Benarkah Yajuj dan Majuj Berasal dari Bangsa Tatar dan Mongol?

Benarkah Yajuj dan Majuj Berasal dari Bangsa Tatar dan Mongol?
Benarkah Yajuj dan Majuj Berasal dari Bangsa Tatar dan Mongol?

Benarkah Yajuj dan Majuj Berasal dari Bangsa Tatar dan Mongol?

operatorsekolah.id – Yajuj dan Majuj merupakan dua kelompok yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai kaum pembuat kerusakan di muka bumi. Kemunculan mereka juga menjadi salah satu tanda besar menjelang datangnya Hari Kiamat.

Namun, siapakah sebenarnya Yajuj dan Majuj? Benarkah mereka berasal dari bangsa Tatar dan Mongol sebagaimana disebutkan dalam beberapa kitab tafsir?

Sejumlah ulama memang pernah menghubungkan Yajuj dan Majuj dengan bangsa-bangsa yang hidup di wilayah Asia Tengah. Meskipun demikian, pendapat tersebut merupakan hasil penafsiran berdasarkan peristiwa sejarah, bukan keterangan tegas yang disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadis sahih.

Yajuj dan Majuj dalam Al-Qur’an

Nama Yajuj dan Majuj secara langsung disebutkan dalam dua bagian Al-Qur’an, yaitu Surah Al-Kahfi ayat 94–99 dan Surah Al-Anbiya ayat 96–97.

Dalam Surah Al-Kahfi, Yajuj dan Majuj digambarkan sebagai kaum yang melakukan kerusakan di muka bumi. Masyarakat yang hidup di antara dua gunung kemudian meminta bantuan kepada Zulkarnain agar dibuatkan penghalang untuk melindungi mereka.

Allah SWT berfirman:

“Mereka berkata, ‘Wahai Zulkarnain! Sesungguhnya Yajuj dan Majuj itu adalah orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi. Maka bolehkah kami membayarmu dengan imbalan agar engkau membuatkan dinding penghalang antara kami dan mereka?’”
QS. Al-Kahfi: 94

Zulkarnain tidak meminta bayaran dari masyarakat tersebut. Ia hanya meminta bantuan tenaga untuk membangun penghalang yang sangat kuat dari potongan-potongan besi dan cairan tembaga.

Setelah penghalang itu selesai dibangun, Yajuj dan Majuj tidak mampu memanjat ataupun melubanginya.

Allah SWT berfirman:

“Maka mereka tidak mampu mendakinya dan tidak mampu pula melubanginya.”
QS. Al-Kahfi: 97

Meskipun sangat kokoh, Zulkarnain menegaskan bahwa penghalang tersebut tidak akan bertahan selamanya. Ketika janji Allah telah tiba, penghalang itu akan dihancurkan.

“Dia berkata, ‘Ini adalah rahmat dari Tuhanku. Maka apabila janji Tuhanku telah datang, Dia akan menghancurluluhkannya, dan janji Tuhanku itu benar.’”
QS. Al-Kahfi: 98

Kemunculan Yajuj dan Majuj Menjelang Kiamat

Surah Al-Anbiya menjelaskan bahwa Yajuj dan Majuj akan keluar dan bergerak dengan sangat cepat dari berbagai tempat yang tinggi.

Allah SWT berfirman:

“Hingga apabila dibukakan tembok Yajuj dan Majuj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.”
QS. Al-Anbiya: 96

Ayat berikutnya menjelaskan bahwa peristiwa tersebut berkaitan dengan semakin dekatnya janji Allah dan datangnya Hari Kiamat.

Kemunculan Yajuj dan Majuj juga diterangkan dalam hadis sahih. Dalam hadis panjang yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Yajuj dan Majuj akan keluar setelah Nabi Isa AS membunuh Dajjal.

Allah kemudian memberitahukan kepada Nabi Isa bahwa telah dikeluarkan suatu kaum yang tidak mampu diperangi oleh manusia. Nabi Isa bersama orang-orang beriman lalu diperintahkan berlindung ke Gunung Thur.

Hadis tersebut menegaskan bahwa kemunculan Yajuj dan Majuj merupakan peristiwa nyata yang akan terjadi menjelang Hari Kiamat.

Apakah Al-Qur’an Menjelaskan Asal-usul Yajuj dan Majuj?

Al-Qur’an tidak menjelaskan secara terperinci asal-usul kebangsaan, tempat tinggal, bahasa, ataupun ciri fisik Yajuj dan Majuj.

Keterangan yang dapat dipastikan dari Al-Qur’an antara lain:

  1. Yajuj dan Majuj merupakan kaum yang melakukan kerusakan.
  2. Mereka pernah dihalangi oleh bangunan yang dibuat Zulkarnain.
  3. Mereka tidak mampu melewati penghalang tersebut hingga waktu yang ditetapkan Allah.
  4. Penghalang itu akan dihancurkan ketika janji Allah telah tiba.
  5. Kemunculan mereka menjadi salah satu tanda semakin dekatnya Hari Kiamat.

Karena Al-Qur’an dan hadis sahih tidak menyebutkan nama bangsa tertentu, identitas Yajuj dan Majuj tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan kemiripan sifat atau peristiwa sejarah.

Pendapat Yajuj dan Majuj Berasal dari Bangsa Tatar dan Mongol

Pendapat yang menghubungkan Yajuj dan Majuj dengan bangsa Tatar dan Mongol ditemukan dalam sebagian penafsiran ulama.

Syekh Ahmad Mustafa Al-Maraghi, misalnya, pernah mengaitkan Yajuj dengan bangsa Tatar dan Majuj dengan bangsa Mongol. Keduanya dipandang sebagai kelompok yang berasal dari kawasan utara Asia dan dalam beberapa periode sejarah melakukan penyerangan ke berbagai wilayah.

Pendapat tersebut kemungkinan muncul karena sejarah mencatat serangan besar bangsa Mongol terhadap negeri-negeri di Asia, Eropa Timur, dan dunia Islam.

Pasukan Mongol yang dipimpin oleh Temujin, atau yang lebih dikenal sebagai Jenghis Khan, berhasil membangun salah satu kekaisaran daratan terbesar dalam sejarah. Serangan mereka menyebabkan kehancuran sejumlah kota dan kerajaan.

Setelah masa Jenghis Khan, pasukan Mongol kembali melakukan ekspansi besar. Pada tahun 1258, pasukan Hulagu Khan menyerang Baghdad dan mengakhiri kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah di kota tersebut.

Dahsyatnya serangan bangsa Mongol membuat sebagian orang pada masa itu menghubungkan mereka dengan gambaran kaum perusak yang disebut dalam kisah Yajuj dan Majuj.

Akan tetapi, menghubungkan Yajuj dan Majuj secara langsung dengan bangsa Tatar atau Mongol tetap merupakan pendapat tafsir, bukan sebuah kepastian berdasarkan dalil yang tegas.

Apakah Tatar dan Mongol Merupakan Bangsa yang Sama?

Bangsa Tatar dan Mongol memiliki hubungan sejarah yang cukup dekat, tetapi keduanya tidak selalu dapat dianggap sebagai satu kelompok yang sama.

Istilah “Tatar” pernah digunakan secara luas oleh masyarakat di luar Asia Tengah untuk menyebut berbagai kelompok yang datang bersama pasukan Mongol. Dalam perkembangan sejarahnya, nama tersebut juga digunakan untuk beberapa kelompok etnis tertentu.

Sementara itu, bangsa Mongol adalah kelompok yang berasal dari wilayah Mongolia dan sekitarnya. Di bawah kepemimpinan Jenghis Khan, berbagai suku berhasil dipersatukan menjadi kekuatan militer yang besar.

Karena sejarah dan penyebutan keduanya sangat kompleks, tidak tepat apabila seluruh bangsa Tatar dan Mongol langsung disamakan dengan Yajuj dan Majuj.

Pendapat Yajuj dan Majuj Berasal dari Keturunan Yafits

Sebagian ulama berpendapat bahwa Yajuj dan Majuj berasal dari keturunan Yafits, salah satu putra Nabi Nuh AS.

Dalam sejumlah kitab sejarah dan tafsir, keturunan Nabi Nuh dibagi menjadi tiga jalur besar, yaitu Sam, Ham, dan Yafits. Beberapa ulama kemudian mengaitkan bangsa-bangsa yang hidup di wilayah utara dan timur dengan keturunan Yafits.

Berdasarkan pendapat tersebut, Yajuj dan Majuj dianggap berasal dari salah satu cabang keturunan Yafits.

Namun, penjelasan tentang silsilah ini tidak disebutkan secara tegas dalam ayat Al-Qur’an. Oleh sebab itu, umat Islam tidak seharusnya menjadikan pendapat tersebut sebagai satu-satunya kebenaran yang tidak dapat diperdebatkan.

Hal yang lebih kuat adalah bahwa Yajuj dan Majuj termasuk keturunan Nabi Adam AS dan merupakan golongan manusia, bukan makhluk gaib, jin, atau hewan.

Penafsiran Buya Hamka tentang Yajuj dan Majuj

Buya Hamka juga membahas Yajuj dan Majuj dalam Tafsir Al-Azhar. Selain memahami kisah tersebut sebagai bagian dari peristiwa yang benar-benar terjadi, Buya Hamka mengambil pelajaran moral dari sifat kerusakan yang mereka lakukan.

Menurut penafsirannya, setiap masyarakat perlu memiliki benteng untuk melindungi diri dari berbagai bentuk kejahatan dan kerusakan.

Benteng tersebut tidak selalu berbentuk bangunan fisik. Dalam kehidupan manusia, benteng dapat berupa keimanan, ilmu pengetahuan, akhlak, persatuan, serta ideologi yang sehat.

Pikiran jahat, keserakahan, penjajahan, kekerasan, dan ideologi yang merusak dapat memiliki sifat yang menyerupai kerusakan Yajuj dan Majuj. Karena itu, keluarga, masyarakat, dan negara perlu membangun perlindungan moral agar tidak mudah dikuasai oleh keburukan.

Penafsiran seperti ini dapat diambil sebagai hikmah. Namun, penafsiran simbolis tidak menghilangkan keyakinan bahwa Yajuj dan Majuj merupakan kaum nyata yang kemunculannya telah dikabarkan dalam Al-Qur’an dan hadis.

Di Mana Tembok Yajuj dan Majuj Berada?

Hingga sekarang, lokasi pasti penghalang yang dibangun Zulkarnain belum dapat dibuktikan secara meyakinkan.

Sejumlah pendapat pernah menghubungkannya dengan beberapa tempat, antara lain:

  • Pegunungan Kaukasus;
  • wilayah antara Laut Kaspia dan Laut Hitam;
  • kawasan Asia Tengah;
  • wilayah sekitar Tiongkok;
  • beberapa jalur pegunungan yang dahulu menjadi batas antarbangsa.

Ada pula yang menghubungkannya dengan Tembok Besar Tiongkok. Namun, pendapat ini memiliki banyak kelemahan karena bahan dan bentuk Tembok Besar Tiongkok tidak sepenuhnya sesuai dengan gambaran penghalang Zulkarnain dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an menerangkan bahwa bangunan tersebut dibuat menggunakan potongan besi yang kemudian dituangi cairan tembaga. Sementara Tembok Besar Tiongkok sebagian besar dibangun menggunakan tanah, batu, dan batu bata dalam beberapa periode pemerintahan yang berbeda.

Oleh karena itu, klaim bahwa Tembok Besar Tiongkok adalah tembok Yajuj dan Majuj tidak dapat dipastikan kebenarannya.

Apakah Yajuj dan Majuj Masih Hidup?

Para ulama memiliki pembahasan yang berbeda mengenai keadaan Yajuj dan Majuj sebelum kemunculannya menjelang Hari Kiamat.

Sebagian memahami bahwa mereka telah ada dan berada di balik penghalang yang dibuat Zulkarnain. Sebagian lainnya berpendapat bahwa perkara tersebut termasuk urusan gaib yang tidak dapat diketahui keadaannya secara terperinci oleh manusia.

Rasulullah SAW pernah memperingatkan bahwa sebagian penghalang Yajuj dan Majuj telah terbuka. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, Zainab binti Jahsy RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW datang dalam keadaan terkejut dan bersabda:

“Tidak ada Tuhan selain Allah. Celakalah bangsa Arab karena keburukan yang telah dekat. Pada hari ini telah dibuka penghalang Yajuj dan Majuj sebesar ini.”

Rasulullah SAW kemudian membuat lingkaran dengan ibu jari dan jari telunjuknya.

Hadis tersebut menunjukkan bahwa perkara Yajuj dan Majuj harus diimani sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW. Namun, manusia tidak memiliki dasar yang cukup untuk menentukan keadaan dan lokasi mereka secara pasti.

Benarkah Yajuj dan Majuj adalah Bangsa Mongol?

Berdasarkan ayat Al-Qur’an dan hadis sahih, tidak ada keterangan tegas bahwa Yajuj dan Majuj adalah bangsa Mongol atau Tatar.

Pendapat yang menghubungkan mereka dengan bangsa Mongol dan Tatar merupakan hasil ijtihad serta pembacaan sejarah dari sebagian mufasir. Pendapat tersebut muncul karena bangsa Mongol pernah melakukan penaklukan besar dan menimbulkan kehancuran di berbagai wilayah.

Namun, terdapat beberapa alasan mengapa pendapat tersebut tidak dapat dianggap sebagai kepastian.

Pertama, bangsa Mongol telah muncul dalam sejarah dan dapat berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain, sedangkan kemunculan besar Yajuj dan Majuj sebagaimana disebut dalam hadis terjadi setelah turunnya Nabi Isa AS.

Kedua, serangan Mongol merupakan peristiwa sejarah yang telah berakhir. Adapun kemunculan Yajuj dan Majuj menjadi bagian dari rangkaian tanda besar Hari Kiamat yang belum terjadi.

Ketiga, Al-Qur’an tidak menyebut nama Tatar, Mongol, ataupun kelompok etnis tertentu sebagai Yajuj dan Majuj.

Dengan demikian, umat Islam boleh mengetahui pendapat para ulama tersebut sebagai bagian dari khazanah tafsir, tetapi tidak tepat menyatakannya sebagai fakta yang sudah pasti.

Sikap Umat Islam terhadap Kisah Yajuj dan Majuj

Kisah Yajuj dan Majuj termasuk perkara yang bersumber dari wahyu. Sikap yang tepat adalah mengimani keterangan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis sahih tanpa menambahkan klaim yang tidak memiliki dasar kuat.

Umat Islam juga perlu berhati-hati terhadap informasi di media sosial yang menampilkan foto, video, atau lokasi tertentu dengan klaim telah menemukan Yajuj dan Majuj atau tembok Zulkarnain.

Informasi seperti itu perlu diperiksa berdasarkan sumber, bukti, dan penjelasan para ulama. Jangan sampai rasa penasaran terhadap perkara gaib justru membuat seseorang mudah mempercayai kabar yang belum terbukti.

Hal terpenting dari kisah Yajuj dan Majuj bukan sekadar mengetahui asal bangsa atau lokasi mereka. Kisah tersebut mengingatkan manusia bahwa kekuatan sebesar apa pun tetap berada di bawah kekuasaan Allah SWT.

Ketika waktu yang telah ditentukan tiba, penghalang yang sangat kokoh pun akan hancur. Janji Allah pasti terjadi, sedangkan manusia diperintahkan mempersiapkan diri dengan keimanan, amal saleh, dan ketakwaan.