20 Sifat Mustahil bagi Allah dan Penjelasannya

20 Sifat Mustahil bagi Allah dan Penjelasannya
20 Sifat Mustahil bagi Allah dan Penjelasannya

Table of Contents

20 Sifat Mustahil bagi Allah dan Penjelasannya

Sifat mustahil bagi Allah merupakan sifat-sifat kekurangan yang tidak mungkin terdapat pada Allah Swt. Mempelajari 20 sifat mustahil bagi Allah membantu seorang Muslim memahami kesempurnaan-Nya sekaligus menjaga keyakinan dari anggapan yang menyerupakan Allah dengan makhluk.

Setiap sifat mustahil merupakan kebalikan dari sifat wajib Allah. Apabila Allah wajib bersifat Wujud atau ada, sifat yang mustahil bagi-Nya adalah ‘Adam atau tidak ada. Begitu pula sifat-sifat lainnya yang menunjukkan bahwa Allah Mahasempurna, tidak memiliki kekurangan, tidak membutuhkan siapa pun, dan tidak menyerupai makhluk.

Kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah karya Bashri Al-Marghubi menyebutkan bahwa sifat mustahil bagi Allah berjumlah 20. Sifat tersebut mencakup tidak ada, baru, rusak, menyerupai makhluk, membutuhkan yang lain, berbilang, lemah, terpaksa, bodoh, mati, tuli, buta, bisu, serta tujuh keadaan yang menguatkan sifat-sifat kekurangan tersebut.

Pengertian Sifat Mustahil bagi Allah

Sifat mustahil bagi Allah adalah segala sifat yang menurut akal dan ajaran akidah tidak mungkin terdapat pada Allah Swt. Sifat-sifat tersebut menunjukkan kekurangan, kelemahan, keterbatasan, perubahan, atau ketergantungan.

Semua bentuk kekurangan itu hanya dapat ditemukan pada makhluk. Manusia dapat lemah, tidak mengetahui sesuatu, sakit, berubah, membutuhkan bantuan, dan akhirnya meninggal dunia. Allah tidak mungkin mengalami keadaan seperti itu karena Dia adalah Tuhan yang menciptakan seluruh makhluk.

Istilah “mustahil” dalam pembahasan ini bukan berarti sesuatu yang sekadar sulit terjadi. Mustahil berarti tidak mungkin diterima oleh akal yang sehat ketika dinisbatkan kepada Allah.

Sebagai contoh, mustahil Allah bersifat lemah karena seluruh alam semesta merupakan bukti kekuasaan-Nya. Mustahil Allah tidak mengetahui sesuatu karena tidak mungkin alam yang begitu teratur diciptakan dan diatur oleh zat yang tidak mengetahui.

Perbedaan Sifat Wajib, Mustahil, dan Jaiz bagi Allah

Dalam pembelajaran akidah, sifat Allah biasanya dibagi menjadi tiga kelompok utama.

Sifat wajib adalah sifat kesempurnaan yang pasti dimiliki Allah. Jumlah sifat wajib yang umum dipelajari dalam ilmu tauhid adalah 20.

Sifat mustahil adalah kebalikan dari sifat wajib. Jumlahnya juga 20 karena setiap sifat wajib memiliki satu sifat yang berlawanan.

Sifat jaiz adalah sifat yang menunjukkan bahwa Allah berhak mengerjakan atau meninggalkan segala sesuatu yang mungkin sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak ada sesuatu yang dapat memaksa Allah.

Pembagian tersebut menjadi metode pembelajaran untuk membantu umat Islam mengenal Allah melalui sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Tujuannya bukan untuk membatasi sifat Allah hanya dalam jumlah tertentu, tetapi mengenalkan dasar-dasar akidah yang wajib dipahami.

Daftar 20 Sifat Mustahil bagi Allah

Berikut pasangan sifat wajib dan sifat mustahil bagi Allah:

No. Sifat Wajib Sifat Mustahil Artinya
1 Wujud ‘Adam Tidak ada
2 Qidam Huduts Baru atau memiliki permulaan
3 Baqa Fana Rusak atau binasa
4 Mukhalafatuhu lil Hawadits Mumatsalatuhu lil Hawadits Menyerupai makhluk
5 Qiyamuhu Binafsihi Ihtiyajuhu ila Ghairihi Membutuhkan yang lain
6 Wahdaniyah Ta‘addud Berbilang atau lebih dari satu
7 Qudrah ‘Ajzun Lemah
8 Iradah Karahah Terpaksa
9 Ilmu Jahlun Bodoh atau tidak mengetahui
10 Hayat Mautun Mati
11 Sama‘ Shamamun Tuli
12 Basar ‘Umyun Buta
13 Kalam Bukmun Bisu
14 Qadiran Kaunuhu ‘Ajizan Keadaan Allah lemah
15 Muridan Kaunuhu Karihan Keadaan Allah terpaksa
16 ‘Aliman Kaunuhu Jahilan Keadaan Allah tidak mengetahui
17 Hayyan Kaunuhu Mayyitan Keadaan Allah mati
18 Sami‘an Kaunuhu Ashamma Keadaan Allah tuli
19 Basiran Kaunuhu A‘ma Keadaan Allah buta
20 Mutakalliman Kaunuhu Abkama Keadaan Allah bisu

Penulisan istilah Arab dalam huruf Latin dapat berbeda antara satu buku dengan buku lainnya. Namun, makna dan pasangan sifat yang dimaksud tetap sama.

Penjelasan 20 Sifat Mustahil bagi Allah

1. ‘Adam Artinya Tidak Ada

‘Adam merupakan kebalikan dari sifat Wujud. Sifat ini berarti tidak ada atau ketiadaan. Allah mustahil tidak ada karena keberadaan seluruh alam menunjukkan adanya Zat yang menciptakan dan mengaturnya.

Manusia, tumbuhan, hewan, bumi, langit, dan seluruh tata kehidupan tidak mungkin muncul dan berjalan dengan sendirinya tanpa pencipta. Karena itu, keberadaan makhluk menjadi salah satu petunjuk tentang adanya Allah.

Allah wajib bersifat Wujud. Keberadaan-Nya tidak bergantung pada pengakuan, pengetahuan, atau kepercayaan makhluk. Manusia percaya maupun tidak percaya, Allah tetap ada dan menjadi pencipta seluruh alam.

2. Huduts Artinya Baru

Huduts berarti baru atau didahului oleh ketiadaan. Sifat ini merupakan kebalikan dari Qidam. Allah mustahil bersifat baru karena sesuatu yang baru pasti memiliki permulaan dan membutuhkan pihak yang mengadakannya.

Apabila Allah dianggap baru, akan muncul pertanyaan tentang siapa yang menciptakan-Nya. Anggapan tersebut tidak mungkin diterapkan kepada Allah karena Dialah pencipta segala sesuatu.

Allah tidak memiliki permulaan. Dalam Surah Al-Hadid ayat 3, Allah diterangkan sebagai Yang Awal dan Yang Akhir. Kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah juga menjelaskan bahwa Qidam berarti tidak adanya permulaan bagi wujud Allah.

3. Fana Artinya Rusak atau Binasa

Fana berarti rusak, berakhir, atau binasa. Fana merupakan kebalikan dari sifat Baqa. Allah mustahil binasa karena berakhirnya sesuatu merupakan ciri makhluk.

Manusia memiliki usia yang terbatas. Benda dapat rusak, tumbuhan dapat layu, bangunan dapat runtuh, dan kehidupan dunia akan berakhir. Namun, Allah tetap ada untuk selama-lamanya.

Surah Al-Qasas ayat 88 menerangkan bahwa segala sesuatu akan binasa kecuali Allah. Dalil tersebut menunjukkan bahwa kebinasaan hanya berlaku bagi makhluk, sedangkan Allah bersifat kekal.

4. Mumatsalatuhu lil Hawadits Artinya Menyerupai Makhluk

Mumatsalatuhu lil Hawadits berarti menyerupai sesuatu yang baru atau menyerupai makhluk. Sifat ini merupakan kebalikan dari Mukhalafatuhu lil Hawadits.

Allah tidak menyerupai manusia, hewan, benda, cahaya, energi, maupun segala sesuatu yang dapat dibayangkan. Semua gambaran yang muncul dalam pikiran manusia merupakan bagian dari pengalaman terhadap makhluk, sedangkan Allah berbeda dari seluruh makhluk.

Surah Asy-Syura ayat 11 menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah. Karena itu, umat Islam tidak diperbolehkan membayangkan bentuk, ukuran, atau keadaan Allah seperti keadaan benda dan makhluk.

5. Ihtiyajuhu ila Ghairihi Artinya Membutuhkan yang Lain

Sifat ini berarti membutuhkan tempat, pencipta, penolong, atau pihak lain. Sifat tersebut merupakan kebalikan dari Qiyamuhu Binafsihi, yakni Allah berdiri sendiri dan tidak membutuhkan siapa pun.

Makhluk membutuhkan banyak hal untuk bertahan hidup. Manusia membutuhkan makanan, minuman, udara, tempat tinggal, dan bantuan orang lain. Allah tidak membutuhkan seluruh kebutuhan tersebut.

Allah menciptakan tempat sehingga keberadaan-Nya tidak bergantung kepada tempat. Allah menciptakan waktu sehingga Dia tidak terikat oleh perjalanan waktu sebagaimana makhluk.

Surah Al-Ankabut ayat 6 menjelaskan bahwa Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan seluruh alam. Sebaliknya, seluruh makhluk bergantung kepada-Nya.

6. Ta‘addud Artinya Berbilang

Ta‘addud berarti lebih dari satu atau berbilang. Sifat ini merupakan kebalikan dari Wahdaniyah. Allah mustahil berbilang karena Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Apabila terdapat lebih dari satu Tuhan yang memiliki kekuasaan mutlak, akan muncul kemungkinan terjadinya perbedaan kehendak. Ketika satu pihak menghendaki sesuatu dan pihak lain menghendaki kebalikannya, keteraturan alam tidak mungkin dapat dipertahankan.

Surah Al-Anbiya ayat 22 menjelaskan bahwa apabila terdapat tuhan-tuhan selain Allah di langit dan bumi, keduanya akan binasa. Surah Al-Baqarah ayat 163 juga menegaskan bahwa Tuhan adalah Tuhan Yang Maha Esa.

7. ‘Ajzun Artinya Lemah

‘Ajzun berarti lemah atau tidak mampu. Sifat ini merupakan kebalikan dari Qudrah. Allah mustahil lemah karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Penciptaan langit, bumi, kehidupan, dan berbagai sistem di dalam alam semesta menunjukkan kekuasaan Allah. Tidak ada sesuatu yang dapat menghalangi terlaksananya kehendak-Nya.

Kekuasaan manusia selalu terbatas. Manusia mungkin memiliki kemampuan dalam satu bidang, tetapi tidak mampu dalam bidang lainnya. Kekuasaan Allah tidak memiliki batas seperti kemampuan makhluk.

Surah Al-Baqarah ayat 20 menerangkan bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

8. Karahah Artinya Terpaksa

Karahah berarti terpaksa atau melakukan sesuatu karena tekanan pihak lain. Sifat ini merupakan kebalikan dari Iradah.

Allah mustahil terpaksa karena tidak ada kekuatan yang lebih tinggi dan mampu memaksa-Nya. Segala sesuatu terjadi berdasarkan ilmu, kekuasaan, dan kehendak Allah.

Allah tidak menciptakan sesuatu secara kebetulan. Dia menentukan apa yang akan diciptakan, kapan sesuatu terjadi, dan bagaimana suatu peristiwa berlangsung.

Surah Al-Qasas ayat 68 menjelaskan bahwa Allah menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Hal ini menunjukkan kesempurnaan kehendak-Nya.

9. Jahlun Artinya Bodoh atau Tidak Mengetahui

Jahlun berarti tidak mengetahui. Sifat ini merupakan kebalikan dari Ilmu. Allah mustahil tidak mengetahui karena ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Allah mengetahui sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi. Dia juga mengetahui hal yang tampak maupun tersembunyi, termasuk niat dan isi hati manusia.

Pengetahuan manusia diperoleh melalui belajar, pengalaman, penelitian, atau pemberitahuan orang lain. Pengetahuan Allah tidak didahului oleh ketidaktahuan dan tidak diperoleh melalui proses belajar.

Keteraturan alam juga menunjukkan bahwa penciptanya memiliki ilmu yang sempurna. Tidak mungkin sistem kehidupan yang rumit dan teratur diciptakan oleh zat yang tidak mengetahui.

10. Mautun Artinya Mati

Mautun berarti mati. Sifat tersebut merupakan kebalikan dari Hayat. Allah mustahil mati karena Dia Mahahidup dan terus-menerus mengatur seluruh makhluk.

Kematian menunjukkan berakhirnya kehidupan makhluk. Seseorang yang telah meninggal tidak dapat mengatur dirinya sendiri, terlebih mengatur makhluk yang lain.

Apabila Tuhan dapat mati, alam semesta akan kehilangan pengatur dan seluruh kehidupan akan mengalami kerusakan. Anggapan tersebut bertentangan dengan kesempurnaan Allah.

Surah Al-Baqarah ayat 255 menerangkan bahwa Allah Mahahidup dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Allah tidak mengantuk dan tidak tidur.

11. Shamamun Artinya Tuli

Shamamun berarti tuli atau tidak mampu mendengar. Sifat ini merupakan kebalikan dari Sama‘. Allah mustahil tuli karena Dia Maha Mendengar seluruh suara.

Allah mendengar doa yang diucapkan dengan suara keras maupun lirih. Bahkan, tidak ada percakapan rahasia atau bisikan yang terlepas dari pendengaran-Nya.

Pendengaran Allah tidak menggunakan telinga dan tidak memiliki keterbatasan seperti pendengaran makhluk. Allah dapat mendengar seluruh suara secara bersamaan tanpa tertukar dan tanpa mengalami kesulitan.

Dalam Surah Az-Zukhruf ayat 80 diterangkan bahwa Allah mengetahui dan mendengar rahasia serta bisikan manusia.

12. ‘Umyun Artinya Buta

‘Umyun berarti buta atau tidak dapat melihat. Sifat ini merupakan kebalikan dari Basar. Allah mustahil buta karena Dia Maha Melihat segala sesuatu.

Tidak ada sesuatu yang dapat bersembunyi dari penglihatan Allah. Peristiwa yang terjadi di tempat terbuka maupun tertutup tetap berada dalam pengetahuan dan penglihatan-Nya.

Allah melihat tanpa mata dan alat penglihatan sebagaimana manusia. Penglihatan makhluk dapat terhalang jarak, kegelapan, dinding, atau benda lainnya, sedangkan penglihatan Allah tidak dibatasi oleh apa pun.

Surah Asy-Syura ayat 11 menerangkan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

13. Bukmun Artinya Bisu

Bukmun berarti bisu atau tidak dapat berfirman. Sifat ini merupakan kebalikan dari Kalam. Allah mustahil bisu karena Dia memiliki sifat Kalam.

Allah berfirman tanpa menyerupai cara manusia berbicara. Kalam Allah tidak dapat disamakan dengan suara, huruf, bahasa, maupun alat bicara yang digunakan makhluk.

Salah satu dalil sifat Kalam terdapat dalam Surah An-Nisa ayat 164 yang menerangkan bahwa Allah telah berfirman secara langsung kepada Nabi Musa a.s.

Wahyu yang disampaikan kepada para nabi juga menunjukkan bahwa Allah berfirman dan menyampaikan petunjuk kepada hamba-hamba-Nya.

14. Kaunuhu ‘Ajizan Artinya Keadaan Allah Lemah

Kaunuhu ‘Ajizan berarti keadaan Allah sebagai zat yang lemah. Sifat ini merupakan kebalikan dari Qadiran, yaitu keadaan Allah sebagai Zat Yang Mahakuasa.

Sifat ke-14 berkaitan erat dengan sifat ‘Ajzun pada urutan ketujuh. Perbedaannya terletak pada bentuk penjelasan. ‘Ajzun menunjukkan sifat kelemahan, sedangkan Kaunuhu ‘Ajizan menunjukkan keadaan sebagai zat yang lemah.

Keduanya mustahil bagi Allah. Allah bukan hanya memiliki sifat Qudrah, tetapi juga senantiasa berada dalam keadaan Mahakuasa.

15. Kaunuhu Karihan Artinya Keadaan Allah Terpaksa

Kaunuhu Karihan berarti keadaan Allah sebagai zat yang terpaksa. Sifat ini merupakan kebalikan dari Muridan atau keadaan Allah sebagai Zat Yang Maha Berkehendak.

Tidak ada sesuatu yang terjadi karena Allah dipaksa oleh pihak lain. Semua ketetapan-Nya berlangsung berdasarkan kehendak dan kebijaksanaan-Nya.

Allah tidak berada di bawah hukum atau kekuasaan pihak lain. Justru seluruh makhluk berada di bawah kekuasaan dan ketetapan Allah.

16. Kaunuhu Jahilan Artinya Keadaan Allah Tidak Mengetahui

Kaunuhu Jahilan berarti keadaan Allah sebagai zat yang bodoh atau tidak mengetahui. Sifat ini merupakan kebalikan dari ‘Aliman.

Allah bukan hanya memiliki sifat Ilmu, tetapi juga senantiasa Maha Mengetahui. Tidak pernah ada satu saat pun ketika Allah tidak mengetahui sesuatu.

Pengetahuan-Nya tidak berubah karena waktu. Allah mengetahui masa lalu, masa sekarang, masa depan, dan seluruh kemungkinan yang tidak diketahui oleh manusia.

17. Kaunuhu Mayyitan Artinya Keadaan Allah Mati

Kaunuhu Mayyitan berarti keadaan Allah sebagai zat yang mati. Sifat ini merupakan kebalikan dari Hayyan, yaitu keadaan Allah sebagai Zat Yang Mahahidup.

Allah hidup dengan kehidupan yang sempurna. Kehidupan-Nya tidak diawali oleh kelahiran, tidak mengalami pertumbuhan, tidak melemah, dan tidak diakhiri dengan kematian.

Kehidupan Allah berbeda dari kehidupan makhluk. Makhluk hidup karena diberi kehidupan oleh Allah, sedangkan hidupnya Allah tidak bergantung kepada siapa pun.

18. Kaunuhu Ashamma Artinya Keadaan Allah Tuli

Kaunuhu Ashamma berarti keadaan Allah sebagai zat yang tuli. Sifat tersebut merupakan kebalikan dari Sami‘an atau keadaan Allah sebagai Zat Yang Maha Mendengar.

Tidak ada suara yang terlalu jauh, terlalu pelan, atau terlalu banyak untuk didengar Allah. Dia mendengar seluruh doa hamba dalam waktu bersamaan.

Keyakinan bahwa Allah Maha Mendengar dapat mendorong seorang Muslim lebih berhati-hati dalam berbicara. Ucapan yang tidak diketahui manusia tetap diketahui dan didengar oleh Allah.

19. Kaunuhu A‘ma Artinya Keadaan Allah Buta

Kaunuhu A‘ma berarti keadaan Allah sebagai zat yang buta. Sifat ini merupakan kebalikan dari Basiran atau keadaan Allah sebagai Zat Yang Maha Melihat.

Penglihatan Allah meliputi semua makhluk dan peristiwa. Tidak ada perbuatan yang luput dari pengawasan-Nya, termasuk perbuatan yang dilakukan ketika seseorang sedang sendirian.

Kesadaran terhadap sifat Basiran dapat menumbuhkan sikap jujur. Seorang mukmin memahami bahwa meskipun tidak ada manusia yang melihat, Allah tetap mengetahui dan melihat perbuatannya.

20. Kaunuhu Abkama Artinya Keadaan Allah Bisu

Kaunuhu Abkama berarti keadaan Allah sebagai zat yang bisu. Sifat ini merupakan kebalikan dari Mutakalliman, yaitu keadaan Allah sebagai Zat Yang Maha Berfirman.

Allah telah memberikan wahyu dan petunjuk kepada para nabi dan rasul. Hal itu menjadi bagian dari bukti bahwa Allah memiliki sifat Kalam.

Kalam Allah bersifat sempurna dan tidak menyerupai perkataan makhluk. Karena itu, sifat bisu maupun keadaan sebagai zat yang bisu mustahil dinisbatkan kepada Allah.

Pengelompokan Sifat Mustahil bagi Allah

Untuk memudahkan pembelajaran, 20 sifat mustahil dapat dikelompokkan berdasarkan lawan dari kelompok sifat wajib Allah.

Sifat Mustahil yang Berlawanan dengan Sifat Nafsiyah

Kelompok ini terdiri atas satu sifat, yaitu:

  • ‘Adam, lawan dari Wujud.

Sifat Wujud disebut sifat Nafsiyah karena menunjukkan keberadaan Zat Allah.

Sifat Mustahil yang Berlawanan dengan Sifat Salbiyah

Kelompok ini terdiri atas lima sifat:

  • Huduts;
  • Fana;
  • Mumatsalatuhu lil Hawadits;
  • Ihtiyajuhu ila Ghairihi;
  • Ta‘addud.

Kelima sifat tersebut menolak segala bentuk permulaan, kebinasaan, keserupaan, ketergantungan, dan keberbilangan dari Allah.

Sifat Mustahil yang Berlawanan dengan Sifat Ma‘ani

Kelompok ini terdiri atas tujuh sifat:

  • ‘Ajzun;
  • Karahah;
  • Jahlun;
  • Mautun;
  • Shamamun;
  • ‘Umyun;
  • Bukmun.

Sifat-sifat tersebut menjadi kebalikan dari Qudrah, Iradah, Ilmu, Hayat, Sama‘, Basar, dan Kalam.

Sifat Mustahil yang Berlawanan dengan Sifat Ma‘nawiyah

Kelompok terakhir terdiri atas tujuh sifat:

  • Kaunuhu ‘Ajizan;
  • Kaunuhu Karihan;
  • Kaunuhu Jahilan;
  • Kaunuhu Mayyitan;
  • Kaunuhu Ashamma;
  • Kaunuhu A‘ma;
  • Kaunuhu Abkama.

Kelompok ini menolak keadaan Allah sebagai zat yang lemah, terpaksa, tidak mengetahui, mati, tuli, buta, dan bisu.

Mengapa Sifat Mustahil bagi Allah Perlu Dipelajari?

Mempelajari sifat mustahil bukan sekadar menghafalkan istilah Arab dan artinya. Pembahasan ini memiliki tujuan penting dalam pembentukan keyakinan seorang Muslim.

Pertama, pengetahuan tersebut membantu umat Islam mengenal kesempurnaan Allah. Dengan memahami sifat yang mustahil, seseorang dapat membedakan antara sifat pencipta dan sifat makhluk.

Kedua, pembelajaran ini menjaga keyakinan dari tindakan menyerupakan Allah dengan manusia. Allah tidak memiliki kelemahan, kebutuhan, bentuk, anggota tubuh, atau keterbatasan sebagaimana makhluk.

Ketiga, pemahaman terhadap sifat Allah dapat memengaruhi perilaku. Orang yang meyakini Allah Maha Mendengar akan menjaga ucapannya. Orang yang meyakini Allah Maha Melihat akan berusaha jujur meskipun tidak diawasi manusia.

Keempat, keyakinan terhadap kekuasaan dan kehendak Allah dapat menumbuhkan rasa tawakal. Seorang mukmin tetap melakukan ikhtiar, tetapi menyadari bahwa hasil akhirnya berada dalam ketetapan Allah.

Kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah menerangkan bahwa meyakini sifat-sifat Allah dapat membuat seseorang selalu mengingat Allah, takut berbuat dosa ketika sendiri maupun bersama orang lain, serta ikhlas dalam beribadah.

Cara Mudah Menghafalkan 20 Sifat Mustahil Allah

Cara paling mudah adalah mempelajari sifat wajib dan sifat mustahil secara berpasangan. Jangan menghafalkan dua daftar tersebut secara terpisah.

Contohnya:

  • Wujud berlawanan dengan ‘Adam;
  • Qidam berlawanan dengan Huduts;
  • Baqa berlawanan dengan Fana;
  • Qudrah berlawanan dengan ‘Ajzun;
  • Iradah berlawanan dengan Karahah;
  • Ilmu berlawanan dengan Jahlun;
  • Hayat berlawanan dengan Mautun.

Setelah memahami 13 pasangan pertama, tujuh sifat berikutnya lebih mudah dipelajari karena merupakan penegasan keadaan dari sifat sebelumnya.

Misalnya, Qudrah berarti kekuasaan Allah, sedangkan Qadiran berarti Allah dalam keadaan Mahakuasa. Lawannya adalah ‘Ajzun yang berarti lemah dan Kaunuhu ‘Ajizan yang berarti keadaan sebagai zat yang lemah.

Menghafal dengan memahami hubungan makna akan lebih kuat dibandingkan hanya mengulang istilah tanpa mengetahui maksudnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa jumlah sifat mustahil bagi Allah?

Sifat mustahil bagi Allah yang umum dipelajari dalam ilmu tauhid berjumlah 20. Jumlah tersebut berpasangan dengan 20 sifat wajib Allah.

Apa sifat mustahil pertama bagi Allah?

Sifat mustahil pertama adalah ‘Adam yang berarti tidak ada. Sifat tersebut merupakan kebalikan dari Wujud yang berarti Allah pasti ada.

Apa lawan dari sifat Qidam?

Lawan dari Qidam adalah Huduts. Qidam berarti Allah tidak memiliki permulaan, sedangkan Huduts berarti baru atau didahului oleh ketiadaan.

Apa lawan dari sifat Baqa?

Lawan dari Baqa adalah Fana. Baqa berarti Allah kekal, sedangkan Fana berarti rusak, berakhir, atau binasa.

Mengapa Allah mustahil menyerupai makhluk?

Makhluk bersifat baru, terbatas, berubah, membutuhkan tempat, dan bergantung kepada penciptanya. Allah merupakan pencipta seluruh makhluk sehingga tidak mungkin memiliki keadaan yang sama dengan ciptaan-Nya.

Apakah sifat Allah hanya berjumlah 20?

Sifat Allah tidak terbatas hanya 20. Penyebutan 20 sifat wajib merupakan metode sistematis yang digunakan dalam pembelajaran ilmu tauhid untuk mengenalkan sifat-sifat dasar yang wajib dipahami.

Sifat mustahil bagi Allah adalah 20 sifat kekurangan yang tidak mungkin terdapat pada Allah Swt. Sifat-sifat tersebut merupakan kebalikan dari 20 sifat wajib Allah, mulai dari ‘Adam sebagai lawan Wujud hingga Kaunuhu Abkama sebagai lawan Mutakalliman.

Memahami sifat mustahil bagi Allah membantu umat Islam meyakini bahwa Allah Mahasempurna, tidak menyerupai makhluk, tidak membutuhkan siapa pun, tidak memiliki kelemahan, dan tidak dibatasi oleh perubahan. Pengetahuan ini hendaknya tidak berhenti pada hafalan, tetapi diwujudkan melalui keikhlasan beribadah, sikap tawakal, kejujuran, serta kesadaran bahwa setiap perbuatan selalu diketahui Allah.