Mengapa Imam Membalik Selendang Saat Shalat Istisqa?

Mengapa Imam Membalik Selendang Saat Shalat Istisqa?
Mengapa Imam Membalik Selendang Saat Shalat Istisqa?

Mengapa Imam Membalik Selendang Saat Shalat Istisqa?

Imam membalik selendang saat Shalat Istisqa karena mengikuti sunnah Rasulullah saw. ketika memohon hujan kepada Allah. Gerakan tersebut juga dipahami para ulama sebagai simbol pengharapan agar Allah mengubah keadaan dari kekeringan menjadi turunnya hujan, dari kesulitan menjadi kelapangan, serta dari kesusahan menjadi keberkahan.

Mengapa Imam Membalik Selendang Saat Shalat Istisqa?
Mengapa Imam Membalik Selendang Saat Shalat Istisqa?

Membalik selendang bukanlah gerakan di dalam rakaat Shalat Istisqa. Menurut penjelasan Imam Syafi’i, imam melakukannya ketika menyampaikan khutbah dan berdoa setelah shalat, tepatnya ketika menghadap kiblat.

Pembahasan mengenai amalan tersebut terdapat dalam Kitab Al-Umm Juz 1, bagian Kitab Istisqa. Imam Syafi’i menjelaskan hadis tentang Rasulullah saw. yang keluar menuju tanah lapang, menghadap kiblat, membalik selendang, lalu memohon hujan kepada Allah.

Pengertian Membalik Selendang dalam Shalat Istisqa

Selendang yang dimaksud dalam pembahasan fikih disebut rida’, yaitu pakaian luar yang dikenakan di bagian atas tubuh atau diletakkan di kedua pundak.

Membalik selendang dalam Istisqa bukan hanya memindahkan kain dari pundak kanan menuju pundak kiri. Dalam penjelasan Imam Syafi’i, pembalikan dilakukan dengan dua bentuk perubahan:

  1. Bagian yang berada di pundak kanan dipindahkan ke pundak kiri, sedangkan bagian di pundak kiri dipindahkan ke pundak kanan.
  2. Apabila memungkinkan, bagian atas selendang dijadikan bagian bawah dan bagian bawah dijadikan bagian atas.

Cara tersebut mengikuti tindakan Rasulullah saw. ketika berdoa meminta hujan. Apabila kain yang dikenakan terlalu berat sehingga sulit dibalik dari atas ke bawah, cukup memindahkan sisi kanan ke kiri dan sisi kiri ke kanan.

Istilah membalik selendang tidak berarti seseorang harus membuka aurat atau melepaskan seluruh pakaiannya. Gerakan tersebut hanya dilakukan terhadap pakaian luar yang memungkinkan untuk dipindahkan atau dibalik secara wajar.

Dalil Hadis Rasulullah Membalik Selendang

Dalil utama mengenai membalik selendang dalam pelaksanaan Istisqa berasal dari Abdullah bin Zaid Al-Mazini r.a.

Ia meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. keluar menuju tanah lapang untuk memohon hujan. Beliau menghadap kiblat, membalik selendangnya, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat.

Hadis tersebut dicantumkan Imam Syafi’i dalam Al-Umm melalui riwayat Abdullah bin Abi Bakr dari Abbad bin Tamim, dari pamannya, Abdullah bin Zaid.

Hadis yang semakna diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Sahih Al-Bukhari, Kitab Al-Istisqa, pada pembahasan mengenai membalik selendang ketika meminta hujan.

Imam Muslim juga meriwayatkannya dalam Sahih Muslim, Kitab Shalat Al-Istisqa. Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. menghadap kiblat, berdoa, dan membalik selendangnya.

Riwayat ini menunjukkan bahwa membalik selendang bukan kebiasaan budaya yang dibuat setelah masa Rasulullah. Amalan tersebut berasal dari tindakan Nabi ketika melaksanakan Istisqa.

Hadis tentang Selendang Rasulullah yang Berat

Imam Syafi’i turut mencantumkan riwayat dari Abbad bin Tamim mengenai cara Rasulullah saw. membalik selendangnya.

Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa Rasulullah saw. mengenakan selendang berwarna hitam ketika memohon hujan. Beliau hendak mengambil bagian bawah selendang dan menjadikannya berada di bagian atas. Namun, karena selendang tersebut berat, beliau cukup membalikkannya pada kedua pundak.

Berdasarkan hadis itu, Imam Syafi’i menjelaskan bahwa apabila selendang ringan, imam dapat:

  • Menjadikan bagian atas berada di bawah.
  • Menjadikan bagian bawah berada di atas.
  • Memindahkan bagian kanan ke kiri.
  • Memindahkan bagian kiri ke kanan.

Apabila selendang berat dan sulit dibalik sepenuhnya, imam cukup memindahkan bagian yang berada di pundak kanan menuju pundak kiri dan sebaliknya.

Mengapa Selendang Dibalik Saat Memohon Hujan?

Alasan paling utama membalik selendang adalah mengikuti perbuatan Rasulullah saw. Dalam ibadah, tindakan yang dicontohkan Nabi dilaksanakan sebagai bentuk kepatuhan, meskipun seluruh hikmah di baliknya tidak selalu dijelaskan secara langsung dalam hadis.

Para ulama kemudian menerangkan beberapa makna yang dapat dipahami dari tindakan tersebut.

Mengikuti Sunnah Rasulullah

Dasar pertama dan terpenting adalah ittiba’, yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah saw.

Nabi Muhammad saw. membalik selendang ketika berdoa meminta hujan. Karena itu, Imam Syafi’i menganjurkan imam dan jamaah melakukannya dalam pelaksanaan Istisqa.

Membalik selendang tidak dilakukan karena kain tersebut memiliki kekuatan mendatangkan hujan. Hujan hanya turun dengan kehendak Allah. Selendang dibalik sebagai bagian dari tata cara yang dicontohkan Rasulullah.

Simbol Perubahan Keadaan

Para ulama menjelaskan bahwa membalik selendang mengandung harapan agar Allah mengubah keadaan manusia.

Kekeringan diharapkan berubah menjadi hujan, tanah yang tandus menjadi subur, kesulitan menjadi kelapangan, dan kekurangan air berubah menjadi kecukupan.

Makna tersebut merupakan bentuk tafa’ul, yaitu berharap akan datangnya kebaikan. Namun, pengharapan itu tetap ditujukan kepada Allah, bukan kepada kain atau gerakan membalik selendang.

Imam An-Nawawi dalam pembahasan fikih Mazhab Syafi’i menerangkan bahwa perubahan posisi selendang mengandung harapan agar Allah mengubah keadaan yang sulit menjadi keadaan yang baik.

Menunjukkan Kerendahan Hati

Shalat Istisqa dilakukan dalam keadaan masyarakat sedang membutuhkan pertolongan Allah. Kekeringan menyebabkan berkurangnya air, rusaknya tanaman, sulitnya memperoleh makanan, dan terganggunya kehidupan manusia serta hewan.

Membalik selendang dilakukan bersama doa, istigfar, tobat, dan ketundukan. Seluruh rangkaian tersebut menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki kemampuan menurunkan hujan.

Allah berfirman dalam Surah Al-Waqi’ah ayat 68–70:

“Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkannya?”

Ayat tersebut mengingatkan bahwa air dan hujan merupakan karunia Allah. Manusia hanya dapat berusaha dan berdoa, sedangkan keputusan menurunkan hujan berada dalam kekuasaan-Nya.

Kapan Imam Membalik Selendang?

Menurut tata cara yang dijelaskan Imam Syafi’i, pembalikan selendang dilakukan ketika khutbah Istisqa berlangsung.

Pelaksanaannya dapat disusun sebagai berikut:

  1. Imam memimpin Shalat Istisqa dua rakaat.
  2. Setelah salam, imam menyampaikan khutbah pertama.
  3. Imam duduk sebentar.
  4. Imam berdiri menyampaikan khutbah kedua.
  5. Imam awalnya menghadap jamaah.
  6. Imam kemudian berpaling menghadap kiblat.
  7. Imam membalik selendangnya.
  8. Jamaah yang mengenakan selendang turut membaliknya.
  9. Imam mengangkat tangan dan berdoa meminta hujan.
  10. Jamaah mengaminkan dan berdoa bersama imam.
  11. Imam kembali menghadap jamaah untuk melanjutkan nasihat dan menutup khutbah.

Dalam Al-Umm, Imam Syafi’i menjelaskan bahwa imam menghadap jamaah selama khutbah, kemudian menghadap kiblat dan membalik selendangnya. Jamaah juga membalik selendang bersama imam dan ikut berdoa.

Dengan demikian, pembalikan selendang tidak dilakukan ketika sedang rukuk, sujud, atau membaca Al-Fatihah dalam Shalat Istisqa.

Tata Cara Membalik Selendang Menurut Imam Syafi’i

Cara membalik selendang harus dilakukan dengan tenang dan tidak mengganggu kekhusyukan doa.

Imam menghadap kiblat

Setelah menyampaikan bagian khutbah, imam berpaling dari jamaah dan menghadap kiblat.

Menghadap kiblat merupakan salah satu adab berdoa. Dalam keadaan tersebut, imam memperbanyak istigfar dan permohonan agar Allah menurunkan hujan yang bermanfaat.

Bagian kanan dipindahkan ke kiri

Ujung atau bagian selendang yang semula berada pada pundak kanan dipindahkan menuju pundak kiri.

Bagian kiri dipindahkan ke kanan

Bagian yang sebelumnya berada pada pundak kiri dipindahkan menuju pundak kanan.

Bagian atas dijadikan bagian bawah

Apabila bentuk dan berat kain memungkinkan, bagian atas selendang dibalik menjadi bagian bawah, sedangkan bagian bawah dijadikan bagian atas.

Imam Syafi’i menerangkan bahwa cara tersebut merupakan bentuk pembalikan yang lebih sempurna. Namun, apabila kainnya berat, memindahkan bagian kanan ke kiri dan bagian kiri ke kanan telah mengikuti tindakan Rasulullah saw.

Selendang tetap dikenakan

Setelah dibalik, selendang tetap dikenakan selama imam melanjutkan doa dan khutbah. Tidak diperlukan gerakan yang berlebihan atau membuka pakaian lain yang menutup aurat.

Apakah Jamaah Juga Membalik Selendang?

Dalam penjelasan Imam Syafi’i, jamaah dianjurkan mengikuti imam membalik selendang.

Ketika imam menghadap kiblat dan membalik selendang, jamaah yang mengenakan pakaian luar sejenis dapat melakukan gerakan yang sama. Mereka kemudian berdoa bersama imam agar Allah menurunkan hujan.

Imam Syafi’i menyatakan bahwa imam membalik selendang dan jamaah turut membalik selendang mereka bersamanya.

Jamaah tidak harus menggunakan selendang khusus hanya untuk mengikuti amalan tersebut. Orang yang tidak mengenakan selendang atau pakaian luar yang mudah dibalik tetap dapat berdoa dan mengikuti seluruh rangkaian Istisqa.

Pelaksanaannya juga harus memperhatikan kesopanan dan ketentuan menutup aurat. Jangan sampai seseorang membuka pakaian utama atau melakukan tindakan yang mengganggu jamaah lain.

Hukum Membalik Selendang dalam Shalat Istisqa

Membalik selendang dalam Istisqa hukumnya sunnah, bukan wajib dan bukan rukun shalat.

Apabila imam tidak membalik selendang, Shalat Istisqa tetap sah. Jamaah juga tidak diwajibkan mengulang shalat hanya karena tidak melakukan pembalikan selendang.

Kesunnahan tersebut didasarkan pada perbuatan Rasulullah saw. dan penjelasan Imam Syafi’i dalam Kitab Istisqa.

Beberapa ketentuan hukumnya meliputi:

  • Tidak membalik selendang tidak membatalkan Shalat Istisqa.
  • Tidak ada sujud sahwi karena meninggalkannya.
  • Tidak diwajibkan mengulang khutbah.
  • Jamaah yang tidak memiliki selendang tetap dapat mengikuti doa.
  • Pembalikan tidak boleh menyebabkan terbukanya aurat.
  • Selendang tidak diyakini memiliki kekuatan mendatangkan hujan.

Tujuan utama pelaksanaan Istisqa tetap berupa shalat, istigfar, tobat, doa, dan permohonan kepada Allah.

Apakah Membalik Selendang Dilakukan Sebelum atau Sesudah Shalat?

Hadis-hadis tentang Istisqa memiliki beberapa susunan redaksi. Sebagian riwayat menyebutkan Nabi menghadap kiblat dan membalik selendang, kemudian shalat. Riwayat lain menjelaskan pembalikan dalam rangkaian doa dan khutbah.

Dalam tata cara yang dikembangkan dalam Mazhab Syafi’i, Shalat Istisqa dikerjakan lebih dahulu. Setelah shalat selesai, imam menyampaikan dua khutbah. Ketika berdoa dalam khutbah, imam menghadap kiblat dan membalik selendangnya.

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa pelaksanaan Shalat Istisqa menyerupai Shalat Id. Imam keluar menuju tanah lapang setelah matahari terbit, mengerjakan dua rakaat, lalu menyampaikan khutbah.

Shalat dilaksanakan dua rakaat dengan bacaan yang dikeraskan. Dalam penjelasan Al-Umm, rakaat pertama disertai tujuh takbir tambahan dan rakaat kedua lima takbir tambahan sebagaimana Shalat Id.

Hubungan Membalik Selendang dengan Doa Istisqa

Pembalikan selendang dilakukan bersamaan dengan doa meminta hujan. Imam menghadap kiblat, mengangkat tangan, serta memohon kepada Allah dengan penuh kerendahan hati.

Salah satu doa singkat yang diriwayatkan dalam Istisqa adalah:

Allāhumma aghitsnā.

Artinya:

“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”

Doa lain yang dapat dibaca adalah:

Allāhumma asqinā ghaitsan mughītsan marī’an marī‘an nāfi‘an ghaira dhārrin, ‘ājilan ghaira ājil.

Artinya:

“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, menyenangkan, menyuburkan, bermanfaat, tidak membahayakan, serta segera dan tidak ditunda.”

Imam dapat berdoa menggunakan bahasa yang dipahami jamaah. Hal yang terpenting adalah doa ditujukan hanya kepada Allah dan memohon hujan yang membawa manfaat, bukan hujan yang menimbulkan banjir atau kerusakan.

Dalam Al-Umm, Imam Syafi’i menyebutkan sejumlah doa meminta hujan yang bermanfaat, merata, menyuburkan tanah, memenuhi kebutuhan manusia dan hewan, serta menjauhkan masyarakat dari kelaparan dan kesulitan.

Mengangkat Tangan Ketika Memohon Hujan

Selain membalik selendang, imam dianjurkan mengangkat kedua tangan ketika berdoa meminta hujan.

Anas bin Malik r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mengangkat kedua tangannya tinggi ketika berdoa dalam Istisqa. Dalam sebagian riwayat, bagian putih ketiak beliau terlihat karena tingginya tangan yang diangkat.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.

Mengangkat tangan menjadi bentuk kesungguhan dan kerendahan seorang hamba ketika meminta pertolongan kepada Allah. Jamaah juga dapat mengangkat tangan ketika mengaminkan doa imam.

Dalam Al-Umm, Imam Syafi’i menyebutkan riwayat bahwa Rasulullah saw. mengangkat kedua tangan ketika berdoa meminta hujan.

Memperbanyak Istigfar dalam Khutbah Istisqa

Membalik selendang bukan satu-satunya amalan utama dalam Istisqa. Imam Syafi’i menekankan agar sebagian besar khutbah dipenuhi dengan istigfar.

Dasarnya adalah firman Allah dalam Surah Nuh ayat 10–12:

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”

Ayat tersebut menunjukkan hubungan antara istigfar, ampunan Allah, dan turunnya keberkahan.

Imam Syafi’i menganjurkan imam:

  • Memulai doa dengan istigfar.
  • Memperbanyak istigfar di antara nasihat.
  • Mengajak masyarakat bertobat.
  • Memerintahkan ketaatan.
  • Mengingatkan masyarakat meninggalkan kezaliman.
  • Menutup doa dengan istigfar.

Dalam Al-Umm dijelaskan bahwa istigfar sebaiknya menjadi bagian terbesar dari khutbah Istisqa. Imam juga menganjurkan masyarakat bertobat, taat, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Tobat dan Mengembalikan Hak Orang Lain

Istisqa bukan sekadar kegiatan berkumpul untuk meminta hujan. Masyarakat perlu memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

Sebelum atau ketika melaksanakan Istisqa, umat Islam dianjurkan:

  • Bertobat dari dosa.
  • Menghentikan perbuatan zalim.
  • Mengembalikan hak milik orang lain.
  • Melunasi kewajiban yang mampu dibayar.
  • Berdamai dengan orang yang sedang bermusuhan.
  • Memperbanyak sedekah.
  • Membantu fakir miskin.
  • Meninggalkan transaksi yang haram.
  • Memperbaiki pelaksanaan shalat wajib.

Hujan merupakan rahmat Allah. Karena itu, permohonan hujan perlu disertai kesungguhan memperbaiki diri, bukan hanya melakukan gerakan lahiriah.

Membalik Selendang Bukan Ritual Penolak Bencana

Membalik selendang tidak boleh dipahami sebagai ritual yang otomatis menyebabkan turunnya hujan.

Islam tidak mengajarkan bahwa kain, warna selendang, arah lipatan, atau bahan tertentu memiliki kekuatan gaib mendatangkan hujan.

Allah berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 28:

“Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah yang menurunkan hujan dan menyebarkan rahmat. Membalik selendang dilakukan karena mengikuti sunnah Nabi dan menjadi lambang harapan akan berubahnya keadaan.

Tidak terdapat ketentuan bahwa selendang harus berwarna hitam, putih, hijau, atau warna tertentu. Riwayat yang menyebutkan selendang Nabi berwarna hitam hanya menjelaskan keadaan pada saat itu, bukan menetapkan warna khusus untuk Istisqa.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

Beberapa kekeliruan yang perlu dihindari ketika membalik selendang dalam Istisqa antara lain:

Membalik selendang di tengah rakaat

Pembalikan dilakukan dalam rangkaian khutbah dan doa, bukan ketika sedang berdiri membaca Al-Fatihah, rukuk, atau sujud.

Menganggapnya sebagai rukun

Membalik selendang merupakan sunnah. Shalat tetap sah apabila amalan tersebut tertinggal.

Membuka aurat

Jamaah tidak diperbolehkan membuka pakaian utama hanya untuk membalik kain. Kesunnahan harus dilaksanakan tanpa melanggar kewajiban menutup aurat.

Meyakini kain mendatangkan hujan

Hujan hanya diturunkan oleh Allah. Selendang tidak memiliki kekuatan tersendiri.

Membuat gerakan secara berlebihan

Pembalikan dilakukan dengan sederhana, tenang, dan tertib. Jamaah tidak perlu berebut, berteriak, atau melakukan gerakan tambahan yang tidak memiliki dasar.

Melupakan istigfar dan tobat

Gerakan membalik selendang tidak seharusnya lebih ditonjolkan daripada doa, istigfar, tobat, sedekah, dan perbaikan perilaku.

Apakah Harus Menggunakan Selendang Khusus?

Tidak ada ketentuan yang mewajibkan imam membeli atau menyediakan selendang khusus untuk Istisqa.

Imam dapat menggunakan pakaian luar yang biasa dikenakan dan memungkinkan untuk dibalik. Apabila tidak mengenakan selendang, pelaksanaan shalat, khutbah, dan doa tetap sah.

Kesunnahan tidak boleh berubah menjadi beban atau menimbulkan keyakinan bahwa Istisqa tidak sah tanpa selendang.

Istilah selendang dalam kitab fikih merujuk pada rida’ yang lazim digunakan masyarakat Arab. Pelaksanaannya di Indonesia dapat disesuaikan dengan jenis pakaian luar yang digunakan, selama tidak mengubah tujuan dan tidak melanggar ketentuan menutup aurat.

Apakah Selendang Dikembalikan Setelah Khutbah?

Setelah doa dan khutbah selesai, tidak ada ketentuan yang menjadikan pengembalian selendang sebagai rukun atau kewajiban tertentu.

Imam dan jamaah dapat tetap mengenakannya dalam posisi terbalik hingga kembali ke rumah atau membetulkannya kembali sesuai kebutuhan.

Hal yang menjadi sunnah utama adalah tindakan membaliknya ketika menghadap kiblat dan memohon hujan. Tidak diperlukan keyakinan khusus mengenai berapa lama selendang harus dipertahankan dalam keadaan terbalik.

Referensi Al-Qur’an, Hadis, dan Kitab

  1. Al-Qur’an, Surah Nuh ayat 10–12 tentang istigfar dan turunnya hujan.
  2. Al-Qur’an, Surah Asy-Syura ayat 28 tentang Allah menurunkan hujan setelah manusia berputus asa.
  3. Al-Qur’an, Surah Al-Waqi’ah ayat 68–70 tentang Allah sebagai Zat yang menurunkan air.
  4. Imam Asy-Syafi’i, Al-Umm Juz 1, Kitab Istisqa, pembahasan tata cara dan pembalikan selendang imam, PT Pustaka Tarjamah Turats Arabi.
  5. Imam Al-Bukhari, Sahih Al-Bukhari, Kitab Al-Istisqa, bab membalik selendang ketika Istisqa.
  6. Imam Muslim, Sahih Muslim, Kitab Shalat Al-Istisqa, hadis Abdullah bin Zaid mengenai Nabi menghadap kiblat dan membalik selendang.
  7. Imam Malik, Al-Muwaththa’, Kitab Al-Istisqa, hadis Abbad bin Tamim dari Abdullah bin Zaid.
  8. Imam Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Kitab Ash-Shalah, pembahasan Istisqa dan pembalikan selendang.
  9. Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, Kitab Shalat Al-Istisqa.
  10. Imam An-Nawawi, Syarh Sahih Muslim, pembahasan hadis membalik selendang saat memohon hujan.
  11. Imam Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab fi Fiqh Al-Imam Asy-Syafi’i, pembahasan Shalat Istisqa.