Kemendikdasmen dan UNESCO Luncurkan Panduan Literasi Digital Keluarga

Kemendikdasmen dan UNESCO Luncurkan Panduan Literasi Digital Keluarga

Kemendikdasmen dan UNESCO Luncurkan Panduan Literasi Digital Keluarga
Kemendikdasmen dan UNESCO Luncurkan Panduan Literasi Digital Keluarga

UNESCO Terbitkan Panduan Keluarga Era Digital, Orang Tua Diminta Perkuat Literasi Digital Anak

operatorsekolah.id – Perkembangan teknologi digital membawa banyak perubahan dalam kehidupan anak-anak. Internet, media sosial, gim daring, hingga kecerdasan artifisial (AI) kini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut membuat literasi digital anak semakin penting untuk diperhatikan, terutama oleh orang tua dan tenaga pendidik.

Sebagai upaya memperkuat pemahaman keluarga terhadap penggunaan teknologi, UNESCO meluncurkan panduan khusus berjudul Growing Up in a Connected World: A Family Guide for the Digital Age dalam edisi bahasa Indonesia. Panduan ini diharapkan menjadi sumber informasi bagi keluarga dan sekolah dalam mendampingi anak menghadapi berbagai tantangan di ruang digital.

Peluncuran panduan tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), UNESCO, serta Yayasan AIERA. Kegiatan ini diselenggarakan di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Pekan Literasi Media dan Informasi Global 2026.

Panduan UNESCO Membantu Keluarga Menghadapi Tantangan Era Digital

Panduan keluarga era digital yang diterbitkan UNESCO dirancang untuk memberikan pemahaman praktis mengenai berbagai persoalan yang dihadapi anak ketika menggunakan internet dan teknologi.

Materi di dalamnya tidak hanya membahas cara memanfaatkan perangkat digital, tetapi juga mengajarkan pentingnya menjaga keamanan dan membangun kebiasaan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Beberapa topik utama yang menjadi perhatian dalam panduan tersebut meliputi:

  1. Kebiasaan digital yang sehat, yaitu membangun pola penggunaan perangkat teknologi secara seimbang.
  2. Perlindungan privasi, termasuk menjaga informasi pribadi agar tidak disalahgunakan pihak lain.
  3. Disinformasi dan berita palsu, yaitu kemampuan mengenali informasi yang tidak benar atau menyesatkan.
  4. Perundungan siber (cyberbullying), yaitu memahami risiko kekerasan dan pelecehan melalui internet.
  5. Penggunaan kecerdasan artifisial (AI), termasuk memahami manfaat, keterbatasan, serta risiko teknologi tersebut.

Melalui materi tersebut, orang tua diharapkan memiliki bekal yang cukup untuk membangun komunikasi dengan anak mengenai aktivitas mereka di dunia maya.

Kemendikdasmen Tekankan Pentingnya Literasi Media dan Informasi

Kemendikdasmen menilai bahwa kemampuan menggunakan perangkat teknologi belum tentu menunjukkan seseorang memiliki literasi digital yang baik.

Anak mungkin sudah terbiasa mengakses internet, menggunakan aplikasi, atau memanfaatkan kecerdasan artifisial. Namun, mereka tetap membutuhkan bimbingan untuk memahami risiko, menilai kebenaran informasi, dan menjaga keamanan ketika beraktivitas secara daring.

Dalam kegiatan peluncuran tersebut, Menteri Kebudayaan sekaligus Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Fadli Zon, menyampaikan bahwa literasi media bukan sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi.

Menurutnya, literasi media juga berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, menghargai perbedaan, serta menggunakan informasi secara etis dan bertanggung jawab.

Ia juga menekankan bahwa keluarga mempunyai peran penting dalam membangun etika digital anak. Orang tua tidak harus menguasai seluruh perkembangan teknologi, tetapi perlu hadir sebagai pendamping yang dapat memberikan arahan.

Orang Tua Memiliki Peran Penting dalam Melindungi Anak di Internet

Pengawasan terhadap aktivitas digital anak tidak cukup hanya dilakukan dengan membatasi waktu penggunaan ponsel atau perangkat elektronik.

Orang tua juga perlu membangun komunikasi terbuka agar anak merasa nyaman ketika menghadapi persoalan di internet. Dengan demikian, anak tidak ragu untuk bercerita apabila menemukan konten yang tidak pantas, menerima pesan mencurigakan, atau mengalami perundungan siber.

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan keluarga untuk meningkatkan literasi digital anak, antara lain:

  • Mengajak anak berdiskusi tentang manfaat dan risiko penggunaan internet.
  • Membiasakan anak memeriksa sumber informasi sebelum mempercayainya.
  • Mengingatkan pentingnya menjaga kata sandi dan informasi pribadi.
  • Mendampingi anak ketika menggunakan aplikasi atau platform digital baru.
  • Mengajarkan etika berkomunikasi di media sosial.
  • Membantu anak mengenali berita palsu dan konten manipulatif.
  • Mengatur waktu penggunaan perangkat agar tidak mengganggu kegiatan belajar dan istirahat.

Pendampingan tersebut sebaiknya dilakukan melalui komunikasi yang positif. Anak perlu memahami alasan di balik aturan penggunaan teknologi, bukan sekadar menerima larangan dari orang tua.

Guru dan Sekolah Juga Perlu Menguatkan Pendidikan Literasi Digital

Selain keluarga, sekolah mempunyai tanggung jawab untuk membekali peserta didik dengan kemampuan menggunakan teknologi secara bijak.

Guru dapat mengintegrasikan materi literasi digital ke dalam kegiatan pembelajaran. Misalnya, dengan mengajak siswa membandingkan beberapa sumber informasi, mengenali berita yang belum terverifikasi, serta memahami etika ketika berkomunikasi melalui internet.

Kegiatan pembelajaran juga dapat diarahkan untuk membangun kemampuan berpikir kritis. Dengan begitu, peserta didik tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkan informasi untuk mendukung proses belajar.

Sekolah dapat memperkuat program tersebut melalui beberapa kegiatan berikut:

  1. Mengadakan edukasi keamanan internet bagi peserta didik.
  2. Memberikan pemahaman mengenai etika bermedia sosial.
  3. Mengajarkan cara mengenali informasi palsu atau hoaks.
  4. Mengenalkan penggunaan AI secara bertanggung jawab.
  5. Melibatkan orang tua dalam kegiatan edukasi literasi digital.
  6. Membangun lingkungan sekolah yang aman dari perundungan siber.

Kolaborasi antara guru, orang tua, dan peserta didik menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat.

Panduan UNESCO Diharapkan Bisa Diakses Lebih Luas oleh Keluarga Indonesia

Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, turut menyoroti pentingnya membekali anak dengan pemahaman mengenai risiko penggunaan teknologi.

Ia menjelaskan bahwa anak yang mampu mengoperasikan perangkat digital belum tentu memahami cara menggunakannya secara aman dan bijak. Karena itu, kemampuan memeriksa informasi, menilai hasil keluaran AI, menjaga privasi, serta memahami jejak digital perlu terus dibangun.

Kemendikdasmen juga berharap panduan keluarga dari UNESCO dapat diintegrasikan ke dalam fitur Ruang Orang Tua pada platform Rumah Pendidikan. Langkah ini diharapkan mempermudah keluarga dalam memperoleh bahan edukasi mengenai pendampingan anak di era digital.

Sementara itu, penerjemahan panduan ke bahasa Indonesia dilakukan agar materi tersebut lebih mudah dipahami dan dimanfaatkan oleh keluarga di Tanah Air.

Panduan tersebut juga diharapkan tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi dapat digunakan dalam diskusi, pelatihan orang tua, serta kegiatan pendidikan di sekolah dan komunitas.

Literasi Digital Menjadi Bekal Penting bagi Generasi Muda

Kehadiran teknologi digital memberikan banyak peluang bagi anak untuk memperoleh pengetahuan dan mengembangkan kemampuan. Namun, kemudahan akses informasi juga perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai keamanan, etika, dan tanggung jawab.

Oleh karena itu, penguatan literasi digital anak tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Keluarga, guru, pemerintah, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk memberikan pendampingan yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Peluncuran panduan keluarga era digital oleh UNESCO menjadi salah satu langkah untuk membantu orang tua dan pendidik memahami tantangan tersebut. Harapannya, anak-anak Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga kritis, beretika, dan mampu memanfaatkan dunia digital secara positif.

Sumber: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), berita berjudul UNESCO Luncurkan Panduan Keluarga Era Digital, Kemendikdasmen Dorong Literasi Media Anak, 29 Oktober 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *