Sifat Sama’, Bashar, dan Kalam Allah Beserta Dalilnya
Sama’, bashar, dan kalam merupakan tiga dari 20 sifat wajib bagi Allah SWT. Sama’ berarti Allah Maha Mendengar, bashar berarti Allah Maha Melihat, sedangkan kalam berarti Allah Maha Berfirman. Ketiga sifat tersebut menunjukkan kesempurnaan Allah yang tidak memiliki kekurangan sedikit pun.
Meskipun istilah sama’, bashar, dan kalam sering dihafalkan dalam pelajaran akidah, seorang muslim perlu memahami maknanya dengan benar. Sifat-sifat Allah tidak boleh disamakan dengan kemampuan manusia. Allah mendengar tanpa membutuhkan telinga, melihat tanpa membutuhkan mata, dan berfirman dengan cara yang sesuai dengan kesempurnaan serta keagungan-Nya.
Dalam kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah karya Bashri Al-Marghubi, sama’, bashar, dan kalam dibahas sebagai bagian dari sifat wajib Allah. Kitab tersebut menjelaskan makna setiap sifat, dalil Al-Qur’an, serta alasan sifat tuli, buta, dan bisu mustahil bagi Allah.
Pengertian Sama’, Bashar, dan Kalam
Sama’, bashar, dan kalam termasuk sifat ma’ani dalam pembahasan 20 sifat wajib Allah. Sifat ma’ani merupakan sifat kesempurnaan yang tetap bagi Allah SWT.
Secara ringkas, ketiganya dapat dipahami sebagai berikut:
| Sifat Allah | Artinya | Sifat mustahil |
|---|---|---|
| Sama’ | Maha Mendengar | Tuli |
| Bashar | Maha Melihat | Buta |
| Kalam | Maha Berfirman | Bisu |
Ketiga sifat tersebut tidak sama dengan kemampuan yang dimiliki makhluk. Pendengaran manusia mempunyai batas. Penglihatan manusia juga terbatas oleh jarak, cahaya, arah, dan kondisi mata. Perkataan manusia membutuhkan alat bicara serta susunan bahasa.
Allah tidak membutuhkan alat, organ tubuh, tempat, arah, atau bantuan apa pun. Allah Maha Sempurna dan berbeda dari seluruh makhluk.
Apa Arti Sifat Sama’?
Sama’ berasal dari bahasa Arab yang berarti mendengar. Dalam ilmu akidah, sama’ berarti Allah SWT Maha Mendengar seluruh suara dan segala sesuatu yang dapat didengar.
Allah mendengar suara yang sangat keras maupun sangat pelan. Allah mendengar perkataan yang diucapkan terbuka, percakapan rahasia, doa dalam kesendirian, serta bisikan yang tidak mampu didengar manusia.
Pendengaran Allah tidak dibatasi oleh jarak. Allah dapat mendengar seluruh makhluk pada waktu yang sama tanpa tertukar dan tanpa mengalami kesulitan.
Kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah menjelaskan bahwa sifat sama’ berarti segala sesuatu yang dapat didengar tersingkap bagi Allah. Allah mendengar tanpa telinga dan tanpa daun telinga sebagaimana yang dimiliki manusia.
Allah Mendengar Tanpa Alat
Manusia membutuhkan telinga agar dapat mendengar. Ketika telinga mengalami gangguan, kemampuan pendengaran manusia dapat berkurang atau bahkan hilang.
Pendengaran manusia juga terbatas. Manusia hanya dapat mendengar suara pada jarak dan frekuensi tertentu. Suara yang terlalu jauh atau terlalu pelan tidak dapat didengar tanpa bantuan alat.
Allah tidak mengalami keterbatasan tersebut. Pendengaran Allah tidak bergantung pada telinga, udara, gelombang suara, jarak, maupun alat tertentu.
Allah juga tidak membutuhkan ketenangan untuk mendengar. Banyaknya suara yang muncul secara bersamaan tidak membuat satu suara menghalangi suara lainnya.
Ketika jutaan manusia berdoa pada saat yang sama, Allah mendengar seluruh doa tersebut dengan sempurna. Tidak ada satu kata pun yang hilang atau terlewat dari pendengaran-Nya.
Dalil Sifat Sama’
Dalil sifat sama’ yang disebutkan dalam Al-Aqidah Al-Islamiyah terdapat dalam Surah Az-Zukhruf ayat 80:
“Ataukah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya Kami mendengar, dan utusan-utusan Kami selalu mencatat di sisi mereka.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah mendengar pembicaraan rahasia dan bisikan manusia. Sesuatu yang disembunyikan dari orang lain tetap berada dalam pendengaran Allah.
Manusia mungkin dapat berbicara pelan agar tidak diketahui oleh orang di sekitarnya. Namun, tidak ada pembicaraan yang benar-benar tersembunyi dari Allah.
Dalil tersebut juga mengingatkan manusia agar menjaga ucapan. Perkataan buruk yang tidak diketahui orang lain tetap didengar oleh Allah dan akan dimintai pertanggungjawaban.
Sifat Mustahil yang Menjadi Lawan Sama’
Lawan dari sifat sama’ adalah tuli atau tidak mampu mendengar. Sifat tersebut mustahil bagi Allah.
Ketidakmampuan mendengar merupakan kekurangan. Allah Mahasempurna sehingga tidak mungkin memiliki sifat kekurangan yang dimiliki makhluk.
Dalam kitab sumber dijelaskan bahwa apabila Allah tidak mendengar, berarti terdapat kekurangan pada-Nya. Kekurangan menunjukkan kelemahan dan sifat makhluk, sedangkan hal tersebut mustahil bagi Allah SWT.
Manusia dapat mengalami gangguan pendengaran karena sakit, usia, kecelakaan, atau sebab lainnya. Allah tidak mengalami perubahan, sakit, kelemahan, maupun kerusakan.
Sifat sama’ menegaskan bahwa tidak ada suara yang tersembunyi dari Allah, baik suara yang telah terjadi, sedang berlangsung, maupun yang akan terjadi berdasarkan pengetahuan-Nya.
Apa Arti Sifat Bashar?
Bashar berarti melihat. Dalam pembahasan sifat wajib, bashar berarti Allah SWT Maha Melihat segala sesuatu.
Allah melihat seluruh makhluk, baik yang besar maupun kecil. Allah melihat sesuatu yang berada di tempat terbuka maupun tersembunyi. Tidak ada perbuatan manusia yang luput dari penglihatan-Nya.
Penglihatan Allah tidak membutuhkan cahaya. Manusia tidak dapat melihat dengan baik dalam keadaan gelap, sedangkan Allah melihat segala sesuatu tanpa dipengaruhi oleh terang atau gelap.
Allah juga tidak dibatasi oleh jarak dan arah. Sesuatu yang sangat jauh, sangat kecil, tersembunyi di dalam tanah, atau berada di dasar lautan tetap terlihat oleh-Nya.
Dalam Al-Aqidah Al-Islamiyah, sifat bashar diterangkan sebagai terlihatnya segala sesuatu oleh Allah. Allah melihat tanpa mata maupun bola mata sebagaimana yang dimiliki makhluk.
Allah Melihat Tanpa Mata
Manusia membutuhkan mata untuk melihat. Penglihatan manusia bergantung pada kondisi mata, cahaya, jarak, dan arah pandangan.
Manusia tidak dapat melihat sesuatu yang tertutup dinding. Manusia juga tidak mampu melihat secara langsung benda yang sangat kecil tanpa menggunakan alat bantu.
Berbeda dengan manusia, penglihatan Allah tidak membutuhkan organ tubuh atau alat tertentu. Allah tidak memiliki keterbatasan sebagaimana makhluk.
Pernyataan bahwa Allah Maha Melihat harus dipahami sesuai dengan keagungan-Nya. Manusia tidak boleh membayangkan cara Allah melihat berdasarkan cara manusia melihat.
Allah telah menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Oleh karena itu, sifat melihat yang dimiliki Allah tidak sama dengan penglihatan manusia.
Dalil Sifat Bashar
Dalil sifat bashar terdapat dalam Surah Asy-Syura ayat 11:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Ayat tersebut mengandung dua penegasan penting. Pertama, Allah memiliki sifat mendengar dan melihat. Kedua, pendengaran serta penglihatan Allah tidak serupa dengan sifat makhluk.
Bagian awal ayat menolak segala bentuk penyerupaan Allah dengan ciptaan. Bagian akhir ayat menetapkan bahwa Allah benar-benar Maha Mendengar dan Maha Melihat.
Pemahaman yang tepat adalah mengimani sifat Allah sebagaimana diterangkan dalam wahyu tanpa menyamakan-Nya dengan makhluk dan tanpa meniadakan sifat kesempurnaan-Nya.
Tidak Ada yang Tersembunyi dari Penglihatan Allah
Manusia terkadang merasa aman melakukan kesalahan ketika tidak ada orang lain yang melihat. Padahal, Allah melihat semua perbuatan tersebut.
Allah melihat aktivitas yang dilakukan pada siang maupun malam hari. Allah melihat perbuatan di ruang terbuka maupun di tempat yang tertutup.
Keyakinan terhadap sifat bashar seharusnya membentuk kesadaran bahwa manusia selalu berada dalam pengawasan Allah.
Kesadaran tersebut bukan hanya menumbuhkan rasa takut, tetapi juga memberikan ketenangan. Kebaikan yang dilakukan secara diam-diam tetap dilihat dan dihargai oleh Allah meskipun tidak diketahui manusia.
Sifat Mustahil yang Menjadi Lawan Bashar
Lawan sifat bashar adalah buta atau tidak mampu melihat. Sifat tersebut mustahil bagi Allah karena kebutaan merupakan kekurangan.
Allah tidak mungkin memiliki kekurangan. Dia adalah Tuhan Yang Mahasempurna dan tidak menyerupai makhluk.
Kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah menjelaskan bahwa apabila Allah tidak melihat, hal itu akan menunjukkan kekurangan. Anggapan tersebut batil karena Allah terbebas dari seluruh kelemahan dan kekurangan.
Manusia dapat kehilangan penglihatan karena penyakit, kecelakaan, atau usia. Allah tidak mengalami perubahan dan tidak dipengaruhi oleh sebab apa pun.
Allah tetap Maha Melihat tanpa permulaan dan tanpa akhir. Tidak ada masa ketika Allah tidak melihat, dan tidak ada sesuatu yang dapat menghalangi penglihatan-Nya.
Apa Arti Sifat Kalam?
Kalam berarti berfirman. Dalam ilmu akidah, sifat kalam berarti Allah SWT Maha Berfirman.
Allah menyampaikan perintah, larangan, kabar gembira, peringatan, hukum, dan petunjuk kepada para nabi serta rasul-Nya. Wahyu yang diterima para rasul merupakan bentuk petunjuk Allah bagi manusia.
Menurut penjelasan dalam Al-Aqidah Al-Islamiyah, kalam merupakan sifat berfirman yang dimiliki Allah. Kitab tersebut menegaskan bahwa firman Allah tidak sama dengan ucapan manusia yang bergantung kepada alat bicara.
Sifat kalam menunjukkan bahwa Allah bukan Tuhan yang bisu. Allah memberikan petunjuk kepada manusia melalui wahyu yang disampaikan kepada para rasul.
Tanpa petunjuk dari Allah, manusia tidak akan mengetahui secara pasti tujuan penciptaan, tata cara beribadah, batas halal dan haram, serta kehidupan setelah kematian.
Kalam Allah Tidak Sama dengan Perkataan Manusia
Perkataan manusia membutuhkan lidah, bibir, pita suara, udara, huruf, dan susunan kalimat. Manusia juga memerlukan waktu untuk mengucapkan satu kata setelah kata lainnya.
Kalam Allah tidak boleh disamakan dengan proses berbicara yang dilakukan manusia. Allah tidak membutuhkan organ tubuh dan tidak bergantung kepada alat apa pun.
Dalam tradisi ilmu kalam yang menjadi landasan uraian kitab ini, sifat kalam Allah dipahami sebagai sifat yang sesuai dengan kesempurnaan-Nya dan tidak menyerupai perkataan makhluk.
Cara dan hakikat sifat Allah tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh akal manusia. Kewajiban manusia adalah mengimani sifat yang telah ditetapkan bagi Allah tanpa menggambarkan-Nya seperti makhluk.
Dalil Sifat Kalam
Dalil sifat kalam yang disebutkan dalam kitab terdapat dalam Surah An-Nisa ayat 164:
“Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung.”
Ayat tersebut menjadi dasar bahwa Allah memiliki sifat kalam. Nabi Musa AS memperoleh kemuliaan karena Allah berfirman kepadanya secara langsung dengan cara yang dikehendaki-Nya.
Karena peristiwa tersebut, Nabi Musa AS dikenal dengan sebutan Kalimullah, yaitu nabi yang mendapatkan kehormatan diajak berbicara oleh Allah.
Ayat ini tidak memberikan alasan untuk menyamakan firman Allah dengan suara atau perkataan manusia. Ayat tersebut menetapkan bahwa Allah benar-benar berfirman dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya.
Sifat Mustahil yang Menjadi Lawan Kalam
Lawan dari sifat kalam adalah bisu atau tidak dapat berfirman. Sifat tersebut mustahil bagi Allah.
Bisu merupakan kekurangan yang dapat dialami makhluk. Allah tidak memiliki kekurangan dan tidak membutuhkan alat bicara.
Dalam sumber utama dijelaskan bahwa apabila Allah bisu, berarti terdapat kekurangan pada-Nya. Kekurangan tersebut bertentangan dengan sifat kesempurnaan Allah sehingga merupakan anggapan yang batil.
Sifat kalam menegaskan bahwa Allah mampu menyampaikan petunjuk kepada para rasul. Melalui wahyu, manusia dapat mengenal Allah, memahami kewajibannya, serta mengetahui jalan menuju keselamatan.
Hubungan Kalam Allah dengan Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia dan mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW.
Ketika membaca Al-Qur’an, seorang muslim membaca ayat-ayat yang menyampaikan petunjuk, perintah, larangan, kisah, dan kabar dari Allah.
Al-Qur’an mengajarkan manusia tentang tauhid, ibadah, akhlak, hukum, kisah para nabi, hari akhir, serta berbagai pedoman kehidupan.
Keimanan terhadap sifat kalam mendorong seorang muslim untuk menghormati Al-Qur’an, membacanya, mempelajari maknanya, dan mengamalkan ajarannya.
Mengimani bahwa Allah Maha Berfirman tidak cukup hanya diucapkan. Keyakinan tersebut perlu diwujudkan dengan menerima dan menaati petunjuk yang disampaikan-Nya.
Perbedaan Sama’, Bashar, dan Kalam
Sama’, bashar, dan kalam memiliki pengertian yang berbeda, tetapi semuanya menunjukkan kesempurnaan Allah.
Sama’ berkaitan dengan pendengaran Allah terhadap segala sesuatu yang dapat didengar. Bashar berkaitan dengan penglihatan Allah terhadap segala sesuatu. Kalam berkaitan dengan sifat Allah yang berfirman.
Perbedaannya dapat diringkas sebagai berikut:
Sama’
Sama’ menunjukkan bahwa tidak ada suara yang luput dari pendengaran Allah. Doa, perkataan, bisikan, dan percakapan rahasia semuanya didengar oleh-Nya.
Bashar
Bashar menunjukkan bahwa tidak ada benda, keadaan, maupun perbuatan yang tersembunyi dari penglihatan Allah.
Kalam
Kalam menunjukkan bahwa Allah berfirman dan memberikan petunjuk kepada manusia melalui wahyu yang disampaikan kepada para nabi dan rasul.
Ketiganya harus dipahami tanpa menyamakan Allah dengan makhluk. Allah mendengar, melihat, dan berfirman dengan cara yang sesuai dengan kesempurnaan-Nya.
Hubungan dengan Sifat Sami’an, Bashiran, dan Mutakalliman
Dalam pembahasan 20 sifat wajib Allah, sama’, bashar, dan kalam memiliki hubungan dengan tiga sifat ma’nawiyah, yaitu sami’an, bashiran, dan mutakalliman.
Sama’ berarti Allah memiliki sifat mendengar, sedangkan sami’an berarti Allah dalam keadaan Maha Mendengar.
Bashar berarti Allah memiliki sifat melihat, sedangkan bashiran berarti Allah dalam keadaan Maha Melihat.
Kalam berarti Allah memiliki sifat berfirman, sedangkan mutakalliman berarti Allah dalam keadaan Maha Berfirman.
Perbedaan tersebut digunakan untuk membantu pelajar memahami susunan 20 sifat wajib Allah. Meskipun istilahnya berbeda, semuanya menegaskan kesempurnaan Allah.
Hikmah Mengimani Sifat Sama’
Mengimani bahwa Allah Maha Mendengar memberikan pengaruh besar terhadap cara manusia berbicara.
Seseorang akan lebih berhati-hati agar tidak mengucapkan dusta, fitnah, penghinaan, umpatan, atau perkataan yang menyakiti orang lain. Meskipun ucapan tersebut tidak diketahui manusia, Allah tetap mendengarnya.
Keimanan terhadap sifat sama’ juga membuat seseorang tidak ragu ketika berdoa. Ia mengetahui bahwa Allah mendengar permohonannya, termasuk doa yang disampaikan dengan suara pelan.
Manusia mungkin tidak langsung memperoleh sesuatu yang diminta. Namun, tidak terkabulnya doa sesuai keinginan bukan berarti Allah tidak mendengar. Allah mengetahui waktu dan bentuk jawaban terbaik bagi hamba-Nya.
Hikmah Mengimani Sifat Bashar
Mengimani sifat bashar menumbuhkan sikap merasa diawasi oleh Allah atau muraqabah.
Seseorang akan berusaha tetap jujur meskipun tidak ada orang yang mengawasi. Ia tidak berani mengambil hak orang lain, berbuat curang, atau melakukan kemaksiatan secara tersembunyi.
Keyakinan tersebut juga memberikan semangat untuk melakukan kebaikan secara ikhlas. Kebaikan yang tidak mendapatkan pujian manusia tetap dilihat oleh Allah.
Membantu orang secara diam-diam, bersedekah tanpa diketahui, dan beribadah dalam kesendirian tidak akan sia-sia. Allah melihat serta mengetahui seluruh amal tersebut.
Hikmah Mengimani Sifat Kalam
Mengimani sifat kalam menumbuhkan penghormatan terhadap wahyu Allah.
Seorang muslim akan berusaha membaca Al-Qur’an dengan baik, memahami kandungannya, dan menjadikannya pedoman dalam kehidupan.
Ia tidak hanya membaca Al-Qur’an untuk memperoleh pahala, tetapi juga berusaha menjalankan perintah dan menjauhi larangan yang terdapat di dalamnya.
Sifat kalam juga mengajarkan bahwa manusia membutuhkan petunjuk Allah. Akal memiliki kemampuan yang besar, tetapi tetap mempunyai keterbatasan. Wahyu menjadi pedoman agar manusia tidak kehilangan arah.
Penerapan Iman kepada Sama’, Bashar, dan Kalam
Keimanan terhadap ketiga sifat tersebut dapat diterapkan melalui perilaku sehari-hari.
Menjaga ucapan
Karena Allah Maha Mendengar, seorang muslim harus menghindari perkataan buruk. Ia dianjurkan berbicara jujur, sopan, dan memberikan manfaat.
Menjaga perbuatan
Karena Allah Maha Melihat, manusia harus berbuat baik dalam keadaan ramai maupun sepi. Kejujuran tidak boleh bergantung pada keberadaan pengawas manusia.
Memperbanyak doa
Allah mendengar seluruh doa. Seorang muslim tidak perlu merasa doanya terlalu pelan atau masalahnya terlalu kecil untuk disampaikan kepada Allah.
Ikhlas melakukan kebaikan
Allah melihat amal yang dilakukan secara tersembunyi. Karena itu, manusia tidak perlu selalu mencari perhatian dan pujian.
Membaca serta mengamalkan Al-Qur’an
Keimanan kepada sifat kalam harus mendorong seseorang mendekat kepada Al-Qur’an. Membaca perlu diikuti dengan usaha memahami dan mengamalkan isinya.
Bertobat dari kesalahan
Allah telah mendengar dan melihat perbuatan manusia. Namun, pintu tobat tetap terbuka bagi orang yang menyesali kesalahan dan bersungguh-sungguh memperbaiki diri.
Kesalahan dalam Memahami Sifat Sama’, Bashar, dan Kalam
Salah satu kesalahan yang harus dihindari adalah menyamakan sifat Allah dengan kemampuan manusia.
Allah mendengar, tetapi pendengaran-Nya tidak menggunakan telinga. Allah melihat, tetapi penglihatan-Nya tidak menggunakan mata. Allah berfirman, tetapi sifat kalam-Nya tidak bergantung pada alat bicara seperti manusia.
Kesalahan lainnya adalah meniadakan sifat-sifat tersebut karena manusia tidak mampu memahami caranya. Keterbatasan akal bukan alasan untuk menolak keterangan wahyu.
Pemahaman yang benar adalah menetapkan sifat kesempurnaan bagi Allah sekaligus meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.
Manusia memahami arti umum dari mendengar, melihat, dan berfirman. Namun, cara serta hakikat sifat tersebut ketika dinisbatkan kepada Allah tidak dapat disamakan dengan pengalaman makhluk.
Faedah Meyakini Sifat-Sifat Allah
Kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah menjelaskan bahwa meyakini sifat Allah membuat seseorang selalu mengingat Allah dalam keadaan susah maupun senang. Keimanan tersebut juga menumbuhkan rasa takut kepada Allah, baik ketika bersama orang lain maupun ketika sendirian.
Orang yang memahami sifat sama’ akan menjaga perkataannya. Orang yang memahami sifat bashar akan menjaga perbuatannya. Orang yang memahami sifat kalam akan menghormati dan menaati petunjuk Allah.
Ketiga sifat tersebut juga menumbuhkan keikhlasan dalam beribadah. Seorang muslim tidak beribadah hanya agar dilihat atau dipuji manusia. Ia yakin bahwa Allah mendengar doanya, melihat amalnya, dan telah memberikan petunjuk melalui wahyu-Nya.
Sama’, bashar, dan kalam mengajarkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar berada di luar pengetahuan dan pengawasan Allah. Keyakinan ini seharusnya melahirkan sikap jujur, hati-hati, rendah hati, serta bersungguh-sungguh dalam menjalankan kebaikan.
Dengan memahami sifat sama’, bashar, dan kalam, seorang muslim tidak hanya menghafal bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Berfirman. Ia juga belajar menjaga lisan, memperbaiki perbuatan, memperbanyak doa, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.












