Kisah Sya’wanah al-Ubullah, Sufi Perempuan yang Menangis karena Allah
operatorsekolah.id – Pernahkah hati kita begitu tersentuh ketika mengingat Allah SWT hingga air mata mengalir tanpa disadari? Tangisan seperti ini bukan sekadar kesedihan, melainkan dapat lahir dari rasa takut, penyesalan atas dosa, kerinduan kepada Allah, dan kesadaran akan lemahnya manusia di hadapan-Nya.
Salah seorang perempuan salehah yang dikenal melalui kisah tangis dan pertobatannya adalah Sya’wanah al-Ubullah. Namanya memang tidak sepopuler Rabi’ah al-Adawiyah. Namun, dalam sejumlah literatur tasawuf klasik, Sya’wanah digambarkan sebagai perempuan ahli ibadah yang memiliki suara merdu, bacaan Al-Qur’an yang indah, dan kemampuan memberikan nasihat yang menyentuh hati.
Sya’wanah juga dikenal sebagai perempuan yang mudah menangis ketika mendengar nama Allah, ayat-ayat Al-Qur’an, dan nasihat tentang kehidupan akhirat. Air matanya bukan tangisan yang dibuat-buat, melainkan ungkapan penyesalan, rasa takut, serta kerinduan seorang hamba kepada Tuhannya.
Menangis karena Mengingat Allah
Menangis merupakan salah satu bentuk ekspresi manusia. Seseorang dapat menangis karena kehilangan, kesedihan, kebahagiaan, rasa haru, ataupun penyesalan.
Dalam kehidupan spiritual, air mata juga dapat muncul ketika hati seseorang tersentuh oleh ayat-ayat Allah. Tangisan semacam ini tidak hanya memperlihatkan kesedihan, tetapi juga menunjukkan hidupnya hati dan kesadaran seorang hamba terhadap kebesaran Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 2 bahwa orang-orang beriman adalah mereka yang hatinya bergetar ketika nama Allah disebut. Ketika ayat-ayat-Nya dibacakan, keimanan mereka bertambah dan hanya kepada Allah mereka bertawakal.
Ayat tersebut menggambarkan bahwa keimanan dapat memberikan pengaruh mendalam terhadap hati. Nama Allah bukan hanya diucapkan oleh lisan, melainkan juga dirasakan oleh jiwa.
Ketika seseorang benar-benar menyadari kebesaran Allah, mengingat dosa-dosanya, dan memikirkan kehidupan akhirat, hatinya dapat bergetar hingga air matanya mengalir.
Rasulullah SAW Menangis Mendengar Al-Qur’an
Menangis ketika mendengar ayat Al-Qur’an juga pernah dialami oleh Rasulullah SAW.
Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RA, Rasulullah SAW memintanya membacakan Al-Qur’an. Abdullah bin Mas’ud merasa heran karena Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW.
Namun, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa beliau senang mendengarkan Al-Qur’an dibacakan oleh orang lain.
Abdullah bin Mas’ud kemudian membaca Surah An-Nisa. Ketika sampai pada ayat 41 yang menjelaskan bahwa pada hari kiamat akan didatangkan saksi dari setiap umat dan Rasulullah SAW menjadi saksi atas umatnya, Nabi meminta agar bacaan tersebut dihentikan.
Ketika Abdullah bin Mas’ud melihat wajah Rasulullah SAW, kedua mata beliau telah mengalirkan air mata.
Hadis ini menunjukkan bahwa tangisan ketika mendengar Al-Qur’an bukanlah tanda kelemahan. Tangisan tersebut dapat menjadi bukti kelembutan hati dan dalamnya penghayatan terhadap firman Allah.
Utsman bin Affan Menangis di Depan Kubur
Kelembutan hati juga terlihat pada diri Khalifah Utsman bin Affan RA.
Diriwayatkan bahwa ketika berdiri di dekat sebuah kubur, Utsman bin Affan menangis hingga air matanya membasahi janggutnya. Seseorang kemudian bertanya mengapa beliau menangis ketika melihat kubur, sedangkan ketika surga dan neraka disebutkan beliau tidak menangis seperti itu.
Utsman bin Affan menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa kubur merupakan persinggahan pertama dari sejumlah persinggahan akhirat.
Apabila seseorang selamat dari kehidupan kubur, perjalanan setelahnya akan lebih mudah. Namun, apabila tidak selamat, perjalanan berikutnya akan menjadi lebih berat.
Tangisan Utsman bin Affan menggambarkan bahwa mengingat kematian dapat melunakkan hati. Kesadaran bahwa kehidupan dunia akan berakhir membuat seseorang lebih berhati-hati dalam bertindak dan mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Siapa Sya’wanah al-Ubullah?
Sya’wanah al-Ubullah merupakan salah seorang perempuan ahli ibadah yang hidup pada masa awal perkembangan tradisi zuhud dan tasawuf.
Sebutan al-Ubullah dinisbatkan kepada wilayah Ubullah, sebuah kawasan bersejarah yang berada di sekitar Basrah. Karena itulah, Sya’wanah sering dikaitkan dengan lingkungan para ahli ibadah dan orang-orang zuhud di Basrah.
Informasi terperinci mengenai tahun kelahiran, keluarga, dan masa kecilnya tidak banyak ditemukan. Kisahnya lebih banyak tercatat dalam kitab-kitab biografi orang saleh dan ahli ibadah.
Abu Abdurrahman as-Sulami menggambarkan Sya’wanah sebagai perempuan yang menakjubkan. Ia disebut memiliki suara merdu, bacaan Al-Qur’an yang bagus, dan sering memberikan nasihat menggunakan ayat-ayat Allah serta sunah Nabi Muhammad SAW.
Ia juga hadir di tengah majelis orang-orang zuhud, ahli ibadah, serta mereka yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sya’wanah tidak hanya dikenal karena banyak menangis. Ia juga dikenal sebagai perempuan yang menyampaikan ilmu dan nasihat kepada masyarakat.
Kehidupan Sya’wanah Sebelum Bertobat
Dalam kisah yang dinukil dalam literatur biografi kaum saleh, Sya’wanah dikisahkan tidak langsung menjalani kehidupan sebagai seorang ahli ibadah.
Sebelum bertobat, ia disebut sebagai perempuan yang gemar mendatangi tempat-tempat hiburan. Kehidupannya pada saat itu dipenuhi kesenangan duniawi dan belum diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pada suatu hari, Sya’wanah berjalan bersama beberapa pelayan perempuannya melewati sebuah gang di Basrah. Ketika sampai di depan sebuah rumah, ia mendengar suara tangisan dari dalam.
Tangisan tersebut terdengar begitu memilukan sehingga menarik perhatiannya.
Sya’wanah kemudian memerintahkan salah seorang pelayannya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Pelayan tersebut pergi, tetapi tidak segera kembali.
Ia lalu mengutus pelayan lainnya. Namun, pelayan kedua juga tidak kunjung kembali karena ikut terpengaruh oleh nasihat yang sedang disampaikan di dalam rumah tersebut.
Sya’wanah akhirnya mengutus pelayan berikutnya dan meminta agar segera kembali untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Pelayan itu kemudian menyampaikan bahwa tangisan tersebut bukan berasal dari keluarga yang sedang berduka karena kematian. Orang-orang di dalam rumah sedang menangis karena menyesali dosa-dosa mereka.
Mereka sedang mendengarkan nasihat tentang pertobatan, azab Allah, dan kehidupan akhirat.
Ayat Al-Qur’an yang Mengubah Hatinya
Mendengar penjelasan tersebut, Sya’wanah segera mendekati rumah itu. Ia melihat seorang pemberi nasihat sedang dikelilingi oleh sejumlah orang.
Nasihat yang disampaikan membuat para pendengarnya menangis. Sang pemberi nasihat mengingatkan mereka mengenai dosa, kematian, serta akibat yang akan diterima manusia di akhirat.
Ketika Sya’wanah bergabung, sang pendakwah sedang membacakan Surah Al-Furqan ayat 12–13.
Ayat tersebut menggambarkan keadaan neraka. Ketika neraka melihat orang-orang berdosa dari tempat yang jauh, mereka mendengar suara mengerikan dari dalamnya. Ketika dilemparkan ke tempat yang sempit dalam keadaan dibelenggu, mereka mengharapkan kebinasaan.
Mendengar ayat tersebut, hati Sya’wanah terguncang. Ia merasa seolah-olah peringatan itu ditujukan langsung kepadanya.
Kesenangan duniawi yang selama ini dijalaninya mendadak terasa tidak berarti. Ia mulai mengingat dosa-dosanya dan membayangkan keadaan manusia ketika berdiri di hadapan Allah SWT.
Dengan penuh ketakutan, Sya’wanah bertanya kepada sang pemberi nasihat apakah Allah masih bersedia mengampuninya apabila ia sungguh-sungguh bertobat.
Sang pendakwah menjawab bahwa rahmat Allah sangat luas. Seberapa besar pun dosa seseorang, pintu pertobatan masih terbuka selama ia kembali kepada Allah dengan sungguh-sungguh.
Mendengar jawaban tersebut, Sya’wanah menangis. Tangisan itu menjadi awal perubahan besar dalam kehidupannya.
Sya’wanah Memulai Kehidupan Baru
Sya’wanah kemudian bertekad meninggalkan kehidupan lamanya. Ia memilih mengisi hari-harinya dengan ibadah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan memberikan nasihat kepada orang lain.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa ia juga memerdekakan para pelayan atau budak perempuan yang sebelumnya berada di bawah kekuasaannya.
Sejak saat itu, Sya’wanah menjalani kehidupan yang berbeda. Malam-malamnya banyak dihabiskan dengan salat dan bermunajat kepada Allah SWT.
Ia menyesali masa lalunya dan berusaha memperbaiki diri. Rasa takut terhadap akibat dosa membuatnya semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Tubuhnya dikisahkan menjadi kurus dan lemah karena banyak beribadah. Ketika melihat perubahan tubuhnya, Sya’wanah menyadari betapa lemah dirinya.
Ia membayangkan bahwa apabila tubuhnya di dunia saja telah menjadi lemah, bagaimana keadaannya kelak ketika menghadapi kehidupan akhirat.
Kisah tersebut tidak seharusnya dipahami sebagai anjuran untuk menyakiti atau mengabaikan kesehatan tubuh. Inti dari kisah Sya’wanah adalah kesungguhan bertobat, bukan tindakan berlebihan yang membahayakan diri.
Islam tetap mengajarkan keseimbangan antara ibadah, menjaga kesehatan, memenuhi hak keluarga, dan menjalankan kewajiban sosial.
Dikenal sebagai Perempuan yang Banyak Menangis
Setelah bertobat, Sya’wanah dikenal sebagai perempuan yang banyak menangis ketika mengingat Allah SWT.
Ia menangis ketika membaca Al-Qur’an, mendengar nasihat, mengingat dosa, dan membayangkan kehidupan akhirat. Tangisannya lahir dari kesadaran bahwa ibadah manusia tidak sebanding dengan nikmat Allah yang telah diterimanya.
Orang-orang di sekitarnya bahkan merasa khawatir bahwa terlalu banyak menangis dapat mengganggu penglihatannya.
Dalam salah satu riwayat, Sya’wanah menjawab bahwa ia lebih memilih kehilangan penglihatan karena menangis di dunia daripada menghadapi kebutaan hati dan azab di akhirat.
Ungkapan tersebut menunjukkan dalamnya rasa takut Sya’wanah kepada Allah. Namun, perkataan semacam itu perlu dipahami sebagai ungkapan spiritual yang menggambarkan kesungguhan, bukan anjuran untuk merusak kesehatan.
Tangisan Sya’wanah juga bukan untuk mendapatkan perhatian orang lain. Ia menangis karena hatinya merasa diawasi oleh Allah dan tidak sanggup melupakan dosa-dosa yang pernah dilakukan.
Nasihat Sya’wanah Menyentuh Banyak Orang
Sya’wanah tidak hanya menangis sendirian. Ia menggunakan suara merdu dan kemampuannya membaca Al-Qur’an untuk menyampaikan nasihat.
Ketika ia membacakan ayat-ayat Allah, para pendengarnya sering ikut menangis. Mereka tersentuh karena nasihat yang disampaikan lahir dari pengalaman pertobatan dan penghayatan yang mendalam.
Sya’wanah memahami bahwa manusia tidak cukup hanya mengetahui kebenaran. Pengetahuan harus menyentuh hati dan mendorong perubahan perilaku.
Nasihatnya tidak disampaikan untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih suci daripada orang lain. Ia justru selalu mengingat kelemahan serta kekurangan dirinya sendiri.
Sikap tersebut membuat nasihatnya terasa tulus. Orang-orang yang hadir dalam majelisnya tidak hanya mendengarkan kata-kata, tetapi juga menyaksikan kesungguhan seorang hamba yang telah mengubah hidupnya karena Allah SWT.
Menikah dan Memiliki Keluarga Bukan Penghalang Ibadah
Sya’wanah juga disebut sebagai salah seorang perempuan ahli ibadah yang menikah dan memiliki anak.
Kehidupannya menunjukkan bahwa pernikahan dan tanggung jawab keluarga tidak harus menjadi penghalang bagi seseorang untuk mencapai kedekatan spiritual kepada Allah SWT.
Seorang perempuan dapat menjalankan perannya di tengah keluarga sekaligus belajar, beribadah, dan menyampaikan ilmu kepada masyarakat.
Kedekatan kepada Allah tidak hanya dapat dicapai melalui pengasingan diri. Mengasuh anak, menjaga keluarga, bekerja dengan jujur, dan memberikan manfaat kepada masyarakat juga merupakan bagian dari ibadah.
Kisah Sya’wanah memperlihatkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam perkembangan kehidupan keagamaan dan pendidikan spiritual masyarakat Islam.
Tangisan Bukan Satu-Satunya Ukuran Keimanan
Meskipun Sya’wanah dikenal karena air matanya, kemampuan menangis bukan satu-satunya ukuran keimanan.
Tidak semua orang dapat dengan mudah menangis ketika membaca Al-Qur’an atau mengingat dosa. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh kepribadian, keadaan emosional, pengalaman hidup, dan kondisi seseorang.
Seseorang yang tidak menangis bukan berarti tidak memiliki iman. Hal yang lebih utama adalah ketulusan hati, ketaatan, perbaikan perilaku, serta usaha meninggalkan perbuatan dosa.
Air mata juga tidak selalu menunjukkan kesalehan apabila hanya ditampilkan untuk mendapatkan pujian. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki hati yang lembut meskipun tidak memperlihatkan tangisan di hadapan orang lain.
Kisah Sya’wanah mengajarkan pentingnya menghidupkan hati, bukan sekadar berusaha mengeluarkan air mata.
Pelajaran dari Kisah Sya’wanah al-Ubullah
Pintu Tobat Selalu Terbuka
Sya’wanah dikisahkan pernah menjalani kehidupan yang jauh dari ibadah. Namun, satu nasihat dan satu ayat Al-Qur’an menjadi jalan perubahan hidupnya.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa masa lalu yang buruk tidak harus menentukan masa depan seseorang.
Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53 agar hamba-hamba yang telah melampaui batas terhadap dirinya tidak berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Al-Qur’an Dapat Menghidupkan Hati
Pertobatan Sya’wanah bermula ketika ia mendengar ayat Al-Qur’an tentang kehidupan akhirat.
Ayat tersebut tidak hanya masuk melalui pendengarannya, tetapi juga menyentuh hatinya. Ia tidak menunda pertobatan setelah menyadari kesalahannya.
Membaca Al-Qur’an hendaknya tidak dilakukan sebagai rutinitas lisan semata. Seorang Muslim juga dianjurkan memahami makna, merenungkan pesan, dan berusaha mengamalkannya.
Jangan Meremehkan Orang yang Sedang Berubah
Seseorang yang memiliki masa lalu buruk masih memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Karena itu, umat Islam tidak seharusnya menutup pintu harapan atau terus-menerus mengungkit kesalahan orang yang telah bertobat.
Tugas manusia adalah memberikan nasihat dengan cara yang baik. Hidayah dan perubahan hati berada dalam kekuasaan Allah SWT.
Nasihat yang Tulus Lebih Mudah Menyentuh Hati
Sya’wanah mampu membuat banyak orang menangis karena nasihatnya lahir dari penghayatan dan pengalaman pribadi.
Nasihat yang hanya disampaikan melalui kata-kata mungkin mudah dilupakan. Namun, nasihat yang disertai keteladanan akan memberikan pengaruh lebih kuat.
Mengingat Akhirat Membantu Menjaga Perilaku
Kesadaran terhadap kehidupan akhirat membuat Sya’wanah lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan.
Mengingat kematian bukan berarti kehilangan semangat hidup. Sebaliknya, kesadaran tersebut dapat mendorong manusia menggunakan waktu dengan lebih baik, memperbaiki hubungan, dan meninggalkan perbuatan yang merugikan.
Referensi Kisah Sya’wanah al-Ubullah
Kisah Sya’wanah al-Ubullah banyak dinukil dari literatur biografi tokoh-tokoh zuhud dan tasawuf, di antaranya:
- Thabaqat ash-Shufiyyah dan bagian Dzikr an-Niswah al-Muta’abbidat ash-Shufiyyat karya Abu Abdurrahman as-Sulami.
- Shifah ash-Shafwah karya Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi.
- Al-Qur’an, terutama Surah Al-Anfal ayat 2, Surah An-Nisa ayat 41, Surah Al-Furqan ayat 12–13, dan Surah Az-Zumar ayat 53.
- Hadis Abdullah bin Mas’ud mengenai Rasulullah SAW yang menangis ketika mendengar Surah An-Nisa.
- Jami’ at-Tirmidzi mengenai tangisan Utsman bin Affan RA ketika berada di dekat kubur.
Perlu dipahami bahwa sebagian kisah tentang Sya’wanah berasal dari kitab biografi dan literatur tasawuf. Karena itu, detail ceritanya sebaiknya dipahami sebagai riwayat keteladanan, bukan disamakan seluruhnya dengan hadis sahih.
Kisah Sya’wanah al-Ubullah memperlihatkan bahwa pertobatan dapat mengubah arah kehidupan seseorang. Perempuan yang dikisahkan pernah tenggelam dalam kesenangan dunia akhirnya dikenal sebagai ahli ibadah, pembaca Al-Qur’an, dan pemberi nasihat yang menyentuh hati.
Air matanya menjadi gambaran penyesalan, rasa takut, dan kerinduan kepada Allah SWT. Namun, pelajaran terpenting dari kisahnya bukanlah banyaknya tangisan, melainkan keberanian meninggalkan dosa dan kesungguhan memperbaiki diri.
Semoga kisah Sya’wanah al-Ubullah dapat mengingatkan kita agar tidak berputus asa dari rahmat Allah, terus memperbaiki diri, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan.
Temukan artikel kisah Islam, pendidikan, administrasi sekolah, perangkat pembelajaran, contoh soal, dan informasi bermanfaat lainnya melalui Operator Sekolah.
Terima kasih telah membaca artikel ini hingga selesai. Bagikan kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak pembaca.












