Arti Qidam dan Baqa Allah Beserta Dalilnya

Arti Qidam dan Baqa Allah Beserta Dalilnya
Arti Qidam dan Baqa Allah Beserta Dalilnya

Arti Qidam dan Baqa Allah Beserta Dalilnya

Qidam dan baqa merupakan dua dari 20 sifat wajib bagi Allah SWT yang dipelajari dalam ilmu akidah atau tauhid. Qidam menjelaskan bahwa keberadaan Allah tidak memiliki permulaan, sedangkan baqa menjelaskan bahwa keberadaan Allah tidak memiliki akhir. Kedua sifat tersebut menegaskan kesempurnaan Allah sekaligus membedakan-Nya dari seluruh makhluk.

Memahami arti qidam dan baqa tidak cukup hanya dengan menghafalkan terjemahannya. Seorang muslim perlu mengetahui dalil, hubungan antara keduanya, sifat mustahil yang menjadi lawannya, serta pengaruh keyakinan tersebut dalam kehidupan. Dalam kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah, qidam dijelaskan sebagai tidak adanya permulaan bagi wujud Allah, sedangkan baqa berarti tidak adanya akhir bagi wujud-Nya.

Pengertian Sifat Qidam

Secara bahasa, qidam berarti terdahulu atau tidak memiliki permulaan. Dalam pembahasan akidah, sifat qidam berarti bahwa keberadaan Allah SWT tidak didahului oleh ketiadaan.

Allah bukan makhluk yang dahulu tidak ada kemudian menjadi ada. Allah telah ada tanpa permulaan, sedangkan seluruh makhluk ada karena diciptakan oleh-Nya. Waktu, ruang, langit, bumi, manusia, malaikat, jin, dan seluruh isi alam merupakan ciptaan Allah.

Karena Allah adalah Pencipta segala sesuatu, keberadaan-Nya tidak mungkin bergantung kepada ciptaan. Allah juga tidak diciptakan oleh siapa pun. Apabila Allah diciptakan, tentu Dia termasuk makhluk dan membutuhkan pencipta. Pemahaman tersebut bertentangan dengan keesaan dan kesempurnaan Allah.

Kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah menjelaskan bahwa Allah merupakan zat yang menciptakan seluruh perkara yang ada. Apabila terdapat sesuatu yang lebih dahulu daripada Allah atau menciptakan-Nya, berarti Allah dianggap sebagai zat yang baru. Anggapan tersebut adalah batil karena Allah adalah Pencipta, bukan sesuatu yang diciptakan.

Dalil Sifat Qidam

Dalil sifat qidam disebutkan dalam Surah Al-Hadid ayat 3:

“Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Penyebutan Allah sebagai Yang Awal menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Nya. Allah sudah ada sebelum adanya langit, bumi, waktu, tempat, dan seluruh makhluk.

Istilah “Yang Awal” tidak berarti Allah berada pada urutan pertama dalam sebuah rangkaian waktu. Allah justru menciptakan waktu itu sendiri. Oleh karena itu, keberadaan Allah tidak dibatasi oleh hitungan tahun, masa, atau zaman.

Dalil tersebut mengajarkan bahwa segala sesuatu memiliki permulaan, kecuali Allah. Manusia memiliki waktu kelahiran. Bumi dan langit memiliki awal penciptaan. Seluruh benda, keadaan, dan peristiwa mempunyai permulaan. Hanya Allah yang keberadaan-Nya tidak diawali oleh ketiadaan.

Sifat Mustahil yang Menjadi Lawan Qidam

Lawan dari sifat qidam adalah huduts. Huduts berarti baru atau memiliki permulaan.

Sifat huduts mustahil dimiliki Allah karena sesuatu yang baru pasti membutuhkan pihak yang membuat atau menciptakannya. Sebuah rumah ada karena dibangun. Sebuah benda ada karena dibuat. Manusia ada setelah dilahirkan. Alam semesta ada setelah diciptakan.

Allah tidak mengalami keadaan seperti makhluk. Allah tidak dilahirkan, tidak dibuat, dan tidak diciptakan. Allah adalah sumber keberadaan seluruh ciptaan.

Apabila Allah dianggap baru, akan muncul pertanyaan mengenai siapa yang menciptakan-Nya. Jika pencipta Allah juga dianggap memiliki pencipta, pertanyaan tersebut akan terus berlanjut tanpa akhir. Akidah Islam menegaskan bahwa Allah adalah Pencipta pertama yang keberadaan-Nya tidak membutuhkan pencipta.

Pengertian Sifat Baqa

Baqa berarti kekal atau tidak memiliki akhir. Dalam ilmu akidah, sifat baqa menjelaskan bahwa keberadaan Allah SWT tidak akan berakhir, rusak, binasa, atau mengalami kematian.

Seluruh makhluk akan mengalami perubahan. Manusia tumbuh, menjadi tua, kemudian meninggal. Bangunan yang kokoh dapat runtuh. Tumbuhan dapat layu. Gunung, bumi, dan seluruh alam akan mengalami kehancuran sesuai ketentuan Allah.

Allah tidak mengalami perubahan dan kebinasaan seperti makhluk. Keberadaan Allah tetap untuk selama-lamanya. Tidak ada masa ketika Allah berhenti ada karena Allah memiliki sifat kesempurnaan yang mutlak.

Sifat baqa juga menunjukkan bahwa kekuasaan Allah tidak pernah berakhir. Allah tetap Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Hidup, Maha Mendengar, dan Maha Melihat untuk selama-lamanya.

Dalil Sifat Baqa

Dalil sifat baqa terdapat dalam Surah Al-Qasas ayat 88. Ayat tersebut menjelaskan bahwa segala sesuatu akan binasa kecuali Allah.

Keterangan ini menegaskan perbedaan mendasar antara Allah dan makhluk. Makhluk memiliki batas usia dan masa keberadaan, sedangkan Allah kekal tanpa akhir.

Kebinasaan yang dialami makhluk tidak menunjukkan bahwa ciptaan Allah tidak memiliki nilai. Hal tersebut justru menunjukkan bahwa seluruh makhluk bergantung kepada kehendak dan kekuasaan-Nya. Allah dapat menciptakan, memelihara, mengubah, dan membinasakan sesuatu sesuai kehendak-Nya.

Dalam Al-Aqidah Al-Islamiyah, dijelaskan bahwa apabila Allah dapat rusak atau binasa, berarti Allah memiliki sifat seperti sesuatu yang baru. Hal tersebut mustahil karena Allah bukan makhluk dan tidak mengalami perubahan maupun kehancuran.

Sifat Mustahil yang Menjadi Lawan Baqa

Lawan dari sifat baqa adalah fana. Fana berarti rusak, binasa, atau berakhir.

Sifat fana mustahil bagi Allah. Allah tidak mengalami kematian, kehancuran, kelemahan, atau hilangnya kekuasaan. Dia tetap hidup dan berkuasa selama-lamanya.

Makhluk dapat memiliki kehidupan yang panjang, tetapi tetap tidak dapat disebut kekal dengan sendirinya. Malaikat, surga, neraka, dan kehidupan akhirat dapat tetap ada karena Allah menghendaki keberadaannya. Kekekalan makhluk bergantung kepada kehendak Allah, sedangkan kekekalan Allah merupakan sifat yang melekat pada zat-Nya.

Perbedaan tersebut penting dipahami agar manusia tidak menyamakan kekekalan Allah dengan lamanya keberadaan makhluk. Allah kekal tanpa bergantung kepada siapa pun, sedangkan makhluk bergantung sepenuhnya kepada-Nya.

Perbedaan Qidam dan Baqa

Qidam dan baqa sama-sama menjelaskan kesempurnaan keberadaan Allah. Namun, keduanya memiliki penekanan yang berbeda.

Qidam berkaitan dengan permulaan. Allah tidak memiliki awal dan tidak pernah mengalami keadaan tidak ada. Baqa berkaitan dengan akhir. Allah tidak akan pernah berakhir atau mengalami kebinasaan.

Dengan demikian, qidam dapat dipahami sebagai Allah ada tanpa permulaan, sedangkan baqa berarti Allah tetap ada tanpa akhir.

Kedua sifat tersebut saling melengkapi. Allah tidak hanya telah ada sebelum seluruh makhluk diciptakan, tetapi juga akan tetap ada setelah seluruh makhluk mengalami kehancuran.

Pembahasan Qidam Baqa
Arti utama Tidak memiliki permulaan Tidak memiliki akhir
Penjelasan Allah tidak didahului oleh ketiadaan Allah tidak mengalami kebinasaan
Sifat mustahil Huduts atau baru Fana atau rusak
Dalil utama Surah Al-Hadid ayat 3 Surah Al-Qasas ayat 88
Hubungan dengan makhluk Allah ada sebelum seluruh makhluk Allah tetap ada ketika makhluk binasa

Hubungan Qidam dan Baqa dengan Sifat Wujud

Sebelum mempelajari qidam dan baqa, seseorang perlu memahami sifat wujud. Wujud berarti Allah benar-benar ada.

Setelah meyakini keberadaan Allah, sifat qidam menjelaskan bahwa keberadaan tersebut tidak memiliki permulaan. Sifat baqa kemudian menjelaskan bahwa keberadaan Allah juga tidak memiliki akhir.

Urutan pemahamannya dapat dijelaskan sebagai berikut:

Wujud berarti Allah ada.
Qidam berarti keberadaan Allah tidak memiliki awal.
Baqa berarti keberadaan Allah tidak memiliki akhir.

Ketiga sifat tersebut menegaskan bahwa Allah berbeda dari makhluk. Makhluk pada awalnya tidak ada, kemudian diciptakan dan pada akhirnya mengalami kematian atau kehancuran. Allah tidak mengalami tahapan tersebut.

Mengapa Allah Harus Bersifat Qidam?

Allah wajib bersifat qidam karena Dia adalah Pencipta seluruh makhluk. Pencipta tidak mungkin menjadi bagian dari ciptaan atau memiliki sifat yang sama dengan sesuatu yang diciptakan.

Apabila Allah memiliki permulaan, berarti sebelumnya Dia tidak ada. Sesuatu yang sebelumnya tidak ada tidak mungkin menjadi ada dengan sendirinya. Ia membutuhkan pihak lain yang mengadakan atau menciptakannya.

Allah tidak membutuhkan pihak lain. Dia adalah sumber penciptaan dan keberadaan seluruh makhluk. Oleh karena itu, Allah tidak mungkin memiliki permulaan.

Sifat qidam juga menjaga kemurnian tauhid. Seorang muslim meyakini bahwa hanya Allah yang tidak diciptakan, sedangkan semua selain Allah adalah makhluk.

Mengapa Allah Harus Bersifat Baqa?

Allah wajib bersifat baqa karena kebinasaan menunjukkan kelemahan dan ketergantungan. Sesuatu yang dapat rusak pasti dipengaruhi oleh keadaan atau kekuatan lain.

Allah Mahakuasa dan tidak dipengaruhi oleh apa pun. Tidak ada kekuatan yang dapat melemahkan, mengubah, atau membinasakan-Nya.

Apabila Allah dapat binasa, keteraturan dan keberadaan alam akan kehilangan penguasa. Anggapan tersebut bertentangan dengan sifat Allah sebagai Tuhan Yang Maha Hidup dan Maha Mengatur seluruh makhluk.

Keyakinan bahwa Allah kekal juga menjadi dasar bagi manusia untuk hanya bergantung kepada-Nya. Allah tidak akan mati, meninggalkan makhluk-Nya, atau kehilangan kekuasaan.

Contoh Cara Memahami Qidam

Sifat qidam tidak dapat disamakan dengan benda yang berusia sangat tua. Sebuah gunung mungkin telah ada selama ribuan atau jutaan tahun, tetapi gunung tersebut tetap memiliki awal penciptaan.

Demikian pula dengan langit, bumi, matahari, dan bintang. Meskipun keberadaannya jauh lebih dahulu daripada manusia, semuanya tetap merupakan makhluk yang diciptakan.

Allah tidak hanya lebih tua daripada alam semesta. Penyebutan “lebih tua” masih berkaitan dengan perbandingan waktu, sedangkan Allah tidak dibatasi oleh waktu. Pemahaman yang tepat adalah bahwa Allah ada tanpa permulaan dan menciptakan waktu.

Manusia tidak perlu membayangkan bagaimana keadaan sebelum penciptaan alam. Akal manusia memiliki keterbatasan, sedangkan zat dan sifat Allah tidak dapat disamakan dengan sesuatu yang pernah dilihat atau dibayangkan.

Contoh Cara Memahami Baqa

Sifat baqa juga tidak sama dengan umur yang sangat panjang. Sebuah benda dapat bertahan selama ribuan tahun, tetapi tetap dapat mengalami kerusakan.

Manusia mungkin berharap hidup lama, tetapi setiap manusia akan meninggal. Kerajaan dapat berdiri selama berabad-abad, tetapi akhirnya berakhir. Kekayaan dapat dikumpulkan dalam jumlah besar, tetapi dapat hilang atau ditinggalkan.

Allah tidak mengalami keadaan tersebut. Keberadaan-Nya tidak berkurang karena berjalannya waktu. Kekuasaan dan kesempurnaan-Nya juga tidak berubah.

Karena Allah kekal, hanya Dia yang layak menjadi tempat bergantung secara mutlak. Segala sesuatu selain Allah bersifat sementara dan tidak dapat memberikan pertolongan tanpa izin-Nya.

Hikmah Beriman kepada Sifat Qidam

Meyakini sifat qidam membantu seorang muslim menyadari bahwa Allah adalah sumber seluruh keberadaan. Tidak ada sesuatu pun yang lebih dahulu atau lebih berkuasa daripada-Nya.

Keyakinan tersebut menumbuhkan ketundukan kepada Allah. Manusia menyadari bahwa dirinya merupakan makhluk yang diciptakan dan sepenuhnya membutuhkan pertolongan-Nya.

Iman kepada qidam juga melindungi seseorang dari keyakinan bahwa Allah berasal dari sesuatu, dilahirkan, atau diciptakan. Semua anggapan tersebut bertentangan dengan tauhid.

Seseorang yang memahami sifat qidam akan semakin mengagungkan Allah. Ia memahami bahwa kemampuan akal manusia sangat terbatas untuk menjangkau seluruh rahasia keberadaan Sang Pencipta.

Hikmah Beriman kepada Sifat Baqa

Meyakini sifat baqa membuat manusia menyadari bahwa kehidupan dunia tidak kekal. Harta, pangkat, popularitas, kecantikan, dan kekuatan fisik pada akhirnya akan berkurang atau ditinggalkan.

Kesadaran tersebut dapat mengurangi sikap sombong. Manusia tidak pantas membanggakan sesuatu yang bersifat sementara dan dapat hilang kapan saja.

Sifat baqa juga menumbuhkan ketenangan ketika menghadapi kehilangan. Manusia dapat kehilangan orang tercinta, pekerjaan, harta, atau kedudukan. Namun, Allah tetap ada dan tidak pernah meninggalkan hamba yang memohon pertolongan kepada-Nya.

Keimanan kepada baqa mendorong seorang muslim untuk mempersiapkan kehidupan akhirat. Ia memahami bahwa dunia akan berakhir, sedangkan balasan atas amal manusia akan diterima dalam kehidupan setelah kematian.

Penerapan Iman kepada Qidam dan Baqa

Keimanan kepada qidam dan baqa perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Pemahaman tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai materi hafalan.

Seseorang yang meyakini bahwa Allah telah ada sebelum seluruh makhluk akan mengakui bahwa semua yang dimilikinya berasal dari Allah. Ia tidak merasa memiliki kekuasaan mutlak atas harta, ilmu, atau kedudukan.

Orang yang meyakini bahwa Allah kekal juga tidak akan menggantungkan harapan sepenuhnya kepada manusia. Ia tetap menghormati dan meminta bantuan kepada sesama dalam urusan yang mampu dilakukan manusia, tetapi hatinya bersandar kepada Allah.

Keimanan tersebut juga dapat diwujudkan dengan memperbanyak ibadah, menjaga keikhlasan, menghindari kesombongan, bersabar menghadapi ujian, dan menggunakan kehidupan dunia untuk mengumpulkan amal baik.

Kesalahan dalam Memahami Qidam dan Baqa

Salah satu kesalahan yang perlu dihindari adalah membayangkan qidam sebagai usia Allah yang sangat panjang. Allah tidak memiliki usia karena usia merupakan ukuran waktu yang berlaku bagi makhluk.

Kesalahan lainnya adalah menyamakan baqa Allah dengan kekekalan makhluk akhirat. Allah kekal dengan kesempurnaan zat-Nya, sedangkan kekekalan makhluk terjadi karena dikehendaki dan dipelihara oleh Allah.

Manusia juga tidak boleh menggambarkan zat Allah melalui bentuk tertentu. Sifat qidam dan baqa dipahami dengan mengimani maknanya tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.

Pemahaman terhadap sifat Allah harus melahirkan ketundukan, bukan spekulasi yang melampaui kemampuan akal manusia.

Qidam dan Baqa sebagai Dasar Menguatkan Tauhid

Qidam dan baqa menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang keberadaan-Nya sempurna. Dia tidak berasal dari sesuatu dan tidak akan berakhir menjadi ketiadaan.

Semua selain Allah merupakan makhluk. Setinggi apa pun kedudukan manusia, sehebat apa pun teknologi, dan seluas apa pun alam semesta, semuanya tetap memiliki awal serta berada dalam kekuasaan Allah.

Memahami arti qidam dan baqa akan membantu seorang muslim membangun keyakinan yang kokoh. Allah telah ada tanpa permulaan, tetap ada tanpa akhir, dan hanya kepada-Nya seluruh makhluk bergantung.

Keimanan tersebut diharapkan tidak hanya tersimpan dalam hati, tetapi juga terlihat melalui ibadah yang ikhlas, sikap rendah hati, keteguhan menghadapi ujian, dan kesadaran bahwa hanya Allah SWT yang kekal selama-lamanya.