Benarkah Tembok Pemisah Manusia dengan Yajuj Majuj Retak?
operatorsekolah.id – Kisah mengenai tembok Yajuj Majuj retak telah menjadi salah satu pembahasan yang menarik perhatian umat Islam. Tembok tersebut disebut dalam Al-Qur’an sebagai penghalang yang dibangun oleh Zulqarnain untuk melindungi suatu kaum dari kerusakan Yajuj dan Majuj.
Pertanyaan mengenai kondisi tembok itu juga pernah muncul pada masa Kekhalifahan Abbasiyah. Sebuah catatan sejarah mengisahkan bahwa Khalifah Al-Watsiq Billah mengirim rombongan khusus untuk mencari dan memeriksa tembok Zulqarnain setelah mengalami sebuah mimpi.
Namun, apakah perjalanan tersebut benar-benar membuktikan bahwa tembok pemisah manusia dengan Yajuj dan Majuj telah retak? Kisah ini perlu dipahami dengan membedakan keterangan dalam Al-Qur’an dan hadis dari laporan perjalanan yang masih diperdebatkan secara sejarah.
Tembok Yajuj dan Majuj dalam Al-Qur’an
Kisah pembangunan tembok Yajuj dan Majuj terdapat dalam Surah Al-Kahf ayat 83–98. Dalam rangkaian ayat tersebut, Zulqarnain melakukan perjalanan hingga bertemu dengan suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan.
Kaum itu mengadukan kerusakan yang dilakukan oleh Yajuj dan Majuj. Mereka kemudian meminta Zulqarnain membangun sebuah penghalang agar Yajuj dan Majuj tidak dapat memasuki wilayah mereka.
Zulqarnain tidak meminta bayaran. Ia hanya meminta bantuan tenaga untuk mengumpulkan potongan-potongan besi. Besi tersebut disusun hingga menutupi celah di antara dua gunung, kemudian dituangi cairan tembaga.
Bangunan itu menjadi sangat kuat sehingga Yajuj dan Majuj tidak mampu memanjat ataupun melubanginya. Meskipun demikian, Zulqarnain tidak menyombongkan hasil pekerjaannya.
Ia mengatakan bahwa tembok tersebut merupakan rahmat dari Allah. Zulqarnain juga menjelaskan bahwa ketika waktu yang telah dijanjikan Allah tiba, tembok itu akan dihancurkan.
Allah berfirman dalam Surah Al-Kahf ayat 98:
“(Tembok) ini adalah rahmat dari Tuhanku. Apabila janji Tuhanku telah tiba, Dia akan menjadikannya hancur luluh. Janji Tuhanku itu benar.” [1]
Ayat tersebut menunjukkan bahwa tembok Zulqarnain tidak akan berdiri selamanya. Kehancurannya akan terjadi berdasarkan ketetapan dan janji Allah.
Hadis tentang Terbukanya Tembok Yajuj dan Majuj
Pembahasan mengenai tembok Yajuj Majuj retak juga berkaitan dengan hadis yang diriwayatkan dari Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, salah seorang istri Rasulullah saw.
Dalam hadis tersebut, Rasulullah saw. pernah datang dalam keadaan takut. Beliau memperingatkan bahwa keburukan telah mendekat dan menjelaskan bahwa pada hari itu telah terbuka bagian dari tembok Yajuj dan Majuj.
Rasulullah saw. menggambarkan ukuran bukaan tersebut dengan membentuk lingkaran menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya.
Zainab binti Jahsy kemudian bertanya apakah masyarakat dapat binasa meskipun di antara mereka masih terdapat orang-orang saleh. Rasulullah saw. menjawab bahwa hal itu dapat terjadi apabila keburukan telah merajalela. Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim. [2]
Hadis tersebut merupakan peringatan mengenai bahaya meluasnya kemungkaran. Akan tetapi, hadis itu tidak memberikan penjelasan mengenai lokasi tembok maupun kondisi fisiknya pada masa sekarang.
Mimpi Khalifah Al-Watsiq tentang Tembok Yajuj Majuj
Berabad-abad setelah masa Rasulullah saw., muncul sebuah kisah pada masa pemerintahan Khalifah Al-Watsiq Billah.
Al-Watsiq merupakan khalifah kesembilan Dinasti Abbasiyah. Ia memerintah pada tahun 842–847 Masehi dan menjalankan pemerintahannya dari Samarra. [3]
Menurut laporan yang dicatat oleh ahli geografi bernama Ibnu Khurradadzbih, Khalifah Al-Watsiq bermimpi bahwa tembok yang dibangun Zulqarnain telah terbuka.
Mimpi tersebut membuat sang khalifah ingin mengetahui keadaan tembok itu. Ia kemudian mencari seseorang yang memiliki kemampuan bahasa dan sanggup melakukan perjalanan jauh ke berbagai wilayah.
Orang yang dipilih adalah Sallam al-Tarjuman. Gelar “al-Tarjuman” menunjukkan bahwa Sallam dikenal sebagai seorang penerjemah yang menguasai sejumlah bahasa.
Khalifah Al-Watsiq memerintahkannya mencari lokasi tembok Zulqarnain, memeriksa keadaannya, dan membawa laporan setelah kembali ke Samarra.
Perjalanan Sallam al-Tarjuman Mencari Tembok Zulqarnain
Sallam al-Tarjuman berangkat bersama puluhan orang yang telah dipersiapkan oleh khalifah. Rombongan tersebut membawa perbekalan, hewan tunggangan, uang, dan surat pengantar untuk para penguasa yang wilayahnya akan mereka lewati.
Perjalanan dimulai dari Samarra. Rombongan kemudian melintasi sejumlah wilayah di sekitar Kaukasus, daerah kekuasaan bangsa Khazar, dan berbagai kawasan di Asia Tengah.
Perjalanan itu bukan perjalanan yang mudah. Mereka harus melintasi pegunungan, tanah tandus, permukiman yang jauh, serta wilayah dengan bahasa dan kekuasaan yang berbeda-beda.
Sebagian anggota rombongan dikabarkan jatuh sakit dan meninggal dalam perjalanan. Sebagian lainnya terpaksa ditinggalkan di sejumlah permukiman karena tidak mampu melanjutkan perjalanan.
Menurut laporan Sallam, setelah menempuh perjalanan panjang, rombongan tersebut akhirnya sampai di sebuah kawasan yang diyakini sebagai tempat berdirinya tembok Zulqarnain.
Gambaran Tembok yang Ditemukan Sallam
Laporan Sallam menggambarkan sebuah bangunan besar yang berada di antara dua gunung. Bangunan itu dilengkapi bagian yang menyerupai pintu berukuran sangat besar dan terbuat dari besi.
Sallam juga menceritakan bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar tempat tersebut telah memeluk Islam. Mereka mempunyai tempat ibadah dan mengenal bacaan Al-Qur’an.
Setelah melakukan pemeriksaan, Sallam mengambil atau mengikis sedikit bagian besi dari pintu tersebut untuk dibawa pulang sebagai bukti kepada Khalifah Al-Watsiq.
Catatan perjalanan menyebutkan bahwa rombongan membutuhkan waktu sekitar 16 bulan untuk mencapai lokasi penghalang tersebut. Perjalanan kembali menuju Samarra memerlukan waktu sekitar 12 bulan lebih beberapa hari. [4]
Setelah tiba di Samarra, Sallam menghadap Khalifah Al-Watsiq. Ia menyampaikan seluruh laporan perjalanan dan menunjukkan serpihan besi yang dibawanya.
Kisah tersebut kemudian dicatat oleh Ibnu Khurradadzbih dalam kitab geografi berjudul Kitab al-Masalik wa al-Mamalik, yang berarti Kitab Jalan-Jalan dan Kerajaan-Kerajaan.
Apakah Sallam Benar-Benar Menemukan Tembok Yajuj Majuj?
Laporan perjalanan Sallam al-Tarjuman menjadi salah satu catatan paling terkenal mengenai usaha pencarian tembok Zulqarnain.
Meskipun demikian, laporan tersebut tidak dapat secara otomatis dianggap sebagai bukti bahwa lokasi yang ditemukan Sallam benar-benar merupakan tembok Yajuj dan Majuj.
Lokasi perjalanan Sallam sampai sekarang masih diperdebatkan. Sejumlah nama tempat dalam naskah kuno juga sulit disesuaikan dengan nama wilayah pada peta modern.
Para peneliti sejarah mempunyai pandangan yang berbeda mengenai laporan tersebut. Ada yang menilainya sebagai perjalanan sejarah yang benar-benar dilakukan, sedangkan pihak lain mempertanyakan sejumlah bagian karena mengandung gambaran yang sulit diverifikasi.
Oleh karena itu, kisah Sallam sebaiknya dipahami sebagai laporan perjalanan yang tercatat dalam literatur geografi Islam abad pertengahan, bukan sebagai kepastian mengenai lokasi tembok Yajuj dan Majuj.
Benarkah Tembok Yajuj Majuj Retak?
Hadis sahih memang menjelaskan bahwa pada masa Rasulullah saw. telah terbuka sebagian dari penghalang Yajuj dan Majuj. Namun, hadis tersebut tidak menyebutkan bahwa Yajuj dan Majuj telah keluar sepenuhnya pada saat itu.
Laporan Sallam juga bermula dari mimpi Khalifah Al-Watsiq bahwa tembok tersebut telah terbuka. Akan tetapi, isi mimpi tidak dapat dijadikan bukti sejarah bahwa tembok itu benar-benar retak secara fisik.
Dalam laporan perjalanannya, Sallam mengaku menemukan bangunan besar yang diyakini sebagai penghalang Zulqarnain dan membawa sedikit bagian besinya kepada khalifah. Namun, laporan itu tidak cukup untuk memastikan bahwa bangunan tersebut benar-benar tembok Yajuj dan Majuj sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
Dengan demikian, tidak tepat menyatakan bahwa tembok Yajuj Majuj telah ditemukan dan terbukti retak hanya berdasarkan perjalanan Sallam al-Tarjuman.
Keluarnya Yajuj dan Majuj Berkaitan dengan Akhir Zaman
Dalam ajaran Islam, keluarnya Yajuj dan Majuj merupakan salah satu peristiwa besar yang berkaitan dengan akhir zaman.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa ketika janji Allah tiba, penghalang tersebut akan dihancurkan. Yajuj dan Majuj kemudian akan keluar dengan cepat dari berbagai tempat yang tinggi.
Waktu terjadinya peristiwa tersebut merupakan perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah. Umat Islam tidak seharusnya menetapkan lokasi, waktu, atau keadaan Yajuj dan Majuj tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Berbagai foto, video, ataupun kabar yang beredar di internet mengenai penemuan tembok Yajuj dan Majuj juga perlu diperiksa dengan hati-hati. Tidak semua bangunan kuno, benteng, atau tembok besar dapat langsung dihubungkan dengan Zulqarnain.
Kisah perjalanan Sallam al-Tarjuman tetap menarik sebagai bagian dari sejarah eksplorasi dan perkembangan ilmu geografi dalam peradaban Islam. Namun, keimanan terhadap keberadaan Yajuj dan Majuj bersumber dari Al-Qur’an dan hadis sahih, bukan bergantung pada berhasil atau tidaknya manusia menemukan lokasi tembok tersebut.
Janji Allah mengenai kehancuran tembok Zulqarnain adalah benar. Kapan dan bagaimana peristiwa itu terjadi sepenuhnya berada dalam pengetahuan dan kekuasaan Allah Swt.












