuan atau sifat yang dimiliki manusia.
Manusia mungkin memiliki kekuatan, kehendak, ilmu, dan kehidupan. Namun, semua yang dimiliki manusia bersifat terbatas, baru, berubah, dan bergantung kepada Allah. Sebaliknya, sifat Allah sempurna, tidak terbatas, tidak didahului kelemahan, dan tidak mengalami perubahan.
Sebagai contoh, manusia mempunyai pengetahuan, tetapi tidak mengetahui seluruh perkara. Manusia memiliki keinginan, tetapi tidak semua keinginannya dapat terlaksana. Manusia hidup, tetapi kehidupannya akan berakhir. Allah berbeda dari seluruh makhluk karena kekuasaan, kehendak, pengetahuan, dan kehidupan-Nya sempurna.
Pengertian Qudrah bagi Allah
Secara bahasa, qudrah berarti kuasa atau kemampuan. Dalam pembahasan akidah, qudrah berarti Allah memiliki kekuasaan sempurna untuk menciptakan, mengadakan, mengubah, dan meniadakan segala sesuatu yang mungkin sesuai dengan kehendak-Nya.
Tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi kekuasaan Allah. Seluruh makhluk, mulai dari benda yang sangat kecil hingga alam semesta yang sangat luas, berada di bawah kekuasaan-Nya.
Kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah menjelaskan bahwa qudrah adalah kemampuan Allah dalam menciptakan dan meniadakan apa saja yang Dia kehendaki berdasarkan kehendak-Nya. Apabila Allah memiliki kelemahan, tentu Dia tidak dapat menciptakan makhluk, bahkan makhluk kecil sekalipun.
Lawan dari sifat qudrah adalah ‘ajz, yang berarti lemah atau tidak mampu. Sifat lemah mustahil bagi Allah karena kelemahan merupakan kekurangan, sedangkan Allah Mahasempurna.
Dalil Sifat Qudrah
Dalil yang digunakan dalam sumber tersebut adalah Surah Al-Baqarah ayat 20 yang menegaskan bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Firman Allah tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perkara yang berada di luar kekuasaan-Nya. Allah mampu menciptakan sesuatu dari tidak ada, menghidupkan, mematikan, memberi rezeki, mengubah keadaan, dan membangkitkan manusia setelah kematian.
Kekuasaan Allah tidak memerlukan alat, tenaga, bantuan, atau waktu sebagaimana kekuasaan manusia. Allah menciptakan sesuatu berdasarkan kehendak dan ketetapan-Nya.
Contoh Kekuasaan Allah
Kekuasaan Allah dapat dikenali melalui berbagai ciptaan yang berada di sekitar manusia, seperti:
- Penciptaan langit dan bumi.
- Pergantian siang dan malam.
- Turunnya hujan.
- Tumbuhnya tanaman dari tanah.
- Penciptaan manusia dari keadaan yang lemah.
- Kehidupan dan kematian makhluk.
- Kebangkitan manusia pada hari kiamat.
Seluruh kejadian tersebut menjadi tanda bahwa Allah memiliki kekuasaan yang tidak terbatas.
Pengertian Iradah bagi Allah
Iradah berarti kehendak. Sifat iradah menunjukkan bahwa Allah menentukan segala sesuatu berdasarkan kehendak-Nya sendiri. Tidak ada pihak yang memaksa Allah untuk menciptakan atau melakukan sesuatu.
Allah menentukan bentuk, ukuran, waktu, tempat, sifat, dan keadaan setiap makhluk. Ada manusia yang dilahirkan pada waktu tertentu, tinggal di tempat tertentu, dan mempunyai kemampuan yang berbeda dari manusia lainnya. Semua terjadi berdasarkan ketetapan dan kehendak Allah.
Dalam Al-Aqidah Al-Islamiyah, iradah dijelaskan sebagai penentuan Allah terhadap sesuatu sebelum menciptakannya. Apabila Allah terpaksa melakukan sesuatu, hal itu menunjukkan kelemahan. Sementara itu, kelemahan mustahil dimiliki oleh Allah.
Lawan dari iradah adalah karahah, yaitu terpaksa atau tidak berkehendak. Allah mustahil dipaksa oleh siapa pun karena seluruh makhluk berada di bawah kekuasaan-Nya.
Dalil Sifat Iradah
Salah satu dalil sifat iradah terdapat dalam Surah Al-Qasas ayat 68. Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki.
Dalil tersebut menunjukkan bahwa penciptaan alam tidak terjadi secara kebetulan. Setiap makhluk diciptakan menurut kehendak, ilmu, dan kebijaksanaan Allah.
Manusia dapat merencanakan sesuatu, tetapi pelaksanaan dan hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah. Karena itu, seorang Muslim diperintahkan berusaha dengan sungguh-sungguh sekaligus berserah diri kepada ketetapan-Nya.
Hubungan Kehendak Allah dengan Usaha Manusia
Meyakini iradah Allah tidak berarti manusia boleh meninggalkan usaha. Allah memberikan akal, kemampuan, kesempatan, dan pilihan kepada manusia untuk melakukan tindakan.
Manusia tetap mempunyai tanggung jawab terhadap perbuatannya. Ketika ingin memperoleh ilmu, seseorang harus belajar. Ketika ingin mendapatkan rezeki, ia perlu bekerja melalui jalan yang halal. Ketika sakit, ia dianjurkan mencari pengobatan.
Hasil dari seluruh usaha tersebut tetap bergantung kepada kehendak Allah. Kesadaran ini menjaga manusia dari sikap sombong ketika berhasil dan dari keputusasaan ketika hasil tidak sesuai harapan.
Pengertian Ilmu bagi Allah
Ilmu berarti mengetahui. Sifat ilmu menunjukkan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu secara sempurna, baik perkara yang telah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi.
Pengetahuan Allah meliputi perkara yang tampak dan tersembunyi. Allah mengetahui perbuatan, ucapan, pikiran, niat, dan isi hati seluruh makhluk. Tidak ada satu pun kejadian yang luput dari pengetahuan-Nya.
Kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah menjelaskan bahwa sifat ilmu berarti Allah mengetahui perkara yang telah berlalu, yang sedang berlangsung, dan yang akan datang. Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari kesempurnaan Allah dalam mengatur seluruh ciptaan.
Lawan dari sifat ilmu adalah jahl, yaitu bodoh atau tidak mengetahui. Kebodohan mustahil bagi Allah karena Allah adalah pencipta dan pengatur seluruh alam.
Dalil Sifat Ilmu
Dalil yang disebutkan dalam kitab tersebut adalah Surah Al-Mujadilah ayat 7. Ayat itu menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Allah mengetahui jumlah seluruh makhluk, perjalanan setiap bintang, setiap tetes air hujan, dan setiap daun yang jatuh. Allah juga mengetahui perkara yang disembunyikan manusia di dalam hatinya.
Pengetahuan Allah tidak diperoleh melalui proses belajar. Allah tidak membutuhkan buku, pengalaman, guru, penelitian, atau alat untuk mengetahui sesuatu. Ilmu Allah bersifat sempurna dan tidak mengalami pertambahan maupun pengurangan.
Perbedaan Ilmu Allah dan Pengetahuan Manusia
Pengetahuan manusia mempunyai banyak keterbatasan. Manusia memperoleh pengetahuan melalui belajar, membaca, mendengar, melihat, dan mengalami suatu kejadian.
Manusia juga dapat lupa atau melakukan kesalahan. Sesuatu yang sebelumnya diketahui dapat terlupakan karena usia, penyakit, atau kelemahan lainnya.
Adapun ilmu Allah tidak didahului ketidaktahuan dan tidak diikuti kelupaan. Allah mengetahui segala sesuatu sebelum makhluk diciptakan, ketika makhluk menjalani kehidupan, dan setelah kehidupan mereka berakhir.
Keyakinan terhadap ilmu Allah membuat seorang Muslim berhati-hati dalam bertindak. Meskipun suatu perbuatan tidak diketahui manusia lain, Allah tetap mengetahuinya.
Pengertian Hayat bagi Allah
Hayat berarti hidup. Sifat hayat menunjukkan bahwa Allah Maha Hidup dan kehidupan-Nya tidak memiliki permulaan maupun akhir.
Allah tidak mengalami kematian, tidur, kelelahan, kelemahan, atau perubahan. Kehidupan Allah sempurna dan tidak bergantung kepada makanan, minuman, udara, organ tubuh, maupun makhluk lainnya.
Dalam Al-Aqidah Al-Islamiyah, hayat dijelaskan sebagai sifat yang menunjukkan bahwa Allah hidup dan tidak akan sirna. Apabila Allah mati, tidak akan ada yang mengatur alam semesta. Hal tersebut mustahil karena kehidupan Allah sempurna dan kekal.
Lawan dari sifat hayat adalah maut, yaitu mati. Kematian mustahil bagi Allah karena kematian merupakan sifat makhluk dan menunjukkan kelemahan.
Dalil Sifat Hayat
Dalil sifat hayat yang disebutkan dalam kitab tersebut adalah Surah Al-Baqarah ayat 255 atau Ayat Kursi. Dalam ayat tersebut, Allah dijelaskan sebagai Yang Maha Hidup dan terus-menerus mengurus seluruh makhluk. Allah tidak mengantuk dan tidak tidur.
Ayat tersebut menunjukkan perbedaan antara kehidupan Allah dan kehidupan makhluk. Manusia membutuhkan tidur untuk memulihkan tenaga, sedangkan Allah tidak mengalami kelelahan.
Seluruh makhluk dapat hidup karena Allah memberikan kehidupan. Ketika waktu yang telah ditetapkan tiba, Allah pula yang mengambil kehidupan tersebut. Sementara itu, Allah tetap hidup dan tidak pernah binasa.
Hubungan Qudrah, Iradah, Ilmu, dan Hayat
Qudrah, iradah, ilmu, dan hayat mempunyai hubungan yang sangat erat. Keempatnya menunjukkan kesempurnaan Allah dalam menciptakan dan mengatur alam semesta.
Allah memiliki sifat hayat, yaitu hidup dengan kehidupan yang sempurna. Allah memiliki ilmu sehingga mengetahui seluruh perkara. Allah memiliki iradah untuk menentukan sesuatu sesuai kehendak-Nya. Allah memiliki qudrah untuk mewujudkan sesuatu yang dikehendaki-Nya.
Sebagai gambaran, terciptanya seorang manusia menunjukkan hubungan keempat sifat tersebut. Allah mengetahui segala sesuatu mengenai manusia itu melalui sifat ilmu. Allah menentukan waktu kelahiran, keadaan, dan perjalanan hidupnya melalui iradah. Allah menciptakannya melalui qudrah. Seluruh kesempurnaan tersebut melekat pada Allah Yang Maha Hidup.
Namun, hubungan tersebut tidak boleh dipahami dengan menyamakan Allah dengan cara bekerja manusia. Allah tidak membutuhkan proses berpikir, alat, bahan, bantuan, atau waktu untuk mewujudkan kehendak-Nya.
Perbedaan Sifat Allah dan Sifat Manusia
Manusia juga dapat hidup, mengetahui, berkehendak, dan mempunyai kemampuan. Akan tetapi, sifat manusia sangat berbeda dari sifat Allah.
Kekuasaan manusia terbatas
Manusia hanya mampu melakukan sesuatu apabila mempunyai tenaga, alat, kesempatan, dan izin Allah. Bahkan setelah semua persiapan terpenuhi, rencana manusia masih dapat gagal.
Allah Mahakuasa dan tidak membutuhkan bantuan siapa pun.
Kehendak manusia tidak selalu terwujud
Manusia mempunyai banyak keinginan, tetapi tidak semuanya dapat tercapai. Terdapat keadaan yang tidak mampu dikendalikan manusia.
Kehendak Allah tidak berada di bawah kekuasaan pihak lain. Apa yang Allah kehendaki terjadi sesuai dengan hikmah-Nya.
Pengetahuan manusia diperoleh melalui belajar
Manusia dilahirkan tanpa mengetahui banyak hal. Ia memperoleh ilmu secara bertahap dan masih dapat lupa.
Allah mengetahui segala sesuatu dengan ilmu yang sempurna tanpa proses belajar.
Kehidupan manusia memiliki batas
Manusia dilahirkan, tumbuh, menjadi tua, kemudian meninggal. Kehidupannya bergantung kepada makanan, minuman, udara, dan berbagai kebutuhan lain.
Allah Maha Hidup, tidak pernah mati, dan tidak membutuhkan apa pun.
Hikmah Mengimani Qudrah Allah
Meyakini bahwa Allah Mahakuasa membuat seorang Muslim tidak mudah berputus asa. Masalah yang terasa sangat berat bagi manusia tetap berada dalam kekuasaan Allah.
Keyakinan tersebut juga mencegah kesombongan. Keberhasilan, kesehatan, kecerdasan, dan kekayaan pada hakikatnya terjadi atas izin Allah. Manusia tidak pantas merasa sebagai pemilik kekuasaan mutlak.
Pada saat yang sama, iman kepada qudrah mendorong seseorang untuk hanya memohon pertolongan mutlak kepada Allah.
Hikmah Mengimani Iradah Allah
Iman kepada iradah menumbuhkan sikap tawakal dan menerima ketetapan Allah dengan hati yang tenang. Seorang Muslim tetap berusaha, tetapi tidak memaksakan bahwa hasil harus selalu sesuai keinginannya.
Ketika memperoleh keberhasilan, ia bersyukur. Ketika menghadapi kegagalan, ia melakukan evaluasi, bersabar, dan kembali berusaha tanpa berburuk sangka kepada Allah.
Keyakinan terhadap kehendak Allah juga mengajarkan bahwa setiap ketetapan mengandung hikmah, meskipun manusia belum mampu memahaminya.
Hikmah Mengimani Ilmu Allah
Meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu dapat membentuk sikap jujur dan bertanggung jawab. Seseorang tidak hanya berbuat baik ketika dilihat oleh orang lain.
Allah mengetahui perbuatan yang dilakukan secara terbuka maupun tersembunyi. Allah juga mengetahui niat yang terdapat di dalam hati.
Iman kepada ilmu Allah mendorong manusia menjaga ucapan, pikiran, niat, dan tindakannya. Ia menyadari bahwa tidak ada satu pun amal yang hilang dari pengetahuan Allah.
Hikmah Mengimani Hayat Allah
Iman kepada sifat hayat menumbuhkan keyakinan bahwa Allah selalu hidup dan selalu mengurus seluruh makhluk. Manusia dapat berdoa kepada Allah kapan saja karena Allah tidak pernah tidur, lalai, atau kehilangan kekuasaan.
Ketika manusia yang menjadi tempat bergantung mengalami kelemahan atau meninggal dunia, Allah tetap hidup dan tidak pernah berakhir. Karena itu, sandaran utama seorang Muslim seharusnya adalah Allah.
Pemahaman terhadap arti qudrah, iradah, ilmu, dan hayat membuat seorang Muslim semakin mengenal kesempurnaan Tuhannya. Keyakinan tersebut tidak berhenti sebagai hafalan, tetapi tampak dalam bentuk tawakal, kejujuran, kesabaran, rasa syukur, serta kesungguhan menjalankan ibadah.












