Qiyamuhu Binafsihi: Arti, Makna, dan Dalil

Qiyamuhu Binafsihi: Arti, Makna, dan Dalil
Qiyamuhu Binafsihi: Arti, Makna, dan Dalil

Qiyamuhu Binafsihi: Arti, Makna, dan Dalil

Qiyamuhu Binafsihi merupakan salah satu dari 20 sifat wajib Allah yang dipelajari dalam ilmu tauhid. Sifat ini menjelaskan bahwa Allah Swt. berdiri dengan Zat-Nya sendiri, tidak bergantung kepada siapa pun, dan tidak membutuhkan sesuatu untuk menjadikan-Nya tetap ada.

Pemahaman mengenai Qiyamuhu Binafsihi sangat penting karena menjadi dasar untuk membedakan Allah sebagai Pencipta dengan seluruh makhluk sebagai ciptaan. Manusia dan makhluk lainnya selalu membutuhkan sesuatu, sedangkan Allah tidak membutuhkan makhluk. Sebaliknya, seluruh makhluklah yang bergantung kepada Allah.

Dalam kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah karya Bashri Al-Marghubi, Qiyamuhu Binafsihi disebut sebagai salah satu sifat wajib Allah. Kitab tersebut menjelaskan bahwa maknanya adalah Allah tidak membutuhkan siapa pun. Apabila Allah membutuhkan pihak lain, hal itu akan menunjukkan kelemahan, sedangkan sifat lemah mustahil bagi Allah.

Apa Arti Qiyamuhu Binafsihi?

Secara bahasa, Qiyamuhu Binafsihi berasal dari susunan kata bahasa Arab:

  • Qiyamuhu berarti berdiri-Nya atau keadaan berdiri;
  • Bi berarti dengan;
  • Nafsihi berarti diri-Nya sendiri.

Secara sederhana, arti Qiyamuhu Binafsihi adalah Allah berdiri dengan Zat-Nya sendiri dan tidak membutuhkan siapa pun.

Kata “berdiri” dalam pengertian ini bukan berarti berdiri seperti manusia yang menggunakan kaki atau menempati suatu tempat. Istilah tersebut menjelaskan bahwa keberadaan Allah tidak bergantung kepada pencipta, penolong, tempat, alat, maupun sesuatu di luar Zat-Nya.

Allah tidak membutuhkan sesuatu yang menjadikan-Nya ada. Allah juga tidak membutuhkan pihak yang menjaga, mengatur, atau mempertahankan keberadaan-Nya. Dia ada dengan Zat-Nya sendiri, sedangkan segala sesuatu selain Allah ada karena diciptakan dan dikehendaki oleh-Nya.

Makna Qiyamuhu Binafsihi dalam Ilmu Tauhid

Dalam pembelajaran ilmu tauhid, Qiyamuhu Binafsihi berarti bahwa Allah Swt. tidak membutuhkan zat lain untuk menjadikan-Nya ada. Allah juga tidak bergantung kepada tempat, waktu, sebab, alat, maupun bantuan makhluk.

Makhluk memiliki sifat ketergantungan. Manusia membutuhkan makanan agar dapat hidup, udara untuk bernapas, air untuk minum, tempat untuk tinggal, dan bantuan orang lain untuk memenuhi berbagai keperluannya.

Bahkan manusia tidak dapat menentukan kelahiran dan keberadaannya sendiri. Manusia ada karena diciptakan oleh Allah. Ketika hidup, manusia membutuhkan berbagai sarana. Setelah meninggal, manusia juga tidak mampu menghidupkan dirinya kembali.

Keadaan tersebut berbeda dengan Allah. Keberadaan Allah tidak disebabkan oleh sesuatu. Allah tidak diciptakan, tidak dilahirkan, tidak memerlukan makanan, tidak membutuhkan istirahat, dan tidak bergantung kepada makhluk.

Dengan demikian, Qiyamuhu Binafsihi menegaskan dua pengertian penting:

  1. Allah tidak membutuhkan zat atau pihak yang menciptakan-Nya.
  2. Allah tidak membutuhkan sesuatu untuk mempertahankan keberadaan dan kesempurnaan-Nya.

Qiyamuhu Binafsihi Termasuk Sifat Salbiyah

Dalam pembagian 20 sifat wajib Allah, Qiyamuhu Binafsihi termasuk kelompok sifat Salbiyah. Sifat Salbiyah adalah sifat yang meniadakan atau menolak segala kekurangan yang tidak layak bagi Allah.

Sifat Salbiyah terdiri atas lima sifat, yaitu:

  1. Qidam;
  2. Baqa;
  3. Mukhalafatuhu lil Hawadits;
  4. Qiyamuhu Binafsihi;
  5. Wahdaniyah.

Qidam menolak adanya permulaan bagi Allah. Baqa menolak kebinasaan. Mukhalafatuhu lil Hawadits menolak keserupaan Allah dengan makhluk. Qiyamuhu Binafsihi menolak ketergantungan Allah kepada sesuatu. Sementara itu, Wahdaniyah menolak keberbilangan atau adanya sekutu bagi Allah.

Qiyamuhu Binafsihi disebut sifat Salbiyah karena meniadakan sifat membutuhkan dari Allah. Allah Mahasempurna sehingga tidak mungkin bergantung kepada sesuatu yang lain.

Dalil Qiyamuhu Binafsihi dalam Al-Qur’an

Salah satu dalil Qiyamuhu Binafsihi yang digunakan dalam kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah adalah Surah Al-Ankabut ayat 6. Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah Mahakaya dan tidak memerlukan seluruh alam.

Surah Al-Ankabut Ayat 6

Allah Swt. berfirman:

“Barang siapa berjihad, sesungguhnya dia berjihad untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakaya dari seluruh alam.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa ketaatan dan perjuangan seorang hamba tidak memberikan keuntungan kepada Allah. Semua manfaat dari ibadah akan kembali kepada orang yang melaksanakannya.

Allah tidak menjadi lebih berkuasa karena manusia beribadah kepada-Nya. Allah juga tidak kehilangan kekuasaan apabila manusia tidak beriman. Ketaatan manusia tidak menambah kesempurnaan Allah, sedangkan kemaksiatan manusia tidak mengurangi keagungan-Nya.

Surah Fatir Ayat 15

Dalil lainnya terdapat dalam Surah Fatir ayat 15. Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusialah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Mahakaya dan Maha Terpuji.

Ayat ini menegaskan hubungan antara Allah dan makhluk. Seluruh manusia bergantung kepada Allah untuk memperoleh kehidupan, rezeki, kesehatan, perlindungan, serta keselamatan.

Sebaliknya, Allah tidak membutuhkan manusia. Allah tetap Mahasempurna meskipun seluruh makhluk tidak memberikan manfaat apa pun kepada-Nya.

Surah Al-Ikhlas Ayat 2

Allah juga berfirman dalam Surah Al-Ikhlas ayat 2:

“Allah tempat bergantung segala sesuatu.”

Allah menjadi tempat seluruh makhluk memohon dan bergantung. Makhluk membutuhkan Allah dalam setiap keadaan, sedangkan Allah tidak membutuhkan makhluk.

Makna tersebut sejalan dengan sifat Qiyamuhu Binafsihi. Allah berdiri dengan Zat-Nya sendiri, sementara seluruh ciptaan bergantung kepada kehendak dan kekuasaan-Nya.

Surah Al-Baqarah Ayat 255

Ayat Kursi menjelaskan bahwa Allah Mahahidup dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Allah tidak mengantuk dan tidak tidur.

Tidur dan mengantuk merupakan tanda kelemahan serta kebutuhan makhluk untuk beristirahat. Allah tidak membutuhkan istirahat karena kekuasaan dan kehidupan-Nya sempurna.

Seluruh alam berada dalam pemeliharaan Allah. Tidak ada satu bagian pun dari ciptaan yang terlepas dari pengetahuan, kekuasaan, dan pengaturan-Nya.

Dalil Aqli Qiyamuhu Binafsihi

Selain dalil yang bersumber dari Al-Qur’an, sifat Qiyamuhu Binafsihi juga dapat dipahami melalui dalil aqli atau penalaran akal.

Apabila Allah membutuhkan sesuatu, berarti keberadaan-Nya bergantung kepada sesuatu tersebut. Pihak yang bergantung tentu tidak memiliki kesempurnaan mutlak karena masih memerlukan pihak lain.

Apabila pihak lain itu dianggap menciptakan atau menyebabkan adanya Allah, berarti pihak itulah yang lebih dahulu dan lebih berkuasa. Anggapan tersebut bertentangan dengan pengertian Allah sebagai pencipta segala sesuatu.

Allah adalah pencipta seluruh sebab, tempat, waktu, dan makhluk. Oleh sebab itu, Allah tidak mungkin bergantung kepada sesuatu yang Dia ciptakan sendiri.

Kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah menerangkan bahwa apabila Allah membutuhkan pihak lain, berarti Allah memiliki kelemahan. Apabila Allah lemah, tidak mungkin seluruh makhluk dapat tercipta. Karena kelemahan mustahil bagi Allah, ketergantungan kepada pihak lain juga mustahil bagi-Nya.

Lawan Qiyamuhu Binafsihi

Lawan dari Qiyamuhu Binafsihi adalah Ihtiyajuhu ila Ghairihi. Artinya, membutuhkan sesuatu selain diri-Nya.

Sifat tersebut mustahil bagi Allah karena menunjukkan ketergantungan dan kelemahan. Allah tidak membutuhkan pencipta, tempat, alat, bantuan, makanan, minuman, maupun makhluk.

Berikut perbandingan keduanya:

Sifat wajib Artinya Sifat mustahil Artinya
Qiyamuhu Binafsihi Berdiri dengan Zat-Nya sendiri Ihtiyajuhu ila Ghairihi Membutuhkan sesuatu selain diri-Nya

Makhluk memiliki sifat membutuhkan. Seorang manusia membutuhkan orang tua sebagai sebab kelahirannya, makanan untuk bertahan hidup, tempat untuk tinggal, dan berbagai sarana untuk melakukan pekerjaan.

Allah tidak mengalami ketergantungan seperti itu. Dia menciptakan seluruh makhluk dan menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ciptaan-Nya.

Apakah Qiyamuhu Binafsihi Berarti Allah Membutuhkan Tempat?

Qiyamuhu Binafsihi tidak berarti bahwa Allah berdiri di suatu tempat seperti manusia. Allah adalah pencipta tempat sehingga tidak dapat disamakan dengan makhluk yang membutuhkan ruang.

Manusia membutuhkan tempat karena memiliki ukuran, bentuk, dan tubuh. Benda juga memerlukan ruang untuk berada. Semua keadaan tersebut merupakan karakteristik makhluk.

Allah memiliki sifat Mukhalafatuhu lil Hawadits, yaitu berbeda dari seluruh makhluk. Karena itu, cara keberadaan Allah tidak boleh dibayangkan sama dengan keberadaan manusia, benda, atau makhluk lainnya.

Kata “berdiri sendiri” dalam Qiyamuhu Binafsihi merupakan penjelasan mengenai kemandirian dan ketidakbergantungan Allah, bukan gambaran tentang posisi atau bentuk tertentu.

Hubungan Qiyamuhu Binafsihi dengan Sifat Allah Lainnya

Qiyamuhu Binafsihi memiliki hubungan erat dengan sifat-sifat wajib Allah yang lain.

Hubungan dengan Wujud

Wujud berarti Allah pasti ada. Sementara itu, Qiyamuhu Binafsihi menjelaskan bahwa keberadaan Allah tidak bergantung kepada sesuatu.

Allah ada dengan Zat-Nya sendiri. Keberadaan-Nya tidak diberikan atau diwujudkan oleh pihak lain.

Hubungan dengan Qidam

Qidam berarti keberadaan Allah tidak memiliki permulaan. Apabila Allah diciptakan oleh sesuatu, berarti keberadaan-Nya memiliki permulaan.

Karena Allah bersifat Qidam, Dia tidak membutuhkan pencipta. Hal tersebut sejalan dengan Qiyamuhu Binafsihi.

Hubungan dengan Baqa

Baqa berarti Allah kekal dan tidak memiliki akhir. Allah tidak membutuhkan sesuatu untuk menjaga atau mempertahankan keberadaan-Nya.

Makhluk dapat rusak, lemah, sakit, dan mati. Allah tetap kekal tanpa membutuhkan penjaga atau penolong.

Hubungan dengan Mukhalafatuhu lil Hawadits

Mukhalafatuhu lil Hawadits berarti Allah berbeda dari makhluk. Salah satu perbedaannya adalah makhluk membutuhkan sesuatu, sedangkan Allah tidak membutuhkan apa pun.

Makhluk bergantung kepada Allah, tetapi Allah tidak bergantung kepada makhluk.

Hubungan dengan Qudrah

Qudrah berarti Allah Mahakuasa. Zat yang memiliki kekuasaan sempurna tidak mungkin membutuhkan bantuan pihak lain untuk melaksanakan kehendak-Nya.

Allah menciptakan dan meniadakan segala sesuatu berdasarkan kekuasaan dan kehendak-Nya. Kitab sumber juga menghubungkan kesempurnaan Allah dengan kemampuan-Nya menciptakan seluruh makhluk.

Perbedaan Allah dengan Makhluk

Sifat Qiyamuhu Binafsihi memperlihatkan perbedaan mendasar antara Allah dan makhluk.

Makhluk Diciptakan, Allah Tidak Diciptakan

Setiap makhluk memiliki awal keberadaan. Manusia dilahirkan, tumbuhan tumbuh dari benih, sedangkan benda dibentuk dari bahan tertentu.

Allah tidak diciptakan dan tidak memiliki permulaan. Dia adalah pencipta seluruh makhluk.

Makhluk Membutuhkan, Allah Tidak Membutuhkan

Manusia membutuhkan makanan, air, udara, kesehatan, dan perlindungan. Malaikat, jin, hewan, tumbuhan, dan seluruh makhluk juga membutuhkan ketetapan Allah agar tetap ada.

Allah tidak membutuhkan semua itu. Justru seluruh kebutuhan makhluk dipenuhi atas kehendak-Nya.

Makhluk Lemah, Allah Mahakuasa

Kemampuan makhluk selalu memiliki batas. Manusia dapat menguasai suatu ilmu, tetapi tetap memiliki banyak hal yang tidak diketahui.

Allah memiliki kekuasaan yang sempurna. Tidak ada sesuatu yang dapat menghalangi kehendak-Nya.

Makhluk Berubah, Allah Mahasempurna

Makhluk mengalami perubahan dari lemah menjadi kuat, kemudian kembali lemah. Manusia mengalami masa bayi, dewasa, tua, lalu meninggal dunia.

Allah tidak mengalami perubahan seperti makhluk. Kesempurnaan-Nya tidak bertambah dan tidak berkurang.

Contoh Penerapan Iman kepada Qiyamuhu Binafsihi

Memahami Qiyamuhu Binafsihi tidak cukup hanya dengan menghafalkan arti dan dalilnya. Keyakinan tersebut seharusnya memengaruhi sikap seorang Muslim.

1. Hanya Bergantung kepada Allah

Manusia tetap harus bekerja, belajar, berobat, dan meminta bantuan kepada sesama. Namun, seorang Muslim memahami bahwa pertolongan yang sebenarnya tetap berasal dari Allah.

Sarana dan manusia hanyalah sebab. Allah yang menentukan keberhasilan dari setiap usaha.

2. Tidak Menyombongkan Kemampuan

Segala kemampuan yang dimiliki manusia merupakan pemberian Allah. Kesehatan, ilmu, jabatan, kekayaan, dan kekuatan dapat berkurang atau hilang kapan saja.

Kesadaran tersebut mendorong seseorang untuk rendah hati dan tidak merasa mampu hidup tanpa pertolongan Allah.

3. Rajin Berdoa

Doa merupakan bentuk pengakuan bahwa manusia membutuhkan Allah. Ketika berdoa, seorang hamba menyadari kelemahannya serta memohon pertolongan kepada Zat Yang Mahakaya.

Berdoa bukan hanya dilakukan ketika menghadapi masalah. Manusia membutuhkan Allah dalam keadaan susah maupun senang.

4. Bersyukur atas Nikmat Allah

Setiap nikmat yang dimiliki manusia berasal dari Allah. Kemampuan untuk bekerja, bernapas, berpikir, dan melakukan ibadah merupakan karunia-Nya.

Meyakini Qiyamuhu Binafsihi membuat seseorang memahami bahwa Allah memberikan nikmat bukan karena membutuhkan balasan manusia.

5. Meningkatkan Keikhlasan Beribadah

Allah tidak membutuhkan ibadah manusia. Ibadah justru dibutuhkan oleh manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh keselamatan.

Oleh karena itu, ibadah seharusnya dilaksanakan secara ikhlas, bukan untuk mendapat pujian manusia.

6. Menumbuhkan Sikap Tawakal

Tawakal berarti menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan usaha secara sungguh-sungguh. Seorang Muslim tidak meninggalkan ikhtiar, tetapi tidak menggantungkan hatinya sepenuhnya kepada sarana.

Allah menjadi tempat bergantung karena seluruh perkara berada dalam kekuasaan-Nya.

Hikmah Meyakini Qiyamuhu Binafsihi

Meyakini sifat Qiyamuhu Binafsihi memberikan sejumlah hikmah dalam kehidupan.

Pertama, keyakinan ini memperkuat tauhid. Seorang Muslim memahami bahwa hanya Allah yang memiliki kesempurnaan mutlak dan tidak membutuhkan siapa pun.

Kedua, sifat ini menumbuhkan kesadaran tentang kelemahan manusia. Tidak ada manusia yang mampu hidup sepenuhnya tanpa bantuan dan karunia Allah.

Ketiga, pemahaman ini dapat menghindarkan seseorang dari kesombongan. Kekayaan, kekuasaan, ilmu, dan kedudukan tidak menjadikan manusia bebas dari ketergantungan kepada Allah.

Keempat, Qiyamuhu Binafsihi mengajarkan bahwa ibadah manusia tidak memberikan keuntungan kepada Allah. Semua manfaat ibadah kembali kepada hamba yang menjalankannya.

Kelima, keyakinan ini menumbuhkan rasa tenang. Ketika pertolongan manusia terbatas, seorang mukmin masih memiliki Allah sebagai tempat memohon dan bergantung.

Kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah menjelaskan bahwa meyakini sifat-sifat Allah dapat membuat seseorang selalu mengingat Allah dalam keadaan susah maupun senang, menjaga rasa takut kepada-Nya, serta menumbuhkan keikhlasan dalam beribadah.

Cara Mudah Memahami Qiyamuhu Binafsihi

Qiyamuhu Binafsihi dapat dipahami melalui rumus sederhana:

Makhluk membutuhkan Allah, sedangkan Allah tidak membutuhkan makhluk.

Manusia membutuhkan Allah untuk diciptakan, dipelihara, diberi rezeki, dilindungi, diampuni, dan dibangkitkan kembali. Allah tidak memperoleh tambahan kesempurnaan dari keberadaan manusia.

Untuk menghafalkannya, pasangkan sifat wajib dan sifat mustahilnya:

  • Qiyamuhu Binafsihi: Allah berdiri dengan Zat-Nya sendiri;
  • Ihtiyajuhu ila Ghairihi: membutuhkan sesuatu selain diri-Nya.

Qiyamuhu Binafsihi wajib bagi Allah, sedangkan Ihtiyajuhu ila Ghairihi mustahil bagi-Nya.

Qiyamuhu Binafsihi adalah salah satu sifat wajib Allah yang berarti Allah berdiri dengan Zat-Nya sendiri dan tidak membutuhkan siapa pun. Allah tidak membutuhkan pencipta, tempat, bantuan, alat, makanan, maupun seluruh makhluk.

Dalil utama sifat Qiyamuhu Binafsihi terdapat dalam Surah Al-Ankabut ayat 6 yang menjelaskan bahwa Allah Mahakaya dan tidak memerlukan seluruh alam. Sifat yang menjadi lawannya adalah Ihtiyajuhu ila Ghairihi, yaitu membutuhkan sesuatu selain diri-Nya.

Memahami Qiyamuhu Binafsihi mengajarkan bahwa seluruh makhluk bergantung kepada Allah. Keyakinan tersebut dapat menumbuhkan sikap rendah hati, rajin berdoa, bersyukur, ikhlas dalam beribadah, serta bertawakal setelah melakukan usaha.