Bacaan Niat dan Doa Shalat Istisqa Meminta Hujan

Bacaan Niat dan Doa Shalat Istisqa Meminta Hujan
Bacaan Niat dan Doa Shalat Istisqa Meminta Hujan

Bacaan Niat dan Doa Shalat Istisqa Meminta Hujan

Shalat Istisqa merupakan shalat sunnah yang dilaksanakan untuk memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menurunkan hujan ketika suatu wilayah mengalami kekeringan, kekurangan air, atau hujan tidak turun dalam waktu lama.

Kata istisqa berasal dari bahasa Arab yang berarti meminta air atau memohon turunnya hujan. Permohonan tersebut bukan hanya dilakukan melalui shalat dua rakaat, tetapi juga disertai istigfar, pertobatan, khutbah, zikir, sedekah, dan doa kepada Allah.

Bacaan Niat dan Doa Shalat Istisqa Meminta Hujan
Bacaan Niat dan Doa Shalat Istisqa Meminta Hujan

Dalam Kitab Al-Umm Juz 1, Imam Syafi’i membahas shalat Istisqa secara khusus setelah pembahasan shalat gerhana. Beliau menjelaskan tempat pelaksanaan, waktu, tata cara shalat, khutbah, doa, memperbanyak istigfar, mengangkat tangan, dan membalik selendang ketika berdoa.

Pengertian Shalat Istisqa

Shalat Istisqa adalah shalat sunnah dua rakaat yang dikerjakan untuk memohon hujan kepada Allah. Shalat tersebut biasanya dilakukan ketika masyarakat mengalami kekeringan, sumur dan sumber air berkurang, tanaman terancam gagal tumbuh, serta manusia dan hewan mengalami kesulitan mendapatkan air.

Pelaksanaan shalat Istisqa merupakan bentuk pengakuan bahwa hanya Allah yang berkuasa menurunkan hujan. Manusia dapat melakukan berbagai usaha untuk menyediakan air, tetapi keputusan mengenai turunnya hujan tetap berada dalam kekuasaan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dialah Yang Maha Melindungi lagi Maha Terpuji.”

QS. Asy-Syura ayat 28.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa turunnya hujan merupakan bagian dari rahmat Allah. Ketika manusia menghadapi kekeringan, mereka diperintahkan kembali kepada Allah dengan berdoa, bertobat, dan memperbaiki amal.

Dalil Shalat Istisqa dari Hadis

Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju tanah lapang untuk meminta hujan. Beliau menghadap kiblat, membalik selendangnya, kemudian melaksanakan shalat dua rakaat.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim. Riwayat Abdullah bin Zaid juga dicantumkan oleh Imam Syafi’i dalam pembahasan shalat Istisqa di Kitab Al-Umm.

Imam Syafi’i menerangkan bahwa Rasulullah pergi ke tanah lapang untuk beristisqa, menghadap kiblat, membalik selendang, dan mengerjakan dua rakaat. Berdasarkan riwayat tersebut, beliau menganjurkan shalat Istisqa dilaksanakan di tempat luas sebagaimana tempat pelaksanaan shalat Id.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan bahwa seorang laki-laki memasuki masjid pada hari Jumat ketika Rasulullah sedang berkhutbah. Laki-laki itu mengadukan bahwa harta benda telah rusak dan jalan-jalan terputus akibat kekeringan. Ia meminta Rasulullah berdoa kepada Allah agar menurunkan hujan.

Rasulullah kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa:

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

Allāhumma aghitsnā, Allāhumma aghitsnā, Allāhumma aghitsnā.

Artinya:

“Ya Allah, turunkanlah pertolongan berupa hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah pertolongan berupa hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah pertolongan berupa hujan kepada kami.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Anas bin Malik.

Hukum Melaksanakan Shalat Istisqa

Shalat Istisqa merupakan shalat sunnah yang dianjurkan ketika masyarakat membutuhkan hujan. Pelaksanaannya dapat dipimpin oleh imam, pemimpin daerah, tokoh agama, atau orang yang dipercaya masyarakat.

Shalat ini lebih utama dilakukan secara berjamaah. Akan tetapi, seseorang juga dapat melaksanakan shalat dan berdoa memohon hujan secara pribadi.

Dalam Kitab Al-Umm dijelaskan bahwa shalat Istisqa dapat dilakukan di tanah lapang, masjid, maupun tempat lain. Imam Syafi’i lebih menyukai tanah lapang yang luas agar dapat menampung masyarakat dalam jumlah banyak.

Niat Shalat Istisqa yang Benar

Niat shalat Istisqa berada di dalam hati. Seseorang harus menyadari bahwa ia sedang melaksanakan shalat sunnah Istisqa dua rakaat karena Allah Ta’ala.

Tidak terdapat hadis sahih yang menetapkan satu susunan lafaz niat tertentu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, lafaz niat bukan bagian yang wajib dibaca dengan lisan.

Melafalkan niat diperbolehkan sebagai sarana membantu hati menghadirkan maksud ibadah. Sah atau tidaknya shalat tidak ditentukan oleh kemampuan seseorang mengucapkan lafaz niat, tetapi oleh niat yang hadir di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram.

Bacaan Niat Shalat Istisqa Sendiri

أُصَلِّي سُنَّةَ صَلَاةِ الاِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushallī sunnata shalātil-istisqā’i rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

“Saya berniat melaksanakan shalat sunnah Istisqa dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

Bacaan Niat Shalat Istisqa sebagai Imam

أُصَلِّي سُنَّةَ صَلَاةِ الاِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushallī sunnata shalātil-istisqā’i rak‘ataini imāman lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

“Saya berniat melaksanakan shalat sunnah Istisqa dua rakaat sebagai imam karena Allah Ta’ala.”

Bacaan Niat Shalat Istisqa sebagai Makmum

أُصَلِّي سُنَّةَ صَلَاةِ الاِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُومًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushallī sunnata shalātil-istisqā’i rak‘ataini ma’mūman lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

“Saya berniat melaksanakan shalat sunnah Istisqa dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”

Kata imāman dan ma’mūman dalam lafaz tersebut tidak wajib diucapkan. Imam dan makmum cukup mengetahui kedudukannya ketika memasuki shalat.

Tata Cara Shalat Istisqa Menurut Imam Syafi’i

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa tata cara shalat Istisqa menyerupai shalat Id. Shalat dikerjakan sebanyak dua rakaat, dilaksanakan sebelum khutbah, dan bacaannya dikeraskan oleh imam.

Pada rakaat pertama, imam melakukan tujuh kali takbir tambahan sebelum membaca Al-Fatihah. Pada rakaat kedua, imam melakukan lima kali takbir tambahan sebelum membaca Al-Fatihah.

Kedua tangan diangkat pada setiap takbir tambahan. Setelah selesai bertakbir, imam membaca Al-Fatihah dan surah Al-Qur’an dengan suara keras.

Imam Syafi’i menyatakan bahwa shalat Istisqa dikerjakan dua rakaat dan tidak berbeda dari tata cara shalat Id. Apabila imam tidak mengeraskan bacaan atau meninggalkan takbir tambahan, shalatnya tetap sah dan tidak perlu diulang.

Rakaat Pertama

Urutan rakaat pertama adalah sebagai berikut:

  1. Menghadirkan niat di dalam hati.
  2. Melakukan takbiratul ihram.
  3. Membaca doa iftitah.
  4. Melakukan tujuh kali takbir tambahan.
  5. Membaca taawuz.
  6. Membaca Surah Al-Fatihah.
  7. Membaca surah Al-Qur’an.
  8. Rukuk.
  9. Iktidal.
  10. Melaksanakan dua kali sujud.

Surah yang dibaca setelah Al-Fatihah dapat berupa Surah Qaf, Al-A’la, atau surah lain yang dikuasai.

Rakaat Kedua

Setelah berdiri dari sujud rakaat pertama, imam melakukan lima kali takbir tambahan. Setelah itu, imam membaca Al-Fatihah dan surah lainnya.

Shalat kemudian dilanjutkan dengan rukuk, iktidal, dua kali sujud, tasyahud akhir, membaca shalawat, dan salam.

Membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat merupakan bagian yang harus diperhatikan. Imam Syafi’i menegaskan bahwa apabila seseorang meninggalkan Al-Fatihah pada salah satu rakaat, rakaat tersebut tidak dihitung secara sempurna.

Bacaan Doa Shalat Istisqa yang Singkat

Doa paling singkat untuk memohon hujan adalah:

اللَّهُمَّ اسْقِنَا

Allāhumma اسqinā.

Artinya:

“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”

Imam Syafi’i mencantumkan riwayat dari Anas bin Malik bahwa ketika Nabi meminta hujan, beliau berdoa dengan permohonan agar Allah menurunkan hujan kepada mereka.

Doa singkat lainnya adalah:

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

Allāhumma aghitsnā.

Artinya:

“Ya Allah, berilah kami pertolongan dengan menurunkan hujan.”

Doa tersebut dapat diulang sebanyak tiga kali sebagaimana doa Rasulullah yang diriwayatkan dari Anas bin Malik.

Doa Memohon Hujan yang Bermanfaat

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ

Allāhumma اسqinā ghaitsan mughītsan marī’an marī‘an nāfi‘an ghaira dhārrin, ‘ājilan ghaira ājil.

Artinya:

“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, menyegarkan, menyuburkan, bermanfaat, tidak membahayakan, segera, dan tidak ditunda.”

Doa tersebut diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu dan dicantumkan dalam Sunan Abu Dawud.

Permohonan dalam doa ini bukan hanya meminta turunnya air. Seorang muslim juga memohon agar hujan tersebut membawa manfaat, menyuburkan tanah, mencukupi kebutuhan manusia dan hewan, serta tidak berubah menjadi bencana.

Doa untuk Manusia, Hewan, dan Tanah yang Kekeringan

اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ

Allāhumma اسqi ‘ibādaka wa bahā’imaka, wansyur rahmataka, wa ahyi baladakal-mayyit.

Artinya:

“Ya Allah, berilah minum hamba-hamba-Mu dan hewan-hewan ternak-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu, serta hidupkanlah negeri-Mu yang mati.”

Doa tersebut diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud dari Abdullah bin Amr melalui jalur Amr bin Syu’aib dari ayahnya dan dari kakeknya.

Ungkapan “hidupkanlah negeri-Mu yang mati” mengandung permohonan agar tanah yang kering kembali subur, tanaman dapat tumbuh, sumber air kembali terisi, dan kehidupan masyarakat pulih.

Doa Istisqa yang Dianjurkan Imam Syafi’i

Dalam Kitab Al-Umm, Imam Syafi’i mencantumkan doa panjang yang berisi permohonan hujan, kesuburan tanah, kecukupan susu hewan ternak, keberkahan langit dan bumi, serta perlindungan dari kelaparan dan kesulitan.

Isi doa tersebut dapat dibaca dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:

“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menyuburkan, menyegarkan, bermanfaat, lebat, merata, melimpah, dan terus-menerus. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.”

Doa tersebut dilanjutkan:

“Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu, negeri-negeri, hewan ternak, dan makhluk-Mu sedang mengalami kesulitan, kesusahan, dan penderitaan yang tidak kami adukan kecuali kepada-Mu.”

Kemudian memohon:

“Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman bagi kami, cukupkanlah susu hewan ternak kami, turunkanlah kepada kami keberkahan dari langit, dan tumbuhkanlah bagi kami keberkahan dari bumi.”

Pada bagian akhirnya, seseorang memohon:

“Ya Allah, hilangkanlah dari kami kesulitan, kelaparan, dan kekurangan. Singkirkanlah dari kami bencana yang tidak dapat disingkirkan selain oleh-Mu. Ya Allah, kami memohon ampun kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun. Maka turunkanlah hujan yang deras kepada kami.”

Imam Syafi’i menyukai apabila imam membaca doa tersebut dalam khutbah Istisqa. Beliau juga menekankan agar doa didominasi oleh istigfar dan permohonan ampun kepada Allah.

Doa Istisqa dalam Khutbah

Imam Syafi’i menganjurkan imam berdoa dalam khutbah dengan memulai dari pengakuan bahwa Allah telah memerintahkan manusia berdoa dan berjanji mengabulkan doa.

Isi permohonannya dapat disusun sebagai berikut:

“Ya Allah, Engkau telah memerintahkan kami berdoa kepada-Mu dan Engkau telah menjanjikan pengabulannya. Kami telah berdoa sebagaimana Engkau perintahkan. Maka kabulkanlah doa kami sebagaimana janji-Mu.”

Doa tersebut dilanjutkan dengan permohonan ampun:

“Ya Allah, apabila pengabulan doa diberikan kepada orang-orang yang taat, sedangkan kami telah melakukan berbagai kesalahan, maka ampunilah kesalahan kami. Kabulkanlah permohonan kami dengan menurunkan hujan dan melapangkan rezeki.”

Setelah itu, imam dapat menambahkan doa untuk kebaikan agama, kehidupan masyarakat, keselamatan negeri, tanaman, hewan ternak, dan kebutuhan dunia serta akhirat.

Kitab Al-Umm menjelaskan bahwa doa dalam khutbah Istisqa hendaknya dimulai, diselingi, dan diakhiri dengan istigfar. Imam juga mengajak masyarakat bertobat, menaati Allah, dan memperbaiki hubungan antarsesama.

Istigfar sebagai Bacaan Utama Saat Meminta Hujan

Istigfar memiliki kedudukan penting dalam pelaksanaan Istisqa. Hal tersebut didasarkan pada firman Allah mengenai dakwah Nabi Nuh kepada kaumnya:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

Faqultustaghfirū rabbakum innahū kāna ghaffārā, yursilis-samā’a ‘alaikum midrārā.

Artinya:

“Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.’”

QS. Nuh ayat 10–11.

Bacaan istigfar yang dapat diperbanyak adalah:

أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Astaghfirullāhal-‘azhīma wa atūbu ilaih.

Artinya:

“Saya memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung dan bertobat kepada-Nya.”

Bacaan lain yang dapat digunakan adalah:

أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ رَبِّي مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Astaghfirullāha rabbī min kulli dzanbin wa atūbu ilaih.

Artinya:

“Saya memohon ampun kepada Allah, Tuhanku, dari setiap dosa dan saya bertobat kepada-Nya.”

Dalam Kitab Al-Umm disebutkan riwayat bahwa ketika Umar bin Khattab meminta hujan, sebagian besar doanya berisi istigfar. Imam Syafi’i juga menganjurkan agar istigfar menjadi bagian terbesar dari khutbah dan doa Istisqa.

Mengangkat Kedua Tangan Ketika Berdoa

Ketika berdoa meminta hujan, imam dan jamaah dianjurkan mengangkat kedua tangan. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah mengangkat kedua tangannya tinggi ketika berdoa meminta hujan.

Dalam riwayat Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah mengangkat kedua tangannya ketika Istisqa hingga terlihat bagian putih ketiak beliau.

Imam Syafi’i juga mencantumkan keterangan bahwa Rasulullah mengangkat kedua tangan saat berdoa dalam Istisqa. Karena itu, mengangkat tangan menjadi salah satu sunnah yang dianjurkan ketika memohon hujan.

Mengangkat tangan menunjukkan kerendahan diri, kebutuhan, dan kesungguhan seorang hamba dalam memohon pertolongan Allah.

Menghadap Kiblat dan Membalik Selendang

Pada bagian akhir khutbah, imam dianjurkan menghadap kiblat dan membalik selendang atau kain luarnya. Jamaah juga dapat mengikuti tindakan imam.

Imam Syafi’i menerangkan bahwa bagian selendang yang semula berada di pundak kanan dipindahkan ke pundak kiri, sedangkan bagian yang berada di pundak kiri dipindahkan ke pundak kanan.

Apabila selendang tersebut berat dan sulit dibalik bagian atas serta bawahnya, cukup memindahkan sisi kanan ke kiri dan sisi kiri ke kanan sebagaimana praktik Rasulullah.

Membalik selendang menjadi simbol harapan agar Allah mengubah keadaan dari kekeringan menjadi kesuburan, dari kesulitan menjadi kemudahan, dan dari kekurangan air menjadi kecukupan.

Kitab Al-Umm meriwayatkan bahwa Rasulullah meminta hujan dengan mengenakan selendang. Beliau bermaksud menjadikan bagian bawah selendang berada di atas, tetapi karena selendang itu berat, beliau membalikkannya pada kedua pundaknya.

Doa Apabila Hujan Turun Terlalu Lebat

Apabila hujan yang dimohon telah turun dengan sangat lebat dan dikhawatirkan menimbulkan banjir atau kerusakan, umat Islam dapat membaca doa:

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Allāhumma hawālainā wa lā ‘alainā. Allāhumma ‘alal-ākāmi waz-zhirābi wa buthūnil-audiyati wa manābitisy-syajar.

Artinya:

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan jangan membahayakan kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di bukit-bukit, dataran tinggi, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Anas bin Malik.

Doa ini tidak bermakna menolak rahmat Allah. Permohonannya adalah agar hujan dialihkan ke tempat yang membutuhkan dan tidak menyebabkan kerusakan pada rumah, jalan, sawah, atau keselamatan manusia.

Bacaan Ketika Hujan Mulai Turun

Ketika hujan mulai turun, disunnahkan membaca:

اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

Allāhumma shayyiban nāfi‘ā.

Artinya:

“Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai hujan yang bermanfaat.”

Doa tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Setelah hujan turun, seorang muslim juga dapat membaca:

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللّٰهِ وَرَحْمَتِهِ

Muthirnā bifadhlillāhi wa rahmatih.

Artinya:

“Kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah.”

Rasulullah mengajarkan agar hujan dinisbatkan kepada karunia dan rahmat Allah, bukan kepada bintang, ramalan, atau kekuatan makhluk tertentu. Hadis tersebut diriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al-Juhani dan dicantumkan Imam Syafi’i dalam Kitab Al-Umm.

Waktu Membaca Doa Istisqa

Doa meminta hujan dapat dibaca dalam beberapa keadaan, antara lain sebelum pelaksanaan shalat, dalam khutbah Istisqa, setelah shalat, ketika imam menghadap kiblat, atau pada waktu masyarakat berkumpul untuk berdoa.

Dalam tata cara yang dijelaskan Imam Syafi’i, imam memulai dengan shalat dua rakaat. Setelah shalat selesai, imam menyampaikan dua khutbah.

Pada khutbah kedua, imam menghadap kiblat, membalik selendang, mengangkat tangan, dan berdoa. Jamaah mengikuti dengan berdoa dan mengangkat tangan.

Selain dalam pelaksanaan shalat Istisqa, doa meminta hujan juga dapat dibaca ketika khutbah Jumat. Hal ini pernah dilakukan Rasulullah ketika seorang sahabat mengadukan kekeringan di hadapan beliau.

Referensi Al-Qur’an, Hadis, dan Kitab

  1. Imam Syafi’i, Al-Umm Juz 1, Kitab Istisqa, pembahasan tata cara shalat, khutbah, doa, istigfar, dan membalik selendang.
  2. QS. Asy-Syura ayat 28 tentang Allah menurunkan hujan setelah manusia berputus asa.
  3. QS. Nuh ayat 10–12 tentang perintah beristigfar dan janji diturunkannya hujan yang lebat.
  4. Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, hadis Abdullah bin Zaid tentang Rasulullah keluar menuju tanah lapang, menghadap kiblat, membalik selendang, dan mengerjakan dua rakaat.
  5. Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, hadis Anas bin Malik mengenai doa Rasulullah, “Allahumma aghitsna,” ketika memohon hujan.
  6. Sunan Abu Dawud, hadis Jabir bin Abdullah mengenai doa memohon hujan yang bermanfaat dan tidak membahayakan.
  7. Sunan Abu Dawud, riwayat tentang doa, “Ya Allah, berilah minum hamba-hamba-Mu dan hewan-hewan ternak-Mu, sebarkan rahmat-Mu, dan hidupkan negeri-Mu yang mati.”
  8. Shahih Al-Bukhari, hadis Aisyah mengenai bacaan “Allahumma shayyiban nafi‘a” ketika hujan turun.
  9. Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, hadis Anas bin Malik mengenai doa agar hujan turun di sekitar permukiman dan tidak menyebabkan kerusakan.
  10. Kitab Al-Umm Juz 1, penjelasan Imam Syafi’i bahwa imam memperbanyak istigfar dalam khutbah, membaca QS. Nuh ayat 10–11, mengangkat tangan, menghadap kiblat, dan memohon hujan serta kelapangan rezeki.