Wahdaniyah Allah: Pengertian dan Dalil Ke-Esa-an Allah

Wahdaniyah Allah: Pengertian dan Dalil Ke-Esa-an Allah
Wahdaniyah Allah: Pengertian dan Dalil Ke-Esa-an Allah

Wahdaniyah Allah: Pengertian dan Dalil Ke-Esa-an Allah

Wahdaniyah merupakan salah satu dari 20 sifat wajib bagi Allah Swt. Sifat ini menegaskan bahwa Allah Maha Esa dan tidak memiliki sekutu, tandingan, maupun sesuatu yang menyerupai-Nya. Allah satu dalam zat-Nya, sifat-sifat-Nya, serta seluruh perbuatan-Nya.

Memahami sifat wahdaniyah sangat penting karena menjadi dasar keyakinan tauhid seorang Muslim. Keimanan kepada Allah tidak hanya diwujudkan dengan mengakui keberadaan-Nya, tetapi juga dengan meyakini bahwa hanya Allah yang berhak disembah, dimintai pertolongan, dan menjadi tempat bergantung seluruh makhluk.

Dalam kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah karya Bashri Al-Marghubi dijelaskan bahwa wahdaniyah berarti Allah adalah Zat Yang Maha Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam zat, sifat, maupun perbuatan-Nya.

Pengertian Wahdaniyah Allah

Secara bahasa, wahdaniyah berasal dari kata Arab yang bermakna satu atau esa. Dalam ilmu akidah, wahdaniyah berarti keyakinan bahwa Allah Swt. tidak berbilang dan tidak memiliki sekutu dalam bentuk apa pun.

Allah tidak terdiri dari beberapa bagian sebagaimana benda-benda ciptaan. Allah juga tidak memiliki sifat yang dimiliki secara mandiri oleh pihak lain dengan kesempurnaan yang sama seperti sifat-Nya.

Sifat wahdaniyah mencakup tiga pengertian utama, yaitu:

  1. Allah Maha Esa dalam zat-Nya.
  2. Allah Maha Esa dalam sifat-sifat-Nya.
  3. Allah Maha Esa dalam perbuatan-Nya.

Ketiga bagian tersebut tidak dapat dipisahkan. Seorang Muslim harus meyakini semuanya agar memiliki pemahaman tauhid yang benar.

Wahdaniyah dalam Zat Allah

Wahdaniyah dalam zat berarti Allah adalah satu dan tidak memiliki bagian-bagian. Allah bukan susunan dari beberapa unsur sebagaimana manusia, hewan, tumbuhan, atau benda-benda lainnya.

Manusia memiliki anggota tubuh, seperti kepala, tangan, kaki, dan berbagai bagian lainnya. Sebaliknya, Allah tidak tersusun dari bagian-bagian karena segala sesuatu yang tersusun membutuhkan pihak yang menyusunnya.

Allah juga tidak memiliki pasangan, anak, orang tua, atau sekutu. Tidak ada zat lain yang sama atau sebanding dengan zat Allah.

Ke-Esa-an Allah tidak dapat disamakan dengan angka satu dalam hitungan manusia. Angka satu masih dapat ditambah menjadi dua, tiga, dan seterusnya. Sementara itu, ke-Esa-an Allah bersifat mutlak. Tidak mungkin ada Tuhan kedua yang setara dengan-Nya.

Oleh karena itu, ketika umat Islam menyatakan Allah Maha Esa, maksudnya bukan sekadar Allah berjumlah satu. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Allah tidak memiliki tandingan dan tidak dapat dibandingkan dengan makhluk apa pun.

Wahdaniyah dalam Sifat Allah

Wahdaniyah dalam sifat berarti tidak ada satu pun makhluk yang mempunyai sifat kesempurnaan seperti sifat Allah.

Allah memiliki sifat mengetahui, berkuasa, berkehendak, hidup, mendengar, melihat, dan berfirman. Manusia juga dapat mengetahui, mendengar, dan melihat. Namun, sifat manusia sangat terbatas dan tidak dapat disamakan dengan sifat Allah.

Pengetahuan manusia diperoleh melalui belajar, pengalaman, membaca, atau mendengar informasi dari pihak lain. Pengetahuan manusia juga dapat berkurang karena lupa atau hilang karena suatu keadaan.

Sebaliknya, ilmu Allah tidak didahului oleh ketidaktahuan. Allah mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.

Demikian pula dengan kekuasaan Allah. Kemampuan manusia dibatasi oleh kekuatan fisik, usia, waktu, tempat, dan berbagai keadaan. Kekuasaan Allah tidak dibatasi oleh faktor apa pun.

Dengan demikian, kemiripan istilah tidak menunjukkan kesamaan hakikat. Allah mendengar dan manusia juga mendengar, tetapi pendengaran manusia tidak sama dengan pendengaran Allah. Allah melihat dan manusia juga melihat, tetapi penglihatan manusia tidak sama dengan penglihatan Allah.

Wahdaniyah dalam Perbuatan Allah

Wahdaniyah dalam perbuatan berarti hanya Allah yang menciptakan, mengatur, menghidupkan, mematikan, memberikan rezeki, dan menentukan segala sesuatu.

Seluruh kejadian di alam semesta berlangsung dengan kekuasaan dan kehendak Allah. Tidak ada makhluk yang mampu menciptakan sesuatu secara mandiri di luar kekuasaan-Nya.

Manusia memang dapat membuat berbagai benda, seperti rumah, kendaraan, pakaian, dan peralatan. Namun, manusia tidak menciptakan bahan-bahan dasarnya dari ketiadaan. Manusia hanya mengolah sesuatu yang telah diciptakan Allah.

Seorang petani dapat menanam benih, menyiram tanaman, dan memberikan pupuk. Akan tetapi, petani tidak memiliki kekuasaan mutlak untuk menjadikan benih tumbuh. Pertumbuhan tanaman tetap terjadi atas kehendak Allah.

Dokter dapat memberikan pengobatan kepada pasien, tetapi dokter tidak memiliki kekuasaan mutlak untuk memberikan kesembuhan. Obat dan perawatan merupakan bagian dari ikhtiar, sedangkan kesembuhan terjadi atas izin Allah.

Pemahaman ini tidak berarti manusia boleh meninggalkan usaha. Islam tetap mengajarkan manusia untuk bekerja, belajar, berobat, dan melakukan ikhtiar terbaik. Namun, manusia harus menyadari bahwa hasil akhirnya berada dalam ketentuan Allah.

Dalil Wahdaniyah dalam Al-Qur’an

Salah satu dalil sifat wahdaniyah yang disebutkan dalam Al-Aqidah Al-Islamiyah adalah Surah Al-Anbiya ayat 22. Ayat tersebut menjelaskan bahwa seandainya di langit dan bumi terdapat tuhan-tuhan selain Allah, keduanya akan mengalami kerusakan.

Allah Swt. berfirman:

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rusak.”

Ayat ini menunjukkan bahwa keteraturan alam semesta menjadi salah satu tanda ke-Esa-an Allah. Langit, bumi, pergantian siang dan malam, peredaran benda langit, kehidupan makhluk, serta berbagai hukum alam berjalan dalam keteraturan.

Apabila terdapat lebih dari satu Tuhan yang memiliki kekuasaan mutlak, dapat dibayangkan akan terjadi perbedaan kehendak. Tuhan yang satu mungkin menghendaki suatu peristiwa, sedangkan yang lain menghendaki kebalikannya.

Apabila kehendak salah satunya gagal, berarti pihak tersebut tidak memiliki kekuasaan sempurna. Jika keduanya gagal, berarti keduanya lemah. Jika salah satunya menang, hanya pihak yang menang itulah yang memiliki kekuasaan.

Oleh karena itu, keberadaan lebih dari satu Tuhan dengan kekuasaan mutlak merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Alam semesta yang teratur menunjukkan bahwa penguasa dan penciptanya adalah Allah Yang Maha Esa.

Dalil Wahdaniyah dalam Surah Al-Baqarah

Dalil lain yang disebutkan dalam sumber yang sama adalah Surah Al-Baqarah ayat 163. Ayat ini menegaskan secara langsung bahwa Tuhan manusia adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Allah Swt. berfirman:

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Tidak ada makhluk, benda, kekuatan alam, tokoh, atau penguasa yang memiliki hak untuk diperlakukan sebagai Tuhan.

Manusia boleh menghormati orang lain, mencintai keluarga, menaati pemimpin dalam kebaikan, serta menggunakan berbagai sarana untuk memenuhi kebutuhannya. Namun, ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah.

Dalil Akal tentang Ke-Esa-an Allah

Selain berdasarkan ayat Al-Qur’an, sifat wahdaniyah juga dapat dipahami melalui pertimbangan akal.

Alam semesta menunjukkan keteraturan yang sangat luas. Siang dan malam berganti, benda-benda langit bergerak dalam ketentuan tertentu, makhluk hidup berkembang, serta berbagai unsur alam saling mendukung kehidupan.

Keteraturan tersebut tidak menunjukkan adanya beberapa penguasa mutlak yang saling bersaing. Sebaliknya, keteraturan alam menunjukkan adanya satu kehendak dan kekuasaan tertinggi yang mengaturnya.

Kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah menerangkan bahwa apabila Allah memiliki sekutu, dapat terjadi perselisihan di antara keduanya sehingga alam mengalami kehancuran. Apabila masing-masing mempunyai bagian pekerjaan yang berbeda, hal itu menunjukkan bahwa setiap pihak memiliki keterbatasan terhadap pekerjaan pihak lainnya. Keterbatasan dan kelemahan mustahil dimiliki Allah.

Dalil akal tersebut dikenal sebagai penjelasan mengenai ketidakmungkinan adanya dua penguasa mutlak. Dua kekuasaan yang sama-sama mutlak tidak mungkin berjalan bersamaan apabila kehendaknya bertentangan.

Hubungan Wahdaniyah dengan Tauhid

Sifat wahdaniyah berhubungan erat dengan tauhid. Tauhid berarti mengesakan Allah dan menolak segala bentuk penyekutuan terhadap-Nya.

Pengamalan tauhid dapat dipahami melalui beberapa bentuk berikut.

Mengesakan Allah sebagai Pencipta

Seorang Muslim meyakini bahwa Allah adalah pencipta seluruh alam semesta. Tidak ada satu pun makhluk yang menciptakan dirinya sendiri.

Manusia, malaikat, jin, hewan, tumbuhan, langit, bumi, dan seluruh benda merupakan ciptaan Allah. Semua makhluk bergantung kepada-Nya, sedangkan Allah tidak bergantung kepada siapa pun.

Mengesakan Allah dalam Ibadah

Ibadah hanya ditujukan kepada Allah. Shalat, doa, puasa, tawakal, pengharapan, rasa takut yang bersifat ibadah, dan penghambaan harus dilakukan karena Allah.

Tidak dibenarkan memberikan bentuk ibadah kepada selain Allah. Memohon sesuatu yang hanya dapat dilakukan Allah juga harus ditujukan kepada-Nya.

Mengesakan Allah dalam Nama dan Sifat-Nya

Allah memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang sempurna. Nama dan sifat tersebut harus diyakini sesuai dengan kebesaran Allah tanpa menyamakannya dengan sifat makhluk.

Manusia tidak boleh menggambarkan Allah berdasarkan bentuk atau keadaan makhluk. Allah tidak menyerupai sesuatu, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menyamai-Nya.

Perbedaan Wahdaniyah dan Wujud

Wujud dan wahdaniyah sama-sama termasuk sifat wajib bagi Allah, tetapi keduanya mempunyai makna berbeda.

Wujud berarti Allah pasti ada. Keberadaan alam semesta menjadi salah satu bukti adanya pencipta.

Sementara itu, wahdaniyah berarti Allah yang ada tersebut adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dia tidak memiliki sekutu dalam zat, sifat, maupun perbuatan.

Dengan demikian, wujud menjelaskan kepastian keberadaan Allah, sedangkan wahdaniyah menjelaskan ke-Esa-an-Nya.

Lawan dari Sifat Wahdaniyah

Lawan dari wahdaniyah adalah ta’addud, yaitu berbilang atau lebih dari satu. Ta’addud termasuk sifat mustahil bagi Allah.

Mustahil Allah berjumlah lebih dari satu karena hal tersebut akan menunjukkan adanya persaingan, perbedaan kehendak, pembagian kekuasaan, atau keterbatasan.

Apabila kekuasaan harus dibagi, berarti setiap pihak tidak memiliki kekuasaan mutlak. Apabila salah satu lebih kuat, pihak yang lebih lemah tidak dapat disebut Tuhan. Apabila semuanya lemah, tidak ada satu pun yang layak disebut Tuhan.

Oleh sebab itu, keyakinan bahwa Allah Maha Esa merupakan kesimpulan yang sesuai dengan dalil agama dan pertimbangan akal.

Contoh Penerapan Iman kepada Wahdaniyah

Keimanan kepada sifat wahdaniyah harus terlihat dalam sikap dan kehidupan sehari-hari.

1. Hanya beribadah kepada Allah

Seorang Muslim melaksanakan shalat, berdoa, berpuasa, dan melakukan amal ibadah hanya untuk mencari keridaan Allah.

Ibadah tidak dilakukan untuk memperoleh pujian manusia atau menunjukkan bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain.

2. Tidak menyekutukan Allah

Meyakini wahdaniyah berarti menjauhi segala bentuk kemusyrikan. Seorang Muslim tidak boleh meyakini adanya makhluk yang memiliki kekuasaan mutlak seperti Allah.

Makhluk hanya dapat melakukan sesuatu apabila Allah mengizinkannya.

3. Menggantungkan harapan kepada Allah

Manusia boleh meminta bantuan kepada sesama dalam perkara yang mampu dilakukan manusia. Namun, hati tetap bergantung kepada Allah sebagai pemilik pertolongan yang sebenarnya.

Ketika berobat, seseorang meminta bantuan dokter, tetapi meyakini bahwa Allah yang memberikan kesembuhan. Ketika bekerja, seseorang menggunakan kemampuan dan kesempatan, tetapi meyakini bahwa rezeki berasal dari Allah.

4. Tidak menyombongkan diri

Keimanan kepada wahdaniyah mengingatkan bahwa seluruh kemampuan manusia merupakan pemberian Allah.

Kecerdasan, kekayaan, jabatan, kesehatan, dan keberhasilan tidak layak menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.

5. Bersabar menghadapi ujian

Allah adalah satu-satunya penguasa yang menentukan seluruh kejadian. Keyakinan tersebut membantu seorang Muslim menghadapi ujian dengan sabar.

Kesabaran bukan berarti pasrah tanpa usaha. Seorang Muslim tetap mencari jalan keluar sambil meyakini bahwa keputusan terakhir berada dalam kehendak Allah.

6. Bersyukur atas nikmat

Setiap nikmat berasal dari Allah, meskipun disampaikan melalui perantaraan manusia.

Karena itu, seorang Muslim berterima kasih kepada orang yang membantunya sekaligus menyadari bahwa Allah merupakan sumber seluruh nikmat.

Hikmah Mempelajari Sifat Wahdaniyah

Mempelajari sifat wahdaniyah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan seorang Muslim.

Pertama, wahdaniyah memperkuat keyakinan bahwa hanya Allah yang layak disembah. Keyakinan ini melindungi manusia dari penghambaan kepada benda, kekuasaan, harta, maupun makhluk lainnya.

Kedua, wahdaniyah menumbuhkan ketenangan hati. Seorang Muslim tidak perlu meyakini adanya beberapa kekuatan mutlak yang saling berebut mengendalikan kehidupannya. Seluruh kejadian berada dalam kekuasaan Allah Yang Maha Esa.

Ketiga, wahdaniyah mengajarkan kerendahan hati. Manusia menyadari bahwa kemampuan dan keberhasilannya tidak terlepas dari pertolongan Allah.

Keempat, wahdaniyah menumbuhkan keberanian dalam kebenaran. Seseorang yang hanya takut dan bergantung kepada Allah tidak mudah tunduk kepada tekanan manusia dalam perkara yang bertentangan dengan ajaran agama.

Kelima, wahdaniyah mendorong keikhlasan. Amal kebaikan dilakukan untuk memperoleh rida Allah, bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian dan pengakuan orang lain.

Cara Mengajarkan Wahdaniyah kepada Anak

Penjelasan tentang wahdaniyah dapat dimulai dengan bahasa sederhana. Anak dapat diperkenalkan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang menciptakan dan mengatur seluruh alam.

Orang tua dan guru dapat menunjukkan berbagai ciptaan Allah, seperti langit, matahari, hujan, tumbuhan, hewan, serta tubuh manusia. Anak kemudian diarahkan untuk memahami bahwa seluruh ciptaan tersebut menunjukkan kebesaran Allah.

Anak juga perlu diajarkan bahwa hanya Allah yang disembah. Ketika berdoa, mereka meminta kepada Allah. Ketika memperoleh nikmat, mereka mengucapkan syukur kepada Allah.

Pembelajaran tersebut sebaiknya disertai keteladanan. Anak akan lebih mudah memahami tauhid apabila melihat orang tua dan gurunya rajin beribadah, berdoa, bersyukur, serta tidak bergantung secara berlebihan kepada makhluk.

Pentingnya Menjaga Akidah Wahdaniyah

Sifat wahdaniyah bukan hanya materi hafalan dalam pelajaran akidah. Wahdaniyah merupakan dasar yang membentuk cara seorang Muslim memandang kehidupan.

Orang yang meyakini ke-Esa-an Allah akan berusaha menjaga ibadahnya dari kemusyrikan, riya, dan ketergantungan berlebihan kepada makhluk. Ia memahami bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan sempurna atas kehidupan, kematian, rezeki, serta seluruh kejadian.

Keyakinan kepada wahdaniyah juga harus diiringi dengan ketaatan. Mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa berarti bersedia menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Wahdaniyah adalah sifat wajib Allah yang berarti Allah Maha Esa dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu, tandingan, maupun penguasa lain yang setara dengan Allah. Keyakinan ini menjadi dasar tauhid sekaligus membimbing manusia agar hanya beribadah, berharap, dan menggantungkan hati kepada Allah Swt.