Tata Cara Shalat Idul Fitri Menurut Imam Syafi’i

Tata Cara Shalat Idul Fitri Menurut Imam Syafi’i

Tata Cara Shalat Idul Fitri Menurut Imam Syafi’i
Tata Cara Shalat Idul Fitri Menurut Imam Syafi’i

Table of Contents

Tata Cara Shalat Idul Fitri Menurut Imam Syafi’i

Tata cara shalat Idul Fitri menurut Imam Syafi’i terdiri atas dua rakaat yang dilaksanakan setelah matahari terbit dan sebelum matahari tergelincir. Shalat dimulai dengan takbiratul ihram, dilanjutkan tujuh takbir tambahan pada rakaat pertama dan lima takbir tambahan pada rakaat kedua. Setelah shalat selesai, imam menyampaikan dua khutbah dengan duduk sejenak di antara keduanya. Shalat harus didahulukan sebelum khutbah sebagaimana tuntunan Rasulullah saw.

Tata Cara Shalat Idul Fitri Menurut Imam Syafi’i
Tata Cara Shalat Idul Fitri Menurut Imam Syafi’i

Idul Fitri merupakan hari raya yang datang setelah umat Islam menyelesaikan puasa Ramadan. Pada hari tersebut, kaum Muslimin dianjurkan mandi, membersihkan diri, mengenakan pakaian terbaik, makan sebelum berangkat, memperbanyak takbir, dan menghadiri shalat Id. Imam Syafi’i memberikan penjelasan terperinci mengenai waktu, tempat, jumlah takbir, bacaan, khutbah, kehadiran perempuan, serta tata cara bagi orang yang terlambat mengikuti shalat bersama imam.

Pengertian Shalat Idul Fitri

Shalat Idul Fitri adalah shalat sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 1 Syawal sebagai bentuk syukur kepada Allah setelah berakhirnya bulan Ramadan.

Kata Id berasal dari bahasa Arab yang berkaitan dengan sesuatu yang kembali dan berulang. Hari raya kembali setiap tahun dengan membawa kegembiraan, ibadah, pertemuan kaum Muslimin, dan pengagungan kepada Allah.

Adapun kata fitri berkaitan dengan berbuka setelah menyelesaikan kewajiban puasa Ramadan. Pada tanggal 1 Syawal, umat Islam dilarang berpuasa dan dianjurkan menunjukkan kegembiraan yang tetap berada dalam batas syariat.

Shalat Idul Fitri terdiri atas:

  • Dua rakaat.
  • Takbir tambahan pada setiap rakaat.
  • Bacaan Al-Fatihah dan surah.
  • Bacaan yang dikeraskan oleh imam.
  • Dua khutbah setelah shalat.
  • Zikir dan nasihat mengenai ketaatan kepada Allah.

Hukum Shalat Idul Fitri Menurut Mazhab Syafi’i

Dalam Mazhab Syafi’i, shalat Idul Fitri berstatus sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat ditekankan.

Imam Syafi’i tidak menyukai seorang Muslim meninggalkannya tanpa alasan. Beliau juga menekankan kehadirannya bagi orang yang terkena kewajiban shalat Jumat.

Shalat Id dianjurkan bagi:

  1. Laki-laki.
  2. Perempuan.
  3. Orang mukim.
  4. Musafir.
  5. Orang merdeka.
  6. Hamba sahaya dalam pembahasan fikih klasik.
  7. Orang dewasa.
  8. Anak yang telah mumayiz.
  9. Orang yang melaksanakannya berjemaah.
  10. Orang yang melaksanakannya sendirian ketika tidak memperoleh jemaah.

Pelaksanaannya secara berjemaah lebih menampakkan syiar Islam. Namun, shalat Id juga dapat dilakukan sendiri di rumah atau dalam perjalanan apabila seseorang tidak dapat mengikutinya bersama imam.

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan yang mengerjakan shalat Id melaksanakannya dengan jumlah rakaat, takbir, dan bacaan yang sama.

Dasar Shalat Idul Fitri dari Al-Qur’an

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Kautsar ayat 2:

“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”

Para ulama menjadikan ayat tersebut sebagai salah satu dalil umum mengenai shalat dan ibadah pada hari raya.

Allah juga berfirman dalam Surah Al-A’la ayat 14–15:

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri, mengingat nama Tuhannya, lalu melaksanakan shalat.”

Sebagian ahli tafsir menghubungkan ayat tersebut dengan zakat fitrah, takbir, dan shalat Idul Fitri, meskipun makna ayatnya juga mencakup penyucian jiwa dan ibadah secara umum.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:

“Hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”

Ayat tersebut menjadi dasar anjuran bertakbir setelah menyelesaikan puasa Ramadan. Takbir Idul Fitri merupakan bentuk pengagungan dan rasa syukur atas petunjuk Allah.

Hadis Rasulullah Melaksanakan Shalat Id Dua Rakaat

Abdullah bin Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. keluar pada hari Idul Fitri dan melaksanakan shalat dua rakaat. Beliau tidak melaksanakan shalat sebelum maupun sesudahnya di tempat shalat tersebut.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Riwayat tersebut menunjukkan bahwa shalat Idul Fitri berjumlah dua rakaat. Jumlah itu berlaku bagi:

  • Imam.
  • Makmum.
  • Orang yang shalat sendiri.
  • Musafir.
  • Orang mukim.
  • Laki-laki.
  • Perempuan.

Shalat Id tidak diqashar karena jumlah asalnya memang dua rakaat. Musafir yang melaksanakan shalat Id juga tetap mengerjakan dua rakaat dengan takbir tambahan.

Hadis Shalat Dilakukan Sebelum Khutbah

Abdullah bin Umar r.a. meriwayatkan:

“Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar melaksanakan shalat dua hari raya sebelum khutbah.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Ibnu Abbas r.a. juga menerangkan bahwa ia menghadiri shalat Id bersama Rasulullah saw., Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka semua mendahulukan shalat sebelum khutbah.

Urutan yang benar adalah:

  1. Imam dan jemaah melaksanakan shalat Id dua rakaat.
  2. Imam mengucapkan salam.
  3. Imam berdiri untuk menyampaikan khutbah pertama.
  4. Imam duduk sejenak.
  5. Imam berdiri menyampaikan khutbah kedua.

Khutbah yang dilakukan sebelum shalat tidak mengikuti tuntunan Rasulullah saw. Imam Syafi’i menjelaskan bahwa jika imam telanjur berkhutbah sebelum shalat, sebaiknya khutbah diulang setelah shalat.

Waktu Shalat Idul Fitri

Waktu shalat Idul Fitri dimulai setelah matahari terbit dan meninggi sampai sebelum matahari tergelincir ke arah barat.

Shalat tidak boleh dilakukan ketika matahari baru mulai terbit karena waktu tersebut termasuk waktu yang dilarang untuk melaksanakan shalat.

Batas waktunya dapat dijelaskan sebagai berikut:

Keadaan matahari Hukum shalat Id
Sebelum matahari terbit Belum masuk waktu
Ketika matahari sedang terbit Tidak sah dan termasuk waktu larangan
Setelah matahari terbit dan meninggi Waktu shalat Id telah masuk
Menjelang matahari tergelincir Masih berada dalam waktunya
Setelah matahari tergelincir Waktu pelaksanaan hari itu telah berakhir

Dalam praktik masa kini, masyarakat dapat mengikuti jadwal resmi yang ditetapkan masjid, pemerintah, atau lembaga keagamaan setempat.

Shalat Idul Fitri Dianjurkan Sedikit Diakhirkan

Imam Syafi’i membedakan waktu yang paling utama antara Idul Fitri dan Idul Adha.

Shalat Idul Adha dianjurkan dilaksanakan lebih awal agar masyarakat mempunyai waktu yang cukup untuk menyembelih hewan kurban.

Adapun shalat Idul Fitri dianjurkan sedikit diakhirkan setelah matahari terbit. Pengakhiran tersebut memberikan waktu kepada masyarakat untuk:

  • Menunaikan zakat fitrah.
  • Makan sebelum berangkat.
  • Membersihkan diri.
  • Berhias.
  • Berjalan menuju tempat shalat.
  • Mengumandangkan takbir.
  • Menunggu jemaah berkumpul.

Mengakhirkan bukan berarti menunda sampai mendekati waktu Zuhur. Shalat tetap dilaksanakan pada pagi hari setelah matahari meninggi.

Kapan Jemaah Berangkat ke Tempat Shalat?

Imam Syafi’i membedakan waktu berangkat imam dan jemaah.

Jemaah dianjurkan berangkat lebih awal agar:

  • Memperoleh tempat yang baik.
  • Tidak tergesa-gesa.
  • Memperbanyak takbir.
  • Menunggu shalat dengan tenang.
  • Memperoleh pahala menunggu ibadah.
  • Tidak terlambat mengikuti takbiratul ihram.

Adapun imam sebaiknya datang ketika waktu pelaksanaan telah dekat. Setelah imam tiba, shalat dapat segera dimulai.

Orang yang berangkat setelah Subuh diperbolehkan selama tempat shalat telah aman dan waktu shalat belum masuk. Ia dapat duduk, berzikir, dan bertakbir sambil menunggu.

Mandi Sebelum Shalat Idul Fitri

Mandi sebelum shalat Idul Fitri merupakan amalan sunnah.

Abdullah bin Umar r.a. dikenal mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat ke tempat shalat. Atsar tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ dan disebutkan dalam kitab-kitab fikih.

Mandi dilakukan sebagaimana mandi sunnah pada umumnya:

  1. Berniat mandi sunnah Idul Fitri.
  2. Membaca basmalah.
  3. Membersihkan najis jika ada.
  4. Berwudhu.
  5. Membasahi kepala dan rambut.
  6. Mengalirkan air ke seluruh tubuh.
  7. Memastikan bagian lipatan tubuh terkena air.

Mandi sunnah tidak menggantikan mandi wajib. Orang yang sedang junub harus berniat menghilangkan hadas besar. Satu kali mandi dapat mencukupi mandi wajib sekaligus memperoleh kebersihan untuk hari raya apabila niat wajibnya terpenuhi.

Waktu Mandi Idul Fitri

Mandi dapat dilakukan setelah pertengahan malam menurut penjelasan ulama Syafi’iyah. Namun, waktu yang lebih dekat dengan keberangkatan lebih sesuai karena tujuan mandi adalah membersihkan diri ketika menghadiri pertemuan kaum Muslimin.

Orang yang mandi sebelum Subuh tidak harus mengulang mandi setelah Subuh.

Mandi dianjurkan bagi:

  • Orang yang menghadiri shalat.
  • Orang yang melaksanakan shalat di rumah.
  • Laki-laki.
  • Perempuan.
  • Anak-anak.
  • Orang yang tidak menghadiri shalat karena memiliki uzur.

Hari raya tetap menjadi waktu berhias dan membersihkan diri meskipun seseorang tidak pergi ke tanah lapang.

Mengenakan Pakaian Terbaik

Imam Syafi’i menyukai seseorang mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya pada hari raya, hari Jumat, dan pertemuan besar kaum Muslimin.

Pakaian terbaik tidak harus baru atau mahal. Hal yang lebih penting adalah:

  • Bersih.
  • Suci dari najis.
  • Menutup aurat.
  • Tidak transparan.
  • Tidak terlalu sempit.
  • Tidak digunakan untuk kesombongan.
  • Tidak menyerupai pakaian yang dilarang.
  • Tidak diperoleh dari harta haram.

Laki-laki dapat memakai wewangian selama tidak mengandung bahan najis dan tidak berlebihan.

Perempuan yang keluar menghadiri shalat Id menjaga kesopanan, tidak memakai wewangian yang menarik perhatian laki-laki bukan mahram, serta tidak berhias secara berlebihan.

Makan Sebelum Berangkat Shalat Idul Fitri

Makan sebelum berangkat merupakan sunnah khusus Idul Fitri.

Anas bin Malik r.a. meriwayatkan:

“Rasulullah saw. tidak berangkat pada hari Idul Fitri sampai beliau memakan beberapa butir kurma.”

Dalam riwayat Imam al-Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah saw. memakannya dalam jumlah ganjil.

Jumlahnya dapat berupa:

  • Tiga butir.
  • Lima butir.
  • Tujuh butir.
  • Jumlah ganjil lainnya.

Jika tidak tersedia kurma, seseorang dapat makan makanan halal lainnya. Tujuan utamanya adalah menunjukkan bahwa puasa Ramadan telah selesai dan tanggal 1 Syawal bukan hari berpuasa.

Imam Syafi’i menganjurkan orang yang belum makan di rumah untuk makan di perjalanan atau di tempat shalat apabila memungkinkan.

Perbedaan Makan pada Idul Fitri dan Idul Adha

Pada Idul Fitri, makan sebelum berangkat dianjurkan.

Pada Idul Adha, seseorang dianjurkan menunda makan sampai selesai shalat agar dapat memakan sebagian dari hewan kurbannya apabila memungkinkan.

Perbedaan ini menjadi salah satu alasan shalat Idul Adha dilakukan lebih awal, sedangkan Idul Fitri sedikit diakhirkan.

Orang yang makan sebelum shalat Idul Adha tidak berdosa. Demikian pula orang yang tidak sempat makan sebelum shalat Idul Fitri tetap memiliki shalat yang sah, tetapi kehilangan amalan sunnah.

Menunaikan Zakat Fitrah Sebelum Shalat

Zakat fitrah wajib ditunaikan oleh orang yang memenuhi persyaratannya. Waktu yang paling utama adalah sebelum shalat Idul Fitri.

Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang miskin.

Dalam hadis tersebut disebutkan:

“Barang siapa menunaikannya sebelum shalat, maka itu zakat yang diterima. Barang siapa menunaikannya setelah shalat, maka itu menjadi sedekah biasa.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah.

Orang yang mempunyai tanggungan zakat fitrah sebaiknya menunaikannya lebih dahulu agar penerima dapat menggunakannya pada hari raya.

Memperbanyak Takbir Idul Fitri

Takbir Idul Fitri dimulai setelah matahari terbenam pada malam 1 Syawal dan berlangsung sampai imam memulai shalat Id.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:

“Hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.”

Takbir dapat dibaca:

  • Di rumah.
  • Di masjid.
  • Di jalan.
  • Di tempat shalat.
  • Secara sendiri.
  • Bersama-sama dengan tetap menjaga ketertiban.
  • Oleh laki-laki.
  • Oleh perempuan dengan suara yang tidak menimbulkan gangguan.

Bacaan yang dikenal adalah:

اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَاَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Latin:

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illallah. Wallahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd.

Artinya:

“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Tidak ada Tuhan selain Allah. Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, dan segala puji hanya milik Allah.”

Tempat Pelaksanaan Shalat Idul Fitri

Rasulullah saw. biasa keluar menuju tanah lapang untuk melaksanakan shalat Id.

Abu Sa’id al-Khudri r.a. meriwayatkan:

“Rasulullah saw. keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adha menuju tempat shalat. Hal pertama yang beliau lakukan adalah melaksanakan shalat.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Shalat di tanah lapang menampakkan syiar Islam dan memungkinkan jemaah dalam jumlah besar berkumpul.

Namun, shalat Id dapat dilaksanakan di masjid, terutama ketika:

  • Masjid dapat menampung seluruh jemaah.
  • Turun hujan.
  • Tanah lapang berlumpur.
  • Cuaca membahayakan.
  • Tidak tersedia tempat terbuka.
  • Keamanan tidak memungkinkan.
  • Terdapat kebutuhan masyarakat.

Dalam penjelasan ulama Syafi’iyah, masjid yang luas memiliki keutamaan karena kemuliaan tempatnya. Tanah lapang lebih sesuai apabila masjid tidak mampu menampung seluruh jemaah.

Berjalan Kaki Menuju Tempat Shalat

Berjalan kaki menuju tempat shalat dianjurkan bagi orang yang mampu dan tempatnya terjangkau.

Ali bin Abi Thalib r.a. meriwayatkan bahwa termasuk sunnah adalah pergi menuju shalat Id dengan berjalan kaki. Riwayat ini terdapat dalam Sunan at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Orang dapat menggunakan kendaraan apabila:

  • Tempatnya jauh.
  • Kondisi tubuh tidak kuat.
  • Membawa anak kecil.
  • Membawa orang lanjut usia.
  • Cuaca tidak mendukung.
  • Terdapat kebutuhan keamanan.
  • Waktu hampir tiba.

Menggunakan kendaraan tidak mengurangi kesahan dan pahala shalat Id.

Mengambil Jalan yang Berbeda ketika Pulang

Jabir bin Abdullah r.a. meriwayatkan:

“Pada hari raya, Rasulullah saw. mengambil jalan yang berbeda.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.

Maksudnya, Rasulullah saw. pergi melalui satu jalan dan pulang melalui jalan lain.

Hikmah yang disebutkan para ulama antara lain:

  • Menampakkan syiar Islam di lebih banyak tempat.
  • Memberi salam kepada lebih banyak orang.
  • Membantu orang yang membutuhkan.
  • Membuat lebih banyak bagian bumi menjadi saksi.
  • Memperluas pertemuan dengan masyarakat.

Mengambil jalan berbeda merupakan sunnah apabila mudah dilakukan. Seseorang tidak harus memaksakan diri apabila jalan lain jauh, macet, berbahaya, atau tertutup.

Apakah Ada Azan dan Iqamah?

Shalat Idul Fitri tidak didahului azan dan iqamah.

Jabir bin Samurah r.a. berkata:

“Aku melaksanakan shalat dua hari raya bersama Rasulullah saw. bukan sekali atau dua kali, tanpa azan dan tanpa iqamah.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdullah juga meriwayatkan bahwa azan tidak dikumandangkan pada hari Idul Fitri maupun Idul Adha.

Ketika imam telah siap, shalat langsung dimulai. Pengumuman menggunakan kalimat tertentu sebelum shalat bukan azan atau iqamah, tetapi pelaksanaannya sebaiknya tidak diyakini sebagai bagian wajib dari shalat Id.

Niat Shalat Idul Fitri

Niat berada dalam hati dan dilakukan bersamaan dengan takbiratul ihram.

Orang yang menjadi imam bermaksud melaksanakan shalat sunnah Idul Fitri sebagai imam.

Makmum bermaksud melaksanakan shalat sunnah Idul Fitri sebagai makmum.

Orang yang shalat sendiri bermaksud melaksanakan shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat karena Allah.

Contoh maksud niat dalam hati:

“Saya melaksanakan shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat sebagai makmum karena Allah.”

Lafaz yang sering digunakan adalah:

أُصَلِّي سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin:

Ushalli sunnatan li ‘idil fithri rak‘ataini ma’muman lillahi ta‘ala.

Artinya:

“Saya berniat melaksanakan shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”

Pelafalan tersebut tidak wajib. Kesahan niat ditentukan oleh kehendak hati.

Tata Cara Rakaat Pertama Shalat Idul Fitri

1. Berdiri menghadap kiblat

Jemaah berdiri dalam saf yang rapi, menutup aurat, serta memastikan tubuh dan tempat shalat suci.

2. Menghadirkan niat

Niat dilakukan dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram.

3. Takbiratul ihram

Imam dan makmum mengangkat kedua tangan kemudian mengucapkan:

اَللّٰهُ أَكْبَرُ

Takbiratul ihram merupakan rukun. Tanpa takbiratul ihram, seseorang belum memasuki shalat.

4. Membaca doa iftitah

Setelah takbiratul ihram, dianjurkan membaca doa iftitah sebelum takbir tambahan.

Salah satu bacaan yang dikenal adalah:

Wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardha hanifan wa ma ana minal musyrikin.

Doa dibaca secara lirih.

5. Melakukan tujuh takbir tambahan

Setelah doa iftitah, imam melakukan tujuh kali takbir tambahan selain takbiratul ihram.

Setiap kali takbir, dianjurkan mengangkat kedua tangan sejajar bahu atau telinga.

Susunannya adalah:

  1. Takbiratul ihram.
  2. Doa iftitah.
  3. Takbir tambahan pertama.
  4. Takbir tambahan kedua.
  5. Takbir tambahan ketiga.
  6. Takbir tambahan keempat.
  7. Takbir tambahan kelima.
  8. Takbir tambahan keenam.
  9. Takbir tambahan ketujuh.
  10. Taawuz.
  11. Al-Fatihah.
  12. Surah.

Takbir tambahan berstatus sunnah. Jika imam lupa sebagian takbir dan telah mulai membaca Al-Fatihah, ia tidak perlu kembali mengulangnya.

Bacaan di Antara Takbir Tambahan

Di antara dua takbir, dianjurkan berhenti sejenak dan membaca zikir.

Bacaan yang umum digunakan adalah:

سُبْحَانَ اللّٰهِ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَاَللّٰهُ أَكْبَرُ

Latin:

Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar.

Artinya:

“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar.”

Seseorang juga dapat membaca zikir yang berisi pengagungan dan pujian kepada Allah.

Jeda dilakukan secara wajar, tidak terlalu panjang hingga memutus rangkaian takbir.

Posisi Tangan di Antara Takbir

Setiap takbir tambahan disertai pengangkatan tangan.

Setelah tangan diturunkan, tangan kanan dapat diletakkan di atas tangan kiri seperti posisi berdiri dalam shalat.

Ketika imam bertakbir kembali, kedua tangan diangkat. Setelah takbir selesai, tangan kembali diletakkan.

Makmum mengikuti imam dan tidak mendahuluinya.

Membaca Al-Fatihah dan Surah pada Rakaat Pertama

Setelah takbir tambahan selesai, imam membaca taawuz kemudian Al-Fatihah.

Dalam Mazhab Syafi’i, basmalah merupakan bagian dari Al-Fatihah.

Setelah Al-Fatihah, imam membaca surah atau ayat Al-Qur’an.

An-Nu’man bin Basyir r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. membaca Surah Al-A’la dan Al-Ghasyiyah dalam shalat dua hari raya serta shalat Jumat. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dalam riwayat lain, Abu Waqid al-Laitsi r.a. menerangkan bahwa Rasulullah saw. membaca Surah Qaf dan Surah Al-Qamar dalam shalat Id. Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Pada rakaat pertama, imam dapat membaca:

  • Surah Al-A’la.
  • Surah Qaf.
  • Surah lain yang sesuai.

Pemilihan surah bukan syarat sah. Imam mempertimbangkan keadaan jemaah.

Rukuk dan Sujud Rakaat Pertama

Setelah bacaan selesai, tata cara shalat berlangsung seperti shalat biasa:

  1. Bertakbir menuju rukuk.
  2. Rukuk dengan tumakninah.
  3. Membaca tasbih rukuk.
  4. Bangkit menuju iktidal.
  5. Berdiri tegak dengan tumakninah.
  6. Turun menuju sujud pertama.
  7. Sujud dengan tumakninah.
  8. Duduk di antara dua sujud.
  9. Melakukan sujud kedua.
  10. Bangkit menuju rakaat kedua.

Tidak ada perbedaan rukun rukuk dan sujud antara shalat Id dengan shalat fardu.

Tata Cara Rakaat Kedua Shalat Idul Fitri

1. Bangkit dari sujud

Setelah sujud kedua rakaat pertama, imam bangkit sambil mengucapkan takbir perpindahan.

Takbir untuk berdiri tersebut bukan bagian dari lima takbir tambahan.

2. Lima takbir tambahan

Setelah berdiri tegak, imam melakukan lima takbir tambahan.

Setiap takbir disertai pengangkatan tangan dan terdapat jeda singkat untuk berzikir.

Jumlahnya adalah:

  • Satu takbir untuk bangkit dari sujud.
  • Lima takbir tambahan setelah berdiri.

Takbir berdiri tidak dihitung sebagai salah satu dari lima takbir tambahan.

3. Membaca Al-Fatihah dan surah

Setelah lima takbir, imam membaca taawuz, basmalah, dan Surah Al-Fatihah.

Kemudian imam membaca surah.

Jika pada rakaat pertama membaca Al-A’la, rakaat kedua dapat membaca Al-Ghasyiyah.

Jika pada rakaat pertama membaca Surah Qaf, rakaat kedua dapat membaca Surah Al-Qamar.

4. Menyempurnakan rakaat

Setelah bacaan selesai:

  1. Rukuk.
  2. Iktidal.
  3. Sujud pertama.
  4. Duduk di antara dua sujud.
  5. Sujud kedua.
  6. Duduk tasyahud akhir.
  7. Membaca tasyahud.
  8. Membaca shalawat.
  9. Mengucapkan salam.

Ringkasan Jumlah Takbir Shalat Idul Fitri

Bagian Jumlah
Takbiratul ihram rakaat pertama 1
Takbir tambahan rakaat pertama 7
Takbir perpindahan menuju rukuk 1
Takbir bangkit menuju rakaat kedua 1
Takbir tambahan rakaat kedua 5
Takbir perpindahan menuju rukuk rakaat kedua 1

Tujuh dan lima dalam penjelasan Imam Syafi’i adalah takbir tambahan, bukan termasuk takbiratul ihram dan takbir bangkit menuju rakaat kedua.

Dalil Tujuh dan Lima Takbir

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melakukan takbir dalam shalat Idul Fitri dan Idul Adha tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua, selain takbir berdiri.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, dan sejumlah ahli hadis.

Dalam Al-Umm, Imam Syafi’i juga meriwayatkan bahwa Nabi saw., Abu Bakar, dan Umar melakukan tujuh dan lima takbir dalam shalat dua hari raya dan shalat Istisqa.

Imam Syafi’i memilih tata cara tersebut karena didukung riwayat Nabi dan praktik para sahabat.

Hukum Takbir Tambahan

Takbir tambahan merupakan sunnah, bukan rukun.

Jika seseorang lupa satu atau beberapa takbir tambahan:

  • Shalatnya tetap sah.
  • Rakaatnya tetap sah.
  • Tidak perlu mengulang shalat.
  • Tidak perlu melakukan sujud sahwi.
  • Tidak kembali bertakbir jika telah mulai membaca Al-Fatihah.

Jika makmum datang ketika imam sedang melakukan takbir tambahan, ia melakukan takbiratul ihram kemudian mengikuti takbir yang masih tersisa.

Ia tidak harus mengganti takbir tambahan yang telah terlewat.

Bacaan Shalat Id Dikeraskan

Imam mengeraskan bacaan Al-Fatihah dan surah dalam shalat Idul Fitri.

Makmum mendengarkan bacaan imam dan tetap memperhatikan kewajiban membaca Al-Fatihah berdasarkan ketentuan Mazhab Syafi’i.

Orang yang melaksanakan shalat Id sendirian juga dianjurkan mengeraskan bacaannya secara wajar apabila tidak mengganggu orang lain.

Bacaan yang dikeraskan merupakan sunnah. Jika imam lupa dan membaca lirih, shalat tetap sah.

Khutbah Idul Fitri

Setelah salam, imam berdiri menyampaikan khutbah.

Khutbah Id berbeda dari khutbah Jumat dalam beberapa hal:

Khutbah Id Khutbah Jumat
Dilaksanakan setelah shalat Dilaksanakan sebelum shalat
Mendengarkannya sangat dianjurkan Menjadi bagian penting pelaksanaan Jumat
Tidak menjadi syarat sah shalat Id Menjadi syarat pelaksanaan Jumat
Shalat tetap sah tanpa khutbah Jumat tidak sah tanpa khutbah yang memenuhi syarat
Jemaah yang pergi tidak membatalkan shalatnya Jemaah Jumat mengikuti ketentuan khusus

Meskipun khutbah Id bukan syarat sah, imam tidak seharusnya meninggalkannya karena khutbah merupakan bagian dari tuntunan hari raya.

Dua Khutbah dengan Duduk di Antaranya

Imam Syafi’i menganjurkan khutbah Id dilakukan dua kali sebagaimana khutbah Jumat.

Tata caranya adalah:

  1. Imam berdiri untuk khutbah pertama.
  2. Imam bertakbir dan memuji Allah.
  3. Imam membaca shalawat.
  4. Imam memberikan nasihat.
  5. Imam mengingatkan ketakwaan.
  6. Imam duduk sejenak.
  7. Imam berdiri untuk khutbah kedua.
  8. Imam kembali bertakbir.
  9. Imam memberikan nasihat dan doa.
  10. Imam menutup khutbah.

Imam yang memiliki uzur dapat berkhutbah sambil duduk.

Takbir pada Awal Khutbah

Dalam penjelasan Imam Syafi’i, khutbah pertama dianjurkan dimulai dengan sembilan takbir berturut-turut.

Khutbah kedua dianjurkan dimulai dengan tujuh takbir berturut-turut.

Susunannya adalah:

  • Khutbah pertama: sembilan takbir.
  • Duduk di antara dua khutbah.
  • Khutbah kedua: tujuh takbir.

Takbir tersebut merupakan sunnah. Jika imam kurang atau lupa, khutbah dan shalat tetap sah.

Isi khutbah tetap harus mengandung pujian kepada Allah, shalawat kepada Rasulullah saw., nasihat, serta ajakan menjalankan ketaatan.

Isi Khutbah Idul Fitri

Khutbah dapat membahas:

  • Syukur atas selesainya Ramadan.
  • Kewajiban menjaga shalat.
  • Pentingnya melanjutkan amal setelah Ramadan.
  • Zakat fitrah.
  • Silaturahmi.
  • Saling memaafkan.
  • Kepedulian kepada fakir miskin.
  • Larangan bermaksiat pada hari raya.
  • Menjaga persatuan umat.
  • Pendidikan keluarga.
  • Puasa enam hari Syawal.
  • Kejujuran dan akhlak.
  • Doa bagi kaum Muslimin.

Khutbah tidak seharusnya diisi dengan penghinaan, ujaran kebencian, fitnah, atau kepentingan yang memecah belah jemaah.

Hukum Mendengarkan Khutbah Id

Jemaah dianjurkan tetap duduk dan mendengarkan khutbah setelah shalat.

Abdullah bin Sa’ib r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. setelah shalat Id bersabda:

“Kami akan berkhutbah. Barang siapa ingin duduk untuk mendengarkan khutbah, hendaklah ia duduk. Barang siapa ingin pergi, silakan pergi.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah.

Hadis ini menunjukkan bahwa mendengarkan khutbah Id sangat dianjurkan, tetapi hukumnya tidak sama dengan mendengarkan khutbah Jumat.

Jemaah sebaiknya tidak langsung meninggalkan tempat tanpa kebutuhan karena khutbah berisi nasihat dan pengajaran agama.

Perempuan Menghadiri Shalat Idul Fitri

Ummu Athiyyah r.a. meriwayatkan:

“Kami diperintahkan mengajak keluar perempuan yang telah balig, gadis-gadis yang dipingit, dan perempuan yang sedang haid pada dua hari raya.”

Dalam hadis tersebut, perempuan haid tidak ikut melakukan shalat, tetapi menghadiri kebaikan dan doa kaum Muslimin serta menjauh dari tempat shalat.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Perempuan yang menghadiri shalat Id perlu menjaga:

  • Aurat.
  • Pakaian yang longgar.
  • Kesopanan.
  • Tidak memakai wewangian yang menarik perhatian.
  • Tidak berhias secara berlebihan.
  • Tidak bercampur secara tidak teratur.
  • Mengikuti arahan panitia.
  • Keamanan diri dan anak.

Perempuan Haid pada Hari Raya

Perempuan haid tidak melaksanakan shalat karena suci dari haid merupakan syarat sah shalat.

Namun, ia dapat:

  • Menghadiri pertemuan kaum Muslimin.
  • Mendengarkan khutbah.
  • Bertakbir.
  • Berzikir.
  • Berdoa.
  • Bersedekah.
  • Membantu kegiatan hari raya.
  • Menjauh dari tempat yang khusus digunakan untuk shalat.

Ia tidak perlu mengqada shalat Id setelah suci.

Shalat Idul Fitri bagi Perempuan di Rumah

Perempuan yang tidak dapat menghadiri jemaah boleh melaksanakan shalat Idul Fitri di rumah.

Tata caranya sama:

  1. Dua rakaat.
  2. Tujuh takbir tambahan pada rakaat pertama.
  3. Lima takbir tambahan pada rakaat kedua.
  4. Membaca Al-Fatihah.
  5. Membaca surah.
  6. Menyempurnakan rukuk dan sujud.
  7. Mengucapkan salam.

Ia tidak wajib menyampaikan khutbah setelahnya.

Shalat dapat dilakukan sendiri atau berjemaah bersama anggota keluarga perempuan. Pengaturan imam mengikuti ketentuan jemaah perempuan dalam Mazhab Syafi’i.

Anak-Anak Mengikuti Shalat Id

Anak-anak dianjurkan diajak menghadiri shalat Id apabila dapat menjaga ketertiban.

Orang tua dapat mengajarkan:

  • Mandi dan memakai pakaian bersih.
  • Makan sebelum berangkat.
  • Membaca takbir.
  • Menjaga saf.
  • Mengikuti gerakan imam.
  • Mendengarkan khutbah.
  • Tidak berlari di depan orang shalat.
  • Tidak membawa permainan yang mengganggu.
  • Menjaga kebersihan tempat.

Anak yang belum memahami tata cara sebaiknya didampingi agar tidak mengganggu kekhusyukan jemaah.

Musafir Melaksanakan Shalat Idul Fitri

Musafir dianjurkan melaksanakan shalat Id apabila memungkinkan.

Sekelompok musafir dapat melaksanakannya berjemaah. Salah seorang menjadi imam dan memimpin dua rakaat dengan tujuh serta lima takbir tambahan.

Imam Syafi’i membolehkan sekelompok musafir melaksanakan shalat Id dalam perjalanan.

Khutbah dapat disampaikan apabila dilakukan berjemaah, tetapi tidak menjadi syarat sah shalat.

Musafir yang sedang berada di kota dapat mengikuti shalat bersama penduduk setempat.

Orang yang Terlambat Mengikuti Imam

Orang yang datang ketika imam masih berdiri melakukan:

  1. Takbiratul ihram.
  2. Berniat menjadi makmum.
  3. Mengikuti takbir tambahan yang masih dilakukan imam.
  4. Tidak mengganti takbir yang telah terlewat.
  5. Membaca Al-Fatihah sesuai waktu yang tersedia.
  6. Mengikuti imam ketika rukuk.

Jika datang ketika imam sedang rukuk, ia melakukan takbiratul ihram sambil berdiri kemudian turun menuju rukuk.

Jika berhasil mendapatkan rukuk bersama imam dengan tumakninah, rakaat tersebut dihitung.

Makmum Tertinggal Satu Rakaat

Makmum yang hanya mendapatkan rakaat kedua bersama imam berdiri setelah imam salam untuk menyempurnakan satu rakaat.

Rakaat yang dikerjakan setelah imam salam menjadi rakaat berikutnya berdasarkan tata cara penyempurnaan makmum masbuk.

Ia melakukan takbir tambahan sesuai ketentuan rakaat yang dikerjakannya dalam penyempurnaan tersebut dengan mengikuti penjelasan fikih Mazhab Syafi’i.

Hal terpenting adalah:

  • Tidak mendahului imam.
  • Mengikuti imam sampai salam.
  • Berdiri setelah imam selesai.
  • Menyempurnakan rakaat yang tertinggal.
  • Mengakhiri shalat dengan salam.

Orang yang Datang ketika Imam Sedang Berkhutbah

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa orang yang datang ketika imam telah selesai shalat dan sedang berkhutbah sebaiknya duduk serta mendengarkan khutbah.

Setelah khutbah selesai, ia dapat melaksanakan shalat Id:

  • Di tempat shalat.
  • Di rumah.
  • Dalam perjalanan.
  • Sendirian.
  • Bersama orang lain yang juga terlambat.

Ia melaksanakan dua rakaat dengan tujuh dan lima takbir tambahan seperti shalat imam.

Shalat tersebut tidak disertai kewajiban khutbah.

Orang yang Tidak Mendapatkan Shalat Berjemaah

Orang yang tidak dapat menghadiri jemaah karena sakit, tugas, perjalanan, keterlambatan, atau sebab lain dapat melaksanakan shalat Id sendiri.

Tata caranya tetap:

  • Dua rakaat.
  • Tujuh takbir tambahan pada rakaat pertama.
  • Lima takbir tambahan pada rakaat kedua.
  • Bacaan dikeraskan secara wajar apabila tidak mengganggu.
  • Tidak diwajibkan khutbah.

Imam Syafi’i tidak menyukai seseorang meninggalkan shalat Id, meskipun pelaksanaan sendirian tidak menampakkan syiar sebesar jemaah umum.

Apakah Shalat Id Harus Diqada?

Shalat Id tidak berstatus wajib seperti shalat lima waktu. Karena itu, orang yang melewatkannya tidak memikul qada wajib sebagaimana meninggalkan Subuh atau Zuhur.

Namun, orang yang terlambat masih dapat mengerjakannya setelah imam selesai selama waktu shalat Id belum berakhir.

Dalam pengembangan Mazhab Syafi’i, sebagian ulama menganjurkan qada shalat Id bagi orang yang melewatkannya, tetapi tidak diperlakukan sebagai qada kewajiban fardu.

Orang yang sengaja meninggalkan shalat Id tanpa alasan kehilangan keutamaan besar dan syiar hari raya.

Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Id

Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melaksanakan shalat Id dua rakaat dan tidak melaksanakan shalat sebelum maupun sesudahnya di tanah lapang.

Imam Syafi’i memahami bahwa imam dianjurkan langsung memulai shalat ketika tiba di tempat shalat dan pulang setelah khutbah.

Adapun makmum diperbolehkan melakukan shalat sunnah sebelum atau sesudah shalat Id setelah matahari meninggi.

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa sebagian sahabat:

  • Tidak shalat sebelum dan sesudah Id.
  • Shalat sebelum Id.
  • Shalat sesudah Id.
  • Shalat sebelum dan sesudahnya.

Semua itu menunjukkan kelapangan bagi makmum.

Namun, seseorang tidak boleh shalat ketika matahari sedang terbit karena termasuk waktu larangan.

Jika Shalat Id Dilaksanakan di Masjid

Orang yang masuk masjid dianjurkan melaksanakan Tahiyatul Masjid sebelum duduk apabila waktu memungkinkan dan matahari telah meninggi.

Jika imam akan segera memulai shalat, ia langsung berdiri mengikuti imam. Tahiyatul Masjid tercapai melalui shalat Id yang dilaksanakan.

Jika shalat dilakukan di tanah lapang, tidak ada Tahiyatul Masjid karena tempat tersebut bukan masjid.

Shalat Idul Fitri ketika Hujan

Ketika hujan, angin kencang, banjir, atau cuaca berbahaya, shalat Id dapat dipindahkan ke masjid atau gedung yang memenuhi ketentuan tempat shalat.

Keselamatan jemaah harus diperhatikan.

Tempat yang digunakan harus:

  • Suci.
  • Aman.
  • Mampu menampung jemaah.
  • Memiliki arah kiblat yang jelas.
  • Tidak menghalangi jalan darurat.
  • Memiliki pengaturan laki-laki dan perempuan.
  • Tidak menimbulkan bahaya.

Pemindahan tempat tidak mengubah jumlah rakaat atau takbir.

Shalat Idul Fitri Bertepatan dengan Hari Jumat

Apabila Idul Fitri bertepatan dengan hari Jumat, shalat Id dan shalat Jumat tetap merupakan dua ibadah yang berbeda.

Dalam Mazhab Syafi’i, penduduk tetap yang terkena kewajiban Jumat tetap melaksanakan shalat Jumat.

Terdapat keringanan khusus yang dibahas para ulama bagi sebagian orang yang datang dari daerah jauh dan mengalami kesulitan kembali menghadiri Jumat. Namun, keringanan tersebut tidak diterapkan secara sembarangan kepada seluruh penduduk kota.

Jemaah sebaiknya mengikuti petunjuk ulama dan pengelola masjid setempat.

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Shalat Idul Fitri

Menghitung takbiratul ihram sebagai salah satu tujuh takbir

Menurut tata cara Mazhab Syafi’i, tujuh takbir merupakan takbir tambahan setelah takbiratul ihram.

Menghitung takbir bangkit sebagai salah satu lima takbir

Takbir untuk berdiri menuju rakaat kedua terpisah dari lima takbir tambahan.

Melakukan khutbah sebelum shalat

Tuntunan Rasulullah saw. adalah shalat lebih dahulu kemudian khutbah.

Mengumandangkan azan dan iqamah

Shalat Id tidak didahului azan dan iqamah.

Melaksanakan shalat sebelum matahari terbit

Waktu Id baru masuk setelah matahari terbit dan meninggi.

Tidak makan sebelum Idul Fitri

Makan sebelum berangkat merupakan sunnah yang membedakan Idul Fitri dari hari puasa.

Mengulang takbir setelah mulai membaca Al-Fatihah

Takbir tambahan yang terlupa tidak perlu diganti setelah imam memulai bacaan.

Melakukan sujud sahwi karena lupa takbir tambahan

Takbir tambahan merupakan sunnah hai’ah sehingga kelupaannya tidak mewajibkan sujud sahwi.

Makmum mengganti takbir yang tertinggal

Makmum yang datang terlambat hanya mengikuti takbir imam yang masih tersisa.

Mengabaikan khutbah tanpa kebutuhan

Mendengarkan khutbah sangat dianjurkan meskipun tidak menjadi syarat sah shalat.

Memakai pakaian yang tidak menutup aurat

Hari raya bukan alasan untuk melanggar ketentuan aurat dan kesopanan.

Berdesakan dan menyakiti jemaah

Mengejar saf depan tidak membenarkan mendorong, melangkahi, atau merugikan orang lain.

Menganggap shalat Id hanya boleh di tanah lapang

Shalat dapat dilakukan di masjid atau tempat lain yang suci dan aman.

Menganggap perempuan tidak boleh menghadiri shalat Id

Hadis Ummu Athiyyah menunjukkan bahwa perempuan dianjurkan menghadiri kebaikan dan pertemuan kaum Muslimin dengan menjaga ketentuan syariat.

Panduan Ringkas Tata Cara Shalat Idul Fitri

Rakaat pertama

  1. Berdiri menghadap kiblat.
  2. Berniat shalat Idul Fitri.
  3. Melakukan takbiratul ihram.
  4. Membaca doa iftitah.
  5. Melakukan tujuh takbir tambahan.
  6. Membaca zikir di antara takbir.
  7. Membaca taawuz.
  8. Membaca Al-Fatihah.
  9. Membaca surah.
  10. Rukuk.
  11. Iktidal.
  12. Sujud pertama.
  13. Duduk di antara dua sujud.
  14. Sujud kedua.

Rakaat kedua

  1. Bangkit sambil bertakbir.
  2. Berdiri tegak.
  3. Melakukan lima takbir tambahan.
  4. Membaca zikir di antara takbir.
  5. Membaca taawuz.
  6. Membaca Al-Fatihah.
  7. Membaca surah.
  8. Rukuk.
  9. Iktidal.
  10. Sujud pertama.
  11. Duduk di antara dua sujud.
  12. Sujud kedua.
  13. Tasyahud akhir.
  14. Membaca shalawat.
  15. Mengucapkan salam.
  16. Mendengarkan dua khutbah.

Ringkasan Hukum Shalat Idul Fitri Menurut Imam Syafi’i

Permasalahan Ketentuan
Hukum shalat Idul Fitri Sunnah muakkadah
Jumlah rakaat Dua rakaat
Waktu Setelah matahari meninggi sampai sebelum Zuhur
Waktu yang dianjurkan Sedikit diakhirkan dibandingkan Idul Adha
Azan dan iqamah Tidak ada
Khutbah Setelah shalat
Jumlah khutbah Dua khutbah
Takbir rakaat pertama Tujuh takbir tambahan
Takbir rakaat kedua Lima takbir tambahan
Bacaan imam Dikeraskan
Makan sebelum berangkat Sunnah
Mandi dan berhias Sunnah
Tempat Tanah lapang atau masjid
Perempuan menghadiri shalat Dianjurkan dengan menjaga syariat
Perempuan haid Tidak shalat, tetapi dapat menghadiri kebaikan
Musafir Dianjurkan melaksanakan
Terlambat Dapat menyempurnakan atau melaksanakan sendiri
Lupa takbir tambahan Shalat tetap sah
Sujud sahwi karena lupa takbir Tidak diperlukan
Khutbah bagi orang yang shalat sendiri Tidak wajib

Referensi Al-Qur’an, Hadis, dan Kitab Fikih

  1. Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 185
    Menjelaskan perintah menyempurnakan bilangan puasa, mengagungkan Allah, dan bersyukur atas petunjuk-Nya.
  2. Al-Qur’an, Surah Al-Kautsar ayat 2
    Memuat perintah melaksanakan shalat karena Allah dan menyembelih kurban.
  3. Al-Qur’an, Surah Al-A’la ayat 14–15
    Menjelaskan keberuntungan orang yang menyucikan diri, mengingat Allah, dan melaksanakan shalat.
  4. Imam al-Syafi’i, Al-Umm, Juz 1, Kitab Shalat Idain
    Membahas waktu, tempat, persiapan, makan sebelum Idul Fitri, berhias, takbir, shalat, khutbah, serta orang yang menghadiri shalat Id.
  5. Imam al-Syafi’i, Al-Umm, Bab Waktu Pergi ke Dua Hari Raya
    Menjelaskan bahwa Idul Adha disegerakan sedangkan Idul Fitri sedikit diakhirkan, serta waktu keberangkatan imam dan jemaah.
  6. Imam al-Syafi’i, Al-Umm, Bab Takbir dalam Shalat Hari Raya
    Menjelaskan tujuh takbir tambahan pada rakaat pertama dan lima takbir tambahan pada rakaat kedua.
  7. Imam al-Syafi’i, Al-Umm, Bab Shalat Sebelum dan Sesudah Id
    Membahas tidak adanya shalat sunnah khusus bagi imam di tanah lapang serta kelapangan bagi makmum melakukan shalat sunnah.
  8. Imam al-Syafi’i, Al-Umm, Bab Orang yang Wajib Menghadiri Dua Hari Raya
    Membahas pelaksanaan shalat Id bagi laki-laki, perempuan, musafir, dan orang yang tertinggal dari imam.
  9. Hadis Abdullah bin Abbas r.a.
    Rasulullah saw. melaksanakan shalat Id dua rakaat dan tidak melaksanakan shalat sebelum maupun sesudahnya di tanah lapang. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
  10. Hadis Abdullah bin Umar r.a.
    Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar melaksanakan shalat dua hari raya sebelum khutbah. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
  11. Hadis Abu Sa’id al-Khudri r.a.
    Rasulullah saw. keluar menuju tempat shalat pada hari Idul Fitri dan Idul Adha, lalu memulai dengan shalat sebelum khutbah. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
  12. Hadis Anas bin Malik r.a.
    Rasulullah saw. tidak berangkat pada hari Idul Fitri sebelum memakan beberapa butir kurma dalam jumlah ganjil. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.
  13. Hadis Aisyah r.a. mengenai takbir shalat Id
    Rasulullah saw. melakukan tujuh takbir pada rakaat pertama dan lima takbir pada rakaat kedua. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah.
  14. Hadis An-Nu’man bin Basyir r.a.
    Rasulullah saw. membaca Surah Al-A’la dan Al-Ghasyiyah pada shalat dua hari raya. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.
  15. Hadis Abu Waqid al-Laitsi r.a.
    Rasulullah saw. membaca Surah Qaf dan Al-Qamar dalam shalat Id. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.
  16. Hadis Jabir bin Samurah r.a.
    Rasulullah saw. melaksanakan shalat dua hari raya tanpa azan dan iqamah. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.
  17. Hadis Ummu Athiyyah r.a.
    Perempuan, gadis yang dipingit, dan perempuan haid diperintahkan menghadiri kebaikan serta doa kaum Muslimin pada hari raya. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
  18. Hadis Jabir bin Abdullah r.a. mengenai jalan yang berbeda
    Rasulullah saw. mengambil jalan yang berbeda ketika pergi dan pulang pada hari raya. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.
  19. Hadis Ibnu Abbas r.a. mengenai zakat fitrah
    Zakat fitrah menjadi penyuci bagi orang yang berpuasa dan makanan bagi orang miskin serta dianjurkan ditunaikan sebelum shalat Id. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah.
  20. Hadis Abdullah bin Sa’ib r.a. mengenai khutbah Id
    Rasulullah saw. memberikan pilihan kepada jemaah untuk tetap duduk mendengarkan khutbah atau pergi setelah shalat. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah.
  21. Atsar Abdullah bin Umar r.a. mengenai mandi hari raya
    Ibnu Umar mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat menuju tempat shalat. Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa’.
  22. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam an-Nawawi
    Membahas hukum shalat Id, waktu, tempat, takbir tambahan, khutbah, kehadiran perempuan, dan pelaksanaan bagi orang yang terlambat.
  23. Minhaj ath-Thalibin karya Imam an-Nawawi
    Menjelaskan dua rakaat shalat Id, tujuh dan lima takbir, bacaan keras, serta dua khutbah setelah shalat.
  24. Raudhatuth Thalibin karya Imam an-Nawawi
    Memuat perincian takbir tambahan, zikir di antara takbir, makmum masbuk, dan shalat Id secara sendirian.
  25. Fath al-Qarib karya Ibnu Qasim al-Ghazzi
    Menjelaskan tata cara praktis shalat Idul Fitri dan Idul Adha dalam Mazhab Syafi’i.
  26. Kifayatul Akhyar karya Taqiyuddin al-Hishni
    Menguraikan waktu, jumlah rakaat, bacaan, takbir, khutbah, serta amalan sunnah pada hari raya.
  27. Mughni al-Muhtaj karya al-Khatib asy-Syirbini
    Membahas hukum shalat Id, mandi, berhias, makan sebelum Idul Fitri, takbir, dan ketentuan jemaah.
  28. Tuhfatul Muhtaj karya Ibnu Hajar al-Haitami
    Memuat perincian takbir tambahan, makmum yang terlambat, shalat di rumah, dan dua khutbah Id.
  29. Nihayatul Muhtaj karya Syamsuddin ar-Ramli
    Menjelaskan tata cara shalat Id, bacaan surah, hukum lupa takbir, serta kehadiran perempuan dan musafir.
  30. I’anatuth Thalibin karya Sayyid Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi
    Memberikan penjelasan praktis mengenai niat, tujuh dan lima takbir, zikir di antara takbir, khutbah, dan amalan sunnah Idul Fitri.