Pengertian Hisab dan Dalil Perhitungan Amal
Hisab merupakan salah satu peristiwa penting yang akan dialami manusia pada hari kiamat. Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas iman, ucapan, niat, dan perbuatan yang dilakukan selama hidup di dunia. Tidak ada amal yang terlalu kecil untuk diketahui Allah dan tidak ada perbuatan yang dapat disembunyikan dari pengetahuan-Nya.
Keimanan terhadap hisab mengajarkan bahwa kehidupan dunia bukanlah perjalanan tanpa tujuan. Manusia diberi akal, kesempatan, petunjuk, dan berbagai nikmat yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Kebaikan akan memperoleh balasan, sedangkan keburukan akan diperhitungkan berdasarkan keadilan Allah.
Dalam kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah karya Bashri Al-Marghubi, hisab dijelaskan sebagai perhitungan Allah terhadap seluruh amal perbuatan hamba-hamba-Nya pada hari kiamat. Pembahasan tersebut disertai Surah Al-Zalzalah ayat 7–8 yang menegaskan bahwa kebaikan dan keburukan sekecil apa pun akan diperlihatkan kepada pelakunya.
Apa yang Dimaksud dengan Hisab?
Secara bahasa, kata hisab berarti perhitungan. Dalam pembahasan akidah Islam, hisab adalah proses ketika Allah memperhitungkan dan memperlihatkan amal perbuatan manusia setelah mereka dibangkitkan pada hari kiamat.
Hisab tidak hanya berkaitan dengan perbuatan besar yang tampak di hadapan orang lain. Perbuatan kecil, ucapan, penggunaan nikmat, tanggung jawab, dan berbagai tindakan yang dianggap sepele juga berada dalam pengetahuan Allah.
Manusia mungkin dapat menyembunyikan perbuatannya dari keluarga, teman, pemimpin, atau masyarakat. Namun, tidak ada sesuatu pun yang dapat disembunyikan dari Allah. Pengetahuan Allah mencakup perkara yang terlihat maupun yang tersembunyi.
Hisab menunjukkan bahwa setiap manusia bertanggung jawab atas kehidupan yang telah dijalaninya. Seseorang tidak akan memikul kesalahan orang lain, kecuali apabila ia menjadi penyebab, mengajak, membantu, atau memberikan contoh buruk yang diikuti orang lain.
Kapan Hisab Dilaksanakan?
Hisab terjadi pada hari kiamat setelah manusia dibangkitkan dari alam kubur. Kebangkitan tersebut disebut ba’ts.
Kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah menjelaskan bahwa ba’ts adalah kebangkitan manusia dari kubur pada hari kiamat. Manusia dikembalikan untuk menerima balasan sesuai dengan amal yang telah dikerjakannya. Setelah kebangkitan, manusia menghadapi rangkaian peristiwa akhirat, termasuk pengumpulan dan perhitungan amal.
Urutan terperinci peristiwa akhirat merupakan perkara gaib yang diketahui secara sempurna oleh Allah. Secara umum, umat Islam wajib meyakini bahwa manusia akan mengalami beberapa peristiwa berikut:
- Kehancuran alam pada hari kiamat.
- Kebangkitan manusia dari alam kubur.
- Pengumpulan manusia di tempat yang telah ditentukan Allah.
- Penyerahan dan pemeriksaan catatan amal.
- Perhitungan atau hisab.
- Penimbangan amal.
- Penerimaan balasan berdasarkan rahmat dan keadilan Allah.
Setiap tahapan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan akhirat adalah kenyataan yang harus diimani, bukan sekadar gambaran simbolis.
Apa Saja yang Dihisab pada Hari Kiamat?
Hisab mencakup seluruh perkara yang menjadi tanggung jawab manusia. Allah mengetahui kadar kemampuan, keadaan, kesempatan, dan niat setiap hamba sehingga tidak ada sedikit pun kezaliman dalam perhitungan-Nya.
1. Keimanan
Perkara paling mendasar adalah keimanan kepada Allah. Manusia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai siapa yang disembah, ajaran siapa yang diikuti, dan bagaimana sikapnya terhadap petunjuk yang telah sampai kepadanya.
Iman bukan sekadar pengakuan melalui lisan. Keimanan perlu dibuktikan melalui ketaatan, ketundukan, dan amal yang sesuai dengan petunjuk Allah.
2. Ibadah
Ibadah yang diperintahkan Allah menjadi bagian penting dalam pertanggungjawaban manusia. Salat, puasa, zakat, dan kewajiban lain harus dilakukan dengan benar dan ikhlas sesuai kemampuan.
Allah mengetahui apakah suatu ibadah dilaksanakan dengan kesungguhan, sengaja ditinggalkan, dilakukan karena ingin dipuji, atau dijalankan dengan keikhlasan.
3. Ucapan
Ucapan manusia juga akan diperhitungkan. Perkataan yang baik dapat menjadi amal saleh, sedangkan ucapan buruk dapat menjadi sumber dosa.
Berbohong, memfitnah, mengadu domba, menghina, menyebarkan kabar palsu, dan membuka aib orang lain bukanlah perkara ringan. Pada masa sekarang, tulisan, komentar, pesan, dan unggahan di media sosial juga termasuk tindakan yang harus dipertanggungjawabkan.
4. Perbuatan terhadap Sesama
Hisab mencakup hubungan manusia dengan orang lain. Kezaliman, pengambilan hak, penipuan, kekerasan, pengkhianatan, dan perbuatan merugikan akan diperhitungkan.
Seseorang tidak cukup hanya memperbanyak ibadah pribadi. Ia juga harus menjaga hak orang lain, menepati janji, melaksanakan amanah, dan menghindari perbuatan zalim.
5. Harta
Manusia akan mempertanggungjawabkan cara memperoleh dan menggunakan hartanya. Harta yang diperoleh melalui jalan halal tidak sama dengan harta yang diperoleh melalui penipuan, pencurian, korupsi, riba, atau mengambil hak orang lain.
Penggunaan harta juga penting. Kekayaan dapat menjadi jalan kebaikan apabila dipakai untuk memenuhi kebutuhan yang halal, membantu keluarga, bersedekah, dan memberikan manfaat. Sebaliknya, harta dapat menjadi beban apabila digunakan untuk kemaksiatan dan kesombongan.
6. Waktu
Waktu merupakan nikmat yang terus berkurang dan tidak dapat dikembalikan. Setiap hari yang berlalu menjadi bagian dari umur manusia.
Waktu dapat digunakan untuk belajar, bekerja, beribadah, membantu orang lain, dan melakukan kebaikan. Waktu juga dapat terbuang karena kelalaian atau digunakan untuk melakukan perbuatan yang dilarang.
7. Ilmu
Ilmu yang dimiliki manusia juga menjadi tanggung jawab. Orang yang mengetahui kebenaran tetapi sengaja menyembunyikan atau melanggarnya mempunyai tanggung jawab berbeda dari orang yang benar-benar belum mengetahuinya.
Ilmu seharusnya mendekatkan manusia kepada Allah, membentuk akhlak, dan memberikan manfaat kepada sesama. Ilmu tidak boleh digunakan untuk menipu, menindas, atau memperoleh keuntungan melalui cara yang salah.
8. Jabatan dan Amanah
Pemimpin, pejabat, guru, orang tua, pengelola organisasi, dan siapa pun yang memegang tanggung jawab akan dimintai pertanggungjawaban atas amanahnya.
Semakin besar kekuasaan seseorang, semakin luas pula tanggung jawabnya. Jabatan bukan sekadar kehormatan, tetapi amanah yang harus digunakan untuk menegakkan keadilan dan memberikan manfaat.
Dalil Hisab dalam Al-Qur’an
Keberadaan hisab diterangkan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Berikut beberapa dalil yang dapat menjadi dasar keyakinan mengenai perhitungan amal.
Surah Al-Zalzalah Ayat 7–8
Surah Al-Zalzalah ayat 7–8 menjelaskan bahwa siapa pun yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah akan melihat balasannya. Demikian pula, orang yang mengerjakan keburukan seberat zarrah akan melihat akibatnya.
Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada amal yang diabaikan. Kebaikan yang tampak sederhana, seperti memberikan bantuan kecil, mengucapkan perkataan yang menenangkan, atau menyingkirkan gangguan, tetap diketahui Allah.
Sebaliknya, keburukan yang dianggap sepele juga tidak boleh diremehkan. Kebiasaan berkata kasar, merendahkan orang lain, menyebarkan informasi yang belum terbukti, atau mengambil sesuatu yang bukan haknya tetap tercatat.
Surah Al-Zalzalah ayat 7–8 menjadi dalil utama yang digunakan dalam Al-Aqidah Al-Islamiyah ketika menjelaskan pengertian hisab.
Surah Al-Baqarah Ayat 284
Surah Al-Baqarah ayat 284 menerangkan bahwa segala sesuatu yang dinyatakan maupun disembunyikan berada dalam pengetahuan dan perhitungan Allah. Allah mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ayat tersebut mengajarkan bahwa manusia tidak boleh hanya memperhatikan penampilan lahiriah. Hati, tujuan, dan niat mempunyai kedudukan penting dalam suatu amal.
Dua orang dapat melakukan perbuatan yang tampak sama, tetapi memperoleh penilaian berbeda karena niat, keadaan, dan tujuannya tidak sama. Allah mengetahui semua hal yang tidak dapat diketahui manusia.
Dalil ini juga disebutkan dalam pembahasan hisab pada kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah.
Surah Al-Kahfi Ayat 49
Surah Al-Kahfi ayat 49 menggambarkan keadaan ketika catatan amal diletakkan. Orang-orang yang berdosa merasa takut karena catatan tersebut tidak meninggalkan perbuatan kecil maupun besar, melainkan mencatat semuanya.
Ayat ini mengingatkan bahwa manusia kelak akan menemukan amal yang telah dilakukannya. Allah tidak menzalimi siapa pun.
Catatan amal menjadi bukti yang sangat jelas. Seseorang tidak dapat mengingkari perbuatannya karena seluruh tindakan telah diketahui dan dicatat secara teliti.
Surah Al-Anbiya Ayat 47
Surah Al-Anbiya ayat 47 menerangkan bahwa Allah akan memasang timbangan yang adil pada hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang dirugikan sedikit pun.
Walaupun suatu amal hanya seberat biji yang sangat kecil, Allah tetap mendatangkannya. Hal ini menunjukkan kesempurnaan pengetahuan dan keadilan Allah dalam memberikan balasan.
Surah Al-Insyiqaq Ayat 7–8
Surah Al-Insyiqaq ayat 7–8 menjelaskan bahwa orang yang menerima catatan amal dari sebelah kanannya akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.
Ayat tersebut memberikan harapan kepada orang beriman agar mempersiapkan diri dengan ketaatan, taubat, dan amal saleh. Kemudahan hisab merupakan karunia besar yang perlu dimohonkan kepada Allah.
Perbedaan Hisab dan Mizan
Hisab dan mizan sama-sama berkaitan dengan peristiwa hari kiamat, tetapi keduanya memiliki pengertian berbeda.
Hisab berarti perhitungan atau pemeriksaan amal. Pada tahapan ini, amal dan tanggung jawab manusia diperlihatkan serta diperhitungkan.
Mizan berarti timbangan. Mizan berkaitan dengan penimbangan amal berdasarkan keadilan Allah.
Perbedaan sederhana keduanya dapat dipahami melalui tabel berikut:
| Istilah | Pengertian |
|---|---|
| Hisab | Perhitungan dan pemeriksaan amal manusia |
| Mizan | Penimbangan amal pada hari kiamat |
| Kitab amal | Catatan yang memuat perbuatan manusia |
| Ba’ts | Kebangkitan manusia dari alam kubur |
| Mahsyar | Tempat berkumpulnya manusia setelah dibangkitkan |
Seluruh perkara tersebut termasuk bagian dari keimanan kepada hari akhir.
Apakah Semua Amal Manusia Dicatat?
Setiap amal manusia berada dalam pengetahuan Allah dan dicatat oleh malaikat yang diberi tugas untuk mencatat perbuatan.
Catatan tersebut tidak berarti Allah membutuhkan bantuan untuk mengetahui perbuatan manusia. Allah telah mengetahui segala sesuatu secara sempurna. Pencatatan amal merupakan bagian dari ketetapan dan bukti keadilan-Nya.
Amal yang dicatat mencakup perkataan dan perbuatan. Hal ini seharusnya mendorong manusia agar lebih berhati-hati dalam berbicara dan bertindak.
Pada zaman digital, jejak tindakan dapat bertahan sangat lama. Tulisan, gambar, komentar, dan informasi yang dibagikan dapat memberikan manfaat atau justru menimbulkan kerugian bagi banyak orang.
Apabila suatu kebaikan terus dimanfaatkan orang lain, pelakunya dapat memperoleh pahala. Namun, apabila seseorang menyebarkan keburukan yang terus ditiru, ia harus mewaspadai akibat perbuatannya.
Apakah Niat Juga Diperhitungkan?
Niat mempunyai kedudukan penting dalam penilaian amal. Suatu perbuatan baik dapat kehilangan nilai apabila dilakukan semata-mata untuk mendapatkan pujian manusia.
Sebaliknya, seseorang yang telah berniat melakukan kebaikan tetapi terhalang karena keadaan tertentu dapat memperoleh penilaian sesuai kejujuran dan kesungguhan niatnya berdasarkan ketentuan Allah.
Meskipun demikian, niat yang baik tidak dapat membenarkan cara yang haram. Tujuan baik harus ditempuh melalui tindakan yang benar.
Sebagai contoh, membantu orang lain merupakan tujuan baik. Namun, bantuan tersebut tidak boleh berasal dari harta curian atau hasil mengambil hak orang lain.
Apakah Perbuatan Kecil Akan Dihisab?
Surah Al-Zalzalah ayat 7–8 menegaskan bahwa amal sekecil zarrah tetap akan diperlihatkan. Karena itu, seorang Muslim tidak boleh meremehkan kebaikan maupun keburukan.
Kebaikan kecil dapat berupa:
- Memberikan senyuman yang tulus.
- Mengucapkan salam.
- Membantu membawa barang.
- Menunjukkan jalan.
- Membersihkan lingkungan.
- Mengajarkan pengetahuan yang bermanfaat.
- Menghibur orang yang sedang mengalami kesulitan.
- Memberikan makanan meskipun sederhana.
- Menahan diri agar tidak membalas keburukan.
- Mendoakan orang lain.
Keburukan kecil yang dilakukan secara terus-menerus dapat berkembang menjadi kebiasaan besar. Oleh sebab itu, seseorang perlu segera menghentikan kesalahan dan memohon ampun kepada Allah.
Hubungan Hisab dengan Surga dan Neraka
Hisab berkaitan dengan balasan yang diterima manusia pada hari akhir. Orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh memperoleh karunia Allah, sedangkan orang yang ingkar dan terus melakukan kezaliman menghadapi akibat perbuatannya.
Dalam Al-Aqidah Al-Islamiyah, orang yang berbahagia digambarkan sebagai mereka yang beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan hari kiamat serta mengerjakan amal baik. Mereka menerima kenikmatan sebagai balasan atas amal yang telah dilakukan.
Namun, masuk surga pada akhirnya tetap terjadi karena rahmat Allah. Amal manusia merupakan bentuk ketaatan dan sebab memperoleh keridaan-Nya, bukan sesuatu yang membuat manusia berhak bersikap sombong di hadapan Allah.
Keimanan kepada hisab harus menumbuhkan keseimbangan antara rasa takut dan harapan. Seorang Muslim takut terhadap dosa dan keadilan Allah, tetapi tetap berharap kepada ampunan, rahmat, dan kasih sayang-Nya.
Prinsip Keadilan dalam Hisab
Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Perhitungan amal dilakukan berdasarkan keadilan dan pengetahuan yang sempurna.
Manusia sering memberikan penilaian berdasarkan apa yang terlihat. Penilaian tersebut dapat salah karena manusia tidak mengetahui seluruh keadaan, niat, tekanan, kemampuan, dan latar belakang seseorang.
Allah mengetahui semua hal itu secara sempurna. Dia mengetahui siapa yang berbuat dengan sengaja, siapa yang tidak mengetahui, siapa yang dipaksa, siapa yang telah berusaha, dan siapa yang berpura-pura.
Keadilan Allah dalam hisab mencakup beberapa prinsip:
- Tidak ada amal yang dilupakan.
- Tidak ada seseorang yang memikul dosa orang lain tanpa sebab.
- Setiap manusia dinilai berdasarkan tanggung jawabnya.
- Niat dan keadaan diketahui secara sempurna oleh Allah.
- Tidak ada satu pun hamba yang dirugikan.
- Kebaikan dan keburukan memperoleh balasan yang sesuai dengan ketetapan Allah.
- Pintu taubat terbuka selama manusia masih hidup dan memenuhi syaratnya.
Bagaimana dengan Hak Sesama Manusia?
Dosa tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Allah. Ada pula kesalahan yang berkaitan dengan hak sesama manusia.
Hak tersebut dapat berupa harta, kehormatan, tenaga, janji, utang, jabatan, dan berbagai bentuk amanah.
Seseorang yang mengambil hak orang lain perlu mengembalikannya. Orang yang menyakiti atau merusak kehormatan orang lain perlu memperbaiki kesalahannya dengan cara yang tepat.
Taubat kepada Allah harus disertai penyelesaian hak manusia apabila dosa tersebut berkaitan dengan orang lain. Jangan menunggu hari akhir untuk menyelesaikan perkara yang masih dapat diperbaiki di dunia.
Contohnya meliputi:
- Membayar utang.
- Mengembalikan barang pinjaman.
- Mengembalikan uang yang diambil secara tidak sah.
- Memenuhi upah pekerja.
- Meminta maaf atas kezaliman.
- Menghentikan penyebaran fitnah.
- Memperbaiki informasi palsu yang telah disebarkan.
- Menjalankan amanah yang belum diselesaikan.
Cara Mempersiapkan Diri Menghadapi Hisab
Keimanan terhadap hisab seharusnya mendorong manusia melakukan perbaikan sejak sekarang. Persiapan menghadapi hisab tidak cukup hanya dengan rasa takut, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
1. Memperkuat Iman
Keimanan merupakan dasar seluruh amal. Seorang Muslim perlu mempelajari akidah, mengenal Allah, meyakini para rasul, kitab-kitab, malaikat, dan hari akhir.
Ilmu yang benar membantu seseorang beribadah dengan keyakinan, bukan hanya mengikuti kebiasaan.
2. Menjaga Ibadah Wajib
Ibadah wajib harus menjadi prioritas. Salat, puasa Ramadan, zakat bagi yang memenuhi ketentuan, serta kewajiban lainnya perlu dijaga.
Ibadah sunah dapat melengkapi kekurangan, tetapi tidak seharusnya membuat seseorang mengabaikan kewajiban utama.
3. Memperbanyak Taubat
Manusia tidak terlepas dari kesalahan. Karena itu, taubat harus menjadi kebiasaan sepanjang hidup.
Taubat yang benar dilakukan dengan menyesali dosa, menghentikannya, bertekad tidak mengulanginya, dan menyelesaikan hak orang lain apabila kesalahan berhubungan dengan sesama manusia.
4. Melakukan Muhasabah
Muhasabah berarti mengevaluasi diri. Seseorang dapat meluangkan waktu untuk memeriksa ibadah, pekerjaan, ucapan, hubungan sosial, dan penggunaan waktunya.
Pertanyaan sederhana yang dapat digunakan dalam muhasabah antara lain:
- Apakah kewajiban hari ini telah dilaksanakan?
- Apakah ada orang yang dirugikan?
- Apakah ucapan hari ini membawa manfaat?
- Apakah pekerjaan dilakukan dengan jujur?
- Apakah waktu digunakan secara baik?
- Apakah ada kesalahan yang harus segera diperbaiki?
5. Menjaga Hak Orang Lain
Menjaga hak manusia merupakan persiapan penting menghadapi hisab. Jangan mengambil sesuatu yang bukan hak, menunda pembayaran utang tanpa alasan, atau menyalahgunakan kepercayaan.
Bersikap adil kepada keluarga, tetangga, rekan kerja, bawahan, dan masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan.
6. Menjaga Ucapan dan Media Sosial
Sebelum berbicara atau membagikan sesuatu, periksa kebenaran dan manfaatnya. Informasi yang salah dapat menyebar luas serta merugikan banyak orang.
Hindari fitnah, penghinaan, perundungan, dan penyebaran aib. Jejak digital mungkin dapat dihapus dari perangkat, tetapi pertanggungjawaban amal tetap berada dalam pengetahuan Allah.
7. Memperbanyak Amal Saleh
Jangan meremehkan kesempatan berbuat baik. Amal saleh dapat dilakukan melalui ibadah, pekerjaan yang jujur, pelayanan kepada masyarakat, pendidikan, sedekah, dan bantuan kepada orang yang membutuhkan.
Kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi bekal berharga untuk kehidupan akhirat.
Hikmah Beriman kepada Hisab
Beriman kepada hisab memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan seorang Muslim.
Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab
Orang yang meyakini adanya hisab memahami bahwa setiap keputusan memiliki akibat. Ia tidak menjalani hidup secara sembarangan.
Tanggung jawab tersebut terlihat dalam pelaksanaan ibadah, pekerjaan, pendidikan, keluarga, dan hubungan dengan masyarakat.
Mendorong Kejujuran
Seseorang mungkin dapat menipu manusia, tetapi tidak dapat menyembunyikan sesuatu dari Allah. Keyakinan ini menumbuhkan kejujuran meskipun tidak ada orang yang mengawasi.
Mencegah Kezaliman
Kesadaran terhadap hari perhitungan membuat seseorang berpikir sebelum mengambil hak orang lain atau menggunakan kekuasaan secara sewenang-wenang.
Ia mengetahui bahwa kedudukan dunia tidak dapat melindunginya dari keadilan Allah.
Menguatkan Kesabaran
Orang yang diperlakukan tidak adil mungkin tidak selalu memperoleh penyelesaian sempurna di dunia. Keimanan kepada hisab memberikan keyakinan bahwa Allah mengetahui seluruh kejadian dan akan memberikan keputusan yang adil.
Keyakinan tersebut bukan alasan untuk membiarkan kezaliman, tetapi menjadi sumber kekuatan agar tetap menempuh cara yang benar.
Menumbuhkan Semangat Berbuat Baik
Tidak ada kebaikan yang sia-sia di sisi Allah. Amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas tetap memiliki nilai.
Kesadaran ini mendorong seorang Muslim terus berbuat baik meskipun tidak dipuji atau diketahui manusia.
Menghindarkan Manusia dari Kesombongan
Hisab menyadarkan bahwa manusia adalah hamba yang akan kembali kepada Allah. Kekayaan, popularitas, kekuasaan, dan kecerdasan tidak dapat menghapus tanggung jawab.
Semua nikmat justru akan ditanyakan mengenai cara memperoleh dan menggunakannya.
Sikap Seorang Muslim terhadap Hari Perhitungan
Seorang Muslim seharusnya menghadapi pembahasan hisab dengan rasa takut, harapan, dan kesiapan memperbaiki diri.
Rasa takut mencegahnya meremehkan dosa. Harapan membuatnya tidak berputus asa dari rahmat Allah. Perbaikan diri mendorongnya mengubah keyakinan menjadi amal nyata.
Mengingat hisab bukan berarti menjalani kehidupan dengan kecemasan berlebihan. Keimanan kepada hari akhir justru memberikan arah yang jelas. Manusia mengetahui bahwa kebaikan mempunyai nilai, kesabaran tidak sia-sia, dan kezaliman tidak akan dibiarkan tanpa perhitungan.
Pengertian hisab sebagai perhitungan seluruh amal pada hari kiamat mengingatkan bahwa setiap hari merupakan kesempatan untuk memperbaiki catatan kehidupan. Selama masih hidup, manusia masih dapat bertaubat, mengembalikan hak, memperbaiki kesalahan, serta memperbanyak amal yang diridai Allah.












